
Arini dengan berkacak pinggang mendekati Sonya.
" Jangan pikir wajah polos, dan tubuh nggak ideal itu bisa di tindas.Kamu salah nona, jangan pernah meremehkan seorang istri yang terlihat lemah, bisa saja dia lebih bahaya dari pada hewan buas sekalipun." ucap Arini dengan sedikit berbisik pada Sonya yang masih merasakan kesakitan karena pitingan Arini.
Sonya dengan rasa malu dan tidak bisa membalas Arini saat in Uhhh hanya menatap Arini dengan perasaan marah dan dendam.
Arini melangkah meninggalkan Sonya dengan senyuman mengejek, dan di ikuti Refal dengan tanpa ekspresi melihat Sonya.
" Awas saja, lihat saja wanita sombong.. kamu akan merasakan sakit di hati kamu bukan di fisik kamu,jangan panggip aku Sonya jika tidak bisa mengambil apa yang aku inginkan." gumam Sonya melihat Arini dan Refal yang keluar dari restaurant dengan santainya.
Sementara Arini dan Refal yang sedang berada di mobilnya masih dengan mode diam, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Tiga puluh menit mereka sampai di apartement, Arini melangkahkan kakinya dengan malas.
Saat masuk dalam apartement, Arini langsung kearah dapur dan meneguk air putih dengan rasa kesal dan Refal melihat hal itu hanya diam dan tak tahu harus bicara apa pada istrinya.
Siang ini sang istri pasti ada rasa kesal karena secara hampir bersamaan harus menghadapi dua orang di masa lalu suaminya.
" Rin..
" Aku lelah mas, cape.. bisa nggak kalau mau berdebat atau mas mau ngomel nanti aja, aku mau istirahat sebentar saja, tenagaku terkuras siang ini." ungkap Arini dengan menghela nafas kasarnya dia melangkah masuk dalam kamar dan menutup pintunya dengan sedikit kasar.
Refal dengan rasa tak enak kali ini melangkah masuk dalam ruang kerjanya dan merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa bed dalam ruang kerjanya.
Pikiran Refal melayang, mungkin bisa dia bohong dengan perasaannya.Dalam hati Refal masih ada rasa sayang pada Dinda, bagaimana pun mereka sudah lama bersama melewati semuanya sama-sama, Refal yang kala itu hanya ingin menjadi pria yang tertantang dengan sikap Dinda yang angkuh, ternyata dia yang memenangkan hati Dinda walalupun saat itu dia masih setengah hati menjalani hubungan dengan Dinda karena masih sangat mencintai Sonya, namun.. dengan sikap Dinda yang dominan membuat Refal terbiasa, seolah Refal tak perlu berjuang untuk mempertahankan hubungan mereka pada awalnya, namun.. pada akhirnya karena terbiasa dengan kehadiran Dinda dia mulai merasa tak mungkin lagi mencintai seseorang yang bisa membuat dia bergetar.
Namun salah, jiwanya bergetar saat bertemu dengan gadis polos berhijab dengan tampilan sederhananya, membuat jiwa nya bergetar hebat. Sampai akhirnya dia tahu jika gadis tersebut sudah memiliki kekasih, namun.. Refal hanya bisa memandang dari kejauhan, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
Melihat senyumnya saja hati Refal sudah merasa tenang, saat melihat gadis itu lelah ingin dia menyemangati atau sekedar meminjamkan bahunya untuk berdandar.
Rasa kagum Refal pada gadis itu disimpan dalam hati menikmati rasa sayang yang terpendam di relung jiwa. Melihatnya bahagia dia merasa bahagia juga saat melihatnya menangis dia juga ikut sedih.
Gadis yang telah berhasil memporak porandakan pertahanan seorang Refal, gadia yang berhasil membuat Refal melakukan hal. yang tak biasa Refal lakukan. Menguntit..
Itu yang sering Refal lakukan pada gadis ini, melihatnya dari jauh dan melihat dalam kegelapan itu sering Refal lakukan.
Refal yang mengingat hal itu hanya tersenyum mengingat kelakuannya dua tahun belakangan .
