Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
10. Keluarga atau Musuh


__ADS_3

Ini adalah hari pertama Liana bekerja sebagai asisten. Ia menjadi asisten aktris bernama Yeji.


Yeji adalah aktris yang sangat cantik. Tubuhnya ramping dan tinggi. Hal inilah yang dijual Yeji, kecantikannya untuk memberikannya peran.


“Bukankah kamu asisten Yeji yang baru?” tanya manajer Yeji.


“Ya, perkenalkan aku Liana.”


Wanita itu mengangguk. Ia memberikan sebuah tas jinjing pada Liana.


“Berikan ini Yeji, dia berada di meja nomor 101.”


“Baik.”


Liana melihat Yeji berada di sebuah meja dengan beberapa pria. Salah satu diantaranya adalah Rick. Rick adalah seorang investor terbesar dalam film remaja Blue Sky.


Saat Liana berjalan melewati balkon. Perhatian semuanya tertuju padanya. Pada saat ini tidak ada yang menoleh pada Yeji atau pun menggodanya.


Wajah Yeji menjadi jelek. Ia hampir berhasil membujuk Rick namun semuanya sia-sia hanya dalam beberapa detik.


Yeji kembali mencoba memperoleh perhatiannya kembali namun sepertinya tidak ada gunanya lagi.


“Kamu!”


Yeji menatap tajam ketika Liana mendatanginya.


“Aku asistenmu yang baru. Manajermu memberikan ini untukmu.”


Yeji mengamati penampilan Liana. “Ah, kamu rupanya asisten baruku.”


Yeji mengambil tasnya dari tangan Liana.


“Untuk kamu masih di sini. Aku tidak membutuhkanmu saat ini jadi pergilah.”


“Baik.”


Liana akan beranjak dari sana namun suara Rick menghentikan langkahnya.


“Kenapa terburu-buru? Kamu tidak ingin minum bersama kami.”


Rick bertanya pada Liana namun Yeji yang kebakaran jenggot.


“Aku tidak mempunyai toleransi yang baik dengan alkohol.”


Liana merasa tidak nyaman saat Rick mulai menatapnya dengan mata yang aneh. Namun ia berusaha bersikap profesional meskipun di dalam hatinya ia mengutuk mereka.


“Apakah itu alasan?”


“Aku benar-benar tidak bisa.”


Rick lalu menatap Yeji. Yeji mengerti apa arti dari tatapan tersebut.


“Minumlah beberapa.”


“Tapi...”


Yeji langsung menarik Liana untuk duduk dan menyodorkan segelas anggur. Hati Yeji penuh kebencian saat melihat perhatian Rick hanya terpusat pada Liana.


Liana begitu ketakutan saat mereka memaksanya minum.


“Minumlah jika kamu tidak minum aku akan memecatmu.”


Perintah Yeji, ia mengerti jika ia bertindak tidak sesuai keinginan Rick makan ia tidak akan bisa menandatangani kontrak.


Liana menggigit ujung gelasnya dan pemandangan itu tak luput dari mata Rick yang seakan menelanjangi.


“Apa yang aku lewatkan kali ini?”


Liana mendongak dan melihat pria tampan. Pria itu dengan elegan berjalan dan suasana menjadi dingin seketika.


Pria itu adalah Kingston. Pria yang menciptakan era dunia industri saat ini. Latar belakang pria ini adalah pusat industri hiburan.


Kingston adalah penyanyi, aktor, komposer dan seorang Ceo dari sebuah agensi.


Yeji melihatnya dengan penuh kekaguman sementara Rick langsung berdiri dan menyambut Kingston dengan hangat.


“Maaf Rick, aku datang terlambat karena jadwalku yang padat. Tapi, aku penasaran. Mengapa ingin bertemu denganku? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”


“Jangan terburu-buru. Duduklah, kita akan membicarakannya sambil minum.”


Kingston duduk dan melihat Yeji yang memakai riasan tebal namun ia tidak memiliki aura yang menawan.


Saat ia menoleh, garis pandangnya bertemu dengan Liana. Entah kenapa Kingston terpesona.


“King, biarkan aku memperkenalkanmu. Dia adalah artis, Yeji. Dia sangat cantik dan berbakat. Aku meminta bantuanmu untuk mempromosikannya,” ucap Rick.


Alis Kingston mengerut tapi ia tidak mengatakan apa pun.


Yeji tersenyum dan ia mulai bertindak. Ia mengulurkan tangannya ke arah Kingston. Kingston langsung menghindar dan Yeji langsung kaku di tempatnya.


“Rick, menurutku seleraku dan seleramu berbeda.” Kingston mengatakannya dengan dingin.


“King.”


“Jangan panggil aku King, kita tidak saling kenal.”


“Maafkan aku,” ucap Yeji lalu wanita itu menuangkan anggur di gelas dan memberikannya kepada Kingston.


