Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
22. Mendapatkan Kembali Ingatannya


__ADS_3

Jika ini hanya mimpi, Gideon tidak ingin terbangun. Rumah mewah dengan segala kecanggihannya. Ditemani seorang wanita seksi yang kebetulan adalah wanitanya.


Apalagi yang dibutuhkan seorang pria. Hubungannya dengan Liana meroket terlalu cepat. Liana adalah satu-satunya pengisi konstan dalam hatinya. Ia nyaris tidak pernah bosan.


Sial, Gideon merasa gairahnya memuncak hanya dengan melihat Liana dengan sibuk memasak dengan kedua putranya.


Gideon berdehem untuk memberitahukan keberadaannya.


“Kamu sudah bangun.”


“Ya.”


Lelaki itu membuka kulkas dan mengambil sebotol air minum. Ia meneguknya lalu bersandar ke dinding.


“Apa yang akan kamu lakukan hari ini?”


“Mengantar Damian ke sekolah lalu pergi belanja untuk membeli beberapa kebutuhan makanan.”


Gideon mengangkat alisnya lalu mengitari meja dan duduk di sana sambil melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah.


Tak berapa lama Liana datang dengan makanannya.


“Makanlah.”


Gideon melihat masakan yang begitu menggugah seleranya.


Damian dan Daniel juga menyusulnya dan duduk di samping Gideon.


Mereka berempat menikmati sarapan mereka. Daniel tersenyum karena menikmati suasana hangat yang selama ini ia impikan.


Setelah sarapan selesai, Daniel dan Damian pergi untuk mandi. Sementara Liana membereskan meja makan.


Sementara Gideon, pria itu duduk sambil memperhatikan Liana. Merasa diperhatikan oleh Gideon, Liana merasa salah tingkah.


Ia langsung melompat dari kursinya dan piring-piring saling berbenturan di atas meja.


Gideon langsung menangkap pinggang Liana. Dengan tatapan tajam, ia menepiskan impuls Liana untuk lari darinya.


Dengan angkuh ditariknya Liana untuk memutari meja ke arahnya dan duduk di pangkuannya. Ia memandang wajah Liana berlama-lama.


“Apa?”


“Kamu gugup?”


“Ti...tidak.”


Gideon tersenyum nakal. Tangannya yang satunya menyodorkan sebuah black card.


“Belilah sesuatu yang kamu inginkan dengan ini.”


“Aku tidak—“


“Terima,” titah Gideon.


Liana pun langsung mengambil kartu tersebut. Gideon mendorong Liana dari pangkuannya setelah mendaratkan kecupan di sana sebelum pergi ke kamar.

__ADS_1


Liana mencoba mengendalikan rasa tersinggung yang muncul secara tidak terduga.


.........


Liana memasukkan bahan-bahan yang ia butuh kan dalam keranjang. Ia sesekali terlihat kebingungan dengan barang yang akan ia pilih. Hal pertama yang ia cari adalah harga yang memiliki diskon.


Setelah sibuk berbelanja, Liana langsung ke kasir. Saat akan membayar tagihan, Liana sedikit ragu untuk membayar dengan kartu yang diberikan oleh Gideon.


Pada akhirnya, ia menggunakan kartunya sendiri yang isinya tidak seberapa namun cukup untuk bisa membayar.


Liana keluar dari supermarket dan berjalan ke arah kawasan rumahnya. Jaraknya tidak terlalu jauh jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki.


“Liana?”


Suara yang akrab muncul dari balik punggungnya. Liana lantas berbalik dan menemukan Ruona berdiri dengan angkuh.


Tatapannya juga dingin.


Liana menatap orang yang duduk di balik kemudi lalu ia menatap Ruona.


“Ruona.”


Liana memandang Ruona tanpa kata-kata. Tapi sebenarnya hati dan otaknya merasakan badai kemelut yang luar biasa.


Ingatannya tiba-tiba saja membuatnya terlempar pada tahun-tahun saat ia berada di panti asuhan.


“Aku tidak berharap melihatmu di sini. Apakah kamu tinggal di kawasan ini? Lihat dirimu, bagaimana bisa kamu tinggal di kawasan elite ini. Kawasan ini bukan tempat orang rendahan sepertimu. Atau ini pemberian dari Gideon. Kamu mendekati Gideon agar kamu menjadi kaya? Apakah kamu mendekatinya karena semua itu?”