Dia tersadar jika cinta nya sudah bergeser pada seorang gadis asing, cinta pada Dinda sudah sirna yang ada hanya rasa peduli sebagai sosok teman.
Refal melangkah mengabil sesuatu dari laci meja kerjanya, memandangi sebuah dokumen dan sebuah Flashdisk. Refal tersenyum kecut kala mengingat apa isi yang ada di dalam Flashdisk itu, selama bertahun-tahun dia di bohongi. atas nama cinta. Padahal cinta itu tak pernah hadir dalam hati.
__ADS_1
Refal merogoh kantong celananya dan meraih benda pipih canggihnya menghibungi Tommy.
" Nanti malam, sesuai dengan rencana ketemu di Happy Club."
" Oke, beres.. gw atur."
" Hemm..
" Dimana lo?
" Dirumah, gw pengen istirahat.".
" Tumben lo?"
" Bini gw habis ngamuk sama Sonya juga Dinda."
" Serius lo, demi apa? "
" Terserah lo kampret, kalau nggak percaya."
" Oke, gw coba buat percaya."
" Hemm..
.
.
Disebrang sama ada yang mencak-mencak mendapat perlakuan Refal.
" Kebiasaan nih bocah.. kalau udah nggak perlu pasti seenaknya nutup telopon.." gerutu Tommy dengan geram dengan kelakuan Refal.
" Kenapa sih, ngomel gitu?" tanya seorang wanita di sampingnya.
" Ini.. si Refal, ngajak ketemuan nanti malem di tempat biasa.. kayaknya dia mulai bertindak." ucap Tommy.
" Pasti di Club? " tebak gadis itu.
" Hemm.. " balas Tommy singkat.
" Trus, dia bilang apa lagi? " tanya Rizal.
__ADS_1
" Dia bilang, Arini habis ngadepin Dinda sama Sonya." jawab Tommy.
" Serius lo? " tanya Bagus yang mulai tertarik dengan yang dibahas kedua sahabatnya.
" Hehh.. kalian semua lelaki kurap, bilang sma Refal jangan pernah sakitin Arini, atau kita yang bertindak. " ancam Jaenap.
" Arini nggak selemah itu, apalagi kalau dua cewek itu mau adu jotos.. aku yakin Arini yang menang."ungkap Ayu dengan santai.
" Arini bisa bela diri? " tanya Tommy.
Ayu menjawab dengan anggukan. membuat lima orang di depannya tak percaya, badan sekecil Arini bisa bela diri.
" Kalian nggak percaya, bisa di coba. Arini yang aku kenal tak semudah itu di tindas jika dengan tindakan main fisik ,Dia nggak akan langsung percaya dengan apa yang dia dengar. Kalian inget.. soal Firman, walaupun kalian berdua ngomong sampe berbusa dia nggak akan begitu saja percaya, jika belom melihat dengan mata kepala sia sendiri." ucap Ayu
Fitri dan Jaenap pun membenarkan kata-kata Ayu. Arini terlalu baik pada orang yang dia cintai dan sayangi.
.
.
.
Malam menjelang, saat makan malam di apartemen Refal pasangan suami istri itu tak lagi ada yang bicara hanya diam dan masih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Jam sembilan malam saat Arini masuk kedalam kamarnya terlihat Refal yang rapi dengan baju santainya dan tak lama dia memakai hoody putihnya.
" Rin, aku keluar sebentar.. mau ketemu tiga sahabat aku." pamit Refal
" Hemm..." jawab Arini singkat.
" Kamu jaga diri yaa..?" ucap Refal.
" Iya.. " ucap Arini singkat.
" Assalamu'alaikum. " salam dari Refal
" Wa'alaikum salam." jawab Arini.
Refal benar-benar meninggalkan apartemennya. Namun, entah mengapa Arinj merasa tak enak dalam hatinya. Rasa khawatir pada Refal semakin besar. Akhirnya Arini menghubungi Jaenap menanyakan Rizal dan benar yang di katakan Refal dia bertemu sahabatnya, Jaenap pun bilang supaya Arini tenang.
Bersambung
__ADS_1