Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
58. Ucapan sarkastis


__ADS_3

“Bu, apakah itu sakit?”


Damian dan Daniel memeluk Ibunya. Liana yang semula menundukkan kepalanya, kini sedikit mendongakkan kepalanya.


“Tidak, ibu bisa menahannya.”


Liana tersenyum pada kedua bocah itu, menyembunyikan rasa sakitnya agar mereka tidak khawatir.


“Kenapa kalian pulang lebih awal? Tadi guru menelepon ibu, ada kelas tambahan.”


“Kami tidak ikut, kegiatannya sangat membosankan,” ucap Daniel.


"Bu, ayo duduk di sana.”


Mereka lalu duduk di sofa. Damian dan Daniel duduk di samping kanan dan kiri Liana.


Damian lalu dengan tergesa-gesa mencari laci untuk menemukan kotak p3k. Ia lantas bergegas ke sisi Liana.


Ia mengambil kapas yang sudah dilumuri betadin.


“Bu, jangan bergerak. Diam saja.”


Damian menemukan banyak goresan luka di wajah maupun lengan ibunya. Damian mengusapnya dengan lembut dan hati-hati.


“Kenapa mereka melakukan ini pada ibu?”


Hati Damian merasa sakit. Ia menggertakkan giginya karena marah.


“Ibu tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Damian, Daniel beri ibu pelukan dan ciuman dan ibu akan segera sembuh.”


Damian dan Daniel langsung mencium pipi Liana. Liana memeluk kedua putranya. Air matanya mencoba menerobos namun ia tahan sekuat tenaga.


"Ibu, kami ada di sini. Kamu akan melindungi ibu,” ucap Daniel.


“Itu semua salahku karena tidak berada di sampiing ibu. Ibu hatiku sakit melihat ibu terluka.”


“Damian...” suara Liana terdengar bergetar.


“Bu, menangislah jika ibu merasa sedih.”


Damian memeluk pinggang Liana dengan erat.


Liana menggigit bibirnya menolak untuk mengungkapkan sisi rapuhnya pada kedua putranya.


Damian memeluk Liana namun ia menyembunyikan matanya yang dingin. “Beraninya mereka menyakiti ibuku.”


Sementara Itu di tempat yang berbeda. Inge pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan untuk lengannya yang terkilir akibat Daniel.


Setelah itu, wanita itu pulan ke rumahnya dan mengeluh pada ibunya.


Sore itu, ibu Inge mengeluh pada Gideon Cross tentang Liana.


Ketika Gideon menerima telepon ini, ia baru saja selesai rapat.


“Aku mendengar dari putriku bahwa kamu mempunyai wanita yang bernama Liana. Wanita itu benar-benar kasar. Aku tidak pernah menyakiti atau pun memukul putriku tapi wanita itu berani memukul Inge sampai ia membutuhkan perawatan.”

__ADS_1


“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”


“Kenapa kamu tidak langsung menanyakan padanya.”


Gideon berhasil mengendalikan amarahnya sementara ia duduk di kursinya dengan wajah suram dan mata dingin.


Wanita diujung sana terus mengomel.” Bagaimana bisa dia berani menyakiti tangan putriku? Mengapa ada orang yang sangat kejam? Jangan salahkan aku, ia harus memberikan kejelasan pada kami. Biarkan dia meminta maaf. Untung saja tangan putriku hanya terkilir jika patah, aku bersumpah akan membawa kasus ini dan menuntutnya agar dia di penjara.”


...♡♡♡...


Gideon tidak pulang lebih awal. Pria itu pulang agak terlambat. Pikirannya sedikit frustrasi karena pekerjaan dan omelan karena masalah keponakannya.


Begitu sampai di vila, ia dengan cepat berjalan masuk. Ruang tamu begitu gelap dan kosong. Kedua putranya pasti sudah tidur.


Gideon langsung menuju kamar utama, dan menemukan Liana terbaring di rancang dengan membelakanginya.


Lampu ruangan mati hanya lampu remang di samping nakas yang menjadi penerang.


Gideon melihat tubuh Liana meringkuk di tempat tidur. Tidak jelas apakah Liana tidur atau hanya berbaring. Liana tampak begitu tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi meskipun ada masalah besar yang muncul yang disebabkan olehnya.


Kenapa dia menyakiti keponakannya?


“Liana.”


Liana terbangun dengan kaget dan duduk segera di tempat tidur. Melihat Gideon sudah kembali, senyum muncul di wajahnya.


Namun ia memperhatikan wajah Gideon yang dingin dan tampak marah. Senyum Liana langsung redup.


Liana mengerjapkan matanya karena Gideon memanggilnya dengan nada dingin.


Apakah itu salahku? Keponakannya yang menyakitiku seperti orang gila, kenapa aku yang diinterogasi dan seakan aku yang salah.


Liana mengerutkan bibirnya. Liana dengan keras kepala menolak untuk mengatakan apa pun. Ia juga marah karena Gideon.


