
“Liana.”
Liana mendengar suara yang begitu familiar. Ia juga merasakan tangan hangat di badannya.
Ya, Gideon langsung mengambil Liana dari pelukan Kingston.
“Gideon?”
Gideon langsung menggendongnya dan pergi. Sementara Damian mengikutinya dari belakang bersama Suah.
Sementara Kingston masih terduduk di sana karena kakinya sedikit kram. Pria itu perlahan bangkit namun ia sedikit terhuyung.
Saat ia ingin menyusul Liana, sebuah keributan terjadi di sana. Para wartawan menyorotinya. Mikrofon yang tak terhitung jumlahnya didorong di depan dan lampu berkedip membutakan matanya.
Wartawan ternyata tak hanya menyoroti Kingston tetapi Gideon juga. Mereka tanpa henti mengikuti Gideon dan melemparkan pertanyaan yang tak masuk akal hingga Gideon begitu murka.
“Minggir.”
Meskipun suaranya dalam, nada dinginnya merupakan hal yang mutlak. Mata dinginnya menyapu kerumunan. Aura pembunuhnya memaksa beberapa personel media untuk mundur beberapa langkah.
Setelah mengantarkan Liana ke rumah. Gideon langsung menyelesaikan kekacauan para wartawan yang membuat spekulasi negatif terhadap Liana. Meskipun berita sudah di tekan namun muncul beberapa berita yang masih mengganggu.
‘Orang ketiga dalam hubungan CEO dan Ruona’
‘Aktor terkenal terjebak dalam sebuah lift bersama simpanan CEO’
Setelah menyelesaikannya, Gideon kembali ke rumah. Begitu melangkah ke kamarnya, ia melihat Damian. Bocah kecil itu jelas tidak suka dengan situasi saat ini.
“Apakah ayah sudah membereskannya?”
“Ya.”
Saat Gideon ingin memeriksa Liana, tiba-tiba saja Damian menyeret baju bagian bawah Gideon.
“Aku ingin bicara dengan ayah.”
Gideon menghela napas saat Damian menariknya ke balkon.
“Aku sangat tidak senang dengan apa yang terjadi di hari ini.”
“Begitu pula dengan ayah.”
“Aku tidak suka dengan pertanyaan wartawan tentang ibu.”
“Beri ayah waktu satu bulan untuk menyelesaikan ini.”
“Tidak! Setengah bulan.”
Gideon berpikir sebentar dan menjawab dengan mantap, “Baiklah.”
“Ayah sudah tahu betul bahwa Ruona adalah penipu tapi ayah masih belum melakukan tindakan.”
“Aku sedang menunggu kesempatan yang tepat. Tepatnya seseorang ada di belakangnya.”
__ADS_1
“Aku hanya ingin memberitahu pada ayah. Bahwa aku baru-baru ini mempunyai mata-mata di keluarga Cross.”
“Mata-mata?”
“Ya.”
“Aku dapat informasi bahwa Ruona dan orang yang ada di belakangnya meluncurkan rencana mereka. Ada beberapa orang yang menyusup di perusahaanmu.”
Gideon menatap putranya tak percaya. Gideon menyipitkan matanya. Ia mengakui bahwa ia semakin terkesan dengan putranya yang genius.
“Kamu harus menjaga ibu. Aku harus kembali ke rumah Cross untuk sementara waktu.”
Damian mengangguk.
Dalam perjalanan kembali ke kediaman Cross. Gideon menerima banyak panggilan telepon namun tak satu pun yang ia jawab.
Gideon pun menambah laju mobilnya.
Saat Gideon tiba di kediaman Cross, Simon tidak mengatakan apa-apa. Ruona yang berdiri di samping Simon diam-diam mengamatinya.
“Aku sudah menentukan tanggal pernikahan kalian. Ruona sedang hamil sekarang jadi pernikahan kalian tidak bisa ditunda. Keinginan terakhir kakek adalah melihatmu menikahi Ruona. Kesehatan kakek semakin hari semakin menurun. Aku hanya ingin kamu memenuhi keinginan terakhirku.”
Mendengar ini tatapan Gideon berubah menjadi dingin. Melihat wajah Gideon yang dingin, Simon tiba-tiba berkata, “Jika kamu benar-benar menyukai wanita itu. Kamu bisa menjadikannya wanita ke dua.”
Ruona yang mendengar perkataan Simon terkejut. Ia tidak menyukai gagasan yang diutarakan oleh Simon.
Gideon langsung tertawa mendengar Simon berbicara. Suara tawa itu detik kemudian berubah. Mata Gideon begitu suram dan dingin menusuk.
“Kakek terus saja mendesakku untuk memenuhi permintaan terakhirmu. Sebenarnya apa yang kakek harapkan ketika aku menikahi wanita ini.”
Gideon menelisik raut wajah kakeknya. Sebenarnya ia mengetahui dibalik alasan ia harus menikah.
