
Alan membuka pintu mobil, Gideon melompat keluar dari mobilnya. Pria itu memancarkan pesona yang tidak dapat ditolak.
Gideon dalam setelan jas, rapi dan berdiri tegak. Dengan sekali melihat, orang lain dapat mengatakan bahwa ia memiliki status yang terhormat.
Gideon memiringkan kepalanya dan melepaskan kacamata hitamnya dengan pose yang elegan. Lalu, Gideon sedikit menundukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Liana keluar dari mobil.
Liana mengenakan dress selutut warna pastel yang anggun tampak halus dan cantik saat angin mengibarkan bawahannya.
Liana terlihat sangat elegan dan berkelas.
“Ibu!”
Liana langsung berlari ke arah Damian, dan langsung menggendongnya.”
"Ibu, aku merindukanmu.”
Liana, Damian dan Gideon saat ini sudah berada di ruang keluarga.
“Apa kamu ingin sesuatu?” tanya Liana.
“Ya, aku ingin ibu berada di sampingku.”
“Ibu, selalu akan berada di sampingmu.”
Liana mencium kening Damian dan mengusap kepala Damian dengan gemas.
“Ibu akan melihat ada apa di dapur. Ibu akan membuatkanmu sesuatu.”
“Aku rindu masakan ibu.”
Liana tersenyum lalu pergi ke dapur. Setelah kepergian Liana, Gideon menatap Damian dengan serius.
“Apa yang terjadi?” tanya Gideon dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Paman Kevin, itu.”
Damian tidak bisa menyembunyikan kemarahan di dalam matanya. Damian menceritakan kisah lengkap tentang bagaimana mereka bisa lolos dari kekejaman Kevin.
Gideon langsung mengepalkan tangannya. Ada kemarahan di wajahnya.
“Dia benar-benar keterlaluan.”
Liana datang dengan tiga cangkir coklat hangat di tangannya. Liana tidak bisa mendengar percakapan yang hening diantara Gideon dan Damian tapi Liana terkejut oleh kemarahan di wajah pria itu dan aura yang mengintimidasi.
“Apa yang kalian bicarakan?”
Liana meletakkan cangkir di atas meja.
Gideon langsung melihat Liana dan wajahnya langsung berubah tenang.
“Tidak ada.”
Liana duduk di samping Damian dan mencoba memeriksa luka Damian.
Wajah Liana berubah menjadi sedih dan matanya hampir berkaca-kaca saat melihat luka Damian.
Damian menghela pasrah.
“Pasti sakit.”
Damian menggeleng. ”Tidak sama sekali.”
Liana mengambil tangan kecil Damian.
“Bocah nakal, kenapa kamu berbohong pada ibu.”
Sudut mata Damian berubah menjadi senyum yang memanjakan saat Liana memandangnya penuh dengan kelembutan.
“Maaf, Damian menjadi anak nakal yang membuat ibu khawatir.”
“Kamu selalu membuat ibu khawatir.”
“Bu, aku sangat mencintaimu.”
Liana menghela napas dalam hati, hatinya dipenuhi emosi yang campur aduk.
Liana langsung membelai wajah mungil Damian.
“Ibu juga mencintaimu.
__ADS_1
Gideon langsung batuk karena melihat pasangan ibu dan anak yang mengabaikannya.
“Apakah tidak ada yang mencintaiku di sini?” tanya Gideon merasa cemburu.
Liana dan Damian langsung menoleh melihat Gideon lalu mereka berdua tertawa melihat wajah Gideon yang cemburu lucu.
“Ibu, coklat ini sangat lezat.”
“Di dapur tidak ada bahan lain. Haruskah ibu memesan makanan?”
“Biar aku yang memesan,” ucap Gideon.
“Bu, aku makan bersama Daniel juga. Bisakah kita pulang ke rumah kita?” tanya Damian.
Liana langsung melihat ke arah Gideon. Tiba-tiba ekspresi bingung muncul di wajah pria yang tadinya tersenyum.
Liana yang melihat kebekuan Gideon langsung memasang wajah mimik sedih.
Gideon langsung menangkap itu dan merasa bahwa Liana sangat menggemaskan. Ia tidak tega untuk menolak keinginan Liana untuk membawa Damian.
Liana mengedipkan matanya dengan gaya yang imut dan menggemaskan. Ketika Liana mengedipkan mata, Gideon menjadi terpesona. Rasanya ia sulit untuk bernapas dan menjadi terhuyung-huyung.
“Baiklah.”
“Hore!”
Sorak Liana dan Damian.
Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil. Damian duduk diantara ibu dan ayahnya.
Bocah kecil itu memegang lengan ibunya. Kepuasan dan harapan menyebar di wajahnya.
