
Dua pasang kaki-kaki kecil dengan riang menapaki pinggiran jalan. Tangan mereka saling bertaut meskipun salah satu diantara mereka merasa sedikit risi.
Daniel dengan riang sesekali melihat Damian. Sementara Damian tanpa ekspresi terus menatap jalanan kota.
“Kamu ingin makan apa?” Tanya Daniel.
“Apa saja yang penting bisa dimakan.”
“Baiklah, apakah kamu suka pizza?”
“Ya.”
“Oke, kita makan pizza hari ini.”
Mereka pun mencari tempat makan yang menawarkan berbagai varian pizza. Saat mereka melangkah masuk.
Semua mata tertuju pada mereka. Seolah-olah mereka adalah selebritas.
Seorang pelayan wanita langsung menghampiri mereka.
“Kakak, apakah meja ada yang kosong?” tanya Daniel.
Saat mereka tiba, memang sudah waktu makan siang jadi pengunjung sangat ramai.
Pelayan tersebut langsung mengangguk.
“Adik kecil, dimana orang tua kalian? Apakah kalian tersesat?”
“Kakak, kami tidak tersesat. Kami hanya ingin makan pizza,” ucap Daniel sambil tersenyum sopan.
Pelayan tersebut sedikit ragu dan terlihat tersenyum ragu. Melihat keraguan pelayan tersebut, Damian langsung menyenggol tangan Daniel isyarat.
“Kakak, tenang saja. Aku membawa kartu ini dari ayahku.”
Daniel langsung memperlihatkan kartu hitam milik ayahnya. Pelayan itu kembali terkejut untuk kedua kalinya .
Ia pun dengan ragu membawa ke sebuah meja kosong dan memberikan buku menu.
Daniel terlihat bingung dan membolak-balikkan buku menu. Sementara Damian sibuk dengan ponselnya.
“Kamu ingin varian apa?”
“Apa saja.”
“Baiklah.”
Daniel lantas memesan pizza dengan ukuran medium dan varian yang berbeda.
Daniel lantas memfokuskan perhatiannya pada Damian yang sedari menunduk.
“Apa yang kamu mainkan?”
“Tidak ada,” ucap Damian singkat.
“Aku bosan.”
“Oh.”
Daniel memandang Damian dengan cemberut.
“Aku tidak punya siapa pun untuk diajak bicara. Bisakah kamu meletakkan benda itu.”
Damian menghela napas dan menjauhkan ponselnya.
“Kita akan kemana setelah makan siang?” tanya Daniel.
“Pulang.”
Singkat, padat dan jelas. Itulah Damian.
Daniel tampak cemberut. Ia menopang kepalanya dengan tangannya seakan tak ada kehidupan untuk esok.
“Tapi aku ingin berkeliling dulu.”
“Kemana?”
__ADS_1
“Taman hiburan.”
Daniel menjawab dengan mata berbinar.
“Oh.”
“Kamu ingin pergi bersama?”
“Tidak.”
“Bagaimana kalau menonton film?” usul Daniel. Pria kecil itu tak ingin menyerah mengajak Damian keluar.
“Apakah ada film yang bagus?”
“Tentu saja.”
“Baiklah.”
“Aku akan memesan tiket sekarang.”
“Untuk menonton film.”
“Bukankah di rumah ada bioskop mini. Kita bisa menonton di sana.”
“Ayolah Damian.”
Protes Daniel sebelum Daniel protes kembali, pelayan wanita datang dengan dua pizza. Daniel tak jadi protes karena ia tergiur visual pizza yang terlihat menggiurkan.
“Aku tidak sabar untuk memakannya.”
Setelah menghabiskan pizza dan membayar. Damian dan Daniel keluar. Mereka kembali menapaki jalanan kota. Saat mereka melewati taman kota. Tiba-tiba Daniel berhenti di jalurnya.
“Ada apa?” tanya Damian.
“Aku ingin es krim. Apakah kamu ingin es krim?”
“Ya,” jawab Damian sambil mengangguk.
“Tunggu di sini,” ucap Daniel.
Daniel langsung menghampiri penjual es krim. Namun saat di sana ia kebingungan karena ia lupa bertanya pada Damian, saudara laki-lakinya suka rasa apa.
Sementara Damian, bocah kecil itu duduk di bangku taman. Saat menunggu Daniel kembali. Damian merasakan kehadiran seseorang.
Saat ia menoleh, ia menemukan tangan besar seseorang membekap mulutnya. Sebelum ia bisa berjuang, ia sadah kalah dalam perlawanan.
