7 Hari Mencintaimu

7 Hari Mencintaimu
# Perjodohan


__ADS_3

Sore hari terlihat gadis cantik berhijab dengan menyeret kopernya ke dalam stasiun dia adalah Arini yang akan melakukan perjalanan ke kampung halamannya.


" Hati-hati di jalan, salam buat abah sama emak ya? " ucap Ayu memeluk sang sahabat.


" Iya, kamu juga jaga diri.. Insyaallah aku akan kembali,kalaupun tidak tolong barang-barang aku kamu simpankan yaa? " ucap Arini dengan mengulas senyuman


" Insyaallah kamu kesini lagi, kalau seandainya perjodohan itu bisa di batalkan,aku harap kamu kesini dan.. jalani bisnis kamu itu." ucap Ayu


" Sebenarnya aku sungkan juga lah, mereka amat sangat baik sama aku. Kadang bingung juga,kenapa mereka sangat baik hati padaku Yu.. " ungkap Arini


Arini tak habis pikir betapa baiknya keluarga boss nya itu padanya.


Waktu keberangkatan kereta Jakarta-Jogjakarta berangkat jam tujuh malam.


Hati Arini tidak baik-baik saja, hanya bisa berdoa dan beristighfar supaya hatinya tenang.


Perjalanan kurang lebih delapan jam,sampai di rumah sederhana milik abah Rahmat orang tua Arini, dia langsung turun dari mobil jemputan yang di sewa kakak iparnya dan melangkah menuju rumah, di depan rumah sudah berdiri tiga orang yang sangat di sayangi Arini yaitu kedua orang tuanya dan sang kakak perempuannya.


"Abah..emak, mba.. " seru Arini


Berlari kecil langsung meraih tangan sang ibu menyalami tangannya,memeluk dan mencium wajah sang ibu, begitu seterusnya sama dia lakukan pada sang abah dan juga sang kakak.


" Alhamdulillah kamu sampai juga, ayo masuk..!! " ucap sang ibu merangkul sang putri.


" Arini rindu emak sama abah, juga mba.. " ungkap Arini mulai berkaca-kaca


" Duduk yo nduk, kamu minum dulu tehnya.. istirahat, bersih-bersih, trus maem yoo.. kamu kangen to sama gudeg buatan emak?" ucap mak Dhijah sang ibu dari Arini.


" Pasti mak, masakan mak itu.. ndak ada duanya. Pokok'e seng paling uenak didunia." puji Arini dengan senyuman manisnya.


Setelah bersih-bersih , Arini dengan semangat menikmati masakan sang ibu.


" Kamu kok kayaknya kelihatan kuru to nduk, apa kamu ndak pernah makan disana? " tanya Mak Dijah pada sang putri.


" Mak iki piye, yo mangan lah..cuma nggak ono masakan sing seenak masakan mak, jadi aku kurang nafsu makan mak." ucap Arini memberi alasan.


" Halahhh... ngomong aja kamu itu kebanyakan makan hati sama Firman toh? " tebak Jenar kakak Arini.

__ADS_1


" Mbak Jenar bisa saja, kan sudah lewat mbak." ungkap Arini dengan nyengir kuda hingga telihat gigi putihnya.


" Trus sekarang sudah sembuh dong? " tanya Sofyan sang kakak ipar.


" Hadeuh.. kenapa kalian ini kayaknya pengen banget aku cepet move on? " ucap Arini dengan memasukkan makanan kesukaan nya ke dalam mulut nya.


" Lahh.. trus kalau kamu nggak coba move on mau sampe kapan Rin, keburu tuek.. " goda Jenar pada sang adik.


" Lha.. kan Arini nggak pernah menolak jodoh kok mbak, kalau ada dan seiman dan baik sama kalian Arini siap-siap saja." ucap Arini


" Beneran, soal nya besok kamu harus ngasih jawaban buat seseorang yang lamar kamu kemarn lho Rin. " ucap Jenar semangat


Jenar lupa jika sang abah mewanti-wanti Jenar untuk jangan membahas tentang lamaran dulu pada Arini namun, saking semangatnya sang adik di lamar dia tak tahan menyembunyikan fakta.


Jenar menepok-nepok mulutnya yang dia anggap lancang, dan seperti terlihat bersalah dengan apa yang dia ucapkan, Arini menghentikan kegiatanya dan memandang ke emapat anggota keluarga nya dengan tatapan penuh tanya.


" Apa benar kata mbak Jenar soal perjodohan itu bah? "tanya Arini yang sekarang menghentikan kegiatan makan nya.


Abah Rahmat hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.


