Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
43. Pacar Suah


__ADS_3

Akhirnya Damian dan Daniel sampai di rumah. Damian langsung memasuki kamarnya. Bocah itu juga mengunci kamarnya dari dalam.


Daniel yang melihat Damian langsung mengangkat bahunya kemudian mencari ayahnya untuk mengembalikan kartu.


Sementara itu, Damian yang berada di dalam kamarnya langsung berlari ke arah komputernya. Damian mengerutkan bibirnya dan menyipitkan matanya sebelum menekan tombol power.


Damian langsung menekan emailnya. Ia mengetik di sana.


Tok. Tok. Tok. Suara ketukan terdengar setelah Damian berhasil mengirim email.


“Siapa?”


“Ini aku,” jawab Daniel. “Biarkan aku masuk,” tambah Daniel.


“Aku tidak suka diganggu saat aku belajar.”


Mulut Damian terasa kering. Ia memegang pipinya yang merah. Meskipun ia sudah mengolesinya dengan krim agar menyamarkan bekasnya. Namun bekas tamparan itu masih dapat terlihat jika dilihat dari dekat.


“Biarkan aku masuk. Aku mengkhawatirkanmu.”


Damian terdiam beberapa detik tapi pada akhirnya ia mengabaikan panggilan Daniel dan melanjutkan ketikannya.


Sementara Daniel yang masih berada di luar tetap tak ingin menyerah. Ia masih setia mengetuk pintu sambil mengomel.


“Jika kamu tidak membuka pintu. Aku akan memberitahu ibu. Aku hitung sampai tiga. Satu, dua, ti....”


Sebelum hitungan ketiga, Damian dengan kesal membuka pintu kamarnya.


“Daniel, aku akan memukulmu jika kamu mengadu pada ibu.”


Daniel dengan segera masuk ke dalam kamar Damian. “Ya, itu tergantung perilakumu padaku.”


Damian menyipitkan matanya dan matanya terjatuh pada benda yang dipegang Daniel.


“Apa yang kamu lakukan dengan benda itu?”


Daniel langsung menarik tangan Damian dan mendorongnya ke kursi. Ia dengan cekatan dan penuh kehati-hatian menyeka pipi Damian dengan handuk basah yang dingin.


“Tentu saja ini untukmu. Wajahmu bengkak. Itu pasti sakit?”


Damian memperhatikan Daniel yang menyeka wajahnya dengan penuh hati-hati. Kejutan sudah pasti tercetak di wajah Damian.


Ia mengerutkan bibirnya untuk menahan rasa perih.


“Ini tidak sakit sama sekali.”


“Kamu bilang tidak sakit? Bagaimana mungkin wajahmu tidak sakit? Ini sudah bengkak dan warnanya merah.”


“Jangan bilang pada ibu.”


“Kenapa?”


“Aku bilang jangan ya jangan.”


Daniel mengangguk dan berjanji.


“Aku juga sering terluka.”


“Kenapa? Kamu sering ditampar?”


“Aku terluka karena aku sering terjatuh. Dari kecil aku dilatih di camp militer.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena ayah ingin aku dilatih agar menjadi kuat dan kelak jika dewasa aku bisa melindungi orang-orang yang aku cintai. Ketika aku menjalani latihan aku pernah digigit ular.”


“Pasti itu sangat sakit.”


“Tentu saja itu sangat menyakitkan. Aku bahkan sampai tak bisa menangis.”


“Kenapa?”


“Karena aku langsung pingsan jadi aku tak sempat menangis."


.........


Saat matahari sudah terbenam dengan sempurna. Gideon menerima sebuah panggilan dan pergi. Sementara Liana mengajak Daniel untuk mandi. Liana juga mengajak Damian tapi anak itu memilih untuk mandi sendiri.


Setelah mandi dengan kilat. Damian kembali sibuk dengan komputernya lagi. Ia langsung membuka email dan mendapatkan balasan.


Keesokan paginya, Liana pergi ke super market untuk membeli beberapa sayuran, buah-buahan dan juga beberapa perlengkapan rumah tangga.


Saat Liana sudah selesai dengan urusan belanja. Tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari Suah. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah kafe.


Liana lantas pergi ke kafe yang mereka sudah sepakati. Liana sampai di kafe lebih awal dan duduk di meja dekat jendela.


Ia memesan matcha farappucino dan bersandar dengan nyaman di kursi sambil menunggu Suah.


Kilatan cahaya matahari yang hangat sedikit menyelimuti tubuhnya. Cuaca hari ini begitu cerah.


Sinar matahari yang hangat dari jendela menyinari wajah Liana dan membuatnya tampak lebih cantik dan berkilau.


“Liana.”


“Maaf aku datang terlambat karena terjebak macet. Kamu pasti sudah lama menungguku?”


“Tidak apa-apa,” ucap Liana lalu ia melihat pria asing berdiri di samping Suah.


