
Saat Kingston datang. Semua berteriak histeris. Semua mata tertuju padanya dan langsung tertuju pada sosok wanita yang berdiri di sampingnya.
Mereka berdua terlihat serasi.
Liana mengambil napas dalam-dalam saat memasuki venue.
“Apakah kamu gugup?”
“Ya.”
Kingston mengulurkan tangannya. Liana dengan malu-malu tersenyum dan meletakkan tangannya di telapak tangan Kingston.
“Jangan gugup dan nikmati saja acaranya.”
Seorang teman mendatangi Kingston.
“King, apakah dia pasanganmu? dia wanita yang ada di majalah kan?”
Kingston tersenyum dan melihat Liana.
“Halo, aku Liana. Aku adalah asisten King.”
Kingston langsung merajut alisnya dan menatap Liana. Begitu pula dengan Liana, ia menatap Kingston dengan tersenyum.
Beberapa menit kemudian Gideon keluar dari mobilnya. Ia begitu dingin dan mengacuhkan Ruona.
Ruona keluar dari mobil bersama Daniel. Merasa diacuhkan, Ruona benar-benar merasa kesal.
“Merasa kesal?” tanya Gideon.
Ruona terdiam. Ia benar-benar menelan keluhannya.
“Kamu lebih baik mengingat identitasmu.”
“Identitasku? Identitasku adalah tunanganmu dan calon istrimu.”
“Benar-benar buruk. Jika kamu ingin menjaga reputasimu, menghilanglah dari pandanganku.”
Ruona tercengang. “Kenapa kamu bersikap dingin pedaku?”
“Lalu kamu ingin aku bersikap seperti apa?”
Wajah Gideon benar-benar dingin sampai-sampai Ruona takut dan tangannya gemetar saat memegang tangan Daniel.
“Aku tidak pernah melihat ayah seperti ini. Sebelumnya ayah akan menyembunyikannya di depanku tapi kali ini, dia benar-benar kehilangan kendali.” Daniel bergumam.
Mata Ruona berkaca-kaca. “Kamu begitu lembut padaku jadi malam ini...”
“Hentikan omong kosongmu! Hubungan kita adalah palsu jadi jangan memerankan peranmu dengan serius.”
Ruona seperti disambar petir.
Gideon langsung menoleh ke samping dan menatap pengasuh. “Bawa Daniel ke atas.”
“Baik.”
Pengasuh membawa Daniel ke atas lalu Gideon menyusulnya sementara Ruona diacuhkan kembali.
Ruona tak bisa membendung lagi air matanya ketika menatap punggung Gideon yang pergi meninggalkannya.
.........
Liana berjalan sendirian dalam pesta sementara Kingston saling menyapa dengan rekan kerjanya. Liana terlalu lelah mengikuti Kingston jadi ia menyelinap pergi tanpa ada yang tahu dan berakhir di meja perjamuan.
“Ah..”
Seseorang kehilangan keseimbangannya dan gelas yang berisi minuman tumpah di baju Liana.
“Maafkan aku. Aku tidak sengaja menumpahkannya.”
Liana menunduk dan mencoba menghilangkan nodanya. Ia kemudian mendongak dan tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
“Liana ada apa?”
Sosok Kingston datang tiba-tiba. Mata Kingston jatuh pada noda yang tercetak di gaun Liana. Ia dengan segera langsung melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahu Liana.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungimu dengan baik. Seharusnya aku bersamamu.”
“King, tidak apa-apa. Dia hanya tidak sengaja menumpahkan minumannya.”
Liana lalu melihat ke wanita tadi. “Aku tidak apa-apa. Kamu bisa pergi.”
Kingston dengan lembut memeluknya dan menepuk bahunya. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Sayang sekali, aku tidak bisa menjadi mitramu yang baik malam ini.”
“Jangan dipikirkan.”
“Bisakah kamu mengantarku pulang.
“Ya.”
Saat mereka hendak keluar seorang pelayan datang memberikan fasilitas ruangan ganti VVIP.
