Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
17. Konfrontasi Hati


__ADS_3

Gideon membiarkan seringaikan terbentang di wajah tampannya saat meletakkan Liana dengan hati-hati di ranjang. Wanita itu sama sekali tidak bergerak, terlelap jauh di dalam mimpinya.


Gideon mengatur posisinya, memastikan bantal empuk itu menyangga kepalanya yang indah, mengatur rambut-rambutnya yang terurai rapi di sisi kanan dan kiri.


Wajahnya tertidur seperti malaikat. Gideon menyentuh wajah mungil itu sebelum mengambil langkah untuk membersihkan dirinya.


Saat ia berdiri tiba-tiba deringan ponsel dari tas milik Liana berbunyi. Gideon mengernyitkan keningnya sebelum memutuskan untuk mengambilnya dan menjawab panggilan tersebut.


“Ibu, kapan kamu akan pulang? Aku takut di rumah sendirian. Ibu, cepat pulang.”


Suara rengekkah terdengar sangat manis. Gideon mengernyitkan alisnya. Ia masih ingat, bagaimana bocah kecil ini menyiramnya dengan air.


Gideon sangat takjub dengan Damian. Seorang anak yang berusia empat tahun sudah memiliki keberanian. Apalagi di depannya Damian memperlakukannya seperti orang jahat dan dia berbicara layaknya bos.


“Ibu, kamu mendengarkanku kan?”


Gideon membuka mulutnya dan menjawab dengan suara berat. “Ya.”


“Kamu...Gideon kan?”


Suara Damian yang imut kini berubah. Suaranya kini terdengar sangat matang dan acuh tak acuh.


Damian memanggilku Gideon tanpa gemetar. Mungkin dia tidak tahu bahwa aku adalah ayahnya.


Gideon mengerutkan kening terkejut. “Ya, ini aku. Kenapa kamu hanya memanggilku dengan nama?”


“Lalu aku harus memanggilmu apa? Kenapa ponsel ibuku ada padamu?”


“Ibumu sedang tidur, jangan membuat kegaduhan.”


“Ibuku bersamamu! Kamu menggertaknya! Bukankah terakhir kali aku bilang untuk tidak mengganggu ibuku.”


“Bukankah kamu memberiku pilihan.”


“Aku menyesal.”


“Menyesal?”


Gideon tidak bisa menahan tawa jenaka.


“Ya, karena sekarang tidak masalah apa pun yang kamu pilih. Kamu tidak akan pernah menjadi keluarga kami jadi kembalikan ibuku.”


Gideon tiba-tiba membandingkan Damian dan Daniel. Meskipun mereka terlahir dari rahim yang sama mereka jelas berbeda.


Nada suara Damian lebih mirip dengannya.


Gideon duduk di samping tempat tidurnya dan mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Liana.


“Kamu sama sekali tidak lucu.”


“Aku tidak sedang melawak.”


“Sebutkan harganya! Berapa banyak yang kamu inginkan agar kamu menjauh dari ibuku?”


Gideon terkejut. Ia tidak bisa membantu tapi sudut bibirnya berkedut.


Anak ini berencana menggunakan koin celengannya untuk bernegosiasi denganku?


“Apakah kamu ingin bernegosiasi denganku?”


“Ya, jadi katakanlah.”


“Aku tidak bisa menyebutkan harganya. Sangat sulit mengatakan betapa berharganya wanita di dalam hatiku dan dia sangat berharga. Maka kita hanya bisa bermain adil.”


“Menurutmu antara aku dan kamu, siapa yang akan dipilih ibuku? Aku pikir kamu sudah tahu jawabannya. Ingin bermain adil, tentu saja kamu kalah.”


“Oh, benarkah? Kenapa kita tidak menunggu dan melihatnya.”


“Tidak ada yang bisa menggantikan posisiku di hati ibuku. Kenapa kamu masih menantangku?”


Panggilan berakhir begitu saja. Gideon mengendurkan alisnya. Ia lali menghapus catatan panggilan.


“Aku adalah ayah dan dia putraku. Kenapa aku harus bersaing dengannya?”


Wajah Gideon sedikit frustrasi. Kehidupan orang kaya seperti keluarga Cross sangatlah rumit. Hubungan keluarga hanya berupa saham dan juga properti. Semua anggota saling perang dingin untuk merebutkan harta.


