
Mata Liana ditutup, sementara tangannya diborgol. Ia terpaksa mengikuti perintah orang yang terus mendorongnya dari belakang.
“Ayo pergi!”
Badan Liana terhuyung beberapa langkah ke depan sebelum dibawa naik ke mobil.
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa jam. Mobil yang membawanya berhenti.
Ketakutan tampak jelas di mata Liana.
“Turun!”
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Liana di dorong keluar mobil. Liana tidak bisa melihat jalan, akibatnya bahkan ia tersandung.
Kain hitam yang menutupi matanya di lepas setelah ia berhenti.
Butuh beberapa saat baginya untuk menyesuaikan pencahayaan.
Liana menyipitkan matanya sebelum terbiasa dengan cahaya sekitar.
Liana menangkap sosok pria kecil di sana dan juga beberapa pengawal.
“Damian.”
Liana tertegun dan secara tidak sadar, kakinya melangkah maju untuk memeluk putranya.
“Jangan bergerak.”
Liana langsung tidak bergerak dan pada saat itu, ia melihat Gideon. Pria itu mengawasinya.
“Mari kita mulai.”
Dengan anak buah Gideon mengawal Damian, Damian berjalan begitu pula dengan Liana.
Liana terkejut melihat putranya dikawal.
Keterkejutannya semakin menjadi, ketika ia di dorong ke arah Gideon.
Liana menggeleng dan ingin mengucapkan sesuatu namun karena mulutnya disumpal. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya.
Liana berontak dan berusaha menggapai Damian namun pengawal Kevin memukul keras bagian lehernya.
Liana kehilangan visinya dan kehilangan kesadarannya. Tubuhnya lemas dan jatuh ke pelukan Gideon.
...♡♡♡...
Saat ini, Liana berada di rumah sakit. Ia terbaring lemah di ranjang kesakitan dengan infus menggantung di tangannya.
Tak selang berapa lama. Bulu mata Liana mulai berkibar lemah.
Liana terbangun dari mimpi buruknya dengan kaget. Ia duduk dengan tiba-tiba dari ranjang.
Mata Liana mengawasi lingkungan sekitar dengan bingung.
“Kamu sudah bangun?”
Liana langsung menoleh dan mendapatkan Gideon yang baru saja datang. Pria itu mendekatinya.
Liana langsung meraih tangannya.
__ADS_1
“Damian, dimana dia?”
Gideon menatap Liana dengan tenang.
“Jawab aku! Dimana dia?” tanya Liana dengan panik.
“Istirahatlah sekarang.”
“Aku bertanya, dimana Damian?”
Mata Liana memerah dan ia bertanya dengan kesal. Sementara Gideon mengerutkan keningnya dengan diam.
“Dimana dia? Apakah kamu benar-benar membiarkan dia ditukar denganku sebagai sandera?”
“Ya,” jawab Gideon pelan.
“Berengsek kamu, Gideon,” ucapnya bergetar. “Gideon, bagaimana bisa kamu begitu tidak berperasaan? Mengapa kamu mengirim anak yang baru berusia tujuh tahun di tempat seperti itu? Apakah kamu tidak tahu seberapa mengerikan itu?”
Liana begitu marah.
Gideon nyaris tidak berani berkedip saat ia mendengar pertanyaan bernada menuduh itu.
Gideon memandangnya dan menjawab dengan nada yang dalam. “Aku tahu.”
“Kamu tahu? Jika kamu tahu, mengapa kamu melakukannya? Apakah kamu sudah gila?”
Suara Liana tidak ramah. Ia sangat marah. Liana meraih bantal di belakangnya dan melemparkannya pada Gideon.
“Bagaimana bisa kamu melakukan itu? Aku membencimu.”
“Liana...”
Gideon bergerak untuk menatap Liana. Ia terkejut dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Liana. Gideon merasa kepalanya baru saja dipukul dengan besi keras.
Liana tahu kata-katanya sudah keterlaluan tapi ia tidak ada cara untuk menarik kembali kata-katanya.
Tiba-tiba Liana terdiam. Liana menundukkan kepalanya, tangannya terkepal di ujung seprei. Air matanya jatuh menetes dengan deras.
