
" Mas,lepasin .." ucap Arini dengan berusaha untuk melepaskan diri dari suaminya.
" Mas kangennn... " bisik Refal menatap Arini lekat.
" Hahh,, tapi..
" Kamu nggak kangen,, yah... " ucap Refal lesu
" Tapi, masih siang mas.. " jawab Arini lirih
" Emang kenapa kalau siang, nggak ada yang larang yangg.. " ucap Refal lembut.
" Emmm.. i_iya."
"Iya apa? "tanya Refal dengan senyum tipis.
" Iyaa.. aku juga kangen sama mas, bukan..
" Oke,, aku tau,, kamu pasti masih malu.. " goda Refal mencubit hidung Arini dengan gemas.
"Ihh.. masss..kam....
Tanpa menunggu lama, Refal membungkam bibir manis Arini. Menyalurkan rasa rindu yang sudah di ubun-ubun.
Melakukan dengan perasaan yang berbeda, Refal dengan lembut memberikan sentuh*n-sentu-han di bagian yang membuat Arini menyebut nama suaminya.
Arini merasakan begitu berbeda dengan saat mereka baru melakukan pertama dan kedua kalinya, saat ini keduanya saling memanjakan satu sama lain, walaupun memang Refal tetap memimpin.
Memberikan dan merasakan sentuh*n penuh kasih sayang,membuat Arini melambung tinggi dengan ayat cinta yang di ucapkan suaminya. Pelebur kini rasa rindu, Cinta dan sayang,, saling memiliki dengan utuh tanpa meragukan satu sama lain.
" Terima kasih sayangg.. " bisik Refal dengan memeluk tubuh istrinya yang penuh peluh membanjiri tubuh mereka.
" Hemmm.. " ucap Arini dengan mengulas senyum dalam dekapan suaminya.
"Capek yaa.. maaf yaa,, sekarang istirahat.. ashar kita bangun." ucap Refal dengan membenahi pakaian sang istri.
Arini dengan pasrah saat Refal dengan telaten memakaikan bajunya setelah Refal membantu Arini membersihkan diri.
Refal terlihat sang istri kelelahan merasa kasihan, maka dari itu Refal dengan senang hati membantu Arini merapihkan tampilannya.
Arini yang terasa lelah, akhirnya tak butuh waktu lama dia tertidur. Refalpun berbaring disamping Arini dan ikut terlelap.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu membuat tidur Arini terganggu.
Arini dengan perlahan membuka matanya dan melihat sampingnya terlihat suaminya tertidur dengan pulasnya.
Arini tersenyum mengingat suaminya yang mulai memberikan kata cinta untuknya.
__ADS_1
Arini beranjak dari tempat tidurnya, walaupun sudah pernah melakukan nya dengan Refal namun,, tak bisa di pungkiri masih terasa tak nyaman jika buat berjalan.
Ceklek.
" Assalamu'alaikum.. pengantin baru, udah sore takut abis asharnya." ucap Jenar. melongok sedikit kepalanya melihat keadaan kamar sang adik.
" Wa'alaikum salam.. mbak ngapain coba ngelongok-ngelongok kamar aku, nggak sopan." ucap Arini dengan mencebikkan bibirnya.
" Iyaa.. maaf,,mbak paham kok,,yang baru baikan pastinya perang makin seru kan?? " goda Jenar.
" Mbaaakkkk... ihhh.. " seru Arini dengan kesal.
" Hahahahaha.. " tanpa rasa bersalah,Jenar tertawa melihat reaksi sang adik yang terlihat menggemaskan.
Arini langsung menutup pintu kamarnya dengan sedikit kesal dengan sang kakak dan akhirnya dia bergegas membersihkan dirinya.
" Mass.. bangun, udah mau habis waktu ashar nya." ucap Arini yang sudah rapih dengan mukena nya.
" Hemmm.. jam berapa sih? " tanya Refal dengan mata yang masih tertutup.
" Sudah mau jam lima, bangun ..mandi sana,,aku tunggu buat kita sholat jamaah ." ucap Arini"
Akhirnya mau tak mau Refal bangun dan langsung ke kamar mandi.
Arini menyiapkan baju milik suaminya, Refal hanya membawa tas punggung sedang mungkin hanya beberapa baju di dalamnya.
Tak butuh waktu lama, Refal keluar dengan keadaan yang terlihat segar.
" Terima kasih." ucap Refal dengan senyum mengembang mendapatkan perlakuan yang membuat Refa merasa kehilangan Arini beberapa hari lalu.
