
Mata ku terbuka lebih cepat pagi ini.Aku sempat kaget setelah tahu di samping ku ada Davina.Aku lupa jika semalam Aku menginap di sini.
"Sayang,,Kamu sudah bangun??"Ucap Davina sambil mencium pipi ku.
Aku tersenyum pada nya.
Malam ini Aku memang tidur di apartemen nya.Untuk menghindari pertengkaran dengan nya malam tadi.Terpaksa Aku membujuk nya semalam.
Dan akhir nya Ia bisa di ajak bicara baik-baik.Tentu saja dengan kebohongan dan janji-janji yang Aku ucapkan pada nya.
Entahlah sampai kapan Aku bisa membohongi nya,karena untuk saat ini Aku benar-benar tidak ingin menikahi nya.Dan Aku harus terus berpura-pura terus pada nya,akan menyiapkan semua nya.
"Sayang,Aku ingin kita seperti ini secepat nya,setiap ingin tidur dan bangun tidur ada kamu di samping ku."Ucap Davina sambil memeluk ku.
Terlihat Ia begitu bahagia bersama ku.
"Iya sayang,,aku juga."Ucap ku singkat.
Entah mengapa rasa ku dengan nya saat ini benar-benar hambar.
"Bagaimana jika kita menikah siri dulu sayang,nanti jika proses mu dengan wanita kampungan itu selesai,baru kita proses secara sah."Ucap Davina lagi pada ku.
Aku agak kaget mendengar perkataan Davina.Bagaimana bisa Ia berpikiran seperti itu.
"Sayang,Aku tidak ingin pernikahan seperti itu,bersabar lah sebentar sayang.Pasti nanti kita akan menikah."Ucap ku sambil membelai kepala nya.
"Iya sayang baik lah,Aku akan bersabar menunggu nya."Ucap nya sambil memeluk ku erat.
Davina menatap ke arah ku.
"Aku boleh bertanya satu hal sayang?"Tanya Davina lagi.
"Tentu saja,Kamu ingin bertanya apa?"Tanya ku pada nya.
"Apa nanti jika kita menikah kamu ingin kita segera mempunyai anak?"tanya Davina pada ku.
Tentu saja Aku ingin mempunyai anak.Tetapi dari Anin,bukan Davina.Ucap ku dalam hati.
"Aku ikuti kamu saja sayang,Jika kamu ingin menunda nya dahulu tidak apa sayang."Ucap ku lagi.
Jujur Aku tidak bersemangat membahas ini dengan Davina.
"Sayang,kita sarapan yuk.Aku buat kan nasi goreng bagaimana?"Ucap ku pada Davina.
Aku sengaja mengalihkan obrolan dengan nya,agar Ia tidak membahas hal yang tidak-tidak lagi.
"Apa Kamu bisa memasak sayang?"Tanya nya tidak yakin pada ku.
__ADS_1
"Tentu saja bisa,Anin yang mengajari mu memasak."Ucap ku pada nya.
Davina terdiam mendengar perkataan ku.
"Maaf,bukan Aku ingin membahas nya sayang,tapi memang karena dia aku jadi bisa memasak."Ucap ku pelan.
Davina pun berdiri dan mendekat kepada ku.
"Tidak apa sayang,Ayo kita ke dapur.Aku sudah lapar."Ucap nya pada ku.
Apa aku tidak salah dengar,tidak ada amarah dari nya saat mendengar nama Anin ku sebut.Tidak ada caci maki yang keluar dari mulut nya untuk ku.
Aku mengikuti nya dari belakang dan menuju ke dapur.
"Kamu ingin bahan apa saja sayang?"Tanya nya pada ku.
"Biar Aku saja yang mengambil nya sayang,kamu cukup duduk manis di sana."Ucap ku sambil tersenyum sambil menunjuk sofa di depan televisi.
"Aku ingin melihat mu sayang,biar Aku juga pandai memasak."Ucap nya pada ku.
