Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
68. Bertukar Identitas


__ADS_3

“Dia ibuku yang melahirkan dan membesarkanku terlepas dia sudah melanggar kontraknya. Kakek, kamu tidak bisa menahannya.”


Simon Cross tercengang.


“Aku memanggilmu kakek karena aku menghormati ayahku. Tapi aku juga punya batasan sendiri. Jika kakek melanggar batasanku juga, aku juga bisa membuatmu menyesal.”


“Apakah kamu mencoba mengancamku?”


Daniel melirik ekspresi kakeknya yang dingin. Keduanya saling menatap, Damian dan kakeknya.


Daniel langsung mengambil inisiatif dan berpura-pura tidak mengenal Damian.


“Kakek...kakek apakah dia saudaraku? Dia sangat mirip denganku?”


Simon langsung menoleh ke Damian dan mengangguk.


“Iya, dia dibawa oleh wanita jahat. Kalian sudah berpisah selama tujuh tahun akhirnya bisa bertemu. Kamu harus dekat dengannya karena dia saudaramu.”


Simon meninggalkan kedua cucunya. Ia berharap Daniel dan Damian memiliki hubungan yang baik sehingga Damian akan lebih menurut padanya.


Saat pintu ditutup, Daniel langsung berjalan ke pintu dan menguncinya. Ia juga berjalan ke jendela saat melihat ke bawah, ia dapat melihat beberapa orang penjaga di sana.


Daniel langsung menutup tirainya.


Kakeknya pasti mengerahkan pengawal untuk memastikan bahwa Damian tidak bisa melarikan diri.


“Apa yang terjadi? Dimana ibu?”


“Ibu sepertinya dibawa ke suatu tempat.”


“Pantas aku tidak bisa menghubunginya.”


“Ruona pasti sedang menyakiti ibu...tadi...”


Daniel terkejut mendengar cerita lengkap dari Damian. Daniel tidak mengharapkan begitu banyak masalah dalam lima haru ketika ia tidak ada.


“Aku tidak bisa menghubungi ayah.”


“Aku ingin keluar dari sini.”


“Itu akan sulit. Rumah ini dijaga ketat oleh pengawal atas perintah kakek.”


Damian langsung melihat wajah Daniel.


“Aku punya ide.”


“Benarkah? Apa?”


“Bagaimana jika aku tidak meninggalkan rumah ini?”


“Huh? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud. Kamu ingin keluar dari sini tapi kamu tidak ingin meninggalkan rumah ini?”


Damian mendengus. Damian langsung membisikkan sesuatu di telinga Daniel.


“Kenapa aku tidak memikirkan itu? Tapi bagaimana dengan lukamu?”


“Ini bukanlah masalah besar.”


Daniel merenung. Ia memikirkan hal baik dan buruk sebelum menjawab, “Baiklah.”


..........


Di sebuah gudang yang terlihat gelap hanya ada penerangan yang redup. Tempat itu terlihat kotor dengan debu bertebaran dimana-mana.


Di bawah cahaya redup, terlihat beberapa bekas memar di pipi dan tangannya. Wanita itu membuka matanya perlahan.


Pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok wanita ramping yang anggun. Ia berjalan mendekati wanita itu dan menendang kakinya dengan ujung sepatunya.


“Bangun!”

__ADS_1


Sebelum Liana bisa bereaksi, Ruona berjongkok dan menarik wajahnya dengan kasar.


“Liana, lihat dirimu sekarang! Aku bisa saja membunuhmu di sini.”


Ruona langsung melepaskan wajahnya dengan kasar. Ia lantas berdiri dan bersedekap layaknya seorang ratu sejagat. Ruona tiba-tiba melemparkan senyum jahat.


“Apakah kamu tahu betapa cemburunya aku padamu? Mengapa kamu bisa memiliki wajah yang cantik dan memiliki latar belakang yang begitu bagus ketika kita mulai di tempat yang sama?”


Kata-kata Ruona membingungkan Liana.


“Kamu merasa iri, jadi kamu mencuri semua yang menjadi hakku kan?”


Ruona tertegun beberapa saat lalu ia tersenyum. Memang itu dimulai dengan kalung yang ia ambil dari Liana.


Jadi Ruona bisa menikmati kekayaannya dan status barunya. Jika bukan karena pertukaran identitas mungkin Ruona tidak bisa menikmati itu semua.


Tapi sebenarnya apa yang Ruona dapatkan. Ia hanya dimanfaatkan oleh Gideon dan dijadikan pion. Satu-satunya hal yang tak bisa dijangkau oleh Ruona adalah Gideon.


Ruona sangat mencintainya namun Gideon bersikap kejam dan dingin.


Ruona melotot tajam ke arah Liana karena cemburu.


“Aku benar-benar iri padamu. Kenapa kamu bisa memiliki cintanya sementara aku tidak! Baiklah, karena dia sangat mencintaimu . Kita lihat apakah dia rela menyerah demi dirimu?”


“Apa yang kamu coba lakukan?”


