
Hari ini adalah ulang tahun Daniel. Awalnya ia pergi ke wahana bermain bersama Gideon namun Gideon karena kesalahpahaman, Daniel tinggal di wahana. Alhasil Daniel pergi ke wahana bersama pengawalnya.
Karena Daniel lebih aktif dan pengunjung ramai. Pengawalnya kehilangan jejak Daniel.
Daniel saat ini berada di tengah kerumunan dan tanpa sengaja melihat kembarannya. Saat ia ingin mendekatinya. Ia melihat seseorang tengah bersiap menyakitinya.
Daniel langsung berlari dan menyeret Damian.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Seseorang ingin menyakitimu.”
“Tapi gara-gara kamu, aku terpisah dengan ibuku.”
“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau dia ibumu.”
“Dia juga ibumu. Dia adalah ibu kandungmu.” Mata Damian sedikit menyipit.
“Dia...adalah ibu kandungku? Aku juga mempunyai ibu. Dia juga ibumu.”
“Daniel, aku hanya mempunyai satu ibu. Ah aku ingat sekarang. Dia, ibu angkatmu kan?”
“Aku bingung.”
“Lihatlah betapa bodohnya kamu.”
“Diam! Bagaimanapun aku adalah saudaramu.”
“Bagaimana kamu menjadi saudaraku saat kamu tidak mengakui ibu kandungmu.”
Damian benar-benar terganggu saat mengetahui kurangnya pemahaman dari saudaranya.
“Siapa namamu?”
“Damian.”
“Namaku Daniel.”
“Aku sudah tahu.”
Daniel mengerutkan keningnya dan matanya berbinar melihat benda yang melingkar di tangan Damian.
“Dari mana kamu mendapatkan jam tangan ini?”
“Ini adalah hadiah ulang tahun dari ibuku.”
“Aku juga mendapatkannya dari ayahku.”
“Matikan gps dan blutoothnya.”
“Kenapa?”
“Jangan banyak bertanya. Matikan saja.”
Daniel tidak dapat memahami perkataan Damian tapi ia tetap melakukan apa yang dikatakan Damian.
“Kamu ingin bersenang-senang?” tanya Damian.
“Tentu saja, kamu tidak mencari ibumu.”
“Tenang saja dia akan mencariku.”
Damian dan Daniel lalu bergegas ke wahana yang mereka inginkan. Mereka hampir mencoba semua wahana yang berada di sana.
“Apakah kita harus mencobanya.”
“Kedengarannya bagus.”
Mereka pun menaiki wahana helikopter. Saat wahana itu menyala dan mulai berputar entah kenapa helikopter yang dinaiki Damian dan Daniel macet dan miring tiba-tiba. Tak berapa lama wahana itu pun jatuh.
Semua orang yang melihatnya panik seketika. Liana yang bingung mencari keberadaan Damian langsung berlari di tengah kerumunan.
“Apakah kamu melihat anak kira-kira tingginya segini? Ah dia memakai kaos yang sama denganku.”
“Nona, apakah yang kamu maksud bocah yang terbaring di sana?”
Liana langsung melihat arah yang ditunjuk. Ia langsung berdiri gemetar. Ia menatap dengan lebar pemandangan yang tidak bisa dipercaya.
Kedua anaknya terluka. Liana langsung menerobos dan melihat kedua anaknya kini sudah berdiri.
Daniel melihat Liana berlari ke mereka. Ia merasakan gelombang hangat mengalir dalam hatinya. Daniel menjadi gugup ketika Liana memegang pergelangan tangannya.
“Apakah kalian baik-baik saja?”
“Ibu.”
Daniel langsung terkejut melihat keluhan dan tangisan Damian.
“Damian sayang. Tidak apa-apa. Ibu ada di sini.”
Hati Liana terasa sakit melihat tangisan Damian. Liana langsung memeluknya, untuk sementara Liana mengabaikan kehadiran Daniel.
__ADS_1
“Ibu, pergelangan tanganku sakit.”
“Maafkan ibu karena tidak menjagamu. Ayo kita ke rumah sakit.”
“Bu, kakak juga terluka. Namanya Daniel.”
Liana langsung melihat Daniel. “Daniel apakah kamu baik-baik saja? Dimana yang terluka?”
