Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
52. Bercocok Tanam


__ADS_3

Gideon menarik napasnya dalam dan mengembalikan tatapannya pada wanita yang ada di depannya. Senyumnya hilang saat wanita itu mengucapkan kata yang tak pernah terbesit di dalam benaknya. Liana tidak menyadari perubahan ekspresi Gideon dan terus berbicara.


“...akan buruk jika aku benar-benar hamil.”


Liana menggeleng dan menatap wajah Gideon.


“Itu salahmu karena tidak memakai pengaman.”


Liana langsung keluar dari kamar mandi disusul Gideon di belakangnya.


“Kenapa harus pakai pengaman?” Gideon bertanya sambil mengerutkan keningnya.


“Karena aku tidak ingin hamil.” Liana menjawab dengan lugas.


“Kamu tidak ingin melahirkan anakku?”


Wajah Gideon langsung dingin, hatinya berubah buruk. Pria itu langsung menarik lengan Liana dan membalikkan tubuhnya agar menghadapnya.


“Kenapa kamu tidak mau?”


Liana sedikit terkejut oleh aura yang dipancarkan oleh Gideon. Sangat dingin dan berbahaya.


“Saat ini aku tidak ingin hamil. Lagi pula aku sudah memiliki si kembar. Sudah cukup memiliki dua anak.”


Mata Gideon menyipit. Ia sangat senang mendengar kehamilan Liana namun wanita itu bersikap sebaliknya.


“Aku tidak peduli apakah kamu menginginkannya atau tidak.”


Liana menelan salivanya karena takut. “Aku tidak yakin bahwa aku hamil.”


Gideon langsung melepaskan lengan Liana. Ia beralih mengambil jaketnya kemudian memakainya dan kembali meraih pergelangan Liana.


Liana berjuang untuk melepaskan diri. Tindakannya sedikit ketakutan dan waspada.


“Kita akan kemana?”


“Kita akan ke rumah sakit.”


Suara Gideon begitu tegas dan tanpa kompromi. Tidak ruang untuk Liana melawan kata-kata Gideon. Sampai akhirnya ia benar-benar sampai di rumah sakit.


Gideon langsung memerintahkan dokter untuk memeriksa Liana.


“Lakukan pemeriksaan padanya.”


Semua serangkaikan pemeriksaan sudah dilakukan oleh Liana. Liana hanya bisa pasrah.


Saat hasil tes sudah keluar, dokter melirik Gideon dan ia sangat berhati-hati mengingat suasana hati Gideon.


“Hasilnya sudah keluar. Dia tidak hamil.”


Gideon langsung mengangkat alis, jelas ia sangat terkejut dengan hasilnya. “Tidak hamil?”


Liana juga sama-sama tercengang namun ia bisa menguasai dirinya dan bersikap tenang.


Gideon melirik Liana dengan tidak senang. Liana tahu suasana Gideon saat ini sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


“Nona mengalami gastritis akut. Nona harus memperhatikan pola makan dan hindari makanan yang pedas.”


“Lalu bagaimana dengan menstruasiku yang tertunda?”


“Itu bisa saja terjadi karena ketidakseimbangan hormon dan juga stres. Lebih baik nona mengatur pola tidur dan hindari pemicu stres.”


Pria di samping Liana tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi dingin dan ia langsung pergi meninggalkan Liana.


Liana melihat Gideon pergi langsung mengikutinya setelah mengucapkan terima kasih pada dokter.


Dalam perjalanan pulang suasana dalam mobil benar-benar sunyi dan dingin. Hanya deru mesin yang terdengar.


Liana melirik Gideon yang terus saja bungkam. Gideon terus menatap lurus ke depan. Ia sangat kecewa. Sementara Liana ia ada rasa kelegaan mengingat ia tidak hamil.


Liana menelan salivanya. Ia tidak berani mengambil risiko untuk mengusik Gideon.


Begitu mereka memasuki Villa, Gideon berbelok di ruang kerja.


“Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Mungkin sampai larut.”


“Kamu ingin kopi?”


Tidak. Gideon tidak menginginkan apa pun. “Tidak. Tidak usah menungguku. Kalau kamu mengantuk, tidur saja.”


Liana mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya.


Malam itu ketika Liana berbaring di ranjangnya, siluet gelap menjulang di atasnya saat Gideon bergerak menutupi tubuhnya.


