Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
7. Keberanian


__ADS_3

Liana memiliki tampilan yang polos. Liana langsung memasang ekspresi lemah dan tak berdaya. Penampilannya yang halus dan menawan bisa menembus hati siapa saja yang melihatnya.


Hati Sanjaya merasa iba. Ia langsung menatap Luna dengan murka. Luna langsung beringsut ketakutan namun saat melihat ibunya menuruni tangga, ia langsung berlari menuju ke arah ibunya.


“Ibu, dia memukulku tanpa ampun.” Luna mulai mengadu pada ibunya, Susi.


Susi menjadi marah dan melihat ke arah Damian dan juga Liana.


“Untuk apa kalian datang ke sini. Aku tidak mempunyai anak perempuan sepertimu.”


Damian berjalan ke arah Liana. Tangan mungilnya memegang jemari Liana. Wajah tampannya tersenyum sambil menatap wajah Susi.


“Nenek jangan khawatir. Ibu dan aku datang tidak untuk kembali di keluarga Sanjaya. Sebaliknya kami hanya ingin mengunjungi kakek.”


Susi terbatuk karena mendengar ucapan dari Damian.


“Kamu jangan bersikap seperti putri berbakti. Dan kamu berani memukul putriku! Sanjaya, lihat wajah Luna. Wajahnya seperti ditampar oleh Liana dengan keras.”


Liana langsung menjawab tanpa menunggu reaksi dari Sanjaya, ayah tirinya.


“Ya, aku menamparnya. Karena putrimu telah bermain judi dan memiliki hutang besar. Bahkan aku harus melunasinya. Aku juga kehilangan pekerjaanku akibat masalah yang ditimbulkannya. Dia bahkan hampir membunuhku. Dia...”


Kata-kata Liana tiba-tiba tertelan dalam kerongkongannya.


“Kamu bilang bahwa aku tak punya keluarga. Kamu bilang tanpa keluarga Sanjaya, aku akan mati kelaparan. Kamu memberiku makan untuk bertahan tapi pada akhirnya aku hanya dimanfaatkan olehmu.” Liana berkata dengan nada kesal.


“Kamu!” Susi benar-benar merasa terbungkam.


Susi maju dan langsung meriah lengan Liana dengan kuat.


Liana tanpa ekspresi melihat tangannya dan tanpa ekspresi berkata, “Jauhkan tanganmu dariku.”


“Kamu! Setelah kami memberikan kehidupan padamu dan membesarkanmu. Kamu berani tidak sopan. Apakah kamu masih melihatku sebagai ibumu?”


Wajah Liana tersenyum mengejek. “Kamu tidak pernah menganggapku sebagai putrimu. Jadi mengala kamu bertanya apakah aku masih melihatmu sebagai ibuku?”


Susi akhirnya tidak bisa merendam kemarahannya lagi. Ia meledak bagaikan letupan gunung merapi.


“Memang benar ibu kandungmu meninggalkanmu atau ia akan menyesal telah memberimu kehidupan.”


“Lalu lihatlah keburukan dari putrimu. Setelah kamu melihat kebenarannya, apakah kamu masih bisa membanggakannya di depanku?”


Liana menatap tajam ke arah Luna. Luna langsung panik dan segera mendatangi ayahnya.


“Ayah, dia ingin menjebakku. Dia wanita yang bahkan belum menikah namun dia sudah mempunyai anak. Jadi siapa yang lebih buruk diantara kita? Dan sekarang dia ingin menjebakku tanpa bukti. Ayah, jangan mendengarkan omong kosong darinya. Dia berbohong. Ayah, percayalah padaku.”


“Diam!”


Sanjaya sudah tak tahan. Ia juga bingung. Dulu ia sebenarnya mengetahui bahwa Susi dan Luna memperlakukan Liana dengan buruk.

__ADS_1


Tapi ia percaya pada saat itu, suatu saat mereka akan berhenti memperlakukan Liana dengan buruk. Namun tanpa diduga saat ia tidak ada di rumah bahkan sampai detik ini. Mereka masih tetap memperlakukan Liana lebih buruk.


“Susi, aku tahu sekarang. Saat aku tidak ada, kamu memperlakukan Liana dengan buruk. Apakah kamu tidak mempunyai hati nurani?”


Melihat ayahnya marah, Luna mundur perlahan tapi pada akhirnya ia tertangkap juga.


“Bagus! Judi? Hutang? Bagaimana bisa kamu memberiku wajah huh?”


“Ayah, aku bisa jelaskan.” Air mata Luna mulai mengalir.


“Diam! Aku tidak butuh alasanmu.”


