7 Hari Mencintaimu

7 Hari Mencintaimu
# Mencoba Menjalani yang Semestinya


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sedikit pekerjaannya, Refal melangkah masuk dalam kamarnya.


Saat masuk dan bertepatan dengan Arini yang keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat basah dan di pastikan karena air wudhu.


"Mas, sholat berjamaah?


" Iya, tunggu.. aku wudhu dulu."


Refal akhirnya masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Saat keluar kamar mandi terlihat Arini sedang membentangkan sajadah dan terlihat baju koko dan kain sarung yang sudah siap diatas tempat tidur. Refal tersenyum kala terlihat Arini begitu melayaninya, dari hal yang terkecil.


Setelah berganti dengan pakaian yang akan di gunakan untuk sholat, akhirnya untuk yang pertama kali Refal menjadi imam sholat dalam beberapa bulan menjalani Rumah tangga baru kali ini mereka melaksanakan ibadah bersama.


.


.


.


Sementara di sebuah rumah yang dibilang mewah .Seorang pria duduk di balkon kamarnya dengan menatap langit malam, suasana sunyi karena para penghuninya sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Firman, pria itu adalah Firman..semenjak pertemuan nya yang tak sengaja dengan Arini, pikirannya entah kenapa selalu tertuju. pada gadis pujaannya dulu. Firman dulu mencintai Arini, awal mereka menjalin hubungan pun karena berawal dari rasa simpati Firman pada sosok pekerja keras seperti Arini.


Hidup merantau,jauh dari orang tua dan menjalani kehidupan yang serba pas pasan namun, tak ada rasa sedih tersirat pada sosok tangguh itu, sampai suatu saat dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Arini dalam hidupnya dan mencoba menjalin hubungan dengan Arini. Selama berhubungan dengan Arini dia selalu ada dan selalu mendukung apapun yang Firman utarakan bukan hanya moril materil juga Arini korbankan, sampai akhirnya Firman kehilangan gadis itu karena keegoisan nya, cuma karena masa lalu yang kembali mengusik nya dia dengan mudah mengkhianati cinta tulus Arini.


Dari waktu dia berpisah baru tadi siang dia bertemu lagi dengan Arini, dengan penampilan berbeda tentunya. Gadis yang dulu terlihat berpenampilan seadanya sekarang terlihat lebih modis dan juga terlihat lebih cantik, walaupun hanya dengan memoles wajahnya dengan bedak tabur dan sedikit sentuhan lipstik natural.


Pandangan mata Arini tergambar jelas di mata Firman,kekecewaan yang tersirat dalam wajah itu. Firman menebak jika Arini bekerja di toko Kue itu.


" Aku begitu bod*h melepas kamu yang begitu baik Rin,mama benar.. kamu yang paling tepat dijadikan tempat pulang tapi.. aku begitu dalam menorehkan luka di hati kamu. " gumam Firman


Helaan nafas yang begitu berat dan juga rasa yang kembali datang menyeruak dalam diri Firman, dulu saat berpacaran dengan Arini memang tak pernah mau ada sentuhan.. kalaupun Firman menggandeng tangan Arini pasti memegang lengannya yang terhalang baju.


Begitu berharganya Arini dengan susah payah Firman menahan segala hasrat kelakian nya. Tentu sangat normal ,apalagi Firman pria dewasa yang mempunyai hawa nafs* .


Namun, Arini dengan sopan menolak jika Firman sudah menjurus ke hal yang membuat khilaf.


Saking penuhnya pikiranya dengan Arini Firman kembali ke dalam kamar, dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dabr memejamkan matanya seraya membayangkan kisah indah yang pernah mereka lewati, sampe akhirnya Firman terbuai dalam mimpi.

__ADS_1


Di Apartemen Refal setelah melaksanakan ibadah sholat bersama, kini keduanya berbaring di atas tempat tidur mereka.


Ada rasa canggung yang tercipta disana. Bingung, itu yang mereka rasakan. Mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing untuk mengusir kecanggungan.


" Rin.. " tegur Refal


" Iya."


" Kamu belum ngantuk? "


" Emm.. nggak bisa tidur mas, entahlah.. kok aku nggak bisa...


Tanpa bicara Refal merengkuh tubuh Arini dan membenamkan wajahnya di dalam pelukan Refal.


