
Flash back on
Liana berakhir di panti asuhan matahari. Saat itu akibat kecelakaan yang merenggut ibunya. Kepribadian Liana yang semula ceria menjadi muram dan tertutup.
Liana kecil berbagi tempat tidur dengan anak lain bernama Rina. Anak itu sangat cantik dan disukai teman-temannya. Sementara Liana yang pendiam, dikucilkan.
“Namaku Rina, siapa namamu? Ayo kita berteman.”
Rina adalah satu-satunya anak yang menawarkan pertemanan padanya.
Rina manis dan baik hati. Dia bagaikan malaikat.
Di hari berikutnya. Liana menyembunyikan kalungnya di bawah bantal. Ia menyimpannya karena takut akan hilang.
Namun selang dua hari kalung itu hilang. Liana mencarinya dan menanyai setiap anak yang ia temui namun tidak ada yang melihatnya sampai ia melihat kalung itu berada di leher Rina.
“Itu kalungku!”
“Maksud kamu apa? Ini kalungku! Kamu ingin mencurinya dariku? Dasar pencuri.”
“Aku bukan pencuri. Itu memang kalungku.”
“Maksud kamu, aku yang mencuri barang mu?”
Rina adalah anak yang manis dan semua temannya memihaknya. Berbanding terbalik dengan Liana. Anak-anak panti menganggapnya sebagai iblis dan semua memperlakukan Liana dengan buruk.
Beberapa waktu berlalu, Liana mendengar bahwa Rina diadopsi oleh keluarga kaya.
Flash back off
Liana membuka matanya lebar dan menemukan dirinya sudah berbaring di ranjangnya.
Liana masih berusaha mengatur napasnya yang tak wajar. Tiba-tiba matanya mengeluarkan kemarahan dan kesuraman.
Kenangan gelap menerpa alam bawah sadarnya dan dengan jelas muncul di benaknya.
“Kamu baik-baik saja?”
Liana langsung menoleh saat suara Gideon terdengar di sampingnya.
Gideon langsung beringsut mendekat dan menatapnya lekat. Tangannya membelai kening Liana yang terluka.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?”
“Itu dia... dia adalah gadis itu. Dia mencuri kalungku dan menuduhku mencuri.”
Air matanya tiba-tiba keluar dengan deras. Liana memegang tangan Gideon dengan sangat erat.
Kenangan gelap itu tiba-tiba muncul dan mengobrak-abrik emosinya.
“Ruona diadopsi oleh keluarga Cross karena kalungku. Apakah kamu tahu?” batin Liana menjerit.
“Liana tenang lah.”
Gideon sampai susah bernapas melihat Liana yang sedang kacau.
“Aku bukan pencuri. Apakah kamu mempercayaiku?”
“Liana bagaimana bisa kamu bertanya seperti itu? Bagaimana bisa kamu menjadi pencuri?”
“Tapi mereka menuduhku mencuri!”
Liana menutup matanya dan menangis keras. Liana mencoba yang terbaik untuk melupakan adegan mimpi buruk itu. Tetapi ingatannya yang muncul tanpa terkendali membuatnya ketakutan dan menyiksanya tanpa henti.
Gideon yang melihatnya langsung memeluknya dan menenangkannya.
Di tempat lain, saat perjalanan ke rumah Ruona. Tiba-tiba Ruona merasakan nyeri di bagian perutnya sampai ia tak sadarkan diri.
Johan dengan panik mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Saat tiba di rumah sakit Johan langsung membaringkan di ranjang rumah sakit dan menyuruh dokter untuk segera memeriksanya.
Johan melihat dokter yang memeriksanya dengan perasaan cemas.
“Apa yang terjadi padanya?”
Dokter sedang berbicara dengan perawat lalu mengangguk sebelum melihat ke arah Johan.
“Apa hubunganmu dengan pasien?” tanya dokter.
“Kami hanya teman.”
Dokter itu terlihat ragu namun ia mengangguk. “Bisakah kamu memanggil keluarganya untuk datang ke sini?”
“Apakah ia sedang sakit parah?” saran dokter membuat Johan heran.
__ADS_1
“Tidak! Bisakah kamu memanggil suaminya untuk datang? Kami ingin melakukan pemeriksaan kehamilan secara menyeluruh serta ingin memberikan konsultasi.”
“Hamil?”
Johan tentu saja terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Apakah kamu yakin dia hamil? Dia diagnosis tidak bisa hamil sebelumnya. Keluarganya bahkan sudah memeriksanya dan hasilnya dia tidak subur.”
“Bagaimana bisa itu terjadi? Wanita ini subur.”
Johan terlihat kebingungan sampai ia tidak menyadari bahwa dokter sudah pergi dari hadapannya.
Ia mengerutkan kening bingung akan perbuat apa.
“Bagaimana jika dia benar-benar hamil? Kelurga Cross akan segera mengetahuinya. Ruona dan Gideon bahkan tidak pernah bersentuhan jika berita ini keluar. Hamil di luar nikah merupakan skandal besar, terlebih lagi itu bukan anak dari Gideon Cross.”
“Ah.”
Johan langsung berbalik saat mendengar suara Ruona.
“Dimana ini?” tanya Ruona saat pandangannya menyapu ke sekelilingnya.
“Rumah sakit. Kamu pingsan sehingga aku membawamu ke sini. Apakah kamu sekarang lebih baik.”
“Ya. Aku ingin pulang sekarang. Kakek pasti mengkhawatirkan aku.”
Mereka lalu berkendara pergi ke rumah. Johan terlihat sesekali melirik Ruona. Pria itu ragu untuk mengatakan apa yang ada di otaknya.
Kata-katanya selalu menyangkut dalam tenggorokan hingga Ruona menyadari sesuatu.
“Ada apa?” tanya Ruona karena sedari tadi sikap Johan begitu aneh.
“Apakah kamu benar-benar didiagnosis mengalami infertilitas?”
Pertanyaan itu memecah suasana hening.
“Mengapa kamu bertanya tentang ini dengan tiba-tiba?” Mata Ruona terbelalak lebar, ia juga sedikit menggerutu.
“Tidak, aku hanya bertanya.”
Ruona menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia marah sekaligus sedih.
__ADS_1
“Jika bukan karena aku mandul, aku sudah menikah dengan Gideon saat ini.”
“Apa maksudmu? Jelaskan padaku dengan jelas?” desak Johan membuat Ruona menatapnya.