" Hemmm.. " jawab singkat Arini dan memposisikan dia di atas sajadah di belakang imam.
Refal dengan cepat merapihkan tampilannya dan langsung dengan khusyuk melaksanakan kewajibannya bersama sang istri.
Setelah kurang lebih sepuluh menit mereka selesai sholat keluar kamar.
" Ehhh.. penganten baru..!!" goda Jenar
" Jenar, jangan kayak gitu.. godain adek nya mulu.. " ucap Mak Dijah mengingatkan.
" Biarin aja mak, nanti anaknya mirip aku lho.. " balas Arini duduk di samping sang ibu.
" Yahh.. kalaupun mirip kamu nggak papa Rin, kan kamu anak baik." ucap Sofyan sang kakak ipar.
" Dihhh.. enak aja, anak kita yah tetap mirip kita.. " Seru Jenar tak terima.
Refal yang mendengar candaan kakak adik itu hanya tersenyum,melihat ke akraban dua bersaudara itu.
" Fal, tuh..mak rebus singkong sama ubi,kalau suka makan.. kalau disini mak sama abah cuma punya itu hasil kebun. " ucap mak Dijah
__ADS_1
" Iya mak, nggak masalah.. apapun yang penting sama keluarga kan." ucap Refal.
" Oh iya gimana kerjaan kamu, apa nggak papa kamu tinggal-tinggal jemput Arini gini?" tanya Abah
" Nggak papa bah, papa juga bisa bantu awasin,,sementara Refal bisa kerjain dari sini." jelas Refal.
Arini yang sempat ke dapur dan membuat kopi buat suaminya.
" Kopinya mas.. " ucap Arini memberikan secangkir kopi buat Refal
" Terima kasih." ucap Refal singkat
Tok Tok Tok
" Assalamu'alaikum." terdengar suara salam dari luar rumah.
" Wa'alaikum salam." jawab mereka
Mak Dijah dengan cepat membuka puntu depan terlihat dua orang laki-laki, di depan rumah kemungkinan seumuran Refal dan Sofyan.
" Agung.,Satyo . ada apa nih? " tanya Sofyan
"Ini yan.. soal aliran air di sawah blok kita ternyata nggak bisa sampe lahan kita, kalau kayak gini terus yang ada sawah kita kekeringan sementara bagian seberang kita air melimpah." ujar pria bernama Agung.
" Kayaknya mendingan kalian duduk, kita bicara sambil ngopi." ucap Abah Rahmat.
Akhirnya pemuda bernama Agung dan Satyo pun duduk bergabung dengan Abah Rahmat, Sofyan dan Refal.
" Sebenarnya duduk perkaranya gimana? " tanya Abah Rahmat memulai pembicaraan.
" Kita selama ini kan sewa pompa dari Juragan Karman,buat pompa air yang ada di aliran buat ngalirin kesawah kita.Tapi, kata juragan Karman sewanya dinaikan,kalau dinaikkan sedikit nggak masalah tapi, ini hampir dua kali lipat." ungkap Satyo.
" Uang kas yang ada, emang nggak cukup Yo..? " tanya Abah Rahmat.
" Masih kurang lek, buat sewa tahap dua.. kita kan nggak mungkin setelah nandur padi di biarin gitu aja." ucap Agung.
" Sebenarnya apa masalahnya sampai harus sewa pompa? " tanya Refal akhirnya ikut nimbrung.
" Aliran pengairan yang ngalir ke sawah milik kita-kita itu nggak bisa ." ungkap Agung
" Memangnya nggak ada sumber air lagi kecuali saluran irigasi yang di buat juragan itu? tanya Refal
" Sebelah kiri lahan kita sebenar ada sungai tapi, kalau musim tanam di musim kemarau itu akan sulit karena aliran yang dari sungai kering, dan keadaan sungai pun air nggak banyak." terang Satyo.
" Gini aja, besok kita kesana..coba nanti saya lihat apa bisa kita cari alternatif dengan medan yang ada." ucap Refal dengan serius.
" Kamu mau ngapain emangnya? " tanya Sofyan.
" Nanti kita lihat apa saya bisa bantu atau tidak." ucap Refal
__ADS_1
Agung,Satyo ,Sofyan dan abah Rahmat pun setuju. Mereka berharap ada jalan buat kelangsungan tanaman mereka yang terancam gagal panen.
Bersambung