Aku Benci Mencintai Dia!!!

Aku Benci Mencintai Dia!!!
Bab 63


__ADS_3

Aku menambah kecepatan mobil ku untuk cepat tiba di apartement Davina.


Davina sudah membuat kekacauan lagi.Kinan pasti mengadu kepada Papi dan Mami.Dan Aku yakin pasti mereka sebentar lagi Akan menelpon ku.


Tiba-tiba telepon berdering.


Aku melihat nama di layar ponsel ku.Papi yang menelpon ku.


Dengan gugup Aku mengangkat nya.


"Pras,Papi tunggu sekarang di rumah."Ucap nya padaku.


Singkat dan jelas.


Belum sempat ku menjawab Papi sudah mematikan telepon nya.


"Sudah ku bilang Dav,jangan ceroboh."Ucap ku marah pada Davina.


"Memang nya sampai kapan Kamu mau menyembunyikan ini semua Pras??"Ucap Davina pada ku.


"Perut ku sudah semakin besar,dan orang-orang pasti akan tau seiring waktu."Ucap nya lagi.


"Aku tahu tapi harus nya Kamu jangan gegabah,Kamu tau kan posisi Aku ini sulit."Ucap ku pada nya.


"Tidak sulit Pras,Kamu hanya perlu meninggalkan wanita itu.Selesai kan urusan nya."Ucap nya pada ku.


"Kamu gila ya,,tidak segampang itu."Ucap ku pada nya.


"Aku sudah bilang kan cerai kan dia,dan semua nya akan baik-baik saja."Ucap nya masih dengan enteng nya.


"Kamu lupa jika orang tua ku sangat menyayangi nya??"Tanya ku pada nya.


"Orang tua mu juga pasti menyayangi ku jika mereka tau Aku sedang mengandung anak mu."Ucap nya lagi pada ku.


"Aku tidak yakin itu."Ucap ku pada nya.


"Maksud mu apa Pras??"tanya nya lagi pada ku.


"Aku tidak mau berdebat saat ini,Kamu cepat turun,Aku ingin ke rumah Mami sekarang."Ucap ku pada nya.


Kebetulan Kami sudah tiba di apartement.


"Kenapa Kamu tidak membawa ku sekalian Pras,biar semua nya jelas."Ucap nya pada ku.


'Aku mohon Dav,,jangan memperkeruh suasana.Aku lagi pusing menghadapi ini."Ucap ku pada nya.


"Baik lah,,tapi Aku harap setelah ini ada kabar baik untuk ku Pras."Ucap nya sambil turun dari mobil.


Aku pun tidak memperdulikan perkataan Davina.Ia tidak pernah bisa mengerti keadaan ku.


Aku langsung menancap gas menuju kerumah orang tua ku.


Apa yang harus Aku katakan nanti di sana.Kinan pasti sudah bercerita pada Papi dan Mami tentang Davina.

__ADS_1


Anin,,apakah Anin juga kesana.


Aku baru ingat jika tadi Aku meninggalkan Anin di parkira.Sedangkan kunci mobil ku ada di saku jas ku.


Bagaimana dia pulang???Apa ghian yang mengantar nya pulang??


Aku pun mencoba menelpon Anin.


Tuut,,Tuut,,,


Terdengar suara panggilan telepon di seberang sana.


Tak lama kemudian telepon pun di angkat.


"Halo Nin,,Kamu lagi dimana sekarang??"Tanya ku pada nya.


"Aku baru tiba di rumah Mami mas,,tadi Aku di telpon Mami di minta untuk datang kemari."Ucap nya pada ku.


Ternyata Anin sudah tiba di sana duluan.


Perasaan ku sudah tidak menentu sekarang ini.Aku harus cepat tiba di sana.


Setelah mematikan telepon,Aku pun melanjutkan perjalanan ku.


Tak beberapa lama Aku pun tiba.Aku langsung menuju ke ruang tengah.Dimana di sana sudah ada Papi,Mami,Anin dan Kinan.


Tampak Mami sedang menangis di tenangi oleh Anin dan Kinan.


"Pi,ada apa??"Ucap ku pada Papi.


Plak,,,


Terasa di pelipis bibir ku keluar darah.


"Pi,,cukup Pi."Teriak Mami pada Papi.