“Aku tidak minum,” ucap Kingston.


Yeji menunduk karena malu.


“Jika kamu ingin memainkan peran sebagai pemain utama seharusnya kamu mengikuti audisi. Tapi aku sarankan jangan memakai riasan tebal seperti ini.”


Kingston langsung menoleh ke arah Liana.

__ADS_1


“Siapa namamu?”


Liana langsung terkejut dan bingung. Ia menatap Kingston dengan gugup.


“Aku Liana. Asisten Yeji.”


“Kamu asistennya?”


Kingston tampak terkejut. Ia menggelengkan kepalanya dan tampak tersenyum.


“Kamu terlihat cantik, bagaimana bisa kamu berakhir sebagai asisten kecil? Aku kira kamu seorang artis baru. Apakah kamu tidak ingin memasuki dunia hiburan?”


Mata Yeji melebar karena melihat Kingston memiliki minat pada Liana.


“Tidak! Aku tidak bisa...”


“Kenapa tidak? Kamu belum mencobanya kan?”


Yeji merasa ia sangat dipermalukan. Ia sudah tidak tahan lagi.


“Kingston, dia hanyalah asisten baruku. Kenapa kamu membandingkan diriku dengan dirinya? Jelas dia tidak mempunyai kualifikasi untuk menjadi artis.”


Yeji lalu menatap Liana murka.


“Kamu dipecat. Kamu tidak perlu datang padaku.”


Mata Liana membesar, di hari pertamanya kerja ia langsung dipecat. Liana ingin mengatakan sesuatu namun suara Kingston sudah lebih dulu terdengar membuatnya harus menelan kata-katanya.


“Bagus sekali, kebetulan aku membutuhkan seorang asisten. Liana, kamu ingin bekerja denganku?”


Liana membeku di tempatnya. Ia bingung, takdir apa yang mempermainkannya kali ini. Ia baru saja dipecat meskipun ia merasa tidak bersalah dan beberapa detik kemudian ia ditawari pekerjaan.


“Aku bisa memberi gaji yang lebih tinggi jadi bagaimana Liana? Kamu bersedia?”


Kesempatan tidak datang kedua kali jadi Liana menyetujuinya.


“Bagus, besok datang ke agensiku.”


“Ya.”


Kingston melirik jam di tangannya dan berdiri. “Rick aku rasa, aku tidak punya waktu lagi. Aku akan pergi.”


Kingston pergi dan saat membuka pintu ia menoleh ke arah Liana yang masih duduk di tempatnya.


“Asisten kecil Liana? Kenapa masih di situ?”


“Ah?”


Liana masih berpikir tapi ia langsung berdiri dan mengikuti Kingston pergi.


Tepat di lorong hotel Kingston berhenti dan berbalik karena Liana masih berperang dengan pikirannya ia tak fokus pada jalannya. Pada akhirnya ia menabrak dada bidang Kingston.


“Aduh.”


“Apa kamu tidak berterima kasih padaku?”


Kingston menggaruk hidungnya sedikit dan menyalahkan Liana. “Bukan itu maksudku.”


Kingston lalu menunduk melihat mata Liana.


“Sudahlah lupakan.”


.........


Saat di depan hotel Liana menegakkan punggungnya dan menggerakkan bahunya untuk melemaskan ototnya.


“Padahal aku tidak mengerjakan sesuatu yang berat tapi kenapa badanku pegal semua.”


Menoleh ke arah kanan, Liana mendapati sebuah mobil mewah menuju ke arahnya dan berhenti tepat di depannya.


Alisnya mengerut menebak tatkala siapa yang berada di dalamnya.


“Ibu.”


“Damian, kenapa kamu?”


“Ibu, dia adalah guruku namanya pak Dani.”


Dani dengan cerdik langsung memerankan perannya sebagai guru Damian.


“Halo Nona Liana, kita bertemu untuk pertama kalinya. Namaku Dani.”


Senyum lebar langsung muncul di wajah Dani begitu bertatap muka dengan Liana.


“Halo pak Dani.”


Jantung Dani berdegup kencang. Ia melirik ke belakang dan mulai ingin menjadi ayah Damian.


“Nona Liana, masuklah. Aku akan mengantarkan sampai ke rumah.”


“Apakah tidak merepotkan?”


“Ah tidak sama sekali.”


“Terima kasih.”


Liana langsung masuk ke dalam mobil Tesla. Ia duduk di samping Damian.


“Pak Dani, terima kasih sudah menjaga Damian.”


“Jangan begitu sungkan. Damian adalah anak yang pintar.”


“Apakah Damian di sekolah sering membuat ulah?”


Dani mempertahankan senyum di wajahnya namun hatinya mulai menangis. “Ah tidak, Damian adalah murid yang sopan.”