“Aku akan menunggumu di sini.”
Liana mengikuti pelayan tersebut menuju ke koridor yang panjang dan mewah. Liana tidak bisa menyembunyikan rasa takjub.
Ia berkali-kali memuji desain interior
“Silakan masuk.”
Pelayan tersebut berdiri di depan pintu mewah. Liana melihat pintu tersebut sebelum memasukinya.
“Terima kasih.”
Liana masuk ke dalam ruangan tersebut dan tiba-tiba pintu ditutup. Liana terkejut dan berbalik.
Ia mengambil knop pintu namun pintu tersebut di kunci. Liana berjuang untuk membukanya namun usahanya sia-sia.
“Kenapa kamu mengunciku? Bisakah kamu membukanya.”
__ADS_1
Tiba-tiba tangan dingin menutup matanya. Ia begitu panik dan berjuang untuk melepaskannya.
Ia ketukan dan berteriak meminta bantuan. Lalu bibirnya diblokir tanpa ampun. Pria itu memeluknya dengan erat. Dia dengan agresif melahapnya.
Liana merasa sangat merah jadi ia berusaha melepaskannya. Saat Liana mendongak ia bisa melihat mata yang indah.
“Gideon.”
Liana ingin pergi namun lengannya melingkari pinggangnya dengan erat.
“Apa yang ingin kamu lakukan? Lepaskan aku.”
“Apa yang kamu sembunyikan dariku?”
“Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu. Jadi lepaskan aku.”
Darah kehidupan bagai mengaliri jantung Liana. Sejenak ia memejam mata untuk melawan rasa pening yang menyerangnya.
Apalagi saat melihat Gideon mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Damian. Ia menjadi bingung dan seakan seseorang tengah mencekiknya.
“Kamu hamil anak kembar. Namun dokter menyatakan bahwa hanya salah satu dari mereka yang selamat jadi asisten keluarga Cross membawa yang sehat karena dokter menyatakan salah satunya telah meninggal. Namun...”
Gideon sengaja tidak meneruskan perkataannya. Ia ingin melihat reaksi dari Liana. Gideon mengamati Liana dengan penuh perhatian.
Liana dengan erat menggigit bibirnya dengan erat. Jelas Liana sangat panik.
“Apa yang coba kamu rencanakan?”
Liana menggeleng pelan. Pada akhirnya, ia meneteskan air matanya.
“Bayi itu masih hidup. Aku membawanya.”
Gideon mencubit dagu Liana dengan kuat. “Kenapa kamu membawanya?”
“Karena dia juga anakku. Aku berhak memilikinya dan membesarkannya.”
“Bukankah kamu sudah menandatangani kontrak. Kamu melanggarnya dan sekarang kamu mencoba menipuku?” tatapan Gideon sangat berbahaya membuat Liana gemetar.
“Aku tahu aku egois tapi Damian juga darah dagingku. Aku tidak bias pisah darinya.”
“Kamu mengambil anakku selama ini. Bukankah kamu pikir aku harus menghukummu karena melakukan ini?”
Wajah Liana berubah drastis. Wajahnya pucat dan layu.
“Apakah kamu masih ingat jika kamu melanggar kontraknya?”
“Jika melanggar maka pelaku harus membayar seratus juta. Tolong beri aku waktu, aku pasti akan membayarnya.”
Gideon langsung melepaskan tangannya. Ia berbaik dan dengan angkuh duduk di sofa depan Liana dengan kaki disilangkan.
“Kamu bias membayarku seratus juta?”
“Ya,” jawab Liana.
“Aku tidak percaya dengan kata-katamu. Aku akan membawanya kembali.” Gideon berucap dengan dingin.
Liana semakin menjadi panic begitu ia mendengarnya. Hatinya terasa sakit dan begitu susah untuk bernapas.
“Jangan! Tolong jangan bawa dia pergi.” Suara Liana begitu tercekik. Ia menggelengkan kepala pelan.
“Karena aku tidak bias hidup tanpanya.”
Gideon berpikir sejenak lalu menjawab, “Oke.”