Celaan, rasa bersalah, ketakutan dan sakit hati. Semua emosi membanjirinya bagaikan gelombang tsunami.
Seorang perawat datang ke bangsalnya dengan obat di tangannya. Perawat itu terkejut melihat seprei yang terkena darah.
Jarum infus Liana terlepas dan menyebabkan darahnya keluar.
Liana menghindarinya ketika perawat itu mendekat, menolak untuk membiarkan perawat menyentuhnya.
“Pergi,” ucap Gideon.
“Tapi...”
Gideon dengan tenang menegaskan. “Pergi.”
Perawat itu meninggalkan ruangan sebelum pergi ia menyerahkan kasa dan juga plester.
Gideon meraih tangan Liana. Liana terus saja menolaknya dan menghindarinya.
“Jangan keras kepala.”
Gideon dengan lembut mengusap darah di telapak tangan liana sampai bersih dan memberi kasa lalu memlesternya.
“Jika aku bisa, aku akan menggunakan hidupku untuk menukar milikmu. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka terlibat.”
__ADS_1
Tangan Gideon membalut lukanya. Setelah selesai, Gideon berdiri dan berbalik untuk pergi.
Merasa gelisah, Liana mengulurkan tangannya dan melingkarkan tangannya di pinggangnya.
Gideon membeku dalam langkahnya.
“Jangan pergi. Gideon, jangan pergi."
Gideon berbalik dan kembali duduk. “Mereka akan baik-baik saja. Selama ada aku, aku tidak akan membiarkan mereka membahayakannya.”
Gideon memeluknya dengan erat. Liana membenamkan wajahnya ke dada Gideon.
Wanita itu hanya diam di dalam pelukan Gideon.
Liana menatap Gideon dengan mata coklat polosnya yang menggetarkan. Mata itu memancarkan keraguan, pengharapan dan rasa takut yang tidak bisa wanita itu sembunyikan.
Liana begitu rapuh.
“Jangan takut.”
Dengan kepala tertunduk, Gideon membenamkan ciuman di dahi Liana.
Tiba-tiba, ada suara langkah kaki yang mendekat dari luar dan pintu terbuka dari luar.
Liana mendongak dan melihat Simon masuk dengan bantuan seorang perawat.
Simon berdiri di samping tempat tidur dan memandang ke arah Liana.
Kebenaran tentang identitas Ruona dan Liana mengejutkannya ketika pertama kali Simon mengetahuinya.
Simon tidak percaya bahwa Simon mempercayai penipu sebagai cucunya.
Wanita yang sangat ia benci sebenarnya adalah cucu dari sahabatnya. Anak dari teman anaknya.
Kebenaran memberinya pukulan besar.
Saat melihat Simon, Liana langsung beringsut di pelukan Gideon. Wanita itu terlihat takut.
“Namamu Liana kan? Kakek telah mencarimu kemana-mana selama ini. Aku tidak berpikir bahwa—“
Wajah Liana pucat dan semakin erat memeluk Gideon.
"Kakek, kembalilah ke bangsalmu sekarang. Liana sedang dalam mood yang buruk. Kita akan bicarakan ini setelah, dia merasa lebih baik.”
“Baiklah, baiklah. Gideon jaga Liana."
Simon mengerang dalam hati sebelum dengan enggan pergi dengan bantuan seorang perawat sambil menatapnya.
Simon meneteskan air mata ketika ia melangkah keluar bangsal. Air mata itu adalah air penyesalan.
Kembali ke Liana. Wanita itu mencengkeram erat selimutnya dengan erat. Tidak peduli bagaimana ia menahan diri jelas bahwa ia tidak bisa menenangkan diri.
Duduk di ranjang, hati Gideon terasa sakit saat melihat Liana gemetaran karena gelisah dan takut.
Gideon ikut berbaring di sampingnya dan memeluknya. Liana juga memeluknya.
“Sakit,” ucap Liana dengan lemah.
“Dimana yang sakit?” tanya Gideon.
Liana langsung menunjuk pada dadanya. "Sini.”
__ADS_1