“Kakek sudah berjanji setelah aku menikahi wanita ini. Aku bisa menikah lagi. Ruona hanya harus menjadi nyonya muda di keluarga Cross?”
Ruona menggigit bibir bawahnya dan dengan ringan mengaitkan kedua tangannya.
“Ya.”
“Aku akan melakukan sesuai keinginan kakek.”
Simon terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. Ruona tampak terkejut, karena Gideon akhirnya setuju untuk menikahinya.
“Apakah kamu benar-benar mau menikahi Ruona?”
“Kakek tidak perlu ragu dengan ucapanku.”
Simon langsung memegang tangan Gideon dan memeluk cucunya. “Itu bagus. Kakek sangat bahagia.”
Dibandingkan kegembiraan, senyum Ruona agak dipaksakan. Ia tidak percaya bahwa Gideon benar-benar akan menikahinya.
“Apakah aku akan benar-benar akan menjadi nyonya muda keluarga Cross pada akhirnya? Segalanya tampak nyata. Sangat luar biasa.” Batin Ruona.
“Kakek kamu tidak lupa dengan janjimu?”
__ADS_1
“Yakinlah, kakek akan menyerahkannya padamu sebelum pernikahan.”
Gideon tersenyum tipis. Hal yang akan diserahkan oleh Simon Cross adalah otoritas keluarga Cross. Hak waris dan otoritas sanggatlah berbeda. Otoritas melambangkan kekuatan terbesar.
Saat melihat Gideon pergi menuju ke kamarnya. Ruona langsung mengikutinya dari belakang. Ia langsung segera menahan pintu kamar Gideon saat pria itu hendak menutup pintu.
Gideon langsung menatap Ruona dengan tidak suka.
“Kamu tahu kan kalau aku sejak dulu suka sama kamu. Aku sudah tunggu kamu terlalu lama. Dan penantianku akhirnya terbayar. Hati kamu terbuka untuk aku. Dan sekarang sudah terbukti.”
“Pergi,” ucap Gideon dingin.
Ruona menggeleng, “Tidak sebelum kamu bilang kalau kamu suka aku.”
“Aku tidak suka kamu.” Gideon menatap lurus pada Ruona.
“Kalau kamu tidak suka, kenapa kamu ingin menikahiku?”
“Aku menikahimu atas perintah kakek dan aku enggan untuk melawan keinginan kakek.”
Ruona menarik napasnya. “Aku tahu. Aku tidak akan meminta banyak darimu. Kamu sudah ingin menikahiku saja, aku sudah sangat bahagia. Ke depannya, akh akan belajar menjadi Nyonya Muda yang cakap dari keluarga Cross. Aku akan mencoba memainkan peranku dengan sangat baik di masa depan,” ucap Ruona sebelum berbalik dan pergi.
Gideon yang melihat Ruona pergi sedikit terpaku. Detik berikutnya ia langsung menutup pintu kamarnya.
Saat Ruona menuruni anak tangga, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia mendapatkan panggilan dari Johan. Ia lantas langsung bersembunyi di sudut rumah dan menerima panggilan.
Keesokan paginya, secara tersembunyi Ruona menemui Johan.
“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Ruona.
“Ruona, ayo kita menikah dan pergi ke suatu tempat yang jauh.”
“Apa kamu sudah gila? Aku adalah tunangan Gideon.”
“Tunangan?”
Johan tertawa seakan mengejek. “Apa yang kamu bicarakan? Apakah kamu pikir, dia benar-benar akan menikahimu?”
“Kenapa tidak? Kamu sudah merencanakan hari pernikahan kami jadi jangan mencari aku lagi.”
“Pembohong.”
“Kenapa juga aku harus berbohong padamu. Asal kamu tahu, Gideon sudah berjanji akan menikahiku. Berita pernikahan kami akan segera keluar.”
“Tidak mungkin.”
“Tidak ada yang tidak mungkin.”
“Apakah kamu pikir dia sebodoh itu? Apakah dia akan benar-benar menikahimu? Dan menyampingkan pertanyaan atas identitasmu. Sementara kamu sudah menipu Simon Cross dengan kehamilanmu. Apakah kamu berpikir kamu bisa menipu Gideon? Bisakah dia menikahi wanita yang mengandung anak dari lelaki lain?”
“Dia akan menikahiku dan itu faktanya.”
“Ruona, dia mungkin sedang menyiapkan jebakan untukmu. Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa dia adalah pria yang sederhana kenyataannya dia bahkan lebih tak terduga daripada apa yang kamu pikirkan. Pergi bersamaku adalah pilihan terbaik,” ucap Johan sambil memegang tangan Ruona untuk menyakinkannya.
__ADS_1
Ruona langsung menyentak tangan Johan. “Tidak!”
Wajah Johan langsung membeku. “Kenapa?”