7 Hari Mencintaimu

7 Hari Mencintaimu
#Mengikuti permainan


__ADS_3

Dimalam hari, pesta pernikahan Arini dengan Refal berlanjut. Dengan sikap yang terlihat natural Refal tunjukkan.


" Haii... kamu temannya Arini yah?" tanya seorang pria tampan pada Ayu.


" Lo nanya gw?" tanya Ayu menunjuk kearah dirinya.


" Iya, habisnya gw belum tau nama lo siapa.. kenalin nama gw Tommy dan lo..? " tanya Tommy dengan senyuman mautnya.


Ayu memindai penampilan Tommy dengan sesama dan tersenyum kecut.


" Begini cara lo kalau mau kenalan sama cewek? " tanya Ayu dengan senyuman sinisnya.


" Maksudnya?" tanya Tommy dengan wajah bingung.


" Seorang pemain,itu lo kan.. jadi jangan samain gw kayak cewek-cewek lain, kita bukan cewek murahan." ucap Ayu sinis.


" Anjir.. kenapa dia tahu gw itu pemain..."batin Tommy melihat penampilan Ayu yang terlihat cantik


" Gw nggak nganggap lo kayak cewek yang suka cari perhatian sama gw, cuma gw pengen kenal sama aja sama sahabat dari sahabat gw." ucap Tommy dengan senyuman mautnya.


" Astaga Ayuuuu... gw nyari lo kemana-mana ternyata lo disini, mojok lagi sama cowok.." ucap Jaenap dengan bahasa betawinya.


" Lo bukannya pelayan restoran yang biasa kita datengin? " tanya Tommy saat melihat Jaenap.


" Ehhh.. loh mas ngapain disini, diundang juga?" tanya Jaenap.


" Pengantin cowok sahabat gw,yang biasa duduk di meja nomer 7 ." ucap Tommy mengingatkan Jaenap.


" Astaga... pantesan nggak asing liat tampang suami Arini, jadi kalian pelanggan setia kita dong.. " ucap Jaenap dengan menutup mulutnya.


" Maksudnya pelanggan Restauran kita." ucap Jaenap lagi membenarkan perkataan nya.


" Iya, gw Tommy.. lo ?" tanya Tommy mengulurkan tangannya.


" Gw Jaenap dia Ayu, dan yang satu lagi tuh.. Fitri.. maaf yak, bukan nggak mau salaman soalnya bukan muhrim. " ucap Jaenap dengan nyengir kuda.


Mendengar penuturan sahabatnya Ayu tersenyum simpul karena memang Ayu dan sahabatnya mengindari seminimal mungkin sentuhan dengan yang bukan muhrim.


" Oh oke, sorry.. tapi..kalau gw lihat Ayu kalau senyum manis juga. " goda Tommy membuat Ayu melotot kearah Tommy.


" Hahaha..gitulah, kalau sahabat kita yang satu ini memang sedikit galak karena belum ada pawangnya,kalau mau jadi pawangnya harus berjuang untuk naklukin dia." ucap Jaenap dengan berbisik ke Tommy.

__ADS_1


" Yahh.. gw tau Je,gimana kalau kita gabung disana ada sahabat gw juga Bagus sama Rizal." ucap Tommy menunjuk kearah tempat dimana Bagus dan juga Rizal duduk


" Boleh juga, ayo... !! dengan senang hati Jaenap mengiyakan kata-kata Tommy


" Jeee...!!! " seru Ayu menggeleng gelengkan kepalanya.


" Ya ..ampun Ayu Habsari,apa sih ..yang buat lo takut, tempat terbuka keles..?! " ucap Jaenap menarik lengan Ayu.


Tommy yang melihat kekecohan kedua sahabat itu tersenyum merasa gemas dengan kelakuan Ayu yang sangat jual mahal.


Akhirnya mau tak mau Ayu mengikuti kemauan Jaenap dan Fitri pun tak keberatan jika harus gabung dengan para sahabat Refal.


Jam sepuluh malam semua orang yang terlibat dalam acara pernikahan Arini dan Refal sudah mulai membubarkan diri.


Menurut kemauan Refal Arini ikut dengan Refal untuk menginap di hotel tempat keluarga Refal menginap.


Arini mengikuti langkah Refal walaupun sedikir kesulitan dalam berjalan karena Arini masih menggunakan kebaya mengikuti langkah Refal yang terbilang langkahnya lebar.


Saat masuk ke lift pun Refal dengan sedikit agak emosi menunggu istrinya yang tertinggal di belakang.


" Bisa cepet nggak sih jalannya.. aku capek pengen cepet istirahat." ucap Refal dengan nada yang tinggi.


