Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
70. Kesempatan Untuk Melihat Ibu


__ADS_3

Jendela yang awalnya tertutup, kini dibuka lebar. Sinar matahari yang berada di luar, kini dapat menembus jendela.


Damian berbaring di tempat tidur. Matanya yang sipit melihat pelayan.


“Tuan kecil, saatnya bangun.”


Pelayan itu berbicara dengan sopan dan pergi. Baru saat itu lah, ia terduduk dan mengambil napasnya


Sepanjang malam ia terjaga karena kecemasan yang selalu menghantuinya.


Damian melihat jam dinding yang digantung di tembok. Ia menantikan hari ini. Lantas Damian segera bergegas ke kamar mandi dan mengubah dirinya mengenakan seragam sekolah.


Saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung bergegas ke kamar sebelah. Saat ia ingin membukanya, rupanya kamar itu terkunci.


Damian langsung mengetuk pintu itu selama tiga kali sebagai sinyal.


“Apakah itu kamu?”


“Ya.”


“Sudah hampir waktunya kamu pergi ke sekolah. Hati-hati.”


“Apakah kamu baik-baik saja? Aku sedikit khawatir.”


Bersandar di pintu kamar, bibir Daniel membentuk senyuman hangat.


“Tidak apa-apa, sudah menjadi tanggung jawabku untuk melindungimu dan ibu.”


Damian terdiam sejenak. “Jangan khawatir, aku pasti tidak akan menemukan ibu. Sebelum itu, kamu harus waspada. Aku khawatir kamu akan menjadi target dengan menyamar sebagai diriku.”


Daniel tersenyum dari balik pintu, “Jangan khawatir. Aku bisa membela dan menjaga diriku.”


Damian sedikit tersentak saat indera pendengarannya mendengar suara langkah kaki.


“Seseorang akan datang. Aku harus pergi sekarang.”


Damian langsung berlari, saat akan menuruni tangga ia tanpa sengaja menabrak seseorang.


“Daniel, kamu sudah bangun?”


Damian mendongak dan melihat Ruona yang tersenyum padanya.


“Mm...” Damian mengangguk. “Aku akan turun.”


Dengan itu, Damian langsung menuruni tangga dengan tas sekolah di punggungnya.


Ruona yang melihatnya mengerutkan alisnya sejenak. Ia merasa ada yang aneh tapi tidak menemukan apa yang aneh.


Ruona tidak ingin berpikir panjang, ia lantas berjalan ke kamar dimana Damian dikunci.


Pintu itu dikunci dari luar. Ruona merasa tenang saat ia menemukan sosok kecil yang masih berbaring di sana.


Ruona lantas menutup pintu dan mengunci pintunya dari luar.


Di lantas bawah, Damian sudah selesai sarapan. Sopir langsung mengirimnya ke sekolah.


Begitu Damian sampai ke sekolah. Damian langsung turun dan berdiri di depan gerbang sekolah.

__ADS_1


Ia berdiri di sana sambil mengedarkan pandangannya. Ia tetap merasa tenang dan tidak ingin mencurigainya.


Setelah mobil yang mengantarkannya ke sekolah sudah pergi. Ia langsung pergi ke tempat yang agak sepi.


Ia menggunakan jam pintarnya untuk memanggil asistennya.


“Presdir kecil, aku sudah berada di depan toko buku.”


Damian langsung berbalik dan mengedarkan pandangannya dan langsung menemukan sebuah mobil yang terparkir di depan toko buku.


“Bawa mobil ke sini.”


Setelah mobil hitam tepat di depan Damian. Damian langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.


“Presdir Kecil, aku sangat khawatir padamu. Apakah kamu tidak tidur sepanjang malam?”


Anji mengajukan pertanyaan saat melihat wajah Damian yang terlihat lesu dan muram. Mengangkat tangannya, Damian membuka rompinya dan sedikit memijit bahunya yang terkilir.


Rasanya masih sakit, namun ia harus berpura-pura tidak sakit karena ia masih berperan menjadi Daniel.


Namun saat ini, ia sudah tidak lagi memerankan identitas Daniel jadi ia sudah tidak pura-pura lagi.


Damian menggigit bibirnya. Damian sedikit mengerang.


“Tuan kecil, apakah kamu terluka? Ada yang sakit?”


Damian mengangguk. “Ayo kembali dulu.”


Anji dengan cepat memerintahkan sopir untuk bergegas pergi sementara dirinya memanggil dokter pribadi.


