
Gideon tengah duduk di kursi kebesarannya dengan tidak tenang berhadapan dengan Alan. Sejak kemarin ia mendapatkan email misterius.
“Kamu sudah mengetahui siapa yang mengirim email ini?”
“Ya, itu dari perusahaan... itu..."
“ Apa pun yang berusaha kamu sembunyikan dariku? Aku akan menghajarmu jika kamu tidak jujur.”
“Itu dari perusahaan...”
“Apakah itu Damian?”
“Ya.”
“Siapa yang percaya seorang anak kecil mempunyai posisi teratas perusahaan.”
Kedua pria itu terlibat pembicaraan yang cukup aneh.
“Tapi kenapa dia menyuruhku menyelidiki Ruona? Sejujurnya aku sudah tahu identitas Ruona.”
Semenjak kedatangan Ruona dalam keluarga Cross, Gideon sudah mencurigainya. Namun Simon tidak merasa ada yang salah.
Simon selalu mencurahkan perhatian dan cinta untuk Ruona. Sampai pada akhirnya pamannya, Jaret menemukan bahwa fitur Ruona tidak sama dengan fitur ayahnya ataupun ibunya.
Simon menjadi ragu sehingga ia mengusulkan untuk tes DNA dan hasilnya 99.999% mirip. Simon tidak meragukannya namun seiring berjalannya waktu dan Ruona sudah beranjak dewasa. Simon kembali ragu.
Simon kembali melakukan tes DNA dan hasilnya lagi-lagi sama.
Dari sini Gideon mulai curiga, pada akhirnya ia menyelidiki Ruona. Ia menemukan fakta yang mengejutkan bahwa Ruona telah menyuap staf untuk memberikan hasil palsu.
Ia melanjutkan penyelidikannya dan ia menemukan bahwa identitas Ruona dipalsukan.
Gideon sampai sekarang belum bisa mengungkapkan di baliknya pemalsuan identitas Ruona ataupun dalang untuk mengubah hasil identitas Ruona saat dia masih kecil.
Sehingga Gideon Cross tidak mengungkapkan kebenaran ini. Lagi pula saat itu, Gideon tidak peduli dengan tunangan asli atau palsu. Karena memang ia sudah dijodohkan dan tidak bisa membantah.
Tapi karena Gideon tidak menyukai Ruona sejak awal. Ia menyuap para dokter untuk mengatakan bahwa Ruona tidak bisa hamil.
Gelar Nyonya Muda Cross hanya akan menjadi gelar saja. Seperti ibarat cangkang kosong.
Simon Cross merasa kecewa. Keluarga Cross harus mempunyai keturunan. Sehingga Simon menyewa ibu pengganti untuk Gideon.
Simon membawa Liana yang sebenarnya adalah anak yang ia cari. Wanita yang seharusnya menjadi pendamping sah cucunya.
.........
Setelah mengantarkan Damian pergi ke sekolah. Liana mengunjungi Suah dan mengajaknya jalan-jalan ke mall mewah.
Bukan tanpa alasan Liana pergi ke sana. Ia ingin membeli dasi untuk Gideon sebagai ucapan terima kasih karena menjaganya seharian akibat mimpi buruknya.
Liana mengamati beberapa rekomendasi dasi yang ditawarkan. Liana meneliti dan memihak setiap serta dasi tersebut. Ia juga lupa meneliti tentang harganya.
“Liana.”
Liana langsung berbalik.
“Aku tidak berharap melihatmu di sini. Kenapa setiap aku pergi keluar, kamu selalu berkeliaran di sekitarku,” ucap Ruona.
__ADS_1
“Kembalikan kalungku.”
“Apakah kamu sedang bermimpi?” Ruona menyeringai.
“Kembalikan kalungku! Kembalikan statusku! Kembalikan semua yang telah kamu ambil dariku!” Liana menjerit frustrasi.
“Apakah kamu gila? Siapa yang akan percaya padamu? Gideon atau kakek? Salahkan atas kebodohan sendiri.”
“Kamu benar-benar wanita tidak tahu malu.”
Ruona mendadak tertawa terbahak-bahak. Tak lupa ia menyelipkan ekspresi mengejek untuk Liana.
“Aku adalah Nyonya Muda Cross yang sebenarnya sekarang dan nanti. Kamu ingin bersaing denganku? Maaf, Kita tidak selevel.”
Mata Liana berubah dingin. “Tepat sekali. Kita memang tidak selevel karena semunya milikmu sejak awal.”
Liana langsung melangkah maju dan langsung menampar Ruona. Ruona terkejut bahkan Suah pun merasa terkejut, tapi di sisi lain ia merasa senang.
“Orang sepertimu tidak selevel denganku.”
“Kamu berani menamparku!”
“Kenapa aku tidak berani menamparmu? Bahkan aku berani membunuhmu sekarang juga.”