" Sabar kenapa, kan ..mas lihat aku pake kain gini, langkah aku juga terbatas." jawab Arini dengan wajah juteknya.


"Ehhh.. sebelumnya kita harus ada perjanjian. " ucap Refal menahan Arini yang akan melangkah ke kamar mandi.


" Maksudnya, perjanjian pernikahan kayak di TV itu, nggak ah... emang ini sinetron ada-ada aja." tolak Arini.


"Trus gimana sekarang kalau nggak usah ada hitam diatas putih, kalau kamu langgar?" ucap Refal dengan berkacak pinggang.


" Iya juga, kalau sewaktu-waktu mas juga langgar gimana yaa? " ucap Arini dengan senyuman penuh arti.


" Ck..Aku nggak bakal langgar, paling kamu yang suka langgar." protes Refal dengan memandang senyuman Arini membuatnya jantungnya tak karuan.


" Gini aja gimana kalau kita rekam, deal?? " usul Arini dengan mengulurkan tangannya pada suaminya.


" Deal..!!" ucap Refal dengan mantap.


" Oke, sekarang mas maunya gimana dan aku harus gimana? " ucap Arini


Kali ini Refal terlihat sedang berfikir keras dan melirik sang istri yang terlihat lebih tenang.

__ADS_1


" Aku akan ikuti permainannya,dan suatu hari nanti aku akan membalik keadaan yang kamu ciptakan, maaf jika aku egois.. kamu bukan kekasih ku yang seenaknya putus dan ganti begitu saja seperti pakain,tapi..kamu suamiku yang berhak aku pertahankan." batin Arini dengan bersikap tenang itulah cara Arini menghadapi permainan suaminya.


" Kenapa dia kelihatan tenang, apa dia juga terpaksa harus mengikuti keinginan Oma." batin Refal.


" Baiklah,selama kita menikah.. kita akan menjadi orang asing walaupun kita suami istri, dan kamu nggak boleh ikut campur urusan aku dan aku pun nggak akan mencampuri urusan kamu..gimana? " kata Refal dengan menaik turunkan alisnya.


" Hahhh... baiklah, aku setuju.. mulai malam ini kita urusi urusan kita masing-masing kecuali urusan kedua keluarga, gimana? " kata Arini


" Oke..,dan perjanjian ini kita bisa ubah kapan pun." ucap Refal dengan mengingat jika suatu saat Dinda akan kembali.


" Hemm.. " jawab Arini singkat.


" Aku mandi dulu, kamu nanti tidur di kasur biar aku di sofa." ucap Refal.


" Iyaa... " jawab Arini dengan mengutak atik ponselnya.


Refal dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.


Sementara Arini sedang sibuk dengan berghibah ria di chat wa nya bersama tiga sahabatnya.


Dua puluh menit Refal. keluar dari kamar mandi dan melihat Arini yang sudah berganti baju dengan baju tidur berbahan satin yang sedikit memnbentuk tubuhnya.


" Mandi sana, kamu nggak gerah? " tanya Refal pada Arini yang sedang senyum-senyum dengan sibuk memegang ponsepnya


"Iya sebentar, aku lagi nunggu Om Abi..sopnya tadi Fitri nganterin bergo sama mukenah aku." ucap Arini santai.


" Ya sudah, sekarang mandi nanti kalau sudah sampe kan bisa aku yang ambil." ucap Refal.


" Nggak lah.. kalau aku nggak ada bergo aku pake hijab gini nggak enak buat tidur." alasan Arini.


" Ya udah, tinggal buka kan aku suami kamu..? " ucap Refal.


" Wahh.. jangan, kamu kan yang bilang kalau kamu nggak akan pernah anggap aku istri, aku hanya istri diatas kertas trus pernikahan kita hanya pernikahan atas kemauan keluarga.Jadi,otomatis kamu nggak berhak dong liat aurat aku.. " ucap Arini dengan santainya


" Sial.. ternyata dia bisa aja nimapalin omongan gw." batin Refal


" Rasain, kamu sendiri yang jual jadi.. mau tak mau aku beli mas.. " batin Arini tersenyum getir meratapi nasib pernikahannya.


Refal hanya bisa diam dan tak ada lagi yang bisa dia katakan, akhirnya dia menuju sofa dan mengambil benda pipih yang tergeletak di nakas.


Bersambung.

__ADS_1


Curhatan Othor


Buat para readers yang menganggap ini adalah " Wedding agreement " maaf dengan sangat tolong hargai penulis.. karena otak othor lelah buat mikir bukan jiplak.


__ADS_2