
Tommy dan Bagus sampai di apartemen Refal .
Ting Tong.
Mendengar suara bell ,Refal segera membuka pintu apartemennya.
" Masuk" ucap Refal dengan wajah yang terlihat banyak ditumbuhi bulu lebat seperti taj terawat.
" Lo baik-baik saja bro? " tanya Tommy dengan menatap khawatir.
" Okey.. masih oke lah." ungkap Refal menatap sahabatnya dengan wajah terlihat lelah dan lingkaran hitam di bawah matanya.
" Lo nggak bisa tidur? " tanya Tommy..
" Hemmm,,kalian ambil sendiri yaa.. kalau mau minum." ucap Refal dengan melangkah ke balkon dan menyulutkan sebatang rokok.
" Lo..tumben ngrokok ,,kita tau kalau lo udah kayak gini pasti ada masalah berat kan." ucap Bagus dengan menghempaskan bokong nya di kursi seberang Refal.
" Arini nganggap gw penyebab dari semua kejadian ini,, yah.. gw akui sedikit banyaknya keteledoran gw sebagai suami dia,, kenapa hari itu gw kerumah besar,, tapi.. saat itu gw kesana pengen minta bantuan papa buat ngurus Mila,, karena gw mulai curiga sama dia saat Kalina bilang ke gw,, scedule dia yang buat.. dan ada satu. momment yang gw inget, sepertinya dia sengaja nggak ingetin gw soal gw harus temenin Arini cek up kendungan,, gw udah wanti-wanti ke dia sama Kalina buat tulis scedule itu kata Kalina,, Mila nyuruh Kalina selesai kan laporan sementara katanya dia yang mau atur scedule ,,dan ternyata dia buat scedule hari dimana gw harus nemenin Arini dia sengaja memajukan scedule meeting penting,,sampe akhir nya aku nggak bisa nolak dan aku mengecewakan Arini." terang Refal panjang lebar.
" Tapi,, seharusnya lo katakan semua itu sama Arini bro,,jangan diem aja." ucap Tommy
" Belum tentu Arini bisa maafin terima alasan yang gw kasih kan? " ucap Refal dengan mengira ngira sikap apa yang akan Arini ambil.
" Sebenarnya hanya mengikhlaskan dan ini yang takdir yang terbaik buat kalian,, pasti ada sebuah hikmah dari setiap cerita,atau di bilang ujian hidup kita." ucap Bagus.
" Yah.. sudahlah,, kalian istirahat gw juga mau ke kamar.. kepalaku pusing banget,, nggak tahan pengen rebahan." ucap Refal.
Refal melangka masuk dalam kamarnya dan membuka laci nakas nya mengambik dua pil tidur dia konsumsi ,setelah itu dia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah karena istirah nya kurang.
Tommy,, masuk dalam kamar Refal dan melihat sahabatnya yang sudah tertidur,, Tommy melihat botol obat diatas nakas dan memperlihatkan pada Bagus,, dia pun menghela nafas begitu dalam,, ada rasa kasihan dan khawatir pada sahabatnya,, yang terkenal dingin dan tak tersentuh namun,, sisi rapuhnya sedang muncul dan menjadikan pria jenius itu seperti manusia bodoh.
Setelah melihat keadaan Refal mereka pun keluar kamar dan duduk di ruang tengah.
__ADS_1
" Kita harus bantu menyelamatkan hubungan mereka ,,walaupun nantinya mereka yang akan memutuskan semuanya,, aku rasa mereka belum mengenal pribadi masing-masing dan saat ini hanya soal waktu,, mengikhlaskan semuanya itu nggak mudah juga buat mereka,, apalagi soal anak yang mereka dambakan,, Refal pun kacau karena menyalahkan dirinya sendiri namun,, kita tahu siapa dalang di balik ini,,apa Refal sudah ngasih tahu Arini soal Mila yang melakukan hal ini pada mereka." ucap Bagus dengan merebahkan tubuhnya di sofa bad ruang TV apartemen Refal.
" Gw rasa,,Arini belum tahu soal dalang dari kejadian kemarin,, sebaiknya kita juga jelaskan sama Arini nanti,, kalau nggak salah Ayu dan yang lain akan menemui Arini besok,, kita akan menjelaskan semua pada Arini." ujar Tommy.
" Kita pikirkan nanti lagi,, kita istirahat dulu,, besok mudah-mudahan Refal akan lebih baik." ucap Bagus.
Tommy pun mengangguk paham dan merebahkan tubuhnya juga di sofa.
.
.
Siang hari sesui rencana Ayu, Fitri dan juga Jaenap menemui Arini di rumah besar dan ingin sekalian melihat kondisi Arini saat ini.
" Assalamualaikum. " Ketiga Arini itu pun memberikan salam mereka saat sng tuan rumah membukakan pintu untuk mereka.
