7 Hari Mencintaimu

7 Hari Mencintaimu
# Alasan ke Paris


__ADS_3

" Sebenarnya apa yang kamu mau dari hubungan pernikahan ini mas, jangan salahkan aku jika sampe aku lelah dan akhirnya menyerah jika kamu selalu seperti ini." gumam Arini dengan memandang pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Bukannya bangun, namun.. Arini memiloh menutup matanya kembali.


Sampai lima belas menit, Refal akhirnya keluar kamar mandi dan tidur di samping Arini yang membelakanginya.


Refal menoleh ke arah dimana Arini tidur disampingnya, merasa tak ada pergerakan yang di lakukan Arini, akhirnya Refal pun mulai memejamkan matanya, dan mengistirahatkan tubuhnya yang teramat lelah.


Sampai pagi menjelang, Arini seperti biasa dia selalu bangun lebih dulu, membersihkan diri, melaksanakan sholat subuh nya dan mengubungi Lusi menanyakan waktu mereka akan pergi.


Hari ini Arini sengaja tak membangunkan Refal, karena menurutnya Refal tetap dengan perjanjian awal, hidup masing-masing.


Jam sembilan pagi Arini sudah rapih dan juga siap untuk pergi. Saat akan melangkah keluar kamar tiba-tiba Refal bangun.


" Rin, mau kemana? " tegur Refal saat melihat Arini yang sudah rapih.


"Ehh.. mas sudah bangun, aku pamit.. Lusi sudah nunggu di bawah kita mau ke Disneyland mungkin??" canda Arini.


" Emang ini jam berapa? " tanya Refal dengan mata yang masih enggan terbuka.


" Jam sembilan lebih lima belas, kenapa mas?" ucap Arini santai.


" Hahhh.. jam sembilan,kenapa kamu nggak bangunin aku.. !!"


" Mana aku tau kamu mau kemana, mau bangun jam berapa, lagian kamu sendiri kemarin...


" Stop.. udah, mendingan aku mandi dari pada dengerin ocehan kamu.Perlu kamu tahu, aku sudah terlambat.. " ucap Refal dengan kesal.


" Kenapa dia jadi marah sama aki sih, lagian katanya kegiatan kita disini jalani masing-masing, aneh... " gerutu Arini keluar dari aparatemen menemui Lusi.


.


.


Dari kejadian pagi itu akhirnya, Refal yang meminta maaf pada Arini terlebih dahulu.


Sampai hari keenam mereka di Paris masih seperti hari pertama sampe kelima mereka melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Namun hari ini, sedikit berbeda karena agenda Arini hari ini Shopping bersama Lusi.


Pertemanan Lusi dan Arini sangat baik, apalagi sifat Arini yang mudah menyesuikan diri dan cepat belajar membuat Arini disukai banyak orang.


" Mbak kita jadi ke Mall kan? " tanya Arini di dalam mobil yang di kemudikan Lusi.


" Jadi dong, bukannya kamu liburannya sudah selesai kan? " ucap Lusi sambil meliril Arini sekilas.


" Tahu nggak mbak, aku sebenernya males juga balik lagi ke Indonesia karena setelah ini aku harus hadepin suami kulkas macam Refal." celoteh Arini


Citttttt....


" Awwwsstt... "ringis Arini karena merasakan sakit terbetur dasbor.


" Sorry.. sorry, tadi kamu bilang apa? "tanya Lusi.


Tin..


tin..


tin..


" Minggir dulu mbak,kita ditengah jalan." seru Arini.

__ADS_1


Lusi dengan cepat menepikan mobilnya dan segera meminum air putih yang diberikan Arini.


" Kamu, tadi ngomong apa Rin.. kamu sama Refal..


" Aku sama Refal suami istri, kenapa mba.. ada yang salah? "tanya Arini polos.


" Nggak ada yang salah, gw salah Rin.. terlalu percaya sama Refal.." ucap Lusi dengan mencengkram dengan kencang stir mobil.


" Maksudnya? "


" Refal bilang ke aku ,kamu. itu sepupunya.. dan dia..


" Sudahlah, kita belanja dulu lah..sebelum mood aku bener-bener hilang." ucap Lusi menyerobot omongan Arini.


Selama perjalanan ke mall mereka saling diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Sampai di Mall. mereka berkeliling dan masuk ke autlet-autlet yang punya nama.


Saat mereka berjalan tak sengaja Arini dan Lusi bertemu dengan Refal yang bersama Dinda.


Sakit.. itu yang dirasakan seorang Arini, walaupun dia menikah tanpa cinta namun, sejatinya suaminya adalah miliknya. Sesak dada yang sangat menyiksa dada.


Flasback on.


" Mba.. kenapa mba setuju waktu mas Refal bilang mau ke Paris? " tanya Zaskia sang adik ipar


" Lho,kenapa memang.. mba nggak masalah kok." ujar Arini


" Justru itu masalahnya.. mba nggak tahu. kalau abang itu lagi nyusun siasat." ujar Kia.