“Liana, aku hamil sekarang bisakah kamu menamparku dengan tidak adil. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada bayiku?”
“Apa??”
“Apakah kamu tuli? Aku katakan aku sedang hamil.”
“Tidak mungkin. Kamu tidak bisa hamil.”
Ruona tertawa melihat ekspresi sedih Liana.
“Apakah kamu benar-benar berpikir dia mencintaimu? Dia hanya mempermainkanmu.”
“Jaga ucapanmu dan berhenti membual, “ ucap Suah.
“Aku tidak ada urusan denganmu,” ucap Ruona yang langsung menatap tajam ke arah Suah.
“Kamu...”
“Liana, bagaimana bisa kamu begitu naif. Kamu benar-benar percaya janji kosong seorang pria yang sudah bertunangan.”
“Liana jangan pedulikan dia,” ucap Suah mencoba terbaik untuk menghalangi hasutan Ruona.
“Dia hanya mempermainkan perasaanmu. Jika dia benar-benar serius denganmu, mengapa dia tidak memutuskan pertunangan denganku? Aku adalah calon istri sahnya yang telah mengandung anaknya. Sementara dirimu, hanyalah tempat singgah sementara yang habis manis sepah dibuang.”
Tangan Ruona menekan-nekan dada Liana yang tampak lemas. Ia mendorongnya hingga terjatuh dan meninggalkan Liana begitu saja.
“Liana, kamu baik-baik saja.”
Air mata langsung terjatuh. Ia menggigit bibirnya sendiri agar isak tangis tak terdengar orang lain.
Ia tidak ingin orang lain menyaksikan kelemahannya dan ketidakberdayaan nya.
“Aku baik-baik saja.”
__ADS_1
Nyatanya hati Liana begitu terluka. Ia sudah menaruh perasaan pada Gideon sehingga kata-kata yang dikeluarkan oleh Ruona begitu menusuknya.
“Bagaimana bisa kamu bilang baik-baik saja? Kamu tidak sedang baik-baik saja. Liana, jangan pedulikan omong kosong Ruona. Dia hanya berbohong untuk membuat mu.”
“Dia hamil, bagaimana pun dia adalah tunangannya. Mengapa dia tidak bisa melakukannya. Gideon pasti sudah tahu tentang kehamilannya."
Liana menganggap bahwa dirinya konyol.
“Liana, kamu harus kuat untuk merebut kembali posisimu. Kamu tidak boleh menangis.”
“Bagaimana bisa? Aku adalah pihak ketiga. Semua orang berpikir bahwa aku adalah orang ketiga dalam hubungan mereka. Aku sudah tahu itu tapi pada akhirnya aku malah menaruh harapan padanya.”
“Bukan! Kamu bukan pihak ketika. Semuanya milikmu sejak awal. Ruona lah yang pihak ketiga.”
Suah mengantarkan Liana pulang. Pada saat itu hari sudah gelap jadi di rumah sudah ada Damian.
“Apa yang terjadi pada ibu?”
“Ibu tidak apa-apa.”
Bibir Damian sedikit mengerucut karena jengkel. Ibunya selalu berbohong.
“Kenapa ibu pulang larut malam?”
“Ibu sedang belanja lalu ibu jalan-jalan tanpa sadar bahwa hari sudah gelap.”
“Damian biarkan ibumu istirahat. Kamu bermain dengan tante ya.”
Damian mengangguk. Ia sedikit merasa lega, mengetahui alasan kenapa ibunya pulang terlambat.
Ia sempat khawatir karena telepon ibunya tidak aktif.
Setelah sekitar tiga puluh menit, Suah pamit untuk pergi. Kepergian Suah membuat Damian langsung menuju ke kamar ibunya.
“Ibu, apakah ibu baik-baik saja? Kenapa wajah ibu terlihat pucat? Ibu merasa sakit?” tanya Damian penuh dengan perhatian.
“Ibu baik-baik saja.”
“Aku akan memeluk ibu.”
Damian langsung memeluk Liana. Kepala kecilnya ia letakkan di cerukkan leher Liana. Kehangatan langsung menyeruak.
“Jika ibu sedih, Damian juga ikut sedih. Katakan siapa yang berani melukai ibu.”
“Tidak ada. Ibu hanya merasa lelah selesai jalan-jalan.”
Liana langsung melonggarkan pelukannya untuk bisa melihat wajah Damian.
“Ibu ingin selalu bersama Damian sampai tua nanti. Jangan pernah tinggalkan ibu.”
“Tidak, ibu tidak akan menjadi tua.”
“Apakah Damian akan membenci ibu ketika ibu menjadi tua?”
“Sedikit. Hanya sedikit.”
“Dasar.”
__ADS_1
“Bu, sebaiknya ibu mandi sebelum tidur. Sementara Damian akan memesan makanan.”
“Siap, kapten Damian.”