Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
32. Status


__ADS_3

Liana kesal. Liana benar-benar sangat kesal. Wanita itu lantas berbalik dan berencana untuk pergi namun Gideon dengan sigap menahannya.


“Apa kamu marah denganku?”


“Tidak! Untuk apa aku marah denganmu.”


Gideon semakin memeluk Liana erat dari belakang sementara Liana tampak cemberut.


“Kamu jelas sangat marah.”


“Aku tidak marah padamu, Presdir yang sombong.”


Gideon terkekeh mendengarnya lantas ia langsung membalikkan tubuh Liana agar menghadap dirinya.


Pria itu perlahan-lahan membuka telapak tangannya dan sebuah kalung dengan bandul cincin tampak berkilauan di sana.


Sebenarnya Gideon tidak benar-benar membuangnya. Ia hanya bermain-main dengan Liana yang tampak kesal.


Gideon langsung mengambil cincin dari jeratan kalung tersebut lalu mengambil tangan Liana untuk menyempatkannya di sana.


“Kamu dilarang melepaskannya.”


Nada suara Gideon seperti biasa memerintah dan pemaksa.


Liana menyaksikan cincin itu disematkan di jari manisnya. Bibirnya menjadi senyum tipis yang kelewat manis.


Gideon yang melihatnya mencoba menggodanya.


“Bukankah kamu tidak suka?”


“Bukankah kamu melarangnya untuk melepaskannya?”


“Dasar.”


Gideon merasa bahwa Liana begitu menggemaskan. Pria itu langsung menunduk dan menangkap bibir Liana. Ciumannya lebih kuat dan lebih menuntut.


Bibirnya bergerak ******* menggoda. Liana mendesah dan bergerak mendekat namun saat bayangan sekelebat datang tentang Ruona. Liana langsung bergerak mundur.


“Kenapa?” tanya Gideon namun Liana tak menjawabnya.


“Ah aku tahu. Kamu sedang memikirkan Ruona?”


Liana langsung mendongak dan menatap Gideon.


“Apakah kamu memasukkan nomorku ke daftar hitam karena Ruona?”


Pertanyaan tidak sengaja Gideon mengingatkan Liana pada kehamilan Ruona. Liana memejamkan mata sejenak lalu menarik napas untuk menguatkan diri.


“Dia memberitahuku bahwa dia sedang hamil anakmu.”


Gideon mendengus dan merasa frustrasi. “Jadi kamu percaya padanya?”


“Ya.”


“Liana! Kamu benar-benar! Kenapa kamu tidak percaya padaku dan lebih percaya padanya?”


“Bagaimana aku bisa percaya padamu? Dia tunanganmu jadi wajah jika dia hamil anakmu.”


“Liana.”


“Apa?” Liana menjawabnya dengan nada tinggi.


“Aku beritahu padamu. Aku tidak pernah menyentuhnya. Aku belum pernah menyentuh orang lain selain dirimu. Apakah kamu percaya padaku?”

__ADS_1


Liana agak terkejut. Ia melihat Gideon dengan cara yang serius menelisik apakah ada kebohongan di sana.


“Jangan jelaskan apa pun padaku. Jelas saja bahwa Ruona sedang hamil karena apa yang dialami Ruona pada saat itu sama dengan apa yang aku alami saat mengandung Damian dan Daniel. Sekarang kamu berbohong tidak pernah menyentuhnya.


Apakah aku benar-benar bodoh untuk kamu bohongi?”


Gideon mengerang frustrasi. “Kamu meragukan kata-kataku?”


“Ya,” jawab lantang Liana.


Jawaban Liana membuat wajah Gideon diselimuti awan hitam.


“ Liana, apakah kamu tidak percaya padaku?” tanya Gideon.


“Aku percaya dengan apa yang aku lihat.”


“Dia hamil tapi anak itu bukan milikku.”


“Lalu anak siapa? Mustahil jika Ruona berselingkuh karena dia begitu mencintaimu.”


“Liana.”


“Berhenti biarkan aku bicara. Gideon, kamu tahu aku juga mencintaimu. Kamu bisa memberikan Ruona pertunangan tapi kenapa kamu tidak bisa memberiku sebuah pernikahan? Kamu tahu apa yang orang lain katakan tentang aku?


Mereka bilang aku seorang perebut tunangan orang. Aku tidak ingin kata-kata manismu, aku tidak ingin kencan romantis, aku tidak ingin rumah mewah, cincin ataupun kalung. Aku hanya ingin status.


Status yang sah. Bisakah kamu memberikannya padaku? Jika bahkan kamu tidak bisa memberiku status yang sah. Sudahi semua ini.”