Kembali ke vila, Damian mendorong pintu terbuka dan memasuki ruang tamu. Ruang tamu yang semula berantakan kini sudah rapi dan bersih.


Damian langsung duduk ke sofa. Melemparkan tubuhnya ke sana karena sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang ada di bahunya.


Lalu beberapa menit, dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Damian. Langsung mereka melihat warna kebiruan langsung terpampang nyata.


Anji yang berdiri di samping terkejut melihat itu semua. ia merasa sedih.


“Siapa yang melakukan ini?”


Damian tidak menjawab. Damian berusaha menahan jeritannya saat dokter mulai mengoleskan obat pada memarnya.


Saat kejadian, secara naluri Damian ingin melindungi ibunya saat Simon mulai mengayunkan tongkatnya ke arah ibunya.


Fisik anak-anak tidak sama dengan orang dewasa.


Setelah dokter memberi obat dan pergi.


Damian mengambil flashdisk dari sakunya dan memberikannya pada Anji.


Memeluk bahunya yang terluka, Damian menarik napas panjang.


“Presdir kecil, ada apa?”


Damian merenung sejenak sebelum menjawab, “Aku takut...”


Damian menunduk lalu menoleh ke arah Anji.

__ADS_1


“Aku takut, target selanjutnya adalah aku.”


Anji tertegun sejenak sebelum ia tersenyum.


“Presdir kecil, kamu aman sekarang. Kami akan melindungimu."


Di tempat lain, Ruona mengawasi sekelilingnya. Saat dirasa sudah aman. Ia membuka pintu kamar.


Saat mata Ruona melihat Daniel di sana. Tentu saja Ruona tidak mengetahui bahwa Daniel dan Damian bertukar identitas.


Ruona langsung menutup pintunya dan hanya ada Ruona dan Damian yang di kamar itu.


Berjalan ke ranjang tempat tidur, Ruona membungkuk dan duduk di sana.


Daniel tidak takut dengan tatapannya. Sebaliknya, Daniel mengangkat kepalanya.


“Namamu Damian kan?”


Daniel mendengus. “Bukankah kamu sudah tahu namaku?”


“Kamu begitu menggemaskan. Ucapanmu persis dengan ibumu. Kalian dalam situasi yang terpojok tapi masih berani.”


“Kamu harus melihat dirimu sendiri sebelum mengkritik ibuku.”


Saat ini Daniel memiliki kesan yang benar-benar membenci Ruona.


Alih-alih marah pada kata-katanya, Ruona tersenyum namun senyum itu sangat aneh.


Daniel langsung teringat karakter ibu tiri yang jahat. Penjahat itu memiliki senyum yang sama dengannya.


“Kamu benar-benar anak yang berbakti. Kamu sangat melindungi ibumu. Apakah kamu ingin melihat ibumu?”


“Dimana ibuku?” tanya Daniel dengan dingin. Matanya menyipit.


Ekspresi Ruona langsung berubah sombong.


“Kamu tidak perlu khawatir dimana dia berada. Jika kamu ingin melihatnya, aku akan membawamu kepadanya.”


Daniel membuka mulutnya tetapi Daniel ragu untuk berbicara. Sebenarnya ia ingin pergi namun ia sedikit ragu itu adalah jebakan yang disiapkan oleh Ruona.


“Jangan khawatir, aku hanya merasa kasihan padamu. Itulah alasanku membawamu untuk melihat ibumu. Ingin pergi atau tidak, itu pilihamu.”


Saat malam tiba, Daniel tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan keadaan ibunya.


Hatinya bimbang dan dilema karena Ruona baru saja memberitahunya bahwa wanita itu akan membawa melihat ke ibunya.


Saat Ruona kembali membuka kamarnya. Daniel langsung mengepalkan tangannya dan dengan mantap berbicara.


“Aku ingin kamu membawaku menemui pada ibuku.”


Ruona tersenyum dingin. Karena status Ruona di rumah Cross. Wanita itu bisa masuk dan keluar dari kediaman Cross dengan bebas.


Tentu saja Ruona mengajak Daniel keluar dari kediaman Cross dengan diam-diam.


Saat mobil sudah datang. Ruona langsung meminta Daniel untuk menutup matanya.


“Tutup matamu.”

__ADS_1


“Apakah kamu takut aku akan mengingat rute jalannya?”


Ruona tidak menjawab dan Daniel langsung mendengus namun ia tidak melawan dan menutup matanya.


__ADS_2