
" Mas.. " seru Arini.
" Gw udah gila kali yahh.. nggak mungkin juga Arini ke Apartemen nggak ngasih kabar gw." gumam Refal
" Mas.. "tegur Arini
Arini menyentuh bahu suaminya.
" Ehhh... i_iya..Arini ?" ucap Refal yang kaget liat Arini yang tiba-tiba di apartemennya.
" Iya ini Rini,,kenapa,, kayak liat hantu gitu??" Arini melihat suaminya yang muncul dengan tiba-tiba dan melihat Refal yang terlihat beda wajah yang tak terawat,, dan ada cekungan hitam di bawah matanya.
" Hahh.. kok bisa kamu disini? "
Pertanyaan Refal itu ditanggapi Arini dengan tawa, dan Refal melihat istrinya tertawa pun hanya menghembuskan nafas nya.
" Mas kenapa sih,, aku...
" Aku ke kamar dulu yah.. " potong Refal dan melangkah menjauh meninggalkan Arini yang masih mematung, sikap yang di lakukan Refal padanya kini terlihat dingin dan terasa asing.
Refal masuk dalam kamarnya,tubuhnya yang terasa lelah pun,,dia rebahkan diatas kasur.
Entah kenapa kepalanya terasa pusing dan sekarang ingin memejamkan matanya.
Arini masuk kedalam kamarnya dan melihat suaminya masih menggunakan kemeja kerja kini tertidur diatas kasur
" Mas,, kamu kenapa.. kamu sakit?" tanya Arini mendekati Refal dan mengecek kening dangan punggung tangannya ,," Panas" itu yang dirasakan saat menyentuh tubuh Refal.
" Kamu demam mas,, sebentar aku...
Sebelum melangkah dan menyeksaikan kalimatnya Refal menarik lengan Arini.
" Jangan pergi, please ..hemmm?" mohon Refal pada Arini.
" Tapi,kamu perlu obat mas.. kam yg demam." ucap Arini dengan wajah khawatir.
" Aku butuh kamu,,nggak butuh obat Rin.." ucap Refal lemah
" Oke,, aku nggak akan pergi.. sekarang mas mau aku ngapain,, mas butuh sesuatu? " tanya Arini
" Sini..!! " Ucap Refal menepuk bagian tempat tidur yang masih kosong.
Arini segera naik keatas kasur dan lengannya langsung di tarik lemah oleh Refal.Arini merapatkan tubuhnya pada Refal,,dengan cepat Refal memeluk tubuh Arini,, tubuh yang dia rindukan dan tubuh yang menjadi candunya.
__ADS_1
" Massss...??" gumam Arini
" Biar gini dulu Rin,, aku lelah pengen tidur nyenyak tanpa beban pikiran,,aku rindu rin.. aku lelah,, aku pengen istirahat." racau Refal.
Deg.
" Mas,, kamu begitu kacau.. maafin aku yaa.. istirahat lah,, aku disini.. " gumam Arini membalas pelukan suaminya.
.
.
" Mas,, aku mau sholat sebentar yaa,, kamu kalau nggak kuat berdiri bisa sambil tiduran,, tapi.. bebersih dulu yaa..?" ucap Arini lirih dan lembut di dengar.
" Hemmm.. " balas Refal singkat.
Akhirnya Arini melaksanakan sholatnya dulu dan setelah lima belas menit kemudian dia menghampiri sang suami untuk mengganti pakaiannya.
" Mas,, bangun dulu yaa.. abis sholat aku bawain bubur sama obat yang harus kamu minum.
" Hemm.. "
Arini hanya bisa menghela nafas panjangnya dan menghembuskannya.Refal sepertinya masih enggan buka suara.
Setelah melihat Refal sudah selesai sholat Arini masuk dalam kamar dan memberikan wedhang jahe buat Refal.
" Rin,, nggak usah buat bubur,, kamu masak kan.. saya makan itu aja." ucap Refal
" Oke,, aku siapkan dulu.. kita makan." ucap Arini diangguki Refal.
Arini menata hidangaj makan malam mereka,,tak lama Refal keluar kamar dan duduk di kursi meja makan.
Dengan cekatan Arini mengambilkan nasi dan lauknya untuk Refal.
" Segini cukup? " tanya Arini menunjukkan nasi yang dia ambil.
" Sedikit saja,, kurangi setengahnya." jawab Refal dengan menopang kepalanya dengan tangannya.
Akhirnya mereka makan dalam kesunyian tak ada kata yang mereka ucapkan selama makan.
