
" Bangunin suami kamu, kasihan tidur di situ..pasti sakit badannya. Kamu temani suami kamu, biar mbak yang masak.. bang Sofyan bisa bantu kok.." ucap Jenar pada sang adik.
Arini hanya mengangguk menanggapi perkataan sang kakak.
Arini menghela nafas panjang dan mendekati suaminya.
" Apa yang terjadi sama kamu mas, sampai kamu terluka gini. " gumam Arini.
" Mas,,mas Refal bangu..,, mas..,, ma...
" Rin.. sorry aku ketiduran, kamu baru pulang?" tanya Refal dan melihat pergelangan tangannya melihat jam tangan menunjukkan pukul sebelas siang.
" Kenapa tidur disini, pindah ke kamar." ucap Arini.
" Hahh..??
" Maksudnya kamu tidurnya jangan disini, pasti badanya pada sakit nanti, pindah ke kamar Arini." ucap Arini dengan baranjak dari duduknya.
" Owhhh.. kamar kita?? " goda Refal.
" Hemm.. " jawab Arini dengan singkat.
Refal yang mendengar jawaban Arini hanya tersenyum kecut, melihat ekspresi istrinya yang dibilang masih mode marahnya.
Refal mengikuti langkah Arini masuk dalam kamar milik Arini, disana ada ranjang betukuran sedang lemari kayu, meja rias dan meja belajar.
" Tidur lagi aja, aku mau...
" Bisa kamu disini temani aku, please...??" mohon Refal
" Sebentar, aku ambil minum buat kamu.. mau di buatin kopi? " tawar Arini
" Kalau kamu nggak keberatan boleh lah, kangen juga sama kopi kamu.. tapi, buatnya pake cinta jangan ada marahnya yaa..? " goda Refal lagi.
" Heeeemmm... baru beberapa hari nggak ada aku kamu pinter gombal juga, belajar dari mana? " ucap Arini dengan mengernyitkan dahinya.
" Inilah suami kamu yang sebenarnya, sudah jangan banyak pikir, aku mau ke kamar mandi." ucap Refal.
"Itu kamar mandinya, ada handuk bersih juga di lemari atas." ucap Arini dengan melangkah keluar kamar.
.
.
Arini melangkahkan kakinya ke dapur, terlihat sang ibu dan sang kakak sedang menyiapkan perlengkapan untuk memasak.
__ADS_1
" Lho Rin.. kamu kok ke dapur, suami kamu mana? " tanya Mak Dijah melihat putrinya masuk ke dapur.
" Ada di kamar mandi, Rini mau buat kopi kok mak.. " jawab Arini kemudian membuat kopi untuk suaminya.
" Rin, tangan suami kamu kenapa.. mak lihat tadi tangan nya luka di perban." ucap Mak.
" Arini belum tanya, nanti Arini tanya." jawab Arini malas.
" Jangan cuma di tanya, di obati juga kali..." goda Jenar.
" Haissstt ..mbak nih, udahlah.. Arini ke kamar dulu." ucap Arini dan meninggalkan Ibu dan kakaknya.
Saat masuk kamar, Arini melihat Refal. yang sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahannya.
" Mas, kopinya.. " ucap Arini meletakkan cangkir kopi di atas nakas.
Mendengar ucapan Arini, Refal tersadar dari lamunannya, dan melangkah mendekat ke arah Arini.
" Terima Kasih." ucap singkat Refal dan mengambil cangkir berisi kopi.
" Tangan mas kenapa? " tanya Arini.
" Frustrasi." jawab singkat Refal menatap Arini.
" Frustrasi, karena? maksud Arini, kenapa sampai luka, trus perban nya pasti belum di ganti " ucap Arini dengan beranjak dari duduknya dan mencari P3K miliknya
" Frustasi mikirin kamu." jawab Refal
" Frustasi mikirin bagaimana aku yakinin kamu bahwa malam itu tidak terjadi apapun, aku hanya pernah melakukannya cuma sama kamu." sambung Refal.
Arini terhenyak dengan perkataan suaminya, memikirkan tentang malam panas mereka untuk pertama kali dia di sentuh seorang pria,Arini dengan cepat menyingkirkan pikiran yang membuat dirinya merasakan wajahnya mendadak panas. Pipinya sudah terlihat bersemu malu.
Melihat ekspresi sang istri Refal tersenyum tipis.