" Coba dengan cara ini, bisa tidur nggak.. hijabnya di buka aja yaa.. nggak nyaman kan? "


Refal dengan perlahan menarik hijab instant yang di pakai Arini, kedua orang yang tak lain suami istri itu merasakan jantung mereka berlomba, oksigen di ruangan itu terasa sangat sedikit membuat sesak untuk bernafas


Arini hanya diam terpaku saat Refal mulai membuka penutup mahkota nya. Sungguh sangat memukau pemandangan yang terpampang nyata di hadapan Refal.


Sungguh pintar seorang Arini menyembunyikan keindahannya di balik kerudung panjang dan pakaian longgarnya, saat ini terlihat jelas lekukan tubuh perempuan itu dengan balutan baju tidur berbahan satin itu.


" Mas, jangan gini.. jantungku mau copot ."


ucap Arini dengan polosnya.


Penuturan Arini membuat Refal mengernyitkan dahinya dan menatap Arini dengan lekat.


" Jangan bilang ini pengalaman pertama kamu, nggak mungkin kan Rin? " tanya Refal menilik penampilan Arini yang berbeda dengan biasanya.


" I_iya ,emang aku belum pernah sedekat ini sama laki-laki selain sama abah, mas nggak percaya?


" Terus, selama kamu pacaran sama cowok itu.. kalian ngelakuin apa aja kalau nggak pegangan atau..


" Ehhh.. tunggu, mas tahu kalau aku punya pacar dulu?


" Ta_tahu..kan emang kalau aku makan di Restoran kamu dulu, suka lihat kamu pulang sama berangkat bareng sama cowok itu naik motor sport ."

__ADS_1


" Selama aku pacaran nggak pernah pegang secara langsung, maksudnya nggak sentuhan kulit,kalaupun bonceng motor sama dia pasti di kasih jarak pake tas " terang Arini dengan mengingat bagaimana gaya pacarannya dengab Firman.


" Astaga.. jadi, aku nikah sama gadis polos yaa." gumam Refal


" Apa mas, kamu ngomong sesuatu? "


" Nggak "


" Nggak apa? "


" Yah,nggak apa-apa bagus juga prinsip pacaran sehat kamu." ucap Refal dengan senyuman tipisnya.


" Mas ini, pacaran kok sehat.. makanya dari peristiwa menyakitkan itu.. aku nggak mau lagi pacaran dan aku ingin langsung menikah." ujar Arini.


" Hemmm.. "


" Kenapa, mas..udah lama pacaran sama siapa nama cewek itu..? tanya Arini mencoba untuk mengetahui sosok seperti apa Dinda dimata Refal.


" Dinda, kami pacaran saat kuliah.. dia adik kelas ku dan sebenarnya sepupuku yang pertama suka sama Dinda, suatu hari Andra mengajak Dinda main ke rumah utama dan mengenalkannya pada ku, sejak pertemuan itu sebelum aku lulus S1 di kampus yang sama dia menyatakan cinta padaku dan aku pun nyaman dengan dia akhirnya aku dan dia pacaran.


" Walaupun nggak ada restu? "


" Hahh... sebenarnya dia gadis yang baik, pekerja keras sifatnya memang keras, dan cenderung egois karena dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah dan hidup berdua dengan ibunya yang suka sakit-sakitan menuntut dia bersikap keras dan jika tidak dia akan mudah di tindas." bela Refal.


" Ya sudahlah.. aku harap kamu lupakan dulu dia selama seminggu ini, setelah itu.. aku harap kamu bisa mengambil sikap untuk ke bahagiaan kamu juga kebahagiaan ku.


Setelah mengucapkan kata itu, akhirnya Arini merubah posisinya membelakangi Refal, ada rasa sakit menghujam dadanya. Dia tak ingin menangis, sudah bisa di pastikan jika dia akan begitu lemah saat air mata sudah keluar dari. matanya. Sekitar setengah jam dengan posisi membelakangi Refal dan Refal pun hanya bisa memandang punggung Arini.


Namun, setelah terlihat punggung itu tenang dan mendengar nafas Arini yang teratur, Refal merengkuh tubuh itu dalam pelukannya, entah mengapa dia ingin memberikan rasa nyaman untuk Arini.


Membelai lembut rambut panjang hitam itu dan mencium pucuk kepala Arini.


" Maaf jika sampai saat ini perasaan ku masih ada namanya.. aku akan mencoba memperlakukanmu selayaknya istri yang sesungguhnya." gumam Refal dengan menutup matanya untuk tidur dengan memeluk tubuh Arini yang membuat Refal terasa menemukan kedamaian.


Bersambung..


Lanjut nanti yaaaa...

__ADS_1


__ADS_2