Liana menatapnya dengan tak percaya. Ia tidak percaya bahwa Gideon akan setuju begitu saja.
“Tapi…” kalimat Gideon menggantung. Pria itu menatap Liana dengan begitu dalam.
“Tapi?”
Jantung Liana terpaku sekali lagi.
“Kamu harus tetap berada di sisiku.”
Ia tidak mau berada di sisinya. Liana tidak sudi. Digigit bibir bawahnya beberapa kali. Tangannya terkepal dengan gugup.
“Di sisimu?”
Gideon tertawa. “Ya, jadilah wanitaku. Bukankah kamu mau? Jika kamu tidak mau, aku curiga kamu memiliki masalah dengan matamu. Jangan hanya berdiri di sana.”
Liana tidak bisa membantu tetapi mencibirnya di dalam hati. Dengan paksa ia menyeka air matanya. Ia terlalu takut sebelumnya namun sekarang Gideon sedang memprovokasi nya dan mengejeknya. Maka Liana mencoba untuk menangkan dirinya.
Liana melempar pandang ke luar jendela, lalu menatap lantai yang dingin. Ke mana saja untuk menghindari pandangan yang menusuk itu.
Liana menelan ludahnya sebelum menggumam. “Kenapa kamu tidak memilih orang lain?”
“Kamu tidak mengerti pria.” Gideon menatap Liana sambil
tersenyum mengesalkan. “Jika kamu tidak ingin menjadi wanitaku, pintunya tepat ada di sana.”
“Kamu membiarkan aku pergi?” Tanya Liana dengan terkejut.
“Aku tidak sedang mengurungmu.”
Liana terdiam lalu meluruskan pungunggunya. “Malam ini, aku anggap tidak terjadi apa-apa.”
Liana langsung berbalik. Ia hendak meninggalkan Gideon Cross.
“Setelah kamu melewati pintu itu, akan aku pastikan pengacaraku mengirim surat padamu besok.”
Langkah Liana tiba-tiba berhenti. Ia berdiri dengan kaku di sana. Liana berbalik dan menatapnya.
“Kamu.” Liana mengamati Gideon dengan kesal.
“Selama aku menginginkannya, aku bisa mendapatkannya.” Gideon berkata dengan menyipitkan matanya.
“Apa yang kamu inginkan sebenarnya?”
“Kemari, mendekatlah.”
Suasana itu dipecahkan oleh luapan emosi dan penantian. Kalau Liana mengingatnnya kembali. Liana bersumpah tidak akan mendekatkan diri ke arah Gideon
Liana mengambil napas dalam-dalam. Setiap langkahnya terasa berat.
__ADS_1
“Mendekatlah.” Gideon berkata lagi tapi dengan nada dingin dengan sedikit ketidaksenangan.
Serangan mendadak dating dari pihak pria itu. Yang bisa diingat Liana, tahu-tahu ia sudah berada di dalam pelukan yang hangat dan kuat.
Liana berusaha berjuang untuk melepaskan diri.
“Gideon lepaskan aku.”
“Kamu mencuri anakku dan menipuku selama bertahun-tahun. Bagaimana bisa aku melepaskanmu?”
“Aku akan memberimu uang seratus juta tapi tidak sekarang. Aku akan bekerja keras untuk mendapatkan uang itu.
“Oke, mari kita hitung beserta bunganya.”
“Ada bunganya?”
“Tentu saja.”
“Berapa itu?”
Gideon tampak seolah berpikir lalu ia melihat Liana dengan mencemoohnya. “Apa kamu ingin tahu?”
“Ya, aku akan bekerja lebih keras lagi setelah mengetahuinya.”
“Lalu bagaimana jika tidak ada seorang pun yang ingin memperkerjakanmu?”
“Gideon.”
Liana diam-diam menggertakkan giginya.
“Sebenarnya kakekku sedang menyelidiki Damian. Kamu tahu sifat kakekku kan? Jika dia mengetahui yang sebenarnya. Dia akan membawanya dengan paksa. Satu-satunya yang bisa mencegahnya adalah aku.”
