
“Senyum muncul di wajah Gideon yang tampan. Saat ini ia berbaring di dalam kamar gelap dan melindungi Liana.
Gideon mengeratkan rangkulannya pada bahu Liana, memeluk wanita itu dan menariknya agar merapat ke tubuhnya.
Gideon tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup mata Liana yang terpejam. Ya, wanita itu terlelap karena kelelahan.
Tangan Gideon yang lainnya meraih ponselnya dari nakas. Ia memberikan pesan untuk Alan untuk memberikan kontak seseorang.
Beberapa menit menunggu, Alan langsung mengirimkan kontak yang Gideon pinta.
Segera Gideon menelepon kontak tersebut.
“Halo, siapa ini?”
“Gideon Cross,” ucap Gideon singkat sambil melihat ke arah Liana.
Pria diujung telepon terpengaruh setelah mendengar siapa orang meneleponnya. Ia langsung waspada.
“Presdir Cross, ada apa kamu meneleponku secara pribadi? Apa aku membuat suatu kesalahan, aku benar-benar gugup sekarang.”
Gideon melihat Liana dan tidak segera menjawab pertanyaan di seberang.
“Kamu harus bertanya pada putramu.”
Setelah berbicara, Gideon langsung mematikan sambungan teleponnya. Untuk masalah itu, bisa saja Gideon menyuruh Alan untuk mengatasinya namun ia ingin dirinya sendiri yang memberitahukannya sendiri.
Pria paru baya yang ada di seberang langsung linglung. Namun ia dapat memahami situasinya, bahwa putranya sudah menyinggung keluarga Cross.
“Anak itu, bagaimana bisa dia menyinggung keluarga Cross? Aku bisa saja bangkrut hanya dengan pernyataan Gideon Cross.”
Saat ini dia tidak bisa tidur nyenyak, dia langsung menelepon anaknya.
“Dimana kamu? Pulang sekarang!”
Sam langsung terkejut saat mendengar suara bentakan dari ayahnya.
“Ayah apa yang terjadi? Kenapa kamu marah padaku?”
Sejak kecil, ayahnya tidak pernah membentaknya. Ayahnya selalu memanjakannya. Jadi Sam cukup terkejut dengan perubahan ayahnya.
“Perbuatan baik apa yang kamu lakukan hari ini? Pulang sekarang!”
“Ayah, aku pulang besok pagi, sekarang aku bersama teman-temanku.”
“Apa kamu tidak mendengarku? Pulang sekarang!”
Dengan itu, ayahnya menutup teleponnya dengan kasar.
Sam langsung bergegas pulang. Begitu sampai di rumahnya. Tatapan mengerikan sudah menunggunya sedari tadi.
Sam langsung mundur beberapa langkah.
“Ayah, apa yang terjadi padamu?”
“Duduk!”
Sam langsung duduk.
“Sam, siapa yang kamu singgung beberapa hari ini?”
__ADS_1
Alis Sam langsung tertaut. “Aku tidak menyinggung siapa pun.”
Jangan berbohong padaku!”
“Ayah aku benar-benar tidak menyinggung siapa pun.”
“Lalu, mengapa Presdir Cross memanggilku?”
“Cross?”
Alis Sam langsung bertautan. Ia belum berani mengakuinya.
“Siapa dia? Aku tidak mengenalnya.”
“Dia Presdir Gideon Cross.”
Sam menggeleng dan terus menyangkal. “Aku bahkan tidak mengenal Gideon Cross, bagaimana bisa aku menyinggungnya."
“Ya, kamu mungkin tidak menyinggungnya tapi kamu menyinggung orang-orang di sekitarnya.”
“Orang di sekitarnya? Siapa?”
Ayahnya langsung melotot tajam dan berteriak. “Apakah kamu masih ingin bermain bodoh? Jujurlah denganku! Ceritakan apa yang terjadi!”
Sam ketakutan sekarang.
“Ayah, aku benar-benar tidak tahu seseorang yang ada di sekitar Presdir Gideon."
"Aku tidak peduli. Bagaimana kamu selesaikan masalah ini. Cepat pergi dan minta maaf.”
“Ayah, aku benar tidak tahu latar belakangnya. Jika aku tahu sebelumnya, aku tidak pernah menyinggungnya.”
“Apa yang hebat dari keluarga Cross?”
“Apa kamu masih tidak mengerti juga.”
“Ayah, apakah Gideon Cross benar-benar menakutkan?"