" Ada yang nembung kamu Rin, abah sama emak sih setuju saja.Abah lihat keluarga yang melamarmu dari keluarga yang baik-baik. Kata beliau kalau kamu mau menikah tanpa pacaran lagi alias ta'aruf ,apa benar? " tanya Abah dengan menggenggam erat tangan sang putri.


" Masyaallah nak, kamu tambah dewasa.. abah sangat bahagia.Keluarga yang meminang mu besok akan kesini dan meminta jawaban kamu, walaupun Abah dan emak nggak ada masalah, kami menerimanya." ungkap sang abah.


.


.


Sementara di sebuah hotel bintang lima di daerah Jogjakarta, empat pria baru saja sampai setelah mendapat mandat dari sesepuh untuk menyusul ke Jogja yaitu Refal, Tommy, Bagus, dan Rizal.


" Kalian sudah datang, ini adalah kartu kamar kalian dan silahkan istirahat dulu, sebelum bertemu dengan Nyonya sepuh." ucap seseorang yang sangat di percaya keluarga Kesuma asisten pribadi Tuan besar Anggara yaitu Abimanyu biasa di panggil Abi.


" Baiklah Om, mereka dimana..? " tanya Refal pada Assisten pribadi sang papa.


" Masih di ruangan nyonya sepuh, setelah tiga puluh menit bersiap di tunggu di restaurant hotel." ucap Abi dan melenggang pergi.


Setelah Om Abi pergi pun, mereka saling pandang dan segera melangkah ke kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


Setelah tiga puluh menit, mereka menuju restaurant yang ada di hotel tersebut dan benar saja Abi sudah ada di depan pintu restaurant untuk mengarahkan tuan mudanya dan juga para sahabatnya untuk ke satu ruangan private.


" Malam semua.. " sapa Refal dengan senyuman tipisnya dan menyalami Oma dan kedua orang tuanya.


Namun, Refal di buat bingung karena ada tantenya Ajeng yang turut serta juga dua sepupunya dan juga adik kesayangannya menatapnya dengan senyuman penuh arti.


" Alhamdulillah kalian sampe juga, kalian makanlah.. setelah itu kita akan membahas sesuatu." ucap Oma Sukma dengan senyuman yang penuh kharisma.


" Penting? " tanya Refal sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.


" Kalau nggak penting untuk hidup abang, nggak bakal kita disini bang. " jawab Zaskia melirik sang abang dengan sinis.


" Hehh.. bocil main nyamber aja.." seru Refal menatap tajam sang adik.


" Sudah makanlah, baru kita bahas semuanya." lerai papa Angga.


Setelah selesai dengan makanan mereka, saatnya mereka menantikan apa yang dimaksud dengan hal penting untuk hidup Refal.


" Oma mulai dengan memberi tahu maksud Oma dan papa juga mama kamu nyuruh kamu ke sini buru-buru ,itu karena kamu akan bertemu dengan calon istri kamu." ucap Oma Sukma dengan tegas.


" Uhuk.. uhuk.. "


Refal tersedak minuman yang sedang dia minum dan dengan cepat Rizal membantunya menepuk nepuk punggung Refal pelan.


" Apa Oma, nggak..!!! Aku menolak perjodohan ini..!! " teriak Refal dengan rasa kesal


" Tidak ada penolakan Refal, semua akan menjadi keputusan mutlak Oma." ucap Papa Angga dengan suara yang tegas dan juga lantang.


" Pah.. ini anak papa, kebahagiaan nya sedang di pertaruhkan kenapa papa malah seenaknya mendukung keputusan Oma." Ucap Refal geram.


" Dengar Refal seluruh keluarga, setuju dengan pernikahan kamu dan wanita pilihan kami, di sangat cocok untuk bersanding dengan mu." ucap mama Dewi berusaha untuk berbicara pada Refal lebih lembut.


" Terserah.. kalian, kalau sampai kami bercerai jangan salahkan aku. Karena aku tidak akan mudah luluh dengan wanita pilihan kalian." ucap Refal jumawa.


" Kita lihat saja nanti." timpal sang Oma dengan senyuman penuh dengan rencana.


Refal sangat tahu, tak akan mudah menolak keinginan sang Oma, jika pun dia bisa saja keluar dari keluarga Kesuma tapi,di luar sana dia akan susah mendapatkan pekerjaan, ataupun dia akan usaha sendiripun akan tetap di jegal oleh keluarganya.

__ADS_1


Diktator memang kelihatannya, kejam memang namun.. mereka tak begitu saja membuat keputusan.


Bersambung


__ADS_2