Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
36. Bisakah Selalu Seperti Ini?


__ADS_3

“Siapa kamu?”


Kalimat pertama yang Ruona tanyakan pada sosok tinggi yang seumuran dengan Gideon.


Pria itu tak lantas menjawab pertanyaan Ruona. Pria itu dengan tenang menarik sebuah kursi dan duduk di sana.


Sikapnya yang tenang dan tingkah lakunya yang elegan mengungkapkan dia sebagai orang yang berkuasa dan memiliki kedudukan tinggi.


“Mengapa kamu begitu gugup? Jangan khawatir aku tidak akan menyakitimu. Duduklah.” Pria itu tersenyum dengan ramah namun kalimat terakhir dari kata-katanya sangat menakutkan.


Jantung Ruona berdetak kencang. Ia duduk di depan pria itu dengan hati-hati. Dalam keheningan yang menyesakkan, Ruona penuh dengan ketegangan.


“Kamu siapa?”


Pria itu mendengus tampaknya tidak puas dengan ketidaksabarannya.


“Kenapa harus terburu-buru?”


Pria itu menarik cangkir yang di depannya dan menyesapnya dengan elegan.


“Apakah kamu pengirim surat itu?”


“Kamu seharunya memanggilku kakak.”


Kakak?


Ruona mengernyitkan keningnya dan berpikir. Menggali informasinya sendiri.


Kevin?


Ya, Kevin adalah cucu angkat. Lebih tepatnya Simon Cross mengangkat Kevin sebagai cucunya. Saat itu Gideon bersekolah di luar negeri jadi Simon Cross merasa sendiri.


Saat perjalanan pulang dari kantornya, ia tidak sengaja bertemu Kevin kecil yang sedang duduk di trotoar.


Simon Cross merasa iba dan teringat Gideon jadi ia memutuskan untuk mengambil Kevin menjadi cucu angkatnya.


Saat beranjak dewasa dan Gideon sudah kembali dalam studinya. Kevin lantas tinggal terpisah. Kevin yang sudah terbiasa menjadi nomor satu kini merasa dinomor duakan karena kehadiran Gideon.


Apalagi ia tidak tinggal lagi di kediaman utama rumah keluarga Cross.


Ruona merenungkan sejenak sebelum ragu-ragu menyebut namanya.


“Kevin?”


Prang. Cangkir kopi langsung berhamburan pecah di lantai. Wajah pria itu langsung berubah. Mata elangnya menusuk ke arah Ruona.


“Kamu berani memanggilku dengan namaku saja?”


“Aku minta maaf. Aku salah, kakak. Tolong maafkan aku.”


Ruona langsung menundukkan kepalanya. Ia mendengar bahwa Kevin adalah karakter yang kejam.


“Kamu, aku maafkan karena bagaimana pun kita memiliki kepentingan yang sama.”


“Apa maksud kakak?” wajah Ruona memucat saat ia mengangkat matanya untuk melihat Kevin.


“Apakah kamu sudah melihat dokumen sebelumnya? Apakah kamu benar-benar berpikir dapat merahasiakannya?”


“Kakak, apa yang kakak tahu?”


“Aku tahu bahwa ibumu adalah penjual minuman keras. Saat kamu lahir, ibumu meninggalkanmu di sebuah rumah kosong. Kemudian kamu diadopsi oleh pasangan yang cukup kaya namun sayang mereka meninggal akibat kecelakaan mobil dan kamu dikirim ke panti asuhan.


Ketika Liana dikirim ke panti asuhan, kamu mencuri kalungnya. Awalnya kamu ingin menjualnya tapi tanpa diduga Simon mencari cucu dari teman lamanya yang hilang dan secara keliru mengambilmu.


Menyadari bahwa Liana adalah cucu yang kakek Simon cari kamu menyuruh Johan untuk menyewa penjahat untuk melenyapkan Liana dan anaknya.”


Tiba-tiba Kevin tersenyum sinis dan menatap dengan dingin ke arah perut Ruona.


“Anak yang di perutmu sekarang harusnya milik Johan.”


Wajah Ruona benar-benar pucat karena setiap kata yang diucapkan oleh Kevin adalah sebuah kebenaran. Tapi Ruona tidak habis pikir bagaimana Kevin sampai bisa tahu. Ruona selalu sangat berhati-hati dalam semua tindakannya.


Kenapa dia bisa tahu? Apakah dokter yang mengatakannya? Ataukah Johan?


Ruona mengerutkan keningnya. Ia mencurigai setiap orang yang dekat dengannya.

__ADS_1


“Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Apakah kamu begitu bodoh? Keluarga Cross tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Kakek, sudah tua jadi dia tidak bisa melihat mana yang benar dan salah.”


“Aku sudah menghilangkan semua laporan dan identitas di masa laluku. Bagaimana bisa itu...”


“Apa kamu tidak tahu, bahwa kakek sudah melakukan dua kali tes padamu.”


“Apa? Bagaimana mungkin kakek melakukan itu?”


“Penipu sepertimu pasti sudah nyaman memanggilnya kakek.”


Raut wajah Ruona langsung berubah. “Jika kakek memiliki hasil tes sebelumnya, kenapa dia mengulanginya lagi? Seharusnya dia membuangku saat itu juga.”


“Menurutmu dari mana hasil tes yang kedua?”


“Tidak mungkin. Apakah kamu yang melakukannya?”


