Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
27. BlackList


__ADS_3

Liana mengambil sebungkus roti yang akan ia jadikan sandwich untuk sarapan. Ia dengan serius mengisi lembaran roti itu dengan saus, daging dan beberapa lembar sayuran.


Saat Liana sedang ingin memotong sandwich, tiba-tiba ponselnya berkedip dan suara dering terdengar nyaring.


Liana berbalik dan melihat ponselnya yang tergeletak di meja. Ia melihat nama yang muncul di layar. Ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal.


Tanpa peringatan, ia langsung menggeser tombol merah dan suara dering itu pun mati.


Telepon berdering lagi dan Liana langsung memutuskan sambungan. Liana ingin melanjutkan pekerjaannya namun lagi-lagi suara telepon itu mengganggunya.


Liana mengabaikannya sampai ia selesai membuat empat potong sandwich.


“Ibu, ponselmu berbunyi,” ucap Damian yang baru saja menyelesaikan mandinya. Sekarang ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


“Ibu tahu.”


Liana saat ini sedang menuangkan susu untuk Damian.


“Kenapa ibu tidak mengangkatnya?” tanya Damian.


Bocah kecil itu penasaran dan langsung menyambar ponsel Liana untuk melihat siapa si penelepon.


“Damian, jangan menerimanya.”


“Apakah ibu sedang bertengkar dengan ayah?”


“Tidak! Jangan berpikir yang aneh. Makan sarapanmu dan minum susu mu. Ibu akan mengantarkanmu ke sekolah.”


Di tempat lain, tak henti-hentinya Gideon menggerutu. Bukan tanpa alasan, ia jengah mendengarkan nada sibuk berulang kali di ponselnya.


Ia melakukan puluhan panggilan berturut-turut dan semuanya di tolak.


Gideon yang semula berbaring di sofa langsung saja mengubah posisinya menjadi duduk karena frustrasi.


Ia sudah dipenuhi oleh kemarahan yang dipendam. Ia sudah dua minggu tidak bertemu dengan Ariana karena harus terbang ke luar kota karena beberapa urusan bisnis.


Ia sangat merindukannya namun orang yang ia rindukan sama sekali tidak menjawab teleponnya.


Gideon tidak menyerah, ia berusaha untuk menelepon namun panggilan kali ini gagal.


“Apakah ia mematikan ponselnya?” Gideon berucap dengan nada serius penuh dengan kekesalan.


Alan dengan hati-hati mengamati wajah bosnya.


“Presdir, sepertinya nomor presdir masuk ke dalam daftar hitam.”


Gideon langsung mengangkat wajahnya. Alarm bahaya mulai terdengar.


“Daftar hitam?”


Bang.


Gideon dengan murka membanting ponselnya sendiri ke lantai.


“Wanita itu berani memasukkan ku ke daftar hitam.”


Alan langsung melirik ponsel Gideon. Ia bernapas lega karena ponsel bosnya tidak lecet ataupun patah.


“Ponsel mahal memang beda,” gumam Alan.


“Berikan ponselmu!” suruh Gideon.


“Apa?” Alan terkejut karena ia takut nasib ponselnya akan dibanting.

__ADS_1


“Ponselmu, Berikan padaku.”


Gideon langsung mengambil ponsel Alan dengan tak sabaran. Ia memasukkan nomor dan langsung menekan tombol sambungan.


Gideon menunggu panggilannya terjawab dengan tak sabaran. Kemarahan di wajahnya semakin mendung. Sepertinya jika panggilan itu ditolak akan ada hujan badai, angin ribut dan petir menyambar.


Alan menahan napasnya karena dipenuhi kekhawatiran. Nasibnya dipertaruhkan di sini.


“Ku mohon angkat panggilan dari presdir.” Alan mulai berdoa dalam hati.


“Halo.”


Suara Liana langsung terdengar dan Alan bisa bernapas lega.


“Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?”


Kali ini Alan kembali menahan napas saat Gideon diliputi hujan badai dan angin ribut.


“Apa yang salah denganmu? Kenapa kamu memasukkan Ku dalam daftar hitam sehingga aku tidak bisa meneleponmu?”


“Ya, aku memasukkanmu ke dalam daftar hitam.”


Gideon langsung bangkit dari kursinya dan menendang meja yang ada di depannya dengan kasar.


“Astaga nona Liana. Dia berani memprovokasi Presdir,” ucap Alan. Ia sudah mempersiapkan dirinya kali ini untuk kena getahnya. Hujan badai dan angin ribut kali ini benar-benar dahsyat.


