
Seorang pria berjalan keluar dari mobilnya. Setelan jas yang membungkus badannya yang tegap, begitu pas dan menambah kharismanya.
Hal yang dapat menarik perhatian semua orang yang melihatnya.
“Selamat pagi.”
Seorang pria menyapa Gideon yang berjalan ke arahnya. Gideon hanya menanggapinya dengan anggukan kepala singkat.
“Presdir, apakah kamu ingin melihat pasien itu?”
“Iya.”
Dengan itu semua jajaran Gideon mengikutinya dari belakang.
Saat ini Gideon berada di rumah sakit jiwa. Gideon berjalan di sepanjang lorong rumah sakit.
Gideon berdiri tepat di depan bangsal.
“Apakah di sini ruangannya?”
“Iya.”
“Buka pintunya.”
Pria itu berdiri di depan pintu yang sudah terbuka. Gideon dapat melihat Ruona bersandar ranjang rumah sakit. Matanya melihat ke luar jenela. Rambutnya yang panjang kini dibiarkan terurai berantakan.
Wanita itu meringkuk diantara ranjang dan tembok.
Pandangnya kosong dan bibirnya terus bergumam. Jari-jarinya terus menyentuh bibirnya. Melihatnya sekarang, seseorang akan merasa kasihan padanya.
Gideon melangkah lebih dekat. Dari jarak yang dekat, Gideon dapat menangkap apa yang Ruona gumam, yaitu anak.
Ruona terus bergumam dan tangannya memegang rambutnya mengacaknya sebelum ia menoleh ke arah Gideon.
Wanita itu tiba-tiba terdiam dan detik berikutnya tertawa.
“Ha ha ha ha anak-anak anakku mengerikan..."
Gideon menatapnya dengan dingin dan kemudian melirik beberapa perawat di belakangnya.
“Apa yang terjadi padanya?”
“Kondisi mentalnya buruk ketika dia dikirim ke mari.”
“Dia gila?”
Perawat itu tidak berani menjawab namun ia menganggukkan kepala pelan.
“Apakah dia berpura-pura gila?”
Ruona bingung lalu matanya tiba-tiba fokus pada Gideon. Pria itu membalas tatapan Ruona dengan dingin.
Saat Ruona menyipitkan mata, tanpa peringatan apa pun, Ruona langsung berdiri.
“Siapa? Siapa kamu? Apakah kamu melihat anakku?”
“Anak?” Gideon mengerutkan alisnya.
Gideon langsung berbalik dan menatap Alan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Dia mengalami keguguran dan karena itu mungkin yang memicu kondisi mentalnya.”
Ruona tiba-tiba teriak dengan histeris.
“Gideon...apakah kamu Gideon?”
Bibirnya berubah menjadi senyuman. namun senyuman itu berubah menjadi tawa lalu menit berikutnya berubah menjadi tangisan. Dan menjerit lagi kemudian.
Ruona ingin mengambil tangan Gideon namun pria itu langsung melangkah mundur dan Alan langsung maju untuk menghalangi Ruona berbuat yang tidak-tidak.
"Ha ha ha.”
__ADS_1
Ruona tiba-tiba tertawa keras. Matanya berubah menyeramkan dengan senyum seperti iblis.
“Gideon, aku sudah menunggumu. Apakah kamu akan membawaku pergi? Aku tidak mau di sini. Bawa aku pergi! Bawa aku pergi!”
Ruona mencoba meraih tangan Gideon.
“Mereka jahat padaku. Mereka menyiksaku dan mengunciku. Gideon, bawa aku pergi! Bawa aku pergi! Gideon, aku punya kabar baik.”
“Apa itu?”
Ruona tiba-tiba tertawa. “Aku hamil. Apakah kamu tahu? Aku hamil.”
Ruona menunduk dan tangannya mengelus perutnya yang rata.
“Huh? Dimana anakku? Aku tidak bisa menemukan anakku. Itu anak kita. Bisakah kamu mencari anak kita. Dia akan menjadi penerus keluarga Cross.”
Ruona mengangkat kepalanya dan menangis saat melihat Gideon.
“Anak kita? Itu bukan anak kita.”
Ruona tiba-tiba terdiam.
“Itu akan kita!” Ruona menjerit namun tiba-tiba ia mengacak rambutnya dan melanjutkan ucapannya, “Itu anakku dan...”
Ruona menggelengkan kepalanya.
“Aku seharusnya tidak mengkhianatimu. Aku berhubungan dengan pria lain. Aku sangat kotor.”
Ruona langsung menggosokkan seluruh tubuhnya.
Gideon tetap dingin dan tidak bergerak.