Ketika Daniel kembali, ia sudah tidak menemukan Damian di tempatnya. Daniel menoleh ke kanan dan kiri. Menelisik setiap sudut untuk menemukan saudaranya.
“Dimana dia?”
Daniel langsung panik dan membuang es krimnya begitu saja. Ia berlarian untuk mencari saudaranya.
“Damian!”
Damian berhenti berlari. Napasnya memburu dan ia mulai teringat sesuatu.
“Benar.”
Daniel melacak keberadaan Damian dengan gps yang ada di jam tangannya. Saat ia menemukan titik lokasinya. Daniel segera berlari.
Saat sampai di sebuah jalan yang sepi. Mata Daniel langsung menyala marah.
“Jangan sentuh adikku!”
Pria yang menangkap Damian terkejut dan berbalik.
Daniel sangat marah saat mengetahui bagaimana pria jahat itu memperlakukan adiknya.
Lantas, Daniel langsung berlari kencang dan ia menggunakan dinding di sampingnya untuk mendorong jungkir balik dan mengirim sebuah tendangan ke wajah pria jahat itu.
Pria jahat itu terlambat untuk menyadarinya. Ia merasakan kesakitan dan terbatuk-batuk.
“Kamu berani denganku?”
Daniel tidak terlalu memedulikan ocehan pria jahat itu. Sebaliknya, ia membantu Damian dan mengkhawatirkannya.
__ADS_1
“Apakah kamu tidak apa-apa?”
“Dia menamparku,” ucap Damian.
Daniel langsung membalik dan menatap pria jahat itu dengan bringas. Saat Daniel ingin memberi pelajaran untuk pria jahat itu.
Damian mengulurkan tangannya untuk menarik baju Daniel. Ia melihat bahwa pria itu mempunyai pisau. Meskipun Daniel sangat terampil dalam bela diri tapi itu masih tak sebanding dengan pria dewasa yang memegang senjata di tangannya.
“Ada apa?”
“Dia mempunyai pisau.”
“Lalu kenapa?”
“....”
“Jangan khawatir. Aku lebih terampil dari apa yang kamu pikirkan. Sebaiknya kamu memanggil polisi.”
Dalam sekejap, Daniel sudah berada di depan pria jahat itu dan langsung beraksi. Daniel memegang pergelangan tangan pria itu. Pria itu mengarahkan pisaunya ke arah wajah Daniel.
Damian tertegun dan merasa takut jika saudaranya terjadi sesuatu.
Namun Daniel sudah menerima pelatihan militer dari kecil hingga ia mampu mengalahkan pria jahat itu.
Daniel memutar pergelangan tangan pria jahat itu dan pisau pun terjatuh ke tanah. Pria itu merintih kesakitan.
Daniel langsung menendangnya.
“Kamu...”
Daniel mengejek dengan tatapannya. Pria jahat itu meringkuk kesakitan.
“Tangan yang mana yang berani menyentuh saudaraku?”
Daniel menginjak tangan pria jahat itu.
“Ahkkk.”
“Yang ini?”
“Ahkkk.”
Pria jahat itu mengerang kesakitan.
Damian tertegun tak bisa berkata-kaya saat melihatnya. Ia seakan melihat bayangan ayahnya dari Daniel.
“Dia terlalu keren,” ucap Damian.
Damian langsung berlari ke arah Daniel.
“Apa pun yang dilakukannya padamu, lakukan kembali padanya.”
Damian langsung menggeleng.
“Apa kamu tidak berani? Jangan takut.”
“Aku tidak takut.”
“Lalu?”
“Aku hanya tidak ingin sepatuku kotor.”
“Yah, berarti sepatuku dan tanganku sudah kotor sedari tadi. Damian, ayo kita pulang. Aku perlu mencuci tanganku.”
“Oke.”
Saat Damian Daniel baru saja melangkah beberapa meter. Suara pria jahat itu terdengar sombong.
“Dasar bocah kecil! Tahukah kamu berurusan dengan siapa? Aku adalah anggota geng. Jika aku melihat kalian lagi, aku pasti akan membunuh kalian.”
Damian segera berhenti di jalurnya. Ia berbalik dan dengan santai bertanya, “Memangnya kamu dari geng mana?”
“Aku adalah bagian dari geng kapak putih. Jangan perlihatkan wajah kalian jika kalian ingin hidup.”
Mata Damian langsung menyipit. Ada senyuman tipis dan penuh dengan teka-teki di sana.
__ADS_1
“Kapak putih? Baiklah akan kuingat.”
Pria jahat itu sedikit takut saat melihat senyum misterius Damian. Ia melihat kedua anak itu pergi namun ia merasakan kegelisahan dan ketakutan.