Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
38. Dongeng


__ADS_3

“Ibu.”


Bocah lelaki bernama Daniel tersenyum saat memanggil nama ibunya.


“Ibu, aku ingin ibu bacakan kisah dongeng untukku.”


Keinginan yang malu-malu itu muncul di benak Daniel.


“Ya, ibu sekarang jarang sekali membacakan kisah pengantar tidur untuk Damian.” Protes Damian.


“Kisah dongeng?”


Liana seakan sedang berpikir kisah apa yang akan ia bacakan untuk kedua putranya.


“Ibu sudah berjanji akan membacakan tentang kisah pangeran dan gadis desa.”


“Tidak kisah itu lagi.”


“Oh ayolah ibu,” ucap Damian.


“Ibu, aku ingin mendengarnya. Kisah itu,” ucap Damian.


Ia menyerah sambil tertawa tidak bisa berdebat dengan kedua buah hatinya.


“Siap?” tanyanya.


“Siap,” terdengar jawaban serentak.


“Pada suatu ketika, di sebuah kerajaan hiduplah seorang pangeran yang hebat. Suatu waktu, sang pangeran pergi ke sebuah desa dan ia tak sengaja melihat seorang gadis.”


“Lalu...” tanya Daniel.


“Waktunya tidur.”


Suara itu!


Liana langsung mendongak dan senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.


“Ayah, kamu merusak suasana.” Protes Daniel.


“Ini sudah malam dan waktunya untuk kalian tidur.”


“Ayah, kami ini akan segera tidur tapi ayah mengacaukannya.”


“Ibu tidur dengan Damian.”


“Tidak bisa!” Gideon langsung keberatan.


“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa?” tanya Damian.


“Kamu sudah besar. Apakah kamu tidak malu tidur dengan ibu?”


“Tidak! Aku selalu tidur dengan ibu.”


“Tidak bisa!” kali ini Daniel yang protes.


“Kita sudah sepakat sebelum bertanding. Yang menang akan tidur dengan ibu. Dan aku menang, jadi aku yang tidur dengan ibu.”


“Tidak bisa.”


“Kita sudah sepakat.”


Liana yang berada di tengah keributan hanya bisa menoleh ke kanan ke kiri dan menyumpal telinganya.


“Hentikan! Ibu akan tidur dengan kalian berdua, oke. Jadi berhenti berdebat.”


Liana merasa tidak berdaya. Kedua bocah itu berkelahi satu sama lain.


Gideon mengangkat alisnya. Pria itu mengulurkan tangan dan menarik tangan Liana ke dalam pelukannya.


“Kalian tidurlah. Malam ini, ibu kalian milik ayah.”


Damian. “....”


Daniel. “....”


Damian dan Daniel jadi membeku di tempatnya.

__ADS_1


Bibir tipis Gideon langsung membuka. “Kenapa? Ingin protes?”


“Ayah yang paling buruk.”


“Ayah terlalu mengambil banyak...”


.........


Di tempat lain, Ruona baru saja membuka pintu dan seorang pelayan perempuan langsung menyambutnya.


“Dimana kakek?”


“Beliau sedang berada di ruang kerjanya.”


“Apakah kakek sudah meminum obatnya?”


“Kami sedang menyiapkannya.”


“Berikan padaku, aku akan pergi ke sana.”


“Baik.”


Pelayan itu menyerahkan sebuah nampan yang berisi segelas air dan juga obat pada Ruona. Lantas Ruona langsung pergi menemui kakek.


Ruona mendorong membuka pintu dan melangkah masuk. Ia melihat kakek sedang duduk di depan jendela.


Ruona melangkah tanpa menimbulkan suara. Ia dengan pelan meletakkan nampan di meja. Pada saat itu kakek mengetahui keberadaan Ruona dan langsung membalikkan tubuhnya.


“Ruona, kamu di sini.”


“Iya kakek. Aku juga membawakan obat untuk kakek.”


“Buang itu Ruona. Aku tidak suka. Aku tidak ingin meminumnya.”


“Kakek, obat ini akan bermanfaat bagi tubuh kakek.”


Ruona berusaha membujuknya dengan sabar.


“Apa manfaatnya? Aku sudah meminumnya selama bertahun-tahun tapi tetap saja tubuh dalam kondisi seperti ini.”


Kakek langsung berdiri dan menuju ke jendela. Sementara itu tangan Ruona dengan cepat langsung membuka tasnya dan mengambil sebuah kertas layaknya puyer.


Ia menggigit bibir bawahnya. Ia berusaha keras untuk menenangkan hatinya.