" Husss.. jangan Su'udzon sama kakak sendiri."


" Aku nggak Su'udzon sama bang Refal cuma ini fakta,karena disana dia pasti akan ketemu sama Dinda wanita sund*l itu."


" Mba tahu kan artinya apa, dan aku juga nggak mau kalau mba sampai di telantarin disana sementara dia asik-asikan sama cewek lain." ujar Kia yang begitu frustrasi dengan sifat kakak iparnya yang terlalu baik.


" Kia percaya mbak kan, mungkin dia akan ngomong juga kok kalau dia udah nikah.. nggak enak juga kan masa ngasih tahunya lewat telepon,tenang..Insyaallah mba nggak papa."ucap Arini dengan menenengkan hati sang adik ipar


Padahal kenyataannya hatinya kini yang gelisah.


" Aku mohon mba, jangan jadi orang yang terlalu baik.. mba bis egois sekali-kali demi kebahagiaan mba." saran Kia.


" Iyaa.. dan mba akan menjadi orang yang egois suatu saat." jawab Arini dengan senyuman tipis dan mencoba menenangkan hatinya yang sekarang tambah resah.


Flasback off


" Ternyata benar dia bertemu sama wanita itu, dan memang sangat beda dengan ku.Dia berkelas sedang aku hanya seorang babu." batin Arini.


" Rin, kamu nggak papa.?" tanya Lusi menyadarkan lamunan Arini


" Arini.. " batin Refap saat menoleh ke arah sumber suara yang dia dengar memanggil nama Arini


" A_aku nggak papa kok mba, aku sudah selesai shopping nya mba,apa mba ada yang mau di beli lagi ?" ucap Arini pada Lusi.


" A_ada sih, kita lihat di toko lain deh.." ujar Lusi dengan mambawa Arini keluar dari toko tersebut.


" A_.


" Sayang.. bayar.. "


Dinda yang menghentikan langkah Refal yang seperti akan meninggalkan Dinda.

__ADS_1


Akhirnya Refal memutuskan untuk menyelesaikan pembayaran hasil shopping Dinda.


" Ada apa sama Refal, nggak seperti biasanya.. waktu liat dua wanita tadi juga kelihatan mereka saling kenal,tapi, kalau mereka saling kenal kenapa nggak nyapa." batin Dinda.


Walaupun selama enam hari ini Refal bersamanya namun, seperti ada yang hilang dari Refal.


" Udah kan, sebaiknya aku antar kamu.. soalnya aku mau ada ketemu orang juga disini dan nggak bisa bawa kamu..nggak papa yaa.. ?" ucap Refal dengan membelai lembut rambut Dinda.


" Nggak masalah, tapi.. besok bener nggak. mau dianter ke bandara? " tanya Dinda.


" Nggak usah, ada orang yang nganter juga." tolak Refal..


" Oke deh." jawab Dinda singkat.


Saat di mobil Refal ingin jujur dengan statusnya sekarang, namun.. dia belum ada kebetanian untuk mengatakannya.


" Din.." panggil Refal


" Hem? "


" Nggak deh."


" Nggak apa? "tanya Dinda. "Kenapa emang, ada suatu hal yang mau kamu katakan?" tanya Dinda.


" Nggak, kamu disini harus hati-hati dan jaga diri." ucap Refal akhirnya


" Pasti." jawab Dinda dengan singkat.


Setelah sampai di studio yang biasa dia gunakan Dinda langsung turun dari mobil itu dan Refal pun setelah sedikit cipika cipiki, Refal langsung mengarahkan mobilnya ke apartemen.


Tiga puluh menit dia sampai, dan langsung menempatkan mobilnya seperti biasa dan langsung menuju apartemennya.


Sampai apartemen ternyata Arini belum kembali. Refal berusaha menghubungi nomer Arini namun, tak aktif. Nomer Lusi pun demikian.


Setelah dua jam berusaha menghubungi mereka tak berhasil ,kini.. sebuah nomer tak dikenal menghubungi nomernya.


Refal mengangkat panggilan itu.


" Hallo.. "


" Ya.. Arini is my wife..,who are you?


" What happened to my wife?


" Ok, I'll be there soon ."


Refal menutup panggilan ponselnya ,setelah mendapat kabar jika mobil yang di tumpangi Arini mengalami kecelakaan.


Refal segera meraih kunci diatas nakas dan segera ke rumah sakit. Khawatir tentu, rasa bersalah.. sangat..


Entahlah, dia hanya berharap Arini baik-baik saja.


Beraambung


Like, Vote kasih Love juga nggak nolak..


Jangan lupa komentar dan kalau perlu bisa share juga, untuk referensi bacaan novel online ke bestiee kalian..


Ramein yuk...


Biar aku tambah semangat nulisnya..

__ADS_1


"


__ADS_2