"Wa'alaikum salam,, ehh.. kalian ayo masuk.. " sambut mama Dewi melihat tamunya ternyata sahabat menantunya.
" Apa kabar tante.. " tanya Ayu sedikit basa basi.
" Emang nggak papa tan,, kita masuk ke kamar Arini? " tanya Fitri dengan ragu.
" Nggak papa,, tadi..tante baru nengikin Arini dia ada di balkon kamarnya,naik aja langsung,, tante tinggal yaa.. ada urusan,, kebetulan Oma juga di toko roti..nggak papa kan,, enjoy aja.. anggap rumah sendiri.. " ucap Mama Dewi dengan ramah.
" Wahhh... makasih tante,, maaf ya tan.. kita mendadak kesininya." ujar Jaenap tak enak hati.
" Nggak papa,, tante malah jadi nggak khawatir kalau kalian ada sama Arini,, kalau mau diajak jalan-jalan juga nggak papa tapi,, jangan terlalu membuat dia lelah." ucap mama Dewi.
" Baik tan.. " jawab ketiga sahabat Arini itu
Setelah dirasa cukup Dewi oun pamit pergi, ketiga perempuan itu pun menuju kamar Arini.
" Masuk aja kali yah,, kata tante Dewi tadi Arini dibalkon." ucap Jaenap.
__ADS_1
" Ya udah tapi,, kita pelan - pelan bukanya takutnya dia lagi istirahat." saran Fitri
Mereka akhirnya melangkah masuk ke kamar yang terlihat luas dan terlihat elegant.
Ketiganya menuju balkon dan benar saja terlihat Arini duduk termenung dengan mata yang sembab.
" Rin.. " tegur Ayu..
Mendengar ada suara yang memanggil namanya Arini mengalihkan pandangan pada sumber suara itu berasal.
" Kalian..???
" Haii.. Rin,maaf kita ganggu acara melamun lo.. " ucap Jaenap memeluk sahabatnya itu.
" Hiks.. hiks... hiks... Jejee... anak gw..
" Husssssttt... jangan nangis begitu,, kasihan anak lo dia liat bunda nya kacau gini." ucap Jeje menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Arini.
" Pelukkkk... " ucap Fitri dengan suara manja manjanya yang membuat Arini tersenyum tipis.
" Nahhh... gitu dong,, senyum.. coba lo semum lebar pasti tambah manis." ujar Jaenap
" Bisa aja lo.. " ujar Arini dan menatap sabatnya sedari orok yang masih diam padanya. " Lo nggak mau peluk gw Yuu..?? " tanya Arini dengan wajah terlihat bersedih.
" Maulah... sini,aku kangen sama kamu Rin,, kangen semuanya,,jangan sedih lagi yaaa... " ucap Ayu mengusap lembut punggung sahabatnya.
" Anak gw Yuu... Disha,,hiks... hiks.. gw kehilangan anak gw Yuu.. " ucap Arini dengan masih terisak.
" Duduk dulu yaa.. Rin,, gw tau lo ngerasa kehilangan anak lo,, dan gw mau tanya ke lo.. apa hanya lo yang ngerasa kehilangan? semua keluarga lo dari Mertua lo,, adik ipar lo, Oma,, keluarga lo di kampung bahkan kita sahabat lo pun sedih ,tapi.. apa lo pernah mikirin perasaan kita.. trus apa kabarnya perasaan suami lo,, gw tau kita nggak seharusnya ikut campur dengan apa yang terjadi dengan Rumah Tangga lo,, tapi.. lo perna nggak nanya ke suami lo bagaimana perasaan dia?? pasti sama kayak lo,, dia sedih.. memikul beban berat sendirian,,dia terima kabar lo sakit parah, meninggalnya anak lo, beban pekerjaan yang menumpuk,mikirin nasib para karyawan jika perusahaan nya nggak baik-baik saja, trus liat lo kesakitan ,,menunggu waktu lo operasi,, sampe nggak makan,, nggak bisa tidur karena penyesalan,, trus tambah lagi..setelah tahu siapa di balik kecelakaan kamu.. apa kamu pernah nanya soal ini sama suami kamu,, Mila dia yang buat lo kehilangan Disha.. kamu pernah berfikir,, gimana perasaan Refal setelah tahu,, orang yang dia anggap adiknya sendiri mencelakai istri dan anaknya.Pernah nggak lo pikir kan itu??!!" ucap Ayu dengan begitu menggebu.
Deg..
Jantung Arini berdenyut kencang,, dan sedikit merasakan nyeri.. dia baru Ok nga tF jika dia belum pernah mendengar siapa dalang kecelakaan itu,, dan setelah mendengar Ayu membeberkan beberapa fakta membuat Arini merasakan dirinya terlalu egois.
__ADS_1
Bersambung.