“Kakek jika kakek tidak ingin minum obat setidaknya kakek harus minum dulu.”


Kakek Simon mengangguk sebelum ia mengambil gelas tersebut. Saat mulut terbuka tiba-tiba ia menangis dan itu sukses membuat Ruona bingung.


.........


Liburan empat hari yang singkat pun berakhir. Setelah membawa kedua putranya ke rumah. Pria itu melanjutkan perjalanan ke supermarket dengan Liana untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-hari.


Gideon tentu saja bertugas untuk mendorong troli belanja. Sementara Liana fokus memilah apa yang ia cari.


“Apa yang kamu lihat?” tanya Gideon saat ia melihat fokus Liana.


“Aku sedang melihat harganya. Aku akan membeli mana yang lebih murah.”


“Pilih saja yang kamu suka tanpa melihat harga. Aku mampu untuk membelinya.”


“Membandingkan harga yang lebih murah adalah kebiasaanku,” ucap Liana lalu ia menaruh barang yang ia beli.


“Rasa apa yang kamu suka?”


Liana mengambil dua pasta gigi ukuran besar dan bertanya dengan senyum cerah.


“Mint.”


“Rasa menthol saja, di dalamnya tercantum gratis sikat gigi. Bukankah ini lumayan.”


“Asal kamu bahagia.”


Liana langsung tersenyum cerah dan melanjutkan ke rak yang lain.


Saat semua barang yang sudah diperlukan terpenuhi mereka langsung pulang. Saat dalam perjalanan, Gideon beberapa kali melirik ke arah Liana.


“Apakah kamu masih ingin bekerja?”

__ADS_1


“Kenapa masih bertanya tentang itu? Apakah kamu ingin melarangku lagi?”


“Tidak! Bukan itu! Tapi menjadi model aku rasa bukan ide yang bagus.”


“Lalu aku harus kerja apa?”


“Bekerjalah di perusahaanku, dengan begitu aku bisa menjagamu.”


“Itu bukan ide yang buruk. Aku akan mempertimbangkannya.”


“Besok langsung ke kantor jadi sekretarisku.”


“Aku tidak mau!” tolak Liana.


“Bukankah tadi kamu bilang itu bukan ide yang buruk.”


“Iya benar tapi untuk menjadi sekretarismu itu adalah ide yang buruk.”


“Lalu kamu ingin posisi apa? Manajer?”


“Tidak, aku hanya ingin menjadi karyawan biasa.”


“Liana!”


“Kenapa? Kamu malu?”


“Tidak tapi...”


Liana langsung menatap tajam ke arah Gideon.


“Baik, aku setuju.”


“Terima kasih suami,” ucap Liana manja.


Sekembalinya ke rumah. Liana meletakkan barang belanjaan di ruang tengah.


“Damian...Daniel.”


Beberapa saat kemudian, dua bocah kecil berlari ke arahnya dengan wajah tersenyum. Masing-masing dari mereka memeluk Liana.


“Ibu sudah kembali.”


Kedua bocah itu berjuang untuk mencium pipi Liana dan mengabaikan Gideon yang ada di belakangnya.


“Kenapa ibu lama sekali?”


“Apakah selama itu?” tanya Liana.


“Ibu sudah keluar selama empat jam.”


Mendengar ini, Liana langsung melirik Gideon.


“Itu karena ibu kalian selalu meneliti setiap barang yang akan dibelinya sampai lupa waktu,” ucap Gideon.


Liana hanya bisa tersenyum pasrah.


“Baiklah ibu mengaku salah. Sebagai gantinya, malam ini ibu akan masak masakan kesukaan kalian.”


“Baiklah,” ucap Damian dan Daniel serentak.


“Sementara ibu masak, kalian bisa melihat acara tv.”


Kedua bocah itu langsung mengikuti perintah Liana. Liana lantas pergi ke dapur diikuti oleh Gideon.


Liana langsung mengambil sayuran dan mencucinya. Ia kemudian meletakkannya di atas talenan. Saat ia mengambil pisau, tiba-tiba sepasang lengan yang kuat melingkari pinggangnya.


Liana mengintip sedikit dan melihat Gideon.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Liana.


“Membantumu.”


Tiba-tiba Liana merasakan tangan Gideon meraba-raba tubuhnya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?”


“Mengapa kamu begitu kurus? Apakah aku selama ini kurang memberimu makan?"

__ADS_1


“Apakah itu kalimat sarkastis? Berat badanku terus naik karena kamu selalu memberiku makan. Jadi berhenti menganggukku dan pergi lihatlah televisi bersama anak-anak.”


__ADS_2