"Dasar laki-laki tidak berguna Kamu Pras.Kamu sudah membuat malu keluarga ini."Ucap Papi pada ku.


Aku hanya mampu diam saja saat ini,karena Aku tak tau harus berkata apa pada Papi.


"Pras,,kenapa Kamu tega seperti itu pada Anin Pras.Padahal Ia sangat mencintai mu."Ucap Mami pada ku.


"Maaf kan Pras Pi,,Mi,,Pras khilaf."Ucap ku pelan.


"Khilaf kata mu,,bukan kah dulu Papi sudah mengingat kan mu untuk tidak lagi mendekati wanita itu.Tapi apa yang Kamu lakukan Pras???"Ucap Papi marah pada ku.


Terlihat nada suara Papi begitu tinggi pada ku.


"Lantas sekarang ini bagaimana,Siapa yang mau bertanggung jawab pada wanita itu??"Tanya Papi pada ku.


"Pras akan bertanggung jawab Pi.Pras akan menikahi nya."Ucap ku lagi.


Plak,,,

__ADS_1


Lagi-lagi Papi menampar pipi ku.


"Kamu benar-benar sudah gila Pras.Kami tidak memperdulikan perasaan istri mu."Ucap Papi pada ku.


"Maaf kan Pras Pi,,Pras tidak tau lagi harus berbuat apa sekarang ini Pi.Davina ingin Pras menikahi nya."Ucap ku pada Papi.


"Papi tidak akan pernah menyetujui pernikahan Kalian berdua sampai kapan pun."Ucap Papi pada ku.


"Tapi dia sedang mengandung anak Pras Pi."Ucap ku lagi.


"Papi tidak perduli.Aku tidak sudi mempunyai cucu dari wanita itu."Ucap Papi lagi.


"Pi,,bagaimana pun juga itu adalah cucu Papi.Anak kandung Pras Pi."Ucap ku lagi.


"Mami tidak mau Pras menerima wanita itu menjadi menantu Mami.Menantu Mami hanya Anin."Ucap Mami terisak.


Aku melihat Anin terdiam di samping Mami.Tak ada ekspresi apa-apa dari diri nya.Ia hanya diam menunduk.


"Jika Kamu mau menikahi wanita itu silahkan,tapi Kamu jangan coba-coba menginjakan Kaki mu lagi di rumah ini."Ucap Papi pada ku.


"Pi,Anin sudah mengetahui nya.Dan Ia bisa menerima nya Pi."Ucap ku membela diri.


Aku tahu mungkin saat ini Anin tidak bisa apa-apa.Ia hanya pasrah dengan apa yang terjadi pada diri nya saat ini.


Ia tidak ingin meninggalkan ku dan Ia tidak ingin Aku meninggalkan nya.


"Iya Pi,,Mi.Dari awal Anin sudah tau yang sebenar nya terjadi."Ucap Anin tiba-tiba.


"Anin juga sudah merelakan nya dan ikhlas dengan apa yang terjadi dengan Anin saat ini."Ucap nya lagi.


"Anin tolong Kamu kata kan pada Papi dan Mami,bahwa Kamu mengijin kan Aku menikahi Davina.Cuma untuk status anak nya saja.Tidak lebih."Ucap ku pada Anin.


Aku berharap Anin bisa menerima permintaan ku.


Jujur Aku tidak bisa berpisah dengan Anin.Tapi Aku juga tidak mau kehilangan anak dari Davina.Aku sangat menginginkan anak itu.


"Iya Aku memang menyetujui mas pernikahan mas dengan Davina."Ucap nya lagi.


"Anin,,apa Mami tidak salah dengar sayang??"Ucap Mami pada Anin.


"Tidak Mi,,Anin ikhlas mas Pras menikah dengan Davina.Tapi setelah proses perceraian Anin dan mas Pras selesai Mi."Ucap Anin pada Mami.


"Apa nin???Kamu mau bercerai dari ku???"Ucap ku tak percaya pada ucapan Anin barusan.


"Iya mas Aku mau cerai mas!!!Besok Aku akan mengurus semua nya,biar mas bisa menikah dengan wanita itu secepat nya."Ucap Anin pada ku.


Semua di ruangan ini terdiam.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut siapa pun.


Aku tak percaya Anin bisa berbicara seperti itu.


Ia ingin berpisah dengan ku.

__ADS_1


*****


__ADS_2