Arini duduk di samping Refal dan dengan rasa gugupnya dia memandang suaminya dan meraih tangan Refal yang luka.
" Lain kali jangan ceroboh, jangan buat khawatir keluarga." ucap Arini dengan melepas perban di tangan Refal.
" Kamu nggak khawatir sama aku selama ini?"tanya Refal menatap dalam wajah istrinya.
" Istri mana yang nggak khawatir sama suaminya, kamu nggak tahu aja.. saat kamu nggak pulang malam itu, aku khawatir.. takut kamu kenapa-napa,,apalagi saat tahu...
" Stop,,aku sudah bawa buktinya buat kamu.Makanya aku nyusul kamu kesini, aku nggak bisa lihat kamu nangis karena aku Rin,,maafin aku karena aku lengah malam itu." ucap Refal membelai lembut kepala sang istri yang terbalut hijab.
__ADS_1
" Sudah.. ,lukanya sudah mulai mengering..jangan di perban terus yang ada nggak sembuh-sembuh." ucap Arini menyudahi membersihkan luka di tangan suaminya.
" Terima kasih, kalaulah.. perawatnya secantik kamu pasti cepet sembuh." ucap Refal dengan senyuman menggoda.
" Halah.. gombal, sudah selesai gombalnya sekarang kita keluar, makan siang dulu." ucap Arini beranjak dari duduknya.
" Cepet lah..!! " ucap Arini lagi saat melihat suaminya masih diam tak bergerak.
" Iyaaaa... sayanggg..!!" ucap Refal dengan lembut.
Mendengar ucapan Refal membuat Arini tersipu malu.
" Yaelah..pake malu-malu lagi, bikin gemes
aja..!!" batin Refal saat melihat reaksi istrinya.
" Kenapa aku jadi seneng gini sih.. ahhh.. bikin malu aja.. " batin Arini
Arini dan Refal keluar dari kamar, dan melangkah ke ruang makan, disana sudah ada abah juga bang Sofyan.
" Bah.. Bang.. apa kabar..? " sapa Refal dengan senyuman tipisnya dan menyalami mertua dan kakak iparnya
Sedangkan Arini kedapur membantu kakak dan ibunya menyiapkan makan siang.
" Alhamdulillah kita sehat, kamu sendiri gimana? "ucap abah Rahmat menanggapi sapaan menantunya.
" Alhamdulillah bah, baik.. maaf Refal baru sempat kesini, dan maaf beberapa hari ini Refal sudah repotin kalian karena keberadaan Arini di sini." ucap Refal dengan menatap mertua dan kakak iparnya.
" Nggak ada yang buat susah Fal, ini juga rumah kalian,karena memang kakak mu yang ada disini makanya mereka tinggal sama abah juga mak, kalaulah dulu Arini punya suami tetangga mungkin yaa.. rumahnya ada si samping, niat abah dulu begitu, tapi.. berhubung jodohnya kamu dan Alhamdulillah mau bertanggung jawab penuh atas Arini kamu boyong dia,makanya tanah samping itu masih kosong. " ungkap sang abah.
" Sudah,,nanti lagi ngobralnya kita makan siang dulu, Refal pasti belum sarapan kan? "ucap Mak Dijah.
Mendengar ucapan sang Ibu,Arini menoleh pada suaminya, seperti mengkorfirmasi omongan sang ibu.
" Tepatnya dari sudah hampir seminggu nggak enak makan, karena sibuk juga Refalnya." ucap Refal melihat istrinya sekilas.
" Ya ampun, kenapa begitu.. kamu harus jaga makan, jangan sampe kerja dalam keadaan perut kosong.. apalagi suka sama kopi, kamu juga Rin.. perhatikan makan minum suami kamu, mak perhatikan selama di sini kamu Off Hp, semarah apapun seorang istri harus tetap menjalankan kewajiban kamu,inget..surga kamu adalah suami kamu." ucap Mak Dijah dengan mengisi piring sang suami dengan sajian makanan makan siang.
" Iyaa.. mak." ucap Arini dengan melirik suaminya.
" Sudah kita makan dulu, nggak baik kita banyak bicara di depan rejeki kan." ucap sang Abah menghentikan obrolan.
Mereka pun akhirnya makan sama-sama dengan tenang, Arini melayani Refal dengan telaten. Saat-saat seperti ini yang membuat Refal rindu akan istrinya, Istri yang sangat melayani suaminya.
Bersambung
__ADS_1