Daniel menjadi bodoh dan tidak tahu harus menjawab apa. Jauh di dalam lubuknya ia ingin mengatakan bahwa lengannya juga terluka.
“Tanganmu juga pasti terluka kan?” Liana memeriksa lengan Daniel.
“Itu tidak sakit.”
“Bagaimana ini tidak sakit? Ini pasti menyakitkan.”
.........
Saat ini Damian dan Daniel sudah berada di rumah sakit dan melakukan beberapa pemeriksaan. Untunglah tidak ada yang parah. Mereka hanya luka lecet dan selebihnya lengan mereka terkilir.
“Apakah kamu pergi sendirian? Kenapa aku tidak melihat ayahmu bersamamu?”
“Ayahku tidak menginginkanku lagi?”
“Ayahmu sangat mencintaimu. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Hari ini adalah hari ulang tahunku. Sebenarnya hari ini aku pergi bersama ayah tapi gara-gara Elsa. Ayah membuangku. Aku tidak sengaja mendorong Elsa namun ayah menyalahkanku. Aku marah dan ayah meninggalkanku,” ucap Daniel sambil menahan tangisannya.
Liana dengan sabar menghiburnya sekali menasihatinya.
Liana membelikan mereka tiramisu. Liana juga dengan telaten menyuapi mereka berdua.
“Apakah itu enak?” tanya Liana pada Daniel.
“Hm. Aku ingin lagi,” ucap Daniel dengan mata yang berbinar. Matanya mirip dengan Gideon namun saat tersenyum, ia sangat menggemaskan.
Damian yang berbaring di tempat tidurnya tampak cemberut dan tidak bahagia.
“Ibu, aku juga mau.”
“Baiklah Damian. Suapan terakhir untuk Damian.”
“Ibu, aku mau jeruk.”
Liana langsung mengupas jeruk dan memberikan suapan demi suapan untuk Damian. Daniel menyaksikannya dengan sedih. Ia sangat iri. Akhirnya Daniel meniru perilaku Damian yang mengeluh.
“Aduh.”
Damian dan Daniel saling berebut perhatian Liana.
Liana menutup pintu bangsal dan menuju ke apotek untuk menebus obat. Saat sudah selesai dengan urusannya. Ia menaiki lift sambil berusaha menelepon Gideon. Saat lift masih terbuka ia melihat Gideon dengan seorang wanita. Gideon saat itu juga melihatnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Liana langsung mengabaikan Gideon dan hendak menutup lift namun Gideon mengayunkan tangannya agar pintu lift terbuka.
“Mengapa kamu ada di sini? Mengapa kamu mengabaikanku?”
Gideon langsung masuk lift dan pintu lift tertutup.
“Apakah aku mengganggumu dengan wanita itu? Kalau begitu aku minta maaf.”
“Apakah kamu cemburu?”
“Kenapa aku harus cemburu?”
“Kalau begitu kenapa kamu marah?”
“Hari ini adalah ulang tahun Daniel. Apakah benar kamu meninggalkannya sendirian di taman hiburan sebagai hukuman atas kesalahpahaman. Dia masih kecil. Tidakkah kamu tahu hal mengerikan apa yang terjadi padanya?”
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Gideon dengan jantung yang gemetar.
Saat Liana sudah berada di depan pintu bangsal. Liana langsung membukanya. Ia melihat Damian sudah berkemas dengan tas kecil di punggungnya.
“Damian, ayo kita pulang.”
Damian mengangguk sementara Daniel duduk dengan gelisah.
“Apakah kamu akan pergi?”
Daniel ingin mempunyai waktu lama untuk bersama ibunya. Daniel kehilangan ketenangannya.
“Bagaimana denganku?”
Gideon berjalan tepat saat Daniel bertanya. Daniel terkejut melihat Gideon. Ia berasumsi bahwa ibunya yang telah memanggil ayahnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Gideon khawatir.
Liana memperhatikan Daniel. Meskipun ia bersikeras pergi dengan Damian, ia merasa sulit berpisah dengan Daniel.
Liana langsung menggendong Damian dan pergi. Daniel yang melihatnya sangat sedih. Matanya dipenuhi oleh kerinduan dan kesedihan.
