Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
44. Reuni


__ADS_3

Liana lebih dulu jengkel dengan omong kosong Jinan. Wajah Liana berubah merah karena menahan amarahnya.


Liana sejenak kasihan dengan temannya. Kenapa dia harus jatuh cinta pada orang yang tidak tahu malu seperti Jinan.


Liana langsung pergi dan kembali ke mejanya. Ia melihat Suah yang sedang melihat pemandangan luar dari balik jendela.


“Liana, kenapa kamu lama sekali?”


Liana menatap Suah. Ia ingin membuka bibirnya tapi tidak mampu mengucapkan satu suku kata pun. Liana hanya tersenyum tipis.


“Apakah kamu sakit?”


Liana menggeleng, “Tidak.”


Liana berpikir panjang untuk mengatakan sesuatu mengenai Jinan. Bahwa pria itu tidak baik untuk Suah. Saat Liana ingin membuka bibirnya.


Ia melihat Jinan dan ia dipaksa menelan kata-katanya kembali.


Saat Jinan kembali, pria itu langsung memeluk Suah dan Suah terlihat sangat nyaman dengan pelukan itu.


“Mengapa kamu membutuhkan waktu yang lama?” Suah menggerutu.


“Tadi ada panggilan bisnis. Kamu pasti menunggu lama, aku minta maaf.”


Jinan mengatakannya sambil menatap Liana. Liana benar-benar muak dengan Jinan. Ia sangat kehilangan antusiasme.


“Suah, aku akan pergi sekarang. Aku takut jika aku pulang nanti tidak bisa mendapatkan taksi.”


“Bagaimana kalau Jinan yang mengirimu kembali? dia kebetulan akan pergi sekarang, ” usul Suah.


“Aku rasa itu bukan ide yang bagus," ucap Liana.


“Jangan sungkan padaku,” ucap Jinan.


“Tidak. Aku akan naik taksi.”


“Daerah sini jarang sekali mendapatkan taksi,” ucap Jinan.


“Ya, Jinan benar," ucap Suah.


“Kalau begitu aku akan meminta seseorang untuk menjemputku. Ah benar, aku baru saja pindah rumah. Lain kali mainlah ke tempat baruku. Tapi hanya kita berdua, aku ingin curhat denganmu.”


“Tentu saja.”


“Suah, sepertinya aku harus pergi sekarang.”


Jinan berucap sambil melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.


“Sekarang?” tanya Suah.


“Ya. Telepon aku saat kamu sampai.”


“Tentu.”


Jinan mencium pipi Suah sebelum pergi. Kini hanya ada Liana dan Suah. Kebetulan Liana masih menunggu Gideon untuk menjemputnya.


“Ah, aku sangat bahagia sekali," terang Suah dengan mata berbinar. Senyum bahagianya menggambarkan semuanya.


“Apakah kamu benar-benar menyukainya?” tanya Liana dengan hati-hati.


“Tentu saja. Kamu tahu, aku orang yang pemilih. Dia adalah tipeku. Aku sangat mencintainya dan aku akan sangat sedih jika dia berpaling dariku. Bahkan aku sendiri tidak ingin membayangkannya.


“Aku melihatnya dari matamu,” ucap Liana.


“Liana.”


“Hm," ucap Liana sesaat setelah menyeruput minumannya.


“Apakah kamu pikir seseorang harus memberikan segalanya kepada pasangannya? Maksudku, dia memintaku beberapa kali melakukannya dengannya. Kamu tahu maksudku kan?"


Liana agak terkejut namun ia langsung mengubah mimik wajahnya. Butuh beberapa detik untuk ia membuka mulutnya.

__ADS_1


“Aku rasa, dia harus menunggumu sampai kamu dan dia menikah."


“Tapi apakah dia tidak akan berpikir aku kolot. Maksudku di jaman sekarang, melakukan itu sebelum menikah bukan kah hal yang biasa."


"Bukti keseriusan seorang pria dapat dilihat dari cara dia memperlakukan seorang wanita. jika dia benar-benar mencintaimu. Dia akan senang hati menjagamu dan menunggu saat waktunya tiba. Jika kamu menyerahkan semuanya, apakah itu akan menjamin bahwa dia akan setia sampai kalian menikah?"


Liana lantas memegang tangan Suah. "Suah, aku sangat menyayangimu. Aku ingin kamu hidup bahagia dan aku ingin kamu mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintaimu."


Suah tersenyum lalu mengangguk. "Terima kasih Liana."


“Honey...”


Liana langsung menoleh saat suara yang begitu ia kenal suara yang terdengar jelas. Liana langsung tersenyum begitu Gideon datang.


Gideon langsung mematuk bibir Liana dengan singkat. Gideon tampak bahagia terdengar bahagia dan jelas bersikap itu.


Sungguh Liana tidak bisa mengeluh.


"Kamu ingin pergi sekarang?" tanya Gideon.


"Ya," jawab Liana.


