7 Hari Mencintaimu

7 Hari Mencintaimu
# Serangan Fajar


__ADS_3

Jam empat tiga puluh Arini terbangun, namun.. gerak tubuhnya tercekat karena Refal memeluk Arini dengan erat dari belakang, Arini memutar tubuhnya menghadap arah Refal.


Menatap wajah yang terlihat terlelap dalam mimpi indah nya. Terlihat sangat damai raut wajah itu, Arini membelai lembut wajah suaminya.. walaupun ada rasa takut, namun dia memberanikan diri untuk menyentuh wajah itu.


Mungkin hanya seminggu wajah itu bisa dia setuh, entah selanjutnya.


Saat Arini masih sibuk dengan pikiran nya,mata Refal sedikit demi sedikit terbuka lebar dan tersenyum kala melihat wajah cantik polos milik Arini.


" Sudah puas belum liatin suaminya?" ucap Refal dengan suara Bass khas orang yang baru bangun tidur.


" Hahhh.. ka_mu udah bangun? "


" Kenapa, mau pegang muka ku lagi, atau mau yang lain? " goda Refal dengan senyum penuh arti.


" Ihhh.. nggak gitu mas, udahlah.. sebentar lagi subuh, bangun yaa.. sholat di masjid." ucap Arini


" Morning kiss?


" Hahh.. mas, jangan mengada-ada bisa nggak?"


" Nggak ngada-ngada kok, please.. pengen tahu gimana rasanya morning kiss sama istri. " goda Refal.


" Emang pernah morning kiss sama selain istri, ohh... jangan-jangan mas suka morning kiss sama Dinda itu yaa? " tebak Arini dengan memicingkan matanya


" Mamp*s gw, kenapa mulut nggak di kondisi kan sih? kalau dia tahu gaya pacaran gw sama Dinda pasti dia ilfil." batin Refal


" Mas, mas.. mas kok diem nggak jawab. Berarti bener tebakan aku kan? "


" Apaan sih, aku mau ke kamar mandi bentar lagi subuh. " ucap Refal bergegas menuju Kamar mandi.


" Ya Allah, apa mas Refal begitu bebas pacaran' sama Dinda, jika iya.. betapa tersiksanya dia di samping aku,padahal aku halal untuknya." batin Arini.


Lima belas menit Refal keluar dari kamar mandi dengan penampilan lebih segar,dengan bertelanj*ng dada hanya memakai handuk yang dia lilitkan dipinggang.


" Mass..!! "


" Apa?


" Ihhh.. kenapa sih harus nggak pake singlet atau kimono? "


" Kenapa, kan baru mandi Rin.. atau jangan-jangan kamu baru pertama kali lihat pria dewasa berpenampilan polos begini? " goda Refal.


" Tau ah.., tuh baju sama sarung mas.. "


Arini berlari kecil masuk kamar ke dalam kamar mandi dan menutupnya, Arini bersadar di pintu kamar mandi dan memegang dadanya yang terasa jantungnya berdetak begitu kencang.


Sementara Refal pun demikian, dengan cepat dia mengganti pakaiannya dan bersiap ke masjid dekat dengan apartementnya.

__ADS_1


.


.


.


Arini yang sudah selesai dengan sholatnya bergegas ke arah dapur menyiapkan sarapan pagi.Saat melihat luar ternyata di luar hujan deras membasahi Jakarta subuh itu.


" Ya Allah, mas Refal gimana pulangnya.. hujan deras gini? " gumam Arini.


Arini dengan sigap membuatkan Dark Chocolate kesukaan suaminya, pas dengan cuaca pagi ini.


Cklek..


" Ya Allah mas, cepat kekamar bilas badannya trus aku siapin baju ganti buat kamu, nih minum dulu sedikit Chocolate panasnya." ucap Arini dengan cepat memberikan minuman itu ke suaminya.


" Terima kasih." ucapnRefal dengan senyum tipisnya.


Refal yang merasakan dingin sampai mengigil karena air hujan, kini merasa hangat saat meminum Dark Chocolate buatan Arini.


" Mas,aku sudah siapin air hangat kamu bilas dulu gih.." ucap Arini


" Iya.. "


Refal menurut apa yang di katakan Arini.Membilas tubuhnya dengan air hangat. Setelah lima belas menit kemudian Refalpun keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk terlilit tubuhnya.


Penampilan Arini sungguh menggoda iman Refal pagi itu, persetan dengan pekerjaan. Diotak Refal sekarang hanya ingin menuntaskan apa yang sudah mbuat dirinya tak mampu lagi bertahan.


Arini yang memang sedang merapihkan tempat tidurnya, membeku saat tangan kekar yang melingkar di pinggang ramping nya,pelukan itu semakin erat .


Tubuh Arini seakan lemas tak punya tulang saat dia rasakan hembusan nafas yang terdengar tak beraturan.