Simon Cross mempunyai dua istri. Dari dua istrinya, ia hanya memiliki satu putra yaitu Peter Cross. Di sisi lain Gideon Cross adalah satu-satunya putra dari Peter Cross.


Gideon adalah pewaris tunggal jadi ia akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga Cross begitu Simon Cross pensiun. Namun yang perlu diingat. Anggota keluarga lainnya tidak akan tinggal diam.


Inilah yang membuat Gideon sangat berhati-hati dalam setiap langkah yang diambilnya. Begitulah itu menjalani kehidupan. Ia tidak seharusnya membiarkan seorang wanita tinggal bersamanya terlalu lama. Sehingga yang ia lakukan hanya bermain-main.


Karena saat ia jatuh cinta, saat perpisahan tiba. Ini sangat menyakitkan. Karena ia pernah mengalaminya. Saat ibunya meninggal. Hatinya begitu sakit dan seakan robek.

__ADS_1


Ia tidak ingin merasakan sakit itu lagi dan tidak membiarkan Daniel ikut merasakannya. Sehingga ia berjuang untuk membangun tembok di sekelilingnya.


.........


Bunyi alarm ponsel Liana yang nyaring membangunkan dari tidurnya. Dibuka matanya yang kecil lalu dikumpulkanlah nyawanya sebelum ia benar-benar mematikan bunyi itu.


Ia kembali tidur memperbaiki posisinya dan mencari posisi ternyamannya. Sadar akan sesuatu, ia langsung membuka matanya. Alangkah terkejutnya ia, saat ia melihat tangan dan kakinya melilit seseorang di sampingnya.


Kepala Liana yang berbaring di dada Gideon langsung mendongak. Melihat Gideon masih terlelap. Ia perlahan melepas lilitannya dan menyalahkan dirinya sendiri.


Saat Liana hampir bisa menjauh dari ranjang. Tiba-tiba ia terjatuh kembali ke ranjang saat Gideon meraih tangannya dan menekannya.


“Kamu sudah bangun?”


Suara Gideon serak dan malas. Mengantarkan sesuatu magnet yang ajaib bagi Liana.


Liana sangat gugup jadi ia menutup matanya dan mengangguk. Sementara Gideon kini menopang kepalanya dan tersenyum.


“Sudah bangun masih berpura-pura untuk tidur?”


Liana mengerutkan bibirnya dan malu. Ia berusaha menutup matanya dan tak bersuara.


“Buka matamu dan lihat aku!”


Liana adalah wanita keras kepala jadi ia tidak mengindahkan perintah Gideon.


Gideon lantas menekan tubuh Liana kembali.


“Kamu!”


Gideon tersenyum. “Bangunlah dan bersiaplah.”


Gideon bangkit dan keluar. Liana mengamatinya sebelum matanya jatuh pada sebuah gaun yang tergeletak di sofa.


Liana buru-buru bangkit dan pergi mandi.


Setelah ia bersiap, ia langsung mengambil ponselnya yang berdering.


“Halo, King.”


“Liana apakah kamu baik-baik saja?”


“Ya.”


“Tidak apa-apa.”


“Apakah kamu ada di rumah sekarang?”


Liana menjawabnya dengan ragu.


“Apakah kamu bersama dengan dia?”


Dia di sini merujuk pada Gideon Cross. Liana langsung mengangguk, ia lupa bahwa Kingston tidak bisa melihatnya karena ia hanya terhubung lewat panggilan telepon.


“Pria itu tidak sesederhana kelihatannya jadi aku harap jangan terlibat dengannya.”


“Ya, aku mengerti.”


“Pria itu sangat berbahaya, kamu hanya akan terluka.”


Liana tersenyum saat mendengar Kingston mengomel seolah dia adalah kakak lelakinya. Namun senyum Liana tak berlangsung lama saat matanya menatap Gideon yang sudah berdiri di depannya.


“King, terima kasih atas nasihatmu. Aku akan menutup telepon terlebih dahulu.”


“Liana, aku akan melindungimu...”


Bam


Liana melompat ketakutan saat ponselnya direnggut dengan paksa oleh tangan besar. Ponsel itu terbang bebas menghantam kaca jendela.


“Kenapa kamu tiba-tiba marah dan menghancurkan ponselku?”


Liana berbalik dan melihat ponsel yang tak berbentuk.


“Kamu ingin kemana?”


“Pulang.”


“Aku tidak percaya. Kamu akan mencarinya kan? Apakah kamu pikir Kingston bisa melindungimu?”