" Kapan kamu kontrol ke Rumah Sakit? " tanya Refal tiba-tiba saat Arini membereskan meja makannya
" Be_besok mas,, jam sembilan pagi sih..kalau..
" Saya anter,, setelah itu saya baru kekantor.. habis ini kamu istirahat,, jangan sampe kelelahan saya mau ke ruang kerja saya." ucap Refal dengan datar.
__ADS_1
" Saya buatkan kopi yaa..? " tawar Arini
"Nggak usah, istirahat lah." ucap Refal dengan tetap melangkah menjauh dari Arini dan tanpa menoleh sedikit pun ,,Arini hanya diam tak menjawab apapun hanya bisa memandang punggung suaminya yang kian lama menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
" Kamu kenapa mas,, aku begitu bod*h dan egois kemarin,, sampai melukai hati kamu pasti mas.." gumam Arini menatap sendu pintu ruang kerja suaminya.
Setelah selesai dengan membereskan dapur,, Arini masuk ke dalanm kamarnya,, mengingat suaminya yang belum minum obat.Akhirnya dia mencari obat yang biasa suaminya konsumsi saat tak sehat dia membuka laci nakas ,, namun.. matanya tertarik dengan botol obat yang tak pernah dia lihat, dia melihat isinya sudah berkurang setengah nya.
" Setahu aku,, ini semacam obat tidur,, tapi.. kenapa mas Refal menyimpannya.. tumben??"
gumamnya dan kembali meletakkan botol di tempatinya.
Arini menuju ruang kerja Refal dan membukanya terlihat Refal yang sibuk dengan laptopnya.
Mendengar suara pintu terbuka,, Refal mendongakkan pandangannya, melihat Arini mendekatinya.
"Ada apa? " tanya Refal dingin.
" Aku inget mas pusing kan,, ini.. minun obatnya,, jangan terlalu memforsir tenaga sama fikiran kamu mas,, kamu perlu istirahat." ucap Arini.
" Nggak bisa." jawab singkat Refal masih fokus kelayar laptopnya.
" Masss... aku..
" Maaf Rin,, saya harus selesaikan dokumen ini dan besok harus presentasi juga,, bisa jangan ganggu saya.. sebaiknya kamu tidur." ucap Refal dengan penuh penekanan.
Mau tak mau akhirnya Arini pun mengalah untuk kembali ke kamar dan mencoba untuk istirahat.
Benar saja, tak butuh waktu lama Arini terlelap dalam tidurnya.
Jam dua malam,, Refal masuk dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri,, berusaha memejamkan mata.
Jam tiga malam sayup sayup terdengar ,orang mengigau...
" Maaf.. Maafkan ayah Sha.. maafin ayah Disha,,maaf... Dishaaa.. "
Refal dengan wajah penuh peluh dan juga nafasnya terengah -engah.. mimpi yang selal datang setiap malam dan sekarang kembali lagk datang,, dengan cepat Refal membuka laci nakas di samping tempat tidurnya.
Mengambil obatnya yang biasa dia konsumsi,, dengan cepat dia menelannya dan langsung beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke balkon dan menutup pintu balkon. Mematik api dari korek gas nya menyalakan nikotin di tangannya. Dihisapnya dalam-dalam dan hembusan asap dari nikotin yang dia hisap seperti mengurangi beban pikirannya. Refal menatap lurus pemandangan malam kota jakarta dengan bersandar pada pembatas balkon.
Arini yang menyaksikan suaminya seperti itu hanya bisa menangis,, menyesali tindakannya.Arini tak menyangka suaminya begitu larut dalam kesedihannya,, apalagi banyak hal yang harus dia pikirkan selain keluarga nya,, banyak ribuan karyawan bergantung hidupnya pada pemikiran suaminya.
Arini tak tahan dengan apa yang dia lihat,, Arini memberanikan dirinya mendekati suaminya dengan perlahan. Arini memeluk tubuh Refal dari belakang.Refal yang merasakan pelukan itu mendadak membeku, hanya bisa memejamkan matanya,, meresapi pelukan istrinya yang sudah lama dia rindukan namun,, banyak penyesalan ,,kekecewaan dalam batinnya yang selalu berkecamuk dalam hatinya.
" Maaf.. maafin aku mas,, aku salah sama kamu.. maaf.. hiks.. hiks " ucap Arini dengan masih memeluk tubuh suaminya
__ADS_1
Refal belum merespon apapun hanya bisa diam dam mendongakkan kepalanya,, menahan air mata yang sepertinya akan jatuh. Dia ingin menjadi kuat disisi istrinya namun,,dia hanyalah manusia biasa yang punya hati dan rasa.
Bersambung