" Kamu menggod*ku Rin, kamu selalu menguji ku.. selama tiga bula lebih, kamu menyiksa ku sayang.. " ucap Refal dengan berbisik di telinga Arini ,Suara Refal yang terdengar sangat berat menahan hasr*tnya.


" Ma.. mas, a.. aku nggak bermaksud untuk menggoda kamu." ucap Arini dengan rasa gugup nya.


Refal dengan senyuman tipisnya membalikkan tubuh Arini menghadapnya.


" Heii.. liat aku"


Refal mengangkat dagu Arini sampai mereka saling tatap, Arini melihat sosok Refal yang berbeda. Refal yang bisa dikatakan tatapan yang penuh damba.


" Ma_mass.."


" Aku menginginkanmu Rin.. "


Arini melihat Refal yang sudah menatap sayu ke arahnya. Tanpa harus berkata apa, Arini dengan perlahan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Refal yang melihat reaksi Arini, tersenyum tipis dan lebih merapatkan tubuh mereka. Sekarang tanpa jarak, terasa kulit mereka saling menempel, Refal sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Arini dan tidak menunggu waktu lama Refal yang sudah di selimuti kabut gair*h mengecup lembut bibir merah itu, semakin dalam dan Arini yang mendapatkan perlakuan seperti itu untuk pertama kali, mendadak menjadi lemas tanpa tulang, tubuhnya seperti ingin ambruk jika Refal tidak merengkuh tubuh Arini mungkin sudah lunglai ke lantai.


Seperkian dekltik Arini belum bisa membalas apa yang dilakukan Refal.


Refal menghentikan kegiatanya,dan menatap Arini lekat " Kenapa, apa kamu...


" Lakukan ,saat ini aku milikmu.. halal bagimu, semua ini hak kamu.. tapi, aku belum pernah melakukan sejauh ini.Aku minta maaf jika nanti masih banyak kurang ku..


Refal dengan netranya yang sekarang sangat mendamba Arini, tersadar jika wanita yang sekarang dalm dekapannya adalah wanita polos belum tersentuh oleh siapapun.


" Ikuti dengan perasaan kamu, aku akan melakukannya selembut mungkin." ucap Refal dengan mulai membelai lembut wajah Arini dan membuat Arini terbuai dengan sentuhan sentuhan yang Refal ciptakan.


Refal mulai membimbing Arini ke atas tempat tidur, dan melakukan dengan selembut mungkin supaya Arini pun bisa dengan mudah menerima nya.


Sentuhan demi sentuhan membuat Arini larut dalam permainan Refal pagi itu, des*han-des*han yang tercipta di dalam kamar itu terasa merdu, sahutan demi sahutan dari Arini dan Refal sungguh membuat makin panas suasana dalam kamar itu.


Cuaca hujan lebat memberikan sensasi tersendiri bagi kedua orang yang sedang berpadu di atas pembaringan yang menjadi saksi bisu penyatuan keduanya.


" Aku mulai yaa.. ini mungkin sedikit sakit..kamu boleh cakar atau jambak aku nggak papa..dan kesananya nggak akan sakit lagi kok.." ucap Refal seraya menenangkan Arini yang terlihat tegang.


Refal mulai dengan menyatukan kembali raga mereka.Sekali hentakan senjatanya tak bisa membobol gawang lawan dan dua kali, tiga kali henyakan baru, terdengar bunyi yang bisa dibilang gawang lawan sudah kebobolan.


" Aaaaa...sakitttt.. " pekik Arini dan reflek mencakar punggung Refal dan menjambak rambutnya juga.


Refal dengan sabar menunggu Arini sampai tenang, saat di pastikan tenang baru Refal menikmati hidangan yang disuguhkan Arini saat ini, kedua insan itu semakin larut dalam lautan gair*h pagi itu .


"Aaa... ahhh.. " Keduanya sama sama meleng*h panjang kala sesuatu yang meledak di bawah sana, dan membawa mereka terbang ke nirwana.


Refal merasakan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, rasa senang dan bahagia menyelimuti hatinya. saat dia tak sengaja melihat bercak merah darah menempel pada juniornya dan juga bercak di sprei putihnya.


Refal ambruk di samping Arini, dan kemudian merengkuh tubuh Arini dan mencium lembut seluruh wajah Arini.


" Terima kasih, kamu menjaganya dengan baik." ucap Refal


" Hemmm.. " jawab Arini singkat sedang matanya sudah terpejam


Refal yang melihat reaksi Arini dengan begitu polosnya, senyum terisirat dari bibir nya.


Memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah karena kegiatan yang dilakukan mereka.


Bersambung


Seneng kan..?


Udah bobol gawang Arini, apakah Arini akan menyesal karena sudah memberikan mahkotanya pada suaminya yang belum benar-benar mencintainya?


Apakah Refal dengan begitu mufah melupakan kejadian pagi itu?

__ADS_1


Ikuti kisahnya besok lagi yaa..


__ADS_2