Aku lupa jika Davina memang tidak pandai memasak.Boleh di bilang ia tidak pernah bekerja sama sekali di rumah.Untuk semua keperluan di rumah ini Ia mempunyai pembantu,yang datang di pagi hari dan kembali sore hari.
Mungkin karena itu Ia tidak protes pada ku tadi,karena Ia sadar jika Ia memang tidak bisa memasak.
"Baik lah,kalo begitu Kamu boleh di sini dan membantu ku."Ucap ku sambil tersenyum.
Davina mengangguk dan mendekat ke arah ku.
Sesekali Aku pandangi diri nya,seandai nya ini Anin.
Aku jadi merindukan kebersamaan seperti ini dengan Anin.Aku merindukan semua masakan nya.
Ia benar-benar istri yang sempurna untuk ku.
Apa pun keperluan ku,Anin yang menyiapkan semua nya.Tidak pernah sekali pun Ia meminta bibi untuk menyiapkan keperluan ku.
Saat ku bangun pagi,semua sudah tersedia di meja makan dengan senyum manis nya dan memeluk ku.
Dan setiap ku pulang kerja pun Ia selalu menunggu ku di rumah.Ia akan menanyakan apa saja kegiatan ku hari ini.Dan Ia pun akan memeluk ku sambil mengusap kepala ku di saat Aku lelah dan butuh ketenangan.
Aku merindukan nya Tuhan,,
Aku sangat merindukan nya,Aku rindu semua yang ada di diri nya.
"Sayang,,kamu kenapa??"Ucap Davina pada ku.
Aku benar-benar tidak tahan saat ini.Ingatan tentang Anin membuat ku benar-benar tidak bisa menahan air mata ku.
__ADS_1
Aku langsung berlalu dari Davina dan menuju ke kamar mandi.
Terdengar Davina memanggilku.Tapi Aku tidak memperdulikan nya.
Aku mengguyur badan ku di bawah shower kamar mandi.Aku berharap Aku bisa tenang saat ini.
Mengapa Aku bisa sebodoh ini,mengapa Aku menyia-nyiakan Anin selama ini.
Aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan semua nya.Dan sekarang semua nya sudah terlambat.Anin sudah tidak bisa lagi memaafkan ku.
Ia benar-benar ingin mengakhiri semua nya.
"Sayang,,apakah kamu baik-baik saja??"Ucap Davina menggedor pintu.
Aku pun mendekat ke pintu dan membuka pintu.
"Sayang,,kamu kenapa?Are you okay??"Ucap Davina sambil menggenggam tangan ku.
Tiba-tiba Aku melihat sosok Anin di depan ku.Sedang menggenggam tangan ku dan membelai pipi ku.
Anin,,apakah ini benar dia??
Aku pandangi lagi wajah nya,dan Ia tersenyum pada ku.
Aku langsung mendekat ke arah nya dan langsung mencium nya.Aku langsung mencium bibir nya dengan mesra.
Aku sangat menikmati nya,hingga aku tak ingin melepaskan nya.
"Sayang,,aku mohon jangan tinggalkan aku."Ucap ku berbisik di telinga nya sambil mencium nya.
"Aku tidak akan meninggalkan mu sayang,,tidak akan pernah."Ucap Anin pada ku.
Aku pun menciumi nya lagi,kali ini aku tidak akan melepaskan mu.
Aku tidak perduli dengan Davina saat ini,biarkan saja Ia melihat ku.Aku ingin ia tahu jika Aku masih mencintai Anin.
Aku membawa Anin ke kamar,dan ku baringkan Ia di kasur Davina.
Terlihat Anin tersenyum menggoda ku.
"Aku merindukan mu sayang,,"Ucap ku pada nya sambil mendekat pada nya.
"Sayang,,,aku suka jika kamu seperti ini.Aku suka Pras yang seperti ini."Ucap Davina pada ku.
Aku langsung tersadar,saat ini Davina di hadapan ku bukan Anin.
Ternyata Aku telah berhalunasi lagi.
__ADS_1
Dan tiba-tiba menarik ku mendekat ke arah nya.Dan Aku tidak bisa menghindari nya kali ini.
******