“Aku seharusnya tidak menghianatimu. Seharusnya aku tidak meracuni kakek, aku seharusnya tidak mengambil kalung milik Liana. Seharusnya aku tidak mencoba melukai putramu. Maafkan aku, dan kembalikan anakku.”
Gideon tetap diam.
Ruona menjadi gelisah dan mengulurkan tangannya dengan putus asa ke arahnya.
“Kembalikan anakku! Kembalikan anakku!”
Perawat langsung mengambil boneka dan memberikan pada Ruona dengan hati-hati.
“Anakmu di sini. Di sini.”
Ruona tersadar dan berbalik dengan bingung. Ia langsung meraih boneka itu dan menimangnya.
"Anakku. Anakku.”
Gideon tidak mengekspresikan emosi apa pun. Yang dilakukan Gideon hanya menatapnya.
Gideon berbalik dan meninggalkan bangsal tersebut. Di ujung lorong ia melihat Kevin.
Gideon tertegun. Matanya berubah dingin dan penuh kebencian. Dengan kepala terangkat, pria itu mengambil langkah besar.
Gideon langsung mencengkeram tenggorokan Kevin dan mendorongnya kasar ke dinding.
Pengawal Kevin terkejut, ia ingin membantu Kevin namun Alan langsung menghadangnya.
“Gi...Gi...apa yang kamu lakukan?”
Kevin belum pernah melihat ekspresi mengerikan di wajah Gideon. Matanya yang tajam dan dingin seperti burung elang menatapnya tanpa ampun.
Kevin ketakutan. Tangannya menggenggam pergelangan Gideon dengan erat dan mulai memberi perlawanan.
“Aku sudah kehilangan semua kesabaran denganmu. Kamu harus mati.”
“Gideon!”
Liana yang datang tiba-tiba datang membuat Gideon menoleh. Liana terkejut dengan apa yang ia lihat.
Kevin langsung menendang keras pada tulang kering Gideon dan berlari.
Wajah Liana yang penuh dengan kecemasan rasanya sangat aneh. Gideon menjadi khawatir.
__ADS_1
“Mengapa kamu di sini?” tanya Gideon pada Liana.
“Aku datang ke kantormu untuk memberikan makan siang tapi kamu tidak di sana. Aku bertanya pada sekretarismu katanya kamu di sini, jadi aku ke sini. Tapi mengapa kamu ke sini? Siapa yang sakit?”
“Itu...”
Liana terkejut dengan apa yang dilihat. Saat ini Liana berada di depan pintu bangsal Ruona.
...♡◇♡...
“Senang rasanya keluarga kita akhirnya bisa berkumpul semua seperti ini.”
Mendengar perkataan ayahnya, Damian tersenyum kemudian melihat ke arah ibunya.
“Ibu, apa yang kamu pikirkan?” tanya Damian.
Liana yang duduk di samping Gideon menunjukkan wajah muram.
“Tidak ada.”
“Apa kamu memikirkan dia?” tanya Liana.
Liana tidak menjawab, wanita itu hanya terdiam.
Percakapan terhenti seketika ruang tengah dipenuhi kesunyian yang terasa amat canggung. Suasana yang tadinya bahagia, hangat dan penuh canda tawa berubah menjadi dingin dan tegang.
“Ibu,” ucap Daniel.
Liana langsung mengalihkan perhatiannya.
“Ibu, ayo kita nikmati puding susu ini.”
Liana tersenyum.
“Wah kelihatan enak,” ucap Damian.
Mereka berempat menikmati puding susu yang dibuat oleh si kembar.
“Apakah kalian yang membuat ini? Tanya Gideon.
“Tentu saja,” ucap Daniel.
“Ayah, apakah kamu ingin lagi?” tanya Damian.
“Jarang bagiku melihatmu bersikap manis.”
“Jangan terlalu percaya diri, ini semua aku lakukan karena ibu.”
Saat ini Liana sudah berada di dalam kamarnya. Pikirannya berkelana dengan apa yang terjadi pada Ruona.
Gideon yang baru saja masuk, melihat wajah Liana yang kaku dan mulut uang tertutup rapat. Gideon kembali menanyakan sesuatu padanya.
“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Ada apa dengan wajahku?”
“Terlihat tidak begitu baik.”
Gideon menatap Liana yang menghindar untuk menjawab pertanyaannya. Setelah saling berpandangan dengan tatapan lembut selama beberapa lama, akhirnya Gideon tersenyum.
“Aku tahu, apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Apa?”
“Wanita itu. Sudah aku katakan, jangan memikirkannya.”
“Aku merasa kasihan padanya.”
“Apakah kamu tidak merasa kasihan padaku?”
“Kenapa aku harus kasihan padamu?”
“Kamu mengabaikanku sejak tadi,” ucap Gideon.
__ADS_1