“Omong kosong apa yang kamu bicarakan?”


“Kamu?” Liana yang sejak tadi hanya diam mendengar tuduhan-tuduhan akhirnya membuka mulut. “Sebenarnya hidupmu seperti apa sehingga otakmu mampu berpikir sekeji itu.”


“Seperti yang kamu lihat! Aku tinggal di rumah besar dan hidup berfoya-foya. Hidupku terlalu sempurna.”


“Jika hidupmu sempurna kenapa kamu harus takut padaku dan selalu membuat permusuhan padaku.”


“Dirimu yang memulai. Kamu yang mencuri tunanganku, calon suamiku. Gideon Cross. Dasar wanita murahan.”


“Apakah murahan adalah hal buruk? Kamu tahu kenapa tas yang kamu bawa harganya mahal. Itu karena hanya ditempeli merek. Kamu juga seperti itu, kamu berpura-pura berstatus tinggi hanya karena kamu menjadi tunangan keluarga Cross. Bagiku kamu terlihat murahan.”


“Dasar ******.”


“Apa yang kamu katakan?”


“Kamu wanita ******.”


Plak


Liana menampar wajah Ruona. Johan yang melihat itu, langsung turun dan mendorong Liana untuk melindungi Ruona.


“Apa yang kamu lakukan?” Johan melemparkan tatapan tajam ke arah Liana.


“Kalian berdua sepertinya sangat dekat.”


“Aku mencoba melindungi Nyonya Muda Ruona karena dia adalah tunangan Tuan Muda Gideon.”

__ADS_1


Liana menarik ujung bibirnya, “Benarkah?”


Rasa panas masih menjalar di pipi Ruona. Ia ingin sekali mengembalikan tamparan seratus kali lebih kejam namun tiba-tiba lambungnya merasa tidak enak.


Ia ingin sekali mengeluarkan isi perutnya. Rasa mual terus saja menggerogoti kerongkongannya.


“Sepertinya Nyonya Mudamu sedang tidak baik-baik saja.”


Liana langsung berbalik dan pergi. Ruona yang masih marah dan jengkel langsung mengambil batu dan lari ke arah Liana.


Ruona menarik tangan Liana hingga dia berbalik dan Ruona langsung menyerang dahinya dengan batu.


“Itu yang kamu dapatkan jika berani menamparku.”


Liana merasakan sakit di kepalanya. Keningnya mengeluarkan darah. Ia melirik ke arah Ruona. Pikirannya berputar-putar dan ia seakan dibawa ke masa lalu.


Flashback on.


Liana kecil bersama dua saudara laki-lakinya sedang bercengkerama hangat dalam sebuah mobil. Di sana ibunya menyetir sambil sesekali ikut bercengkerama.


Namun kehangatan itu berubah menjadi dingin saat kecelakaan menimpanya.


Ibunya dinyatakan meninggal dan kedua saudaranya dinyatakan hilang. Di sana Liana kecil hanya bisa menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Para polisi datang dan Liana hanya bisa menangis. Ibunya tidak mempunyai siapa-siapa. Jadi pemakamannya diurus oleh pihak kepolisian.


Liana kecil hanya bisa menangis dan menangis. Satu-satunya peninggalan ibunya adalah sebuah kalung berbentuk hati.


Karena Liana kecil tidak mempunyai kerabat jadi ia dikirim ke pihak panti asuhan. Dan tempat itu menjadi mimpi buruk baginya.


Flashback off.


“Ruona sebaiknya kita pergi,” ajak Johan.


“Tidak! Aku ingin memberinya pelajaran.”


“Jangan sekarang. Orang-orang bisa melihatmu.”


Ruona dan Johan akhirnya pergi meninggalkan Liana yang masih kesakitan.


.........


Ruona dan Johan menaiki mobil mereka. Di sana mereka saling diam. Johan sesekali melirik ke arah Ruona.


“Apakah itu terasa sakit?”


“Menurutmu?”


“Kamu seharusnya tidak memukulnya dengan batu.”


“Lalu aku harus diam saat dia menamparku. Bahkan aku tadi ingin mencekiknya. Johan.”


“Apa?”


“Selidiki dia, kenapa dia bisa tinggal di kawasan sana? Jika itu karena Gideon , aku akan segera memberitahukan pada kakek.”

__ADS_1


Johan tidak memberi jawaban. Pria itu hanya diam sambil melihat Ruona yang sedang dilanda amarah.


__ADS_2