__ADS_1
Daniel tidak bisa menghentikan dirinya untuk turun dari ranjangnya. Ia terhuyung-huyung menuju pintu. Air matanya jatuh tak terkendali dari matanya.
“Bu...”
Tiba-tiba Daniel tidak mengendalikan diri untuk tidak menangis. Daniel jarang menangis bahkan hampir tak menangis. Namun untuk beberapa alasan hatinya begitu sakit saat melihat Liana pergi.
.........
Saat ini mereka berempat sudah berada di rumah Liana. Daniel dan Gideon berada di ruang tengah sementara Liana dan Damian berada di dapur.
“Kamu seharusnya berada di ruang tengah bersama Daniel.”
“Tidak, aku ingin membantu ibu. Bu, aku ingin bertanya siapa paman itu? Paman yang ibu kenalkan sebagai bos ibu.”
Liana langsung berdiri kaku.
“Bu, ikannya hampir gosong,” seru Damian.
Liana langsung membalikkan ikannya. “Ini ikan kesukaanmu, bagaimana jika gosong. Kamu tidak bisa memakannya.”
“Bu, jawab pertanyaanku siapa paman itu?”
“Maafkan ibu. Ibu berbohong padamu. Dia bukan bos ibu.”
“Aku tahu,” jawab Damian. Ia lantas menatap ibunya untuk memberikan jawaban yang jelas dan lengkap.
“Dia...dia ayahmu.”
Liana memperhatikan wajah putranya yang memiliki ekspresi biasa-biasa saja.
“Kenapa kamu tidak terkejut?”
“Kenapa Damian harus terkejut? Sebenarnya aku tahu nama paman itu adalah Gideon Cross. Ia CEO dari perusahaan CGI Corp. Selain itu dia juga menyukai ibu.”
“Apakah kamu tahu arti dari suka?”
“Tentu saja aku tahu. Bu, Damian sangat posesif dengan ibu. Damian berharap tidak akan yang bisa membawa ibu dari Damian bahkan Daniel. Tetapi jika ibu suka dengan seseorang. Damian akan mendukungnya selama ibu bahagia.”
“Oh, lihatlah putra ibu sudah dewasa. Ambil ini dan taruh di meja makan. Ibu akan ke kamar untuk berganti baju.”
Damian mengangguk.
Liana saat ini berada di kamarnya lalu tiba-tiba ia merasakan seseorang telah memeluknya.
“Kamu.”
“Biarkan aku memelukmu.”
Gideon memeluknya dengan erat. Merasa tidak nyaman karena pelukan Gideon yang terlalu erat. Liana bergerak.
“Jangan bergerak.”
“Gideon.”
Liana melepaskan pelukannya dan berbalik untuk melihat Gideon.
“Dimana kalungnya?”
“Aku melepaskannya.”
“Kenapa melepaskannya?”
“Aku tidak suka.”
Gideon langsung menjepit tubuh Liana diantara tembok dan tubuhnya sendiri.
“Apakah kamu masih marah denganku?”
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan?”
“Wanita yang kamu lihat di rumah sakit. Dia adalah keponakanku. Tidak ada apa-apa diantara kami. Jika itu mengganggumu. Aku akan jaga jarak dengannya.”
“Itu bukan urusanku. Lagi pula aku tidak punya hak untuk melarangmu bertemu dengannya.”
“Kamu mempunyai hak karena kamu wanitaku, milikku.”
“Jika aku milikmu. Apakah kamu berani menyatakan tentang kita pada dunia?”
Yang Liana inginkan adalah sebuah pernikahan bahagia bukan hubungan yang harus dirahasiakan. Ia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain.
“Ayo kita menikah hari ini.”
“Apakah kamu mencintaiku? Aku tidak ingin pernikahan tanpa cinta di dalamnya.”
Gideon sangat mencintai Liana namun ia malu mengutarakannya. Jadi ia menjawabnya dengan menanamkan ciuman lembut di bibirnya. Dengan hati-hati Liana membalas ciuman itu.
Pintu yang semula terbuka membuat celah kini tertutup. Damian melihat bingung ke arah Daniel.
“Sebaiknya kita tidak mengganggu ayah dan ibu,” ucap Daniel berusaha menyeret Damian agar menjauh dari tempat itu.
“Apa yang mereka lakukan?”
__ADS_1
“Misi kita berhasil.”