Liana terkejut melihat wajah tampannya semakin dekat dengannya. Matanya yang gelap seakan ingin mengamuk.


Liana menahan napas saat wajah itu menunduk. “Saat ini aku sedang melakukan pekerjaan.”


Liana ingin kembali bertanya namun bibir sudah mendarat di pelipisnya. Pria itu mengubur wajahnya di leher Liana.


“Apa yang kamu lakukan?”


Pria itu kini mengisap kulit leher Liana lebih keras sehingga terasa pedih, seolah amarah dan kekesalan Gideon tertumpah dalam kecupan-kecupan liarnya.


Lebih banyak kecupan, isapan yang lebih keras. Liana mengerang.


“Aku harus bekerja keras malam ini.”


“Bekerja keras untuk apa?”


Pria itu menjawab. “Bercocok tanam agar menghasilkan buah.”


Wajah Liana langsung memanas, ia paham ungkapan konotasi itu.


“Aku tidak ingin melahirkan anak. Kita sudah memiliki si kembar.”


“Tidak cukup.”


Gideon langsung menarik ke dalam pelukannya dalam posisi ambigu. Liana berjuang untuk melepaskan diri namun Gideon tidak membiarkannya begitu saja.


“Ayo kita punya anak perempuan, hm?”

__ADS_1


Gideon mempunyai tujuan yang jelas dan itu juga dilukiskan dalam matanya.


Liana hendak protes namun Gideon sudah membungkamnya. Tangan pria itu sudah tidak ramah lagi.


Jantung Liana terasa bergemuruh ketika pria itu berguling menjauh dan mulai berkutat dengan ikay pinggang dan celananya.


Malam itu, Gideon sangat bekerja keras.


Di luar pintu, dua pemuda kecil dengan diam-diam menempelkan telinganya ke pintu dan menguping kedua orang tuanya.


“Apa yang ibu dan ayah lakukan?” tanya Daniel.


Damian langsung mendorongnya.


“Sebaiknya kita tidur.”


“Kenapa ayah mencocok tanam di malam hari? Dan itu berada di dalam kamar?” tanya Daniel.


Damian berdehem dan pindah untuk kembali ke kamar mereka dengan wajah merah.


Daniel mengikuti Damian dengan penuh semangat.


“Apa artinya itu?”


“Aku tidak akan memberitahumu.”


“Apa yang ditanam ayah? Katakan! Katakan! Kamu sangat pintar “


Sebenarnya Damian sendiri tidak tahu maknannya. Ia hanya pura-pura tahu.


Daniel sangat marah dan menggelitik pinggang Damian saat mereka sampai di kamar mereka. Tidak bisa menahan serangan dari Daniel. Damian meledak dan tertawa.


“Katakan padaku!”


“Hentikan! Hentikan! Ini sangat geli. Daniel hentikan ha ha ha!”


Mereka sangat keras sehingga mengejutkan dua orang yang berada di kamar utama.


Liana melihat Gideon. “Mereka belum tidur?”


Tidak senang bahwa perhatiannya pada hal-hal lain. Gideon membungkuk dan membungkam bibir Liana.


“Fokus padaku.”


Dengusan berat memenuhi telinga Liana ketika pria itu membenamkan dirinya dalam-dalam dan menekan lama untuk menahan kenikmatan sebelum membebaskan Liana.


Rasa posesif menguasai Gideon dalam kadar yang begitu dahsyat.


Ia lantas kembali menguasai diri Liana. Liana kembali bergelinjang resah. Gairah dalam diri Gideon sudah tidak terkontrol dan Liana hanyut dalam dirinya.


Pria itu menghunjam masuk dengan keras dan cepat. Liana hanya bisa merintih, menjerit dan mengerang.


Lalu ia berhasil merasakan Gideon yang terdahsyat. Gelombang kuat Gideon menabrak dan menyeret Liana.


Tubuhnya berguncang hebat. Liana mengejang dalam pelepasan panjang yang menakjubkan ketika ia berhasil memeluk kenikmatan bersama Gideon.

__ADS_1


Liana mengeluh nikmat ketika pria itu menyemburkan benih panas ke dalam rahimnya sebelum Gideon terjatuh di atas tubuh basah Liana yang gemetar.


__ADS_2