Ruona langsung tersenyum. “Karena kamu sangat penting baginya, coba tebak apakah dia akan menyerahkan hak waris Cross atau tidak demi dirimu.”


Liana benar-benar terkejut mendengar pikiran ekstrem dari Ruona. Wanita itu ingin memeras Gideon agar menyerahkan hak warisnya menggunakan Liana.


“Menurutmu seberapa pentingkah aku? Dia tidak akan menyerahkan hak warisnya demi aku jadi menyerahlah.”


“Mungkin tidak jika itu hanya kamu tapi bagaimana jika Damian ikut ambil peran.”


“Jangan pernah menyentuh Damian jika tidak—“


Tatapan Liana berubah dingin dan tajam. Liana berharap bisa membasmi wanita itu dengan matanya.


“Kamu tidak perlu menatapku seperti itu.”


“Aku menyarankan agar tidak bermain api. Itu bisa membakar dirimu sendiri.”


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Khawatirkan dirimu sendiri. Apakah kamu tidak ingin mencoba untuk meminta belas kasihan dariku. Aku akan memberi kesempatan padamu sekarang.”


Ruona kembali berjongkok.


“Dalam mimpimu,” ucap Liana.


“Kamu!”


Ruona berteriak tangan kanannya ia ayunkan dan siap untuk menampar namun pada saat itu ponselnya berbunyi saat nyaring dan ia menghentikan niatnya.


Ruona langsung melihat ponselnya dan segera mengangkat ponselnya saat ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Ia menenangkan dirinya sendiri dan mengatur napasnya.


“Kakek.”


“Dimana kamu?”


“Jangan khawatir kakek, aku akan segera kembali.”


“Dimana dia?”


Ruona langsung melihat ke arah Liana dan langsung pergi meninggalkan Liana ke tempat lain.


“Dia aman bersamaku.”


“Jangan menyentuhnya. Aku ingin menanyainya sendiri.”

__ADS_1


“Ya. Kakek, bagaimana dengan anak itu?”


“Aku menyuruh Daniel untuk menemaninya.”


“Itu terdengar bagus. Mereka butuh waktu untuk saling mengenal.”


“Ya. Kamu harus cepat kembali.”


“Baik.”


Ruona langsung menutup ponselnya.


“Kakek maafkan aku, tapi kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk melihatnya.”


Ruona langsung menyeringai kejam dan berlenggang pergi dari tempat itu.


Kembali ke kediaman Cross. Ketika Simon kembali ke kamar untuk melihat kedua cucunya. Ia melihat Daniel yang berdiri di dekat jendela sambil melihat keluar.


Sementara saudara kembarnya sedang berbaring tidur di ranjang.


Merasakan pintu terbuka secara perlahan, Daniel berbalik dan menampilkan senyum cerah.


“Kakek buyut.”


“Ya.”


Simon mengangguk lalu tatapannya terjatuh pada anak yang tidur di ranjang.


“Apakah dia sudah tertidur?”


“Iya, sepertinya dia sangat kelelahan.”


“Bagaimana dia menurutmu?”


Daniel berjalan ke samping dan perlahan-lahan duduk.


“Dia sangat cuek. Dia tampaknya masih takut dengan orang asing tapi begitu kita akan menghabiskan waktu bersama, aku yakin kita akan saling mengenal.”


Kejutan mewarnai wajah Simon, pria itu mendapati Daniel aneh malam ini. Meskipun yang berdiri di depannya adalah Daniel namun ia merasakan temperamen Daniel begitu dewasa. Bahkan dia tampak lebih bijaksana dan tenang.


“Apa pendapatmu tentang saudaramu?” tanya Simon karena awalnya ia merasa kedatangannya akan membuat Daniel cemburu dan iri namun dugaannya salah.


“Aku sangat menyukainya. Mulai sekarang aku akan menjaganya karena ia begitu imut.”


“Daniel memang anak yang baik.”


“Kakek aku akan tidur di kamarku karena besok aku harus sekolah.”


Simon mengangguk. “Aku ingin menemaninya sebentar, kamu pergilah dulu ke kamarmu dan tidurlah dulu.”


“Iya.”


Saat ia berjalan meninggalkan kamar itu dan menutup pintu. Ekspresi wajahnya seketika berubah.


Ia berjalan menuju ke kamarnya namun ia tidak mengetahui kamar Daniel. Matanya mengamati sekelilingnya.


Daniel yang asli saat ini sedang tertidur di ranjang kamar itu sementara Damian yang asli saat ini bertukar identitas dengan Daniel.


Saat ia melihat pelayan ia langsung memberi perintah.


“Kamarku sangat berantakan. Rapikan itu segera.”


“Ya, Tuan kecil.”


Dengan itu Damian mengikuti pelayan itu dari belakang menuju ke kamar saudaranya.


“Tuan kecil, kamarnya tidak berantakan sama sekali.”


“Pergilah kalau begitu,” ucap Damian.

__ADS_1


__ADS_2