Gideon pun membawa Liana dan Suah ke rumahnya. Saat mereka sudah sampai. Liana dan Suah turun dari mobil Gideon.


“Kamu akan kembali bekerja?”


“Ya,” ucap Gideon.


“Aku pasti mengganggu pekerjaanmu. Jika tahu begini aku tidak memintamu intuk menjemputku."


“Kamu sama sekali tidak menganggu pekerjaan. Aku senang jika kamu terus mengandalkanku. Itu gunanya seorang pria sekaligus seorang suami."


“Apakah kamu akan pulang terlambat?” tanya Liana.


“Ya, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.”


“Jangan lupa makan.”


“Ya.”


Suah tidak bisa menutup mulutnya karena takjubnya. Begitu besar rumah Liana. Ada taman di depan rumah. Besarnya rumah itu dan ada kolam renang di samping rumah.


“Liana, kenapa kamu membeli rumah sebesar ini? Ini pasti sangat mahal.”


“Terus terang ini adalah hadiah dari Gideon.”


“Oh, aku merasa iri dan menyesal bertanya itu padamu.”


Liana langsung tertawa melihat reaksi Suah yang imut.


“Apakah kamu menanam bunga mawar?”


“Ya, aku menanamnya di halaman belakang.”


“Ibu!”


Suara Damian membuat Liana menoleh.


“Damian,” ucap Suah.


“Tante Suah.”


Suah langsung bergegas menghampirinya untuk memeluk Damian.


“Apakah kamu merindukan tante?”


“Ya.”


“Wah, imutnya. Aku dan Jinan akan melahirkan putra lucu seperti Damian nantinya.”


Liana langsung tertawa.

__ADS_1


“Tante sebaiknya berkeliling rumah. Ibu akan memandu dan aku akan melanjutkan bermain. Benarkan ibu?”


Liana menjawabnya dengan tersenyum.


Liana dan Suah pun berkeliling. Suah tidak henti-hentinya mengagumi dekorasi rumah Liana.


“Apakah kamu yang mendekorasi?”


“Ya.”


Sebagian besar waktu Liana dedikasikan untuk menata dan mendekor rumah yang dibeli oleh Gideon atas nama Liana.


Gideon hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan desain-mendesain. Semua keputusan diserahkan Liana.


Satu-satunya perdebatan yang terjadi adalah ketika memilih ranjang.


.........


Keesokan harinya, Liana masih memikirkan sesuatu tentang acara reuni . Liana sudah mencari informasi tentang Jinan. Reputasi Jinan sangat buruk. Pria itu memiliki banyak wanita di sampingnya .


Liana tidak bisa duduk diam dan membiarkan temannya terjerumus dalam jerat buaya Jinan.


“Setidaknya aku harus memperlihatkan wajah buruk Jinan pada Suah. Meskipun sebenarnya aku tidak berniat ingin menghadiri reuni itu.”


Saat memilih gaun di lemari, Gideon tiba di rumah. Pria itu membuka pintu kamarnya. Ia sedikit mengernyit.


Liana sama sekali tidak menoleh karena sibuk dengan urusan memilih gaun yang akan ia pakai.


“Apakah kamu akan keluar?”


Liana terkesiap saat lengan pria itu melingkari perutnya. Gideon menariknya hingga tubuh bagian belakangnya kini menempel di tubuh kokoh gideon.


“Ya,” ucap Liana sambil melepaskan tangan Gideon yang melilitnya. Liana lantas menaruh bajunya di ranjang dan ia berlalu ke meja rias.


“Kemana?”


“Kencan...” ucap Liana tanpa sadar.


Gideon yang mendengarnya langsung gelap wajahnya dalam sekejap. Liana yang merasakan aura dingin dari balik punggungnya langsung berbalik dan tersenyum.


“Aku pergi ke reuni kelas,” ucap Liana segera mengoreksi kata-katanya.


“Reuni? Kamu bukan tipe yang akan menghadiri acara membosankan seperti itu.”


Liana menelan ludahnya. “Wah, kamu benar-benar memahami karakterku.”


“Aku pergi denganmu.”


“Untuk apa?”


“Untuk menemanimu,” ucap Gideon singkat.


“Itu acara yang membosankan. Kamu akan mati kebosanan di sana.”


Gideon tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Liana dengan lembut.


“Selama kamu ada di sana, aku tidak akan bosan.”


Liana terdiam sejenak. Ia melirik ke samping sambil berpikir. Detik berikutnya, ia langsung menatap Gideon.


“Tidak.” Liana menggeleng pelan.


“Tidak? Aku ikut denganmu atau kamu tidak pergi sama sekali.”


“Baiklah, karena Suah membawa pacarnya. Aku juga akan membawamu. Tapi aku punya syarat.”


“Apa?”


“Tetap diam.”


Gideon mengangkat alisnya, “Bagaimana aku melakukan itu?”

__ADS_1


“Cukup jangan mencari perhatian.”


“Baiklah, aku akan mendengarkanmu.”


__ADS_2