“Berikan aku penjelasan, kenapa kamu melakukannya?”


Gideon menggeram. Ia mengepalkan kuat dalam pegangannya.


“Tidak alasan jadi aku tidak perlu menjelaskan padamu. Aku sibuk. Aku tutup teleponnya.”


Segera setelah itu, Liana menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Gideon.


“Sial!”


Gideon meletakkan ponsel Alan ke meja dengan sedikit kasar. Kali ini, ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya yang terpendam. Sungguh Gideon yang malang.


“Keluar.”


Alan buru-buru keluar. Ia tidak lupa mengambil ponselnya. Alan tidak ingin jadi korban karena Gideon benar-benar sudah mengeluarkan aura yang sangat mengerikan.


Tekanan dan aura nya begitu suram dan meluap-luap.


Saat ia menutup pintu, terdengar suara pecahan guci dan juga hal-hal ribut lainnya.


“Presdir sangat jarang marah. Ia mempunyai pengendalian diri yang baik. Tapi untuk Nona Liana, sepertinya Nona Lianalah yang mampu mengendalikan binatang buas yang ada dalam Presdir.”


Alan akan beranjak dari depan pintu. Namun pintu di belakangnya tiba-tiba saja terbuka. Alan langsung berbalik dan dihadiahi tatapan tajam dari Gideon.


“Presdir.”


“Pesan tiket sekarang.”


“Apakah kita akan kembali sekarang?” tanya Alan sedikit ragu.


“Apakah kamu tidak mendengar ucapanku tadi? Oh, atau kamu mungkin juga ingin menentangku?”


Kemarahan Gideon mengancam setiap sel Alan.


“Aku tidak berani.”


“Pesan tiketnya segera. Segera!”

__ADS_1


“Iya.”


Gideon langsung berbalik dan menutup pintu dengan kasar.


.........


Setelah mengantarkan Damian. Liana pergi mengunjungi Suah. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat dan Liana pergi untuk pulang saat langit mulai gelap.


Kebetulan Damian sedang menjalani camp selama dua hari.


Saat dalam perjalanan pulang, ia mendapati seorang pria tengah mengikutinya. Liana mempercepat jalannya, sesekali menoleh ke belakang.


Saat ia tiba di depan rumahnya, Liana langsung berbalik.


“Kenapa kamu mengikutiku?” tanya Liana.


“Aku tidak mengikutimu.”


“Lucu sekali. Lalu untuk apa kamu berada di depan rumahku.”


“Oh, kamu pasti nona Liana kan?”


“Kamu rupanya penguntit.”


“Bukan, aku Kingston.”


Kingston langsung membuka masker dan juga topi yang ia kenakan.


“Kingston?” ulang Liana tak percaya.


“Sudah sangat lama kita tidak bertemu, Liana.”


Liana mengulurkan tangannya untuk meminta maaf dan badannya sedikit membungkuk. Kingston tersenyum dan Liana melihat ketampanannya.”


“Aku baru pindah kemarin dan rumahku tepat di seberang.” Tunjuk Kingston.


Liana mengikuti ke arah yang ditunjuk Kingston.


“Kita tetangga.”


“Ya, bukankah itu sangat menyenangkan.”


Tiba-tiba angin bertiup membawa partikel kecil. Partikel tersebut terbawa sampai masuk ke dalam mata Liana.


“Uh.” Liana tanpa sengaja mengucek matanya sendiri.


“Ada apa? Matamu kelilipan?”


“Ya.”


“Jangan dikucek, itu bisa memperparah.” Kingston sedikit khawatir.


“Mataku sakit. Ini pedih.”


“Biar aku lihat.”


Kingston menepis tangan Liana dari mata yang kelilipan itu. Kingston memegang wajah Liana. Ia sedikit meniup di sana. Wajah Kingston begitu dekat dengan wajah Liana.


Lalu tangannya yang satu mengambil partikel tersebut saat berada di ujung mata Liana.


“Lihatlah ke atas. Jangan lihat ke bawah. Hampir dan dapat.”


“Apakah kalian bersenang-senang?”

__ADS_1


Alarm bahaya langsung terlintas di matanya. Di malam gelap itu. Sosok tinggi dan ramping tengah berdiri. Sosok itu mengenakan kemeja hitam sama persis dengan aura yang dipancarkannya saat ini.


Tidak ada ekspresi apa pun di wajah tampannya.


__ADS_2