Suah mengikuti pandangan Liana ke pria di sampingnya dan dengan cepat mengaitkan lengannya ke pria itu.


“Liana, dia adalah pacarku. Kami sudah berkencan selama seminggu. Aku harap kamu tidak keberatan aku membawa pacarku.”.


Liana dengan linglung sejenak tapi dengan cepat ia tersenyum. “Tidak sama sekali.”


Pria itu melangkah maju dan mengulurkan tangannya pada Liana.


“Halo aku Jinan, pacar Suah. Suah sering cerita banyak tentangmu.”


Liana merasa tatapan Jinan terasa tidak nyaman lantas ia segera menarik tangannya namun tangan pria itu mengencang di tangannya. Merasa canggung, Liana menyentakkan tangannya.


“Liana aku minta maaf atas kejadian kemarin. Karena aku kamu terjebak dalam lift kemarin.”


“Tidak apa-apa. Lagi pula itu sudah berlalu dan aku tidak apa-apa.”


Mereka mengobrol sebentar seputar kegiatan masing-masing dan tentang hubungan Suah dan Jinan.


Rupanya Jinan adalah kepala departemen administrasi. Suah kagum pada Jinan yang menurutnya sebagai pria sopan, tampan dan cerdas.


“Liana, aku merasa bahwa aku adalah wanita paling bahagia di dunia saat bertemu Jinan,” seru Suah.


“Aku turut bahagia jika kamu bahagia.”


Suah kemudian mengeluarkan sebuah undangan dan menyerahkannya pada Liana.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Liana.


“Kemarin aku bertemu dengan Lili. Dia akan mengadakan reuni kelas. Dia ingin memberikannya padamu tapi dia tidak tahu rumahmu dan nomormu jadi dia memintaku untuk membawakan undangannya. Apakah kamu akan pergi?”


Liana meletakkan undangan tersebut ke meja tanpa minat untuk membukanya.


“Aku tidak ingin pergi.”


“Aku juga. Acara reuni hanya lah modus untuk memamerkan kekayaan, pacar dan pekerjaan. Itu sangat membosankan. Tapi ketua kelas dulu akan pergi ke luar negeri jadi dia berharap semua ikut serta dalam reuni ini.”


“Liana, apakah kamu mau ikut?” tanya Jinan.


“Ayo pergi, aku akan menemani Suah besok.”


“Apa?”


Suah merasa terkejut karena sebelumnya ia mengajak Jinan namun pria itu tidak bisa pergi dan berdalih mempunyai rapat penting. Dan sekarang Jinan malah menawarkan diri untuk pergi.


Tentu saja Suah sangat antusias dan senang.


“Liana, ayo pergi saja. Siapa yang berani merendahkanmu sekarang? Apalagi kamu punya ehem. Kamu tidak usah takut. Ayo pergi bersama.”


“Ya, mari kita pergi bersama.” Jinan berseru.


Liana hanya tersenyum dan izin ke kamar mandi. Sementara Jinan minum seteguk kopinya sebelum pamit ke kamar mandi juga.


Ketika Liana keluar dari kamar mandi, ia dikejutkan oleh Jinan yang berdiri di luar. Liana menatap Jinan dan ia mundur sedikit menjaga jarak darinya.


“Mengapa kamu ada di sini?”


Jinan tersenyum lalu berkata, “Liana nama yang cantik. Secantik orangnya.”


Liana mengerutkan keningnya karena merasa Jinan sangat aneh. Selama pembicaraan, pria ini terus ingin mengobrol dengannya bukannya mengarahkan topik pada pacarnya.


“Aku akan segera kembali. Suah pasti lama menunggu.”


Saat Liana melewati Jinan, tangannya ditarik dan dihempas ke arah tembok. Jinan mengimpitnya diantara tubuhnya dan tembok.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Kamu bertanya apa yang aku lakukan? Menurutmu apa yang akan aku lakukan?”


“Aku berlaku sopan padamu karena kamu adalah pacarnya Suah. Jika kamu bersikap seperti ini aku akan membuat Suah menjauh darimu.”


Jinan menyeringai. “Menarik.”


Pria itu menundukkan kepalanya dan bersandar di lehernya menghirup aroma tubuhnya.


“Enyah dariku.”


Seolah tidak mendengarnya. Jinan melancarkan aksinya. Liana tak tahan lagi. Ia mengumpulkan semua tenaganya.


Mendorong Jinan dan menamparnya.


“Melihat tampilanmu yang sopan, aku tidak menyangka bahwa kamu akan menjadi pria yang tak bermoral.”


Jinan tanpa sadar menyentuh pipinya. Pipinya terasa panas dan sakit namun ia tertawa terlepas dari sengatannya.


Jinan kembali menarik pergelangan tangan Liana. Pada saat itu muncul sosok gadis.


“Apa yang kalian lakukan?”

__ADS_1


__ADS_2