“Akhirnya aku pulang.”
Tampaknya ada sinar matahari yang terang dan hangat di hatinya pada saat ini.
Sekembalinya di vila. Daniel mendengar suara klakson mobil. Berdiri di gerbang pintu dengan berjinjit ketika ia melihat keluar.
Mobil segera berhenti di pintu masuk. Setelah melihat Damian, Daniel langsung berlari dan memeluknya erat.
“Damian, kamu sudah di rumah. Aku sudah menunggumu lama.”
“Kita tidak akan pernah terpisah lagi.”
“Daniel, bisakah kamu melepaskan pelukanmu.”
“Oh?”
Daniel melonggarkan pelukannya sebelum Damian bisa menarik napas, Daniel memeluknya dengan erat lagi.
“Lukaku sakit!”
Daniel terkejut dan langsung buru-buru membebaskannya. Damian tidak bisa menahan tawa ketika Damian melihat bingung kembarannya.
“Apa yang kamu tertawakan?”
“Aku baru sadar, bahwa kamu cukup lucu.”
“Apa maksudmu?”
Damian menggeleng.
Liana dan Gideon berjalan ke arah mereka. Mereka saling bertukar pandang melihat pemandangan penuh kasih diantara si kembar.
Liana melangkah maju untuk memeluk si kembar di masing-masing lengannya.
...♡♡♡...
Liana sedang memasak di dapur, sementara si kembar sedang bermain di ruang tengah.
Tiba-tiba pria bertubuh tegap sedang mengendap-endap dan dengan diam-diam memperhatikan Liana yang sedang memasak.
Liana yang merasa diawasi langsung menoleh dan mendapatkan Gideon yang sedang menatapnya.
“Apa yang kamu lihat?”
Gideon tersenyum. “Melihatmu.”
Liana langsung cemberut. Kemudian Liana kembali melakukan aktivitasnya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Gideon melirik panci yang ada di depan Liana.
“Apa yang kamu masak?”
“Kamu akan tahu nanti.”
Gideon mengamati wajah Liana dalam diam. Setelah beberapa saat ia mendekati Liana dan memeluk Liana dari belakang.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku merindukanmu.”
Wajah Liana merah dan semakin merah. Liana tidak bisa memfokuskan masakannya dan terus merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Setelah beberapa menit, berkutat dengan masakan dan Gideon. Masakan Liana sudah siap dan disajikan di atas meja ruang makan.
Daniel dengan penuh semangat mencicipi masakan Liana.
“Masakan ibu luar biasa.”
“Benarkah? Makan lebih banyak begitu,” ucap Liana.
“Rasanya tidak buruk,” ucap Gideon.
Sambil memegang semangkuk nasi hangat di tangannya, tiba-tiba Gideon merasa bahwa kebahagiaan ini sulit diperoleh.
Setelah makan malam, Daniel langsung menarik Damian ke kamar.
Daniel dan Damian sedang membuat strategi untuk menghadapi Kevin.
Tiba-tiba ponsel Damian berbunyi.
“Ada apa?”
“Presdir kecil, bisakah kamu datang ke kantor?”
“Ada apa?”
“Ada beberapa hal yang mendesak yang harus ditangani.”
Damian mengerutkan alisnya. Setelah beberapa saat mempertimbangkannya, ia memutuskan untuk pergi ke perusahaan.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Daniel saat Damian sudah menutup sambungannya.
“Aku harus pergi.”
“Lalu bagaimana jika ibu tahu bahwa kamu pergi?”
Damian berpikir sejenak. “Aku akan meminta bantuan ayah.”
Karena itu, Daniel dan Damian langsung berlari ke dalam kamar utama.
Daniel dan Damian mengintip ke kamar utama sebelum masuk ke dalamnya.
“Sepertinya hanya ada ayah di kamar,” ucap Daniel.
“Apa yang kalian lakukan di sana?” tanya Gideon saat melihat kedua putranya mengintip dari balik pintu.
Daniel dan Damian terkejut, detik berikutnya mereka tersenyum kikuk.
Damian dan Daniel langsung menghampiri ayahnya.
“Ayah, dimana ibu?”
“Dia ada di kamar mandi.”
“Ayah, aku harus pergi ke kantor. Bisakah kamu melindungiku dari ibu.”
Gideon mengerutkan keningnya. “Kamu baru saja pulang dan masih terluka. Apa yang ingin kamu lakukan?”
“Aku punya sesuatu yang penting untuk ditangani. Aku belum ingin ibu tahu tentang identitasku.”
“Baiklah.”
“Ayah, aku juga ingin pergi.”
“Kamu di rumah saja, Daniel.”
“Tapi...”
__ADS_1
“Kamu di sini saja, agar ibu tidak curiga.”