Kevin memalsukan hasil tes Ruona yang kedua. Akibatnya hasil yang kedua 99.999% cocok dan dokter yang disuap oleh Kevin, mati dalam kecelakaan.


Oleh karena itu meskipun Gideon mengetahui bahwa Ruona palsu, dia tidak ada saksi.


Saat pertama kali melihat Gideon, Kevin sudah merasakan bahwa Gideon pria yang cerdik jadi dia mengantisipasinya.


“Ruona, kita dalam posisi yang sama.”


“Apa yang kamu inginkan sebenarnya?”


“Itu sudah jelas, puncak tertinggi di dalam keluarga Cross. Posisi itu seharusnya menjadi milikku bukannya Gideon.”


“Tapi Gideon putra sah keturunan Cross dan dia adalah kandidat yang paling layak.”


“Maka dari itu aku harus menyingkirkannya.”


“Apa?”


.........


Liana perlahan membuka matanya. Matanya menyapu bangsal. Ia tiba-tiba menyadari bahwa di samping tempat tidurnya ada Daniel yang menggenggam erat tangannya. Bocah kecil itu berbaring di sampingnya dan tampak tertidur lelap.


Liana awalnya merasakan sakit kepala yang luar biasa namun melihat pasangan ayah dan anak yang masing-masing memegang tangannya dengan ajaib mampu meredakan sakit kepalanya.


“Bu, kamu sudah bangun?”


Suara Damian terdengar begitu kamar mandi terbuka.


“Ya.”


Damian dengan hati-hati mengambil sebuah kursi dan duduk di sana.


“Apa yang terjadi pada ibu?”


“Ibu sangat ceroboh karena bisa terpelesat dari kamar mandi dan mengakibatkan cedera.”


“Hei ibu tidak seceroboh itu.”


“Tapi kenyataannya ibu sangat ceroboh.”


“Yak, Damian ke sini.”


Damian menuruti perkataan ibunya.


“Lebih dekat.”


“Tidak, aku curiga akan melakukan sesuatu.”


“Tidak.”


Damian pun lebih dekat dan benar saja Liana menarik tangannya dari cengkeraman Gideon untuk mencubit ringan pipi Damian.


“Ah ibu...”


“Ibu sangat mencintaimu jadi biarkan ibu mencubit pipimu. Ibu sangat gemas denganmu.”


Merasakan kehilangan di telapak tangannya. Gideon tersentak bangun dari tidurnya. Pria itu mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Gideon melihat Liana memeluk Damian. Damian yang ada di pelukannya membiarkannya mencubit gemas pipi Damian.


Senyum hangat menyebar di wajah Damian dan Liana.


Daniel juga tersentak bangun ketika mendengar pertengkaran antara Liana dan Damian.


“Bu,” seru Daniel.


“Uh, Daniel. Kamu sudah bangun.”


Daniel hanya mengangguk.


“Ibu beri aku pelukan,” seru Daniel sambil membuka tangannya.


“Biar ayah peluk.”


“Tidak! Aku ingin ibu yang memeluk.”


Liana langsung tersenyum, Daniel langsung memeluk Liana. Sementara Damian merasa cemburu karena daerahnya terancam.


“Damian, biar ayah memelukmu.”


“Aku tidak mau!”


“Kenapa?”


“Aku anak ibu bukan anakmu.”


Gideon langsung mengangkat tangannya dan bergerak membawa Damian ke pelukannya. Ia tidak membiarkan Damian pergi.


Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat Damian sedekat ini.


Damian berjuang untuk melepaskan diri namun usahanya sia-sia.


“Damian, apakah kamu ingin bermain permainan dengan ayah?”


“Permainan hanya untuk anak kecil.”


“Dan kamu masih kecil. Daniel suka permainan ini.”


Gideon langsung memegangi tubuh Damian dengan kuat dan membawa Damian ke udara layaknya pesawat yang sedang terbang.


“Wah...turunkan aku! Wahhh aku akan jatuh.”


Gideon mengangkat alisnya saat melihat wajah Damian pucat dan ketakutan. Inilah perbedaan antara Damian dan Daniel.


Damian sangat menyukai permainan ini karena Damian memang suka hal yang menantang.


“Panggil aku ayah.”


“Ayah! Ayah turunkan aku!”


Gideon langsung menyudahi permainannya.


“Permainan ini sungguh tidak menyenangkan.”


Damian langsung menutup matanya dan sebulir air matanya jatuh. Gideon sedikit tak berdaya melihat Damian menangis.


Damian memeluknya dengan erat sementara Gideon berusaha menenangkannya.


“Jangan menangis, jangan menangis.”


Melihat interaksi Damian dan Gideon yang tak biasa. Bibir Liana berkedut dan ia tertawa terbahak-bahak dan itu menular pada Daniel.


Daniel tidak tahu apa yang ditertawakan ibunya, tapi melihat betapa cantiknya ibunya dengan senyuman, ia tidak bisa menahan tawa juga.


“Ibu...”


Protes Damian, bocah itu langsung menghambur ke pelukan ibunya. Bocah itu membenamkan kepalanya di dada Liana.


Daniel juga langsung menghambur ke pelukan ayahnya.


“Ayah, aku sangat menyukainya. Kita berempat bersama-sama. Ayah, ibu, adik dan aku. Kita bersama selamanya.


Gideon bungkam untuk beberapa saat sebelum berakhir mengangguk. “Tentu.”

__ADS_1


__ADS_2