“Aku tidak tahu seberapa kuta keluarga Cross, yang aku tahu pria itu dapat menghancurkan seluruh karirku. Nak, aku ingin hidup beberapa tahun lagi.”
...***...
Gideon mengecup bibir Liana sebelum ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi, Gideon berjalan menuju ke kamar kedua putranya.
Kamar tidur dipenuhi aroma kids ketika ia mendorong pintu terbuka.
Gideon melihat postur tidur Damian dan Daniel yang sangat bertolak belakang.
Damian tidur dengan damai sementara Daniel tidur dengan satu kakinya yang direntangkan di atas tubuh Damian.
Pria itu berjalan mendekat dan mengubah posisi tidur Daniel dan membenarkan selimut mereka.
Gideon mencium dahinya lalu beralih pada Damian.
Ia membelai rambut Damian dan menanamkan ciuman selamat malam meskipun terlambat. Ini lah yang selalu ingin dilakukannya.
Gideon meninggalkan ruangan setelahnya.
Setelah pintu ditutup, Damian membuka pintu. Pria kecil itu merasakan kehadiran sosok tinggi berdiri di samping tempat tidurnya dan mencium dahinya sebelum pergi.
__ADS_1
“Apakah itu ayah?”
Keesokan paginya, Gideon bangun lebih awal. Gideon melihat Liana yang masih terlelap, ia membenarkan selimutnya dan mengecup dahinya.
Sebelum pergi, Gideon memeriksa ponselnya dan melihat banyak panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Gideon mengabaikannya dan pergi ke kamar mandi sebelum bergegas ke kantor.
Liana terbangun dan tidak mendapatkan Gideon di sampingnya. Saat ia bergegas turun untuk memasak rupanya di meja makan sudah disediakan sarapan.
Di sana ada note yang ditulis oleh Gideon. Liana tersenyum saat membacanya. Ia segera membangunkan kedua jagoannya.
Setelah mengantar kedua putranya ke sekolah. Liana kembali ke rumahnya. Saat perjalanan pulang ia melihat Lili dan Sam sedang menunggu di depan gerbang rumahnya.
Mereka langsung mengubah wajahnya menjadi pandangan yang penuh dengan sanjungan ketika melihat Liana.
“Liana, aku senang bisa melihatmu. Aku ke sini membawakan beberapa minuman herbal dan juga kue.”
Liana menatap barang yang dibawa Lili namun tidak segera menerimanya.
“Kenapa kalian datang ke sini?”
Liana waspada terhadap mereka.
“Tentu saja untuk bertemu denganmu.”
“Apa yang kalian inginkan?”
Dengan wajah cemas dan canggung. Sam maju. “ Liana, aku minta maaf karena telah menyinggungmu. Tolong jangan tersinggung. Ini bukan tempat yang pantas untuk mengobrol bisakah kamu mempersilahkan kami masuk.”
Liana merasa bahwa Lili dan Sam memiliki niat yang buruk.
“Jangan khawatir. Kami tidak punya niat lain.” Lili dengan lembut meyakinkannya.
“Sebenarnya, kamu mungkin tahu kenapa aku di sini. Ini tentang masalah keluargaku,” ucap Sam.
“Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa mempersilahkan masuk karena di rumah tidak ada siapa-siapa selain aku. Jadi kalian pergi saja.”
Liana berbalik untuk pergi. Namun lengannya langsung diraih oleh Sam. Liana langsung melepaskan tangannya dari tangan Sam.
“Aku minta maaf.”
“Apa yang kamu inginkan sekarang?”
“Kami hanya ingin berbicara denganmu di tempat yang tenang.”
Liana menghela napas dan menelepon asisten rumahnya. Pelayan di rumahnya hanya bekerja saat pekerjaan mereka selesai. Itu sudah diatur oleh Gideon untuk menjaga privasinya dan Liana.
“Ikuti aku.”
Liana memasuki mobilnya begitu pula dengan Sam dan Lili. Pintu gerbang terbuka secara otomatis.
Pasangan Lili dan Sam saling bertukar pandang sebelum mengejar mobil Liana.
Lili melihat villa Liana yang benar-benar besar dengan halaman yang luas.
Melihat Sam di sampingnya dan kemudian memikirkan Gideon yang telah dilihatnya di hari itu. Lili begitu iri dengan Liana.
Bisakah aku benar-benar menikah dengan keluarga kaya dan naik tangga sosial?
__ADS_1