Liana berpikir bahwa Gideon akan percaya padanya, terlepas dari apa yang orang lain katakan padanya. Setidaknya Gideon akan bertanya dengan tenang.


Namun kenyataannya, Gideon bertanya pada Liana dengan ekspresi dingin dan marah. Melihat ekspresi Gideon, Liana semakin marah.


“Mengapa? Apakah kamu marah? Aku beranya sekali lagi, mengapa kamu menyakiti tangan orag lain sampai tangannya terkilir? Apa yang sebenarnya terjadi?”


Liana menyeringai namun hatinya sakit dan sedih. “Wah, kamu benar-benar melindunginya? Mendengar dia sakit, apakah hatimu juga sakit sehingga kamu marah dan menyalahkanku?”


Gideon hanya mengerutkan alisnya.


“Apakah dia mendatangimu? Jadi, apakah kamu ingin aku datang ke mereka dan meminta maaf? Karena keluarganya sangat berpengaruh? Apakah aku akan dimasukkan ke penjara karena menyakitinya? Orang dengan latar belakang yang mempunyai kekuasaan memang berbeda. Aku sangat takut! Bagaimana orang biasa sepertiku bisa berpikir untuk melawan putri mereka dengan keluarga yang luar biasa?”


Dengan ekspresi tidak menghampirinya dan meraih


rahangnya. Tatapan dinginnya tertuju pada wajah Liana.


“Aku bertanya padamu, kenapa kamu berbicara sarkastis?”


“Sarkastis? Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan? Ya! Aku mematahkan tangannya dan memukulny. Aku bahkan menjambak dan memukulnya. Aku mengumpatinya dan memanggilnya wanita gila.”


“Kamu...”

__ADS_1


Gideon kehilangan kata-katanya karena amarahnya dan kekuatan di tangannya semakin kuat.


Liana menahan kesakitannya apalagi luka yang ada disudut bibirnya di tekan dan lebih menyakitkan. Mungkin Gideon tidak bisa melihatnya karena lampu di sana remang-remang.


“Aku hanya bertanya apa yang terjadi. Mengapa kamu harus menggunakan nada itu padaku?”


Liana sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. Air matanya tiba-tiba jatuh.


Perasaan wanita memang sangat sensitif dan rapuh. Liana berharap sekembalinya Gideon dari kantor, pria itu akan memeluknya dengan hangat.


Ia akan menceritakan dengan keluhannya. Tapi ternyata itu hanya bayangannya saja. Gideon hanya menuduhnya tanpa melihat letak permasalahannya.


Liana menumpahkan segala emosinya paa tangisannya. Ia sudah benar-benar lelah. Suaranya begitu bergetar saat berkata, “Apa yang kamu ingin aku lakukan?"


Gideon tiba-tiba membeku melihat Liana menangis.


“Jangan menangis.”


Gideon benar-benar bingung melihat Liana menangis.


Ketika Gideon melarangnya menangis, Liana semakin menumpahkan air matanya. Air mata yang selama ini ia tahan, kini ia luapkan.


“Aku sangat lelah. Mencintaimu benar-benar sangat melelahkan.”


Liana memalingkan wajahnya.


Gideon mengulurkan tangannya dan mencoba untuk menariknya ke dalam pelukannya tapi Liana memilih untuk menjauh.


Ia membungkus dirinya dengan selimut dan menolak untuk disentuh Gideon.


Gideon langsung menarik selimut itu dan membuangnya ke samping. Pria itu langsung menarik Liana ke dalam pelukannya.


“Jangan sentuh aku! Pergilah ke wanita itu!” Liana berjuang untuk melepaskan pelukan Gideon namun Gideon memeluknya erat-erat dan tidak membiarkannya berjuang dengan cara apa pun.


“Berhentilah!”


Gideon terus memeluknya dengan erat, menunggu Liana sampai tenang.


“Maafkan aku. Aku seharusnya tidak menganggap kamu yang bersalah. Aku seharusnya bertanya padamu dengan lembut. Aku seharusnya mendengarkan penjelasanmu.”


Liana tidak menjawab dan Gideon tidak tahu apa yang dia pikirkan.


“Aku tidak tahu kesalahpahaman apa yang terjadi padamu dengannya. Kamu lebih tua darinya, pasti kamu bisa mengalah padanya. Tidak peduli siapa yang salah, kamu harus meminta maaf karena sudah melukai tangannya...”


Jantung Liana menjadi lebih dingin mendengar kata-kata Gideon yang seakan memihak pada Inge.


Liana menyeka air matanya. Wajahnya tampak marah.


“Dia layak mendapatkan itu. Sayang sekali, tangannya hanya terkilir. Akan lebih baik jika tangannya benar-benar patah.”


Mata Gideon langsung berkilat. “Apa katamu?”


Liana mengangkat kepalanya dan dengan berani menatap mata pria yang dingin itu.


“Aku bilang, dia layak mendapatkan itu dan akan jauh lebih baik jika tangannya benar-benar patah.”

__ADS_1


“Berhenti berbicara!”


__ADS_2