
" Arini, kamu kerja disini? " tanya orang itu.
" I_iya,mau beli roti? " tanya Arini
" Iya iyalah.. emang disini lo liat apa,pake nanya begitu..? " ucap seorang perempuan yang setia di samping pria yang sangat Arini hindari.
" Silahkan.. saya permisi."
Arini berlalu begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada Pria yang masih setia memandangi punggung sang mantan kekasihnya yang lama kelamaan hilang, karena Arini bergegas menaiki taxi.
" Arini kerja disini.. ".batin Firman.
Yah, orang yang tidak sengaja bertemu dengan Arini itu adalah Firman dan Intan.
" Masih punya perasaan sama gadis kampung itu? " ucap Intan dengan sewot
" Nggak, udah bayar.. " ucap Firman mengalihkan pembicaraan.
" Awas aja kamu ,aku bukan dia yang selalu gampang kamu bod*hi." ucap Intan sinis.
Firman hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
.
.
.
Sementara Arini sampai di apartemennya sebelum magrib,setelah membersihkan diri.. Arini langsung bergegas ke dapur dan mamasak makanan untuk makan malam untuk dia dan Refal.
Setelah satu jam berkutat di dapur Arini bergegas mandi dan bersiap menyambut kepulangan suaminya.
" Assalamu'alaikum "
Terdengar suara yang begitu familiar mengucapkan salam
" Wa'alaikum salam"
Jawab Arini menghampiri sang suami dan mencium tangannya dan mengambil jas yang dibawa Refal serta tas kerjanya.
" Duduk mas, aku ambil minum dulu."
Arini segera kedapur dan mengambil air putih untuk Refal, sementara Refal sambil menunggu Arini menyalakan ponselnya.
" Minumnya mas, aku siapin air buat mandi kamu."
" Terima kasih."
" Sama-sama "
Arini dengan senyuman manisnya, melangkah meninggalkan Refal yang fokus pada ponselnya.
Tak. lama Arini kembali dan menyuruh Refal segera mbersihkan diri, sementara pakaian ganti sudah ada di atas tempat tidur.
Dua puluh menit Refal selesai mandi dan mengganti baju dengan senyuman tak surut dari bibirnya.
" Hah.. jadi gini rasanya dilayani istri.. " gumam Refal melangkah keluar kamar dan menuju meja makan.
Terlihat Arini sibuk menyajikan hasil masakan nya di atas meja.
" Heemmm.. baunya bikin laper."
" Eh mas.. duduk, kita makan sekarang mumpung masih anget."
__ADS_1
Refalpun mengangguk setuju dan duduk di samping Arini, dengan cekatan Arini mengambilkan nasi serta lauk pauk di piring Refal.
" Silahkan mas, maaf kalau nggak enak.."
Refal dengan pasti menyuapkan nasi dan lauknya kedalam mulutnya,kesan yang pertama kali yang dia rasakan tak lain dengan kata enak.
" Ini enak banget Rin, kalau tiap hari aku makan masakan kamu.. aku akan sering-sering Gym lagi, gendut yang ada kalau nggak olah raga."
" Emang kenapa kalau gendut? "
" Nggak banget lah."
" Kalau aku gendut nggak juga dong? "
" Kita lagi ngomongin aku gendut bukan kamu Rin,apapun itu yang penting sehat."
Ucap Refal menenangkan sang istri.
Sekian lama mereka makan malam, yang dirasakan Refal kenyang dan puas karena memang masakan Arini enak dan cocok di mulutnya.
Refal masuk ke dalam ruang kerjanya dan tak. lama notifikasi panggilan di ponselnya berbunyi.
📞Dinda Calling..
" Hallo.. "
" Haii sayang... lagi ngapain? "
" Lagi pemotretan, bete.."
" Kenapa Bete, apa ada masalah? "
" Aku tuh pengen ketemu sama kamu sayang, tapi.. asih banyak banget kerjaan disini,paling beberapa hari besok aku di Singapura "
" Emang kamu nggak bisa kesana, maksud aku kamu ke Singapura sebentar buat nengokin aku gitu.. "
" Yahh.. nggak mungkin soalnya seminggu kedepan aku sibuk banget sayang.."
Refal berusaha untuk memberikan pengertian pada Dinda.