“Jadi bagaimana jika aku mencarinya? Apa urusannya denganmu? Lagi pula siapa yang sudi tinggal bersama pria gila sepertimu.”


“Kamu adalah wanitaku. Kamu dilarang untuk mendekati pria lain. Aku tidak suka milikku disentuh orang lain.”

__ADS_1


“Aku bukan barang dan aku bukan milikmu. Kenapa kamu selalu bertindak semau mu? Kenapa kamu terus merendahkan diriku? Kenapa kamu selalu merendahkanku? Apakah karena aku setuju menjadi ibu pengganti?


Aku akui aku mengajukannya. Jika bukan karena bisnis ayahku diambang kebangkrutan. Aku tidak sudi melakukannya. Apakah setelah aku membayarmu satu miliar, kamu akan mengembalikan Damian padaku? Aku akan membayarmu, dasar berengsek.”


“Diam!”


“Damian adalah anakku. Aku akan melakukan apa pun untuknya agar dia tetap bersamaku termasuk tinggal di sampingmu seperti yang kamu inginkan. Tapi apakah kamu perlu melakukan ini padaku? Apakah aku harus menuruti setiap perintahmu?


Aku sudah menjadi boneka selama ini. Aku tidak bisa menangis ketika hatiku sedih. Aku dipaksa tersenyum oleh kepahitan hidup yang terus mengimpitku. Aku hanya ingin hidup normal. Aku hanya ingin dicintai dan dilindungi. Gideon aku sangat membenci. Aku membencimu.”


Perkataan Liana membuat Gideon naik pitam. Pria itu menyipitkan matanya dan langsung menyeret Liana dan dilempar ke jendela.


Liana ingin berdebat lagi dengannya namun lehernya tiba-tiba terasa sakit. Pria itu mengulurkan tangan dan mencengkeram lehernya. Liana tidak bisa bernapas dan berjuang keras.


Gideon menatap wajah keras kepala Liana yang tidak meminta belas kasihannya. Bahkan Liana menatapnya tak kalah tajam.


Wajah tampan Damian muncul di benaknya. Ia tidak boleh mati sekarang.


Melihat kepanikan Liana, membuat Gideon melepaskan cengkeramannya dan Liana terjatuh di lantai sampai terbatuk-batuk.


Seakan ia baru sadar dari kesurupannya. Gideon langsung berjongkok menatap Liana yang sudah menangis.


Gideon merentangkan tangannya dan memeluk Liana.


“Maafkan aku.”


Gideon menunduk dan mendaratkan ciuman di kening Liana.


“Kamu menyakitiku.”


“Hanya aku yang bisa menyakitimu.”


“Jangan menangis lagi.”


“Kamu mencekikku.”


“Maaf. Jangan menghubunginya lagi atau aku akan mendaftarkannya di daftar hitam. Jangan bekerja dengannya lagi.”


“Kenapa?”


“Aku tidak suka dia melihatmu. Aku tidak suka dia menyentuhmu. Aku tidak suka dia menciummu.”


“Kenapa kamu tidak suka?”


“Karena kamu wanitaku. Apa?”


“Jangan mendaftarkannya dalam daftar hitam?”


“Kenapa? Kamu menyukainya kan?”


“Tidak.” Liana menatapnya dengan marah.


“Terus kenapa kamu peduli padanya?”


“Hubunganku denganmu tidak ada hubungannya dengannya. Lagi pula dia adalah aktor, penyanyi, produser dan ceo muda yang berbakat. Tidak adil untuknya jika...”


“Apakah kamu mengaguminya di depanku?”


“Gideon, kamu...”


“Apa?” kesal Gideon.


“Kingston lebih lembut dan pengertian dari pada dirimu. Ia tampan dan berbakat.”


“Aku jauh lebih tampan dan kaya.”


Ketika Liana menatap Gideon ia menjadi teringat dengan Damian. Damian juga orang pencemburu.


“Gideon apakah kamu anak kecil? Jangan bersikap seperti anak kecil.”


“Diam. Kamu tidak diizinkan untuk meninggalkanku.”


“Tapi aku harus meninggalkanmu. Aku harus pulang sekarang. Damian menungguku di rumah.”


“Makan sesuatu sebelum pulang.”


Liana buru-buru makan setelah itu ia berlari ke pintu.


“Kamu ingin pulang sekarang?”


“Ya.”


“Aku antar.”

__ADS_1


__ADS_2