Liana sepenuhnya menyerah pada Gideon. Ia dengan tatapan kosong menatap Gideon.
“Apa yang ingin aku lakukan untukmu?”
“Buat aku senang.”
Liana menggigit bibirnya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dengan gemetar dan kaku, ia meletakkan tangannya di bahu Gideon.
“Apakah aku masih satu-satunya pria yang pernah kamu…”
Liana mengangguk.
Liana terlonjak saat bibir yang ******* bibirnya menekan dengan keras dan Liana mengimbangi serangan itu dengan amarah. Ia mendekap punggung pria itu sementara Gideon merangkulnya dengan lengan sekeras baja.
Entah kapan ciuman itu mengubah sikap Liana tak ada yang tahu. Tapi untuk alasan yang tak jelas, kecupan itu tidak lagi alat untuk menghukum melainkan untuk menyenangkan. Liana membuka bibirnya menyambut Gideon dan karena merasakan ada penerimaan serbuan itu menjadi eksplorasi yang manis.
Kewarasan Liana benar-benar hilang. Mereka saling menghirup dan memagut.
“Liana. Liana.”
Mendengar suara Kingston yang tiba-tiba. Liana langsung menjauhkan dirinya. Dadanya naik turun berusaha memenuhi paru-parunya yang kehabisan oksigen.
Liana melihat ke arah pintu.
“Liana, apakah kamu ada di sana?”
“King.”
Wajah Gideon menjadi dingin.
Liana segera menjauh dari Gideon dan berlari ke arah pintu.
“Berhenti.”
Liana menatap dengan dingin, suaranya penuh dengan kesuraman. Ruangan berubah menjadi sangat dingin seolah-olah ruangan itu tertimbun oleh gunung es.
Liana seolah-olah tuli. Ia mencoba membuka knop pintu. Gideon yang melihatnya langsung berjalan cepat dan memeluk pinggang Liana dan membawanya menjauh dari pintu.
“Gideon, lepaskan aku.”
“Apakah kamu ingin dia melihatmu terlihat seperti ini sekarang?” Gideon menatapnya dengan tajam. Matanya terbakar amarah.
“Jika kamu menginginkannya. Aku dengan senang hati akan membukakan pintu.”
“Jangan!”
“Aku sudah bilang aku menginginkanmu. Aku tidak menerima penolakan.”
Setelah mengatakan kata-kata itu, Gideon mendorongnya ke tempat tidur dan menutupinya dengan tubuhnya.
...…...
Kingston terus saja mencari Liana karena gadis itu tak kunjung kembali. Kekhawatiran menyelimuti hatinya. Ia berdiri di depan pintu. Matanya menjadi lebih dingin. Ia ingin mendobrak pintu itu.
Entah kenapa dia yakin bahwa Liana ada di sana. Namun tiba-tiba ia kehilangan keberanian.
“Apakah Liana benar-benar menyukai Gideon? Kenapa aku begitu khawatir dengannya? Apakah aku menyukainya? Dia bahkan bukan pacarku, kenapa aku harus repot-repot melindunginya?”
Pikiran Kingston tiba-tiba menjadi kacau. Ia merasa kepalanya membelah menjadi dua.
Ia tidak tahu berapa lama ia berdiri di sana dan berharap sesuatu terjadi di sana.
“Sial.”
Kingston mencoba mendobrak pintu tersebut beberapa kali. Dengan samar ia mendengar langkah kaki mendekat ke arah pintu.
“King, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Kamu sendiri?”
“Presdir Gideon memerintahkanku untuk membawa gaun untuk seorang wanita yang bersama—“
“Apakah itu Liana?”
“Aku rasa—“
“Diam!”
Kingston segera memulihkan pikirannya dan melihat ke arah pintu dengan ganas. Lalu tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan menampilkan wajah Gideon Cross.
Kingston langsung melangkah cepat di depan Gideon kemudian ia meraih dasinya.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan padanya?”
Keduanya memancarkan aura berbahaya.