" Ya udah deh, aku mau pemotretan lagi.. kalau bisa aku pinjem uang buat beli tas terbaru yang.. bisa tranfer nggak? "
" Iya nanti anku tranfer.. bye..!!"
" Bye.. I Love you.."
" I Love you too."
Panggilan pun terputus. Namun, di balik pintu Arini yang tak sengaja mendengarkan perbincangan itu.
Sesak, sakit dirasakan didadanya. Mendengar penuturan suaminya.. pernyataan cinta pada wanita lain.
Ternyata begitu besar rasa cinta suaminya pada wanita itu, tak mudah menyadarkan suaminya jika apa yang dialakukannya itu salah.
Arini dengan cepat kembali keruang TV disana dia duduk merenung, seandainya dalam 7Hari dia gagal dia harua rela melepaskannya.
" Rin.. Rini..Arini Sofia...!! " seru Refal dengan menyentuh bahu Arini
" Ehh... i_iya mas ada apa? "
" Ngelamun, apa yang kamu pikirkan?
" Duduk mas, ini kopinya.. minumlah."
__ADS_1
" Aku tanya, kenapa sih.. ada yang di pikirin?"
" Sedikit..cuma nggak penting juga." elak Arini
" Yakin, nggak ada yang bisa di share? "
" Ehemm... mas,7Hari ini aku minta kamu fokus dengan hubungan kita.. aku ingin selama 7hari ini menjadi istri sebenar benarnya istri, kamu ngerti maksud aku kan? " tanya Arini dengan memandang mata Refal.
" Apa kamu menyuruhku untuk....
" Iya.. aku ingin memberikan hak suamiku, jadi lakukan juga kewajiban kamu selayaknya seorang suami."
"Rin... tapi, kita belum saling cinta.. apa kamu nggak menyesal karena kamu akan menyerahkannya padaku, laki-laki yang masih ada rasa pada wanita lain? "
" Maka hilangkan perasaan itu, mulailah menerima ku."
" Lakukan karena itu sudah jadi kewajiban kamu, dan tugas kamu memupuk semuanya mulai tujuh hari ini. Tanpa komunikasi dengan dia." ucap Arini dengan mata yang fokus meresapi dalamnya mata suaminya.
" Kamu yakin ini akan bethasil, kalau tidak..
" Aku akan mudur, dan bilang ke Oma aku nggak sanggup."
" Lalu,pernikahan kita..? "
Arini bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke sebuah meja, menarik lacinya dan mengeluarkan sesuatu.
" Ini surat-menyurat yang di butuhkan untuk kmu daftarkan gugatan, kamu berhak bahagia.. dan aku akan bahagia dengan caraku."
" Maksud kamu, kamu ingin aku menceraikan mu?
" I_iya ,kalaupun kita cerai.. aku rasa kamu nggak rugi-rugi banget kan, dan aku juga setidaknya sudah merasakan dicintai seseorang yang bergelar suami, walau cinta itu palsu."
" Astaga Rin.. ide konyol apa sih, pernikahan bukan untuk permainan.
" Lalu, kamu punya solusi apa sama hubungan ini? nggak ada kan? kamu hanya bisa jalan di tempat merasakan cinta kamu, sedang aku...?
Hanya bisa menunggu kamu, sampe kapan? aku juga butuh kejelasan disini.. sebelum kamu makin lama menyakitiku, berikan aku kenangan indah setidaknya sedikit saja."
Ungkapan hati Arini membuat Refal menarik nafas panjang dan menhembuskan nafas dengan kasar.
" Baiklah, aku akan memperlakukan kamu selayaknya istri yang baik dan aku cintai."
" Terima kasih, sudah.. minum kopinya sudah dingin.. aku mau ke kekamar dulu.. badanku capek."
" Hemm.. pergilah nanti aku akan nyusul."
" I_iya ..
" Iya apa,paham maksudnya? "
" Hahhh.. apa sih, nggak jelas!!"
Arini dengan cepat pergi meninggalkan Refal yang sedang senyum-senyum penuh arti. Refal mengingat rona wajah Arini tiba-tiba berubah merah karena malu, Refal sangat suka jika Arini sudah malu-malu, ada rasa gemas dengan sifat Istrinya itu.
Bersambung.
Dukung terus yaaa...
Like
Vote
Comment setiap episodenya...
__ADS_1
Dukung terus cerita ini biar aku tambah semangat nulis.