Untuk pertama kalinya Sanjaya menampar Luna di depan Susi dan di depan Liana. Sejak kecil Luna selalu dimanja dan dibesarkan dengan kasih sayang.


“Ibu, sebaiknya kita pulang.”


Liana menunduk untuk melihat Damian. Ia tersenyum lalu mengangguk. Liana dan Damian berbalik meninggalkan rumah yang meninggalkan bekas luka pada Liana.


Semua hal yang Luna dan Susi lakukan padanya, masih terukir jelas di kepalanya.


Menjepit tangannya di pintu, menarik rambutnya dan memotongnya. Rasa sakit yang dialami Luna saat ini tidak sebanding dengan penderitaan yang ia alami di sama lalu.


Liana dan Damian kembali ke apartemennya dengan menggunakan bus. Wajah Damian sedikit cemberut. Liana yang melihatnya langsung mencubit pipinya dengan gemas.


“Sayang, ada apa?”


Liana menyentuh puncak kepala Damian. “Damian, sekarang ibu sudah bahagia jadi abaikan mereka.”


“Ibu jangan khawatir. Siapa pun yang berani menyakiti ibu. Aku akan melawannya.”


“Ah, ibu benar-benar bahagia memiliki bayi kecil seperti Damian.”


“Selama ibu bahagia, Damian akan melakukan apa saja demi ibu. Ibu, aku mencintaimu.”


Saat ini mereka sudah tiba di apartemen. Liana tiba-tiba mendapat panggilan untuk bekerja. Liana melihat Damian sebentar yang sedang menonton acara kartun.


Wanita itu lalu mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Suah.


“Suah-ya. Apakah kamu sibuk hari ini?”


“ Hari ini? Tidak, kenapa?”


“Bisa tolong jaga Damian sebentar. Aku hari ini ada panggilan kerja. Aku tidak bisa meninggalkan Damian begitu saja.”


Damian yang sedang menonton televisi seketika menoleh ke arah ibunya karena merasa namanya dalam pembicaraan ibunya.


“Tentu saja. Kebetulan aku berada di daerah sekitar apartemenmu.”


“Ah, bagus sekali.”

__ADS_1


“Sepuluh menit lagi, aku sampai.”


“Ya, berkendara dengan hati-hati.”


Begitu sambungan terputus, Liana langsung disambut tatapan protes dari Damian.


“Ibu, aku bisa menjaga diriku sendiri.”


“Tidak untuk saat ini.”


“Kenapa begitu? Ini bukan pertama kalinya aku ditinggal ibu bekerja sendiri di rumah.”


“Damian, dengarkan ibu. Dulu dan sekarang berbeda situasinya. Oke. Turuti kata ibu.”


.........


“Sudah kamu periksa?”


Simon Cross menatap sekretarisnya, Adam.


Adam yang berkulit putih dan dingin berkata, “Dia bocah yang patut dikasihani.”


Adam yang biasanya tidak menunjukkan belas kasihan apa pun sampai menggunakan kata “Kasihan” berarti situasinya benar-benar serius.


“Dia terlahir tanpa ayah yang jelas. Ibunya adalah berasal dari keluarga Sanjaya, namun ibunya hanyalah anak adopsi.”


“Anak adopsi?”


“Ya.”


“Bagaimana kehidupan ibu dari bocah itu?”


“Dia sering dianiaya dan tidak pernah diberi makan dengan layak. Jadi Nona Liana sempat kuliah sambil bekerja paruh waktu di berbagai tempat.”


“Tunggu! Kamu menyebutnya Liana.”


“Iya namanya Liana dan anaknya bernama Damian.”


“Apakah gajinya ayahnya besar maksudku keluarga Sanjaya?”


“Tidak, maksudku mereka mendirikan perusahaan dan perusahaan itu hampir bangkrut. Nona Liana lah yang menyelamatkan perusahaan dari keterpurukkan.”


“Wanita itu bisa menyelamatkan perusahaan Sanjaya yang sudah bangkrut padahal dia hanyalah pekerja paruh waktu. Apa itu masuk akal?”


“Itu...”


Simon Cross memperhatikan dokumen yang diberikan oleh Adam. Wanita itu berwajah mungil dengan mata memikat seperti kucing, hidung mancung dan bibir yang penuh yang membentuk seulas senyum.


Di sampingnya ada bocah kecil yang tampan dengan mata elang yang menakjubkan dan garis wajah yang tampan. Begitu sempurna dan hampir mirip bahkan nyaris mirip dengan cucunya saat masih kecil, Gideon Cross.

__ADS_1


__ADS_2