__ADS_1


“Bu, lihatlah.”


Kenyataannya Damian adalah murid yang sopan di sekolahnya. Ia juga begitu populer. Teman-temannya akan berusaha mencari perhatiannya.


“Baiklah.”


Mobil Tesla itu perlahan bergerak. Tanpa mereka sadari sebuah mobil Buggaty Veyron mengikuti jejak mereka.


Orang yang berada di balik kemudi itu mencengkeram kuat-kuat kemudinya.


Sementara itu, Liana begitu percaya bahwa Dani adalah guru Damian. Sepanjang perjalanan, Liana terus saja mengajukan pertanyaan mengenai Damian. Itu membuat Dani gugup, takut jika ia salah bicara.


Dani dapat bernapas lega saat mobil mereka sampai di depan gedung apartemen.


Liana menggendong Damian saat ia keluar dari mobil dan angin langsung menerpa mereka. Melihat itu, Dani langsung bersikap sigap. Ia melepaskan mantelnya dan menyampirkannya di pundak Liana.


“Terima kasih.”


Lalu sebuah sorot lampu menabrak mereka di sertai mobil yang menggeram. Lampu itu begitu kuat sampai Liana menyipitkan matanya.


Saat Dani ingin bergerak maju, sorot lampu itu langsung mati mesin pun juga mati. Suasana malam mendapatkan kembali ketenangannya.


Sesaat Liana linglung namun ia bisa menguasai dirinya. Ia dapat melihat jelas seseorang tengah cemberut di balik kemudinya.


Matanya menunjukkan kemarahan yang dalam. Ia sendiri tidak tahu mengapa, ia bisa kehilangan kendali. Satu-satunya yang ia bisa mengerti adalah saat ini hatinya sakit.


Ia tidak bisa lagi menahan amarah yang bercampur dengan kecemburuan. Ia merasa lebih suram ketika melihat pemandangan di depannya.


“Ia benar-benar sudah bersuami dan mempunyai anak.”


Gideon langsung meraup oksigen sebanyak mungkin sebelum ia keluar dan membanting pintu mobil dengan kasar.


Liana mundur satu langkah. “Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkannya mengambil Damian dariku.”


“Pak Dani, maaf merepotkanmu tapi bisakah membawa Damian ke atas terlebih dulu. Aku akan sangat berterima kasih.”


“Ibu.”


Liana langsung menurunkan Damian lalu membelai rambut Damian.


“Jadilah anak yang baik. Naik ke atas dulu.”


“Baik.”


Wajah Dani kebingungan namun pada akhirnya ia membawa Damian untuk pergi.


Liana langsung berbalik dan matanya langsung bertemu pandang dengan Gideon. Gideon menatapnya dengan dingin dan tajam.


“Untuk apa kamu ke sini? Apakah kamu mengikutiku?”


Gideon diam namun langkahnya semakin mendekat beberapa inci. Aura Gideon begitu kuat membuat Liana terlihat lemah.


Sosoknya yang tinggi mengurung Liana yang minimalis.


“Siapa pria itu? Siapa?”


“Huh?”


“Aku berkata dia siapa? Suami?”


Liana menggeleng pelan.


“Pacar?”


“Bukan!”


Gideon menatapnya lalu sudut bibirnya melengkung dengan samar.


“Jadi anak itu?”


Mata Liana langsung membulat seketika. Ia begitu ketakutan. Tubuhnya sampai gemetar.


Liana menahan napasnya karena kengerian ada di depan matanya.


“Apakah aku benar?”


Liana tidak menjawab karena ia bersiap untuk melarikan diri. Namun pergerakannya dilihat oleh Gideon.


Gideon langsung cepat melingkarkan tangannya di pinggang Liana dan memeluknya. Liana langsung memekik pelan. Bibir Liana langsung diblokir oleh Gideon.


Gideon mencium lebih keras dan ******* lebih kuat.


“Jangan.”


Liana mendorong kuat Gideon.


“Tidak?” Gideon melihat mata Liana.


“Ibu.”


Liana langsung tercengang melihat Damian.


Ia mundur satu langkah dan byur. Air dingin yang ia bawa mengenai tubuh Gideon.


“Jangan berani menggertak ibuku!”


Gideon berdiri dengan kaku.


Damian langsung membawa Liana untuk pergi. Saat ia melihat bahwa ibunya berjalan lebih dulu. Damian langsung berbalik dan menatap Gideon tanpa kenal takut.


“Gideon.”


Gideon langsung terkejut.


“Liana adalah ibuku jika kamu menggertaknya aku tidak akan mengampunimu. Aku memberimu satu kesempatan, keluarga atau musuh?”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Damian berbalik sambil tersenyum tipis. Ia begitu semangat untuk mendengar pengakuan dan cinta dari ayahnya.


__ADS_2