Liana melepas cincin yang disematkan oleh Gideon dan meletakkannya di meja. Liana langsung berbalik dan pergi.


Sementara Gideon masih terpaku di tempatnya. Ekspresi wajah Gideon membeku karena kebingungan.


Saat menyadari Liana akan membuka pintu dan pergi. Gideon buru-buru mengulurkan tangan meraih lengan Liana dan menariknya kembali.


Liana tersenyum sinis, “Ucapan yang mana yang harus aku tarik?”


“Tentang kamu menyudahi semua ini. Liana kamu dilarang untuk menyudahi semuanya. Kamu dilarang meninggalkanku!”


“Apa maksudmu? Apakah aku harus menjadi selingkuhanmu? Apakah aku harus menjadi simpananmu?”


“Kamu adalah wanitaku bukan selingkuhan ataupun simpanan!”


“Wanitamu? Apakah aku satu-satunya.”


“Kamu adalah satu-satunya.”


“Bagaimana caramu untuk membuktikan bahwa aku adalah satu-satunya?”


“Aku akan memberimu status yang sah.”


Liana langsung tertegun. Bibir Gideon langsung ******* bibir Liana. Menciumnya dengan gairah menggebu seolah membuktikan bahwa dia begitu mencintainya. Bahwa dia akan melakukan apa pun untuk membahagiakannya.


Lidah Gideon meneguk rasa manis. Bibirnya melekat pada bibir Liana ketika ia berbisik, “Aku akan memberimu status yang kamu inginkan. Aku bisa memberimu apa yang kamu inginkan kecuali meninggalkanku.”


.........


Saat ini Gideon sedang menatap Liana yang sedari tadi terus melihat buku pernikahan mereka.


Setelah melewati drama yang panjang, pada akhirnya Gideon membawa Liana untuk mendaftarkan mereka. Meskipun tidak ada pesta mewah dan gaun mewah. Liana benar-benar bahagia.


“Apakah akta nikah itu lebih berharga daripada aku?” ucap Gideon sesal.


“Tantu saja,” ucap Liana.

__ADS_1


Gideon yang kesal langsung memukul pelan bokong Liana. Ya, mereka sekarang berada di kamar mereka. Mereka berdua sedang dalam ranjang yang sama.


Posisi Liana yang tengkurap bertumpu pada kedua sikunya dan kakinya. Sementara Gideon sedang bersandar di sandaran ranjang sehingga Gideon dengan lancar melancarkan aksinya.


Gideon kembali diacuhkan dan pria itu benar-benar tidak tahan lagi. Gideon langsung memosisikan dirinya di samping Liana.


“Kamu sepertinya bahagia,” ucap Gideon. Tangannya menyentuh surai Liana.


“Tentu saja,” ucap Liana dengan senyum yang merekah.


Menakjubkan dan sempurna itulah hal pertama yang ada di pikiran Liana saat pertama kali melihat buku pernikahannya.


“Aku tidak mengerti.”


“Apa yang kamu tidak mengerti?”


“Kenapa kamu begitu menginginkan akta nikah? Bukankah hatiku sudah cukup untukmu?”


“Hatimu saja tidak cukup.” Mata Liana menyipit.


“Kamu tidak percaya padaku?”


“Gideon, bagaimana kalau kamu berada di posisi seperti ini. Gideon, aku mencintaimu. Tapi aku tidak memberimu status yang sah. Suatu saat nanti aku menikah dengan pria lain tapi kamu harus percaya bahwa hatiku hanya untukmu dan tidak ada hubungannya dengan dia. Meskipun Damian memanggilnya ‘Ayah’ tapi kamulah ayah kandungnya. Apakah itu baik-baik saja.”


Wajah Gideon langsung membeku dan menjadi gelap.


“Itu tidak bisa diterima.”


“Kenapa kamu tidak bisa menerimanya? Bukankah kamu sebelumnya menganggap status itu tidak penting.”


“Liana cukup!”


Gideon kesal dan ia merasa menjadi pria yang bodoh. Gideon langsung mengambil buku nikah mereka dan menaruhnya di laci.


“Aku lapar.”


Liana langsung mengganti posisi menjadi terlentang. “Bukankah kita baru saja makan.”


Tangan hangat Gideon langsung masuk dibalik piyama Liana.


“Apa yang kamu lakukan?”


Tangan Liana langsung menghentikan aksi Gideon.


“Aku bilang aku lapar dan saat ini aku ingin memakanmu.”


“Kamu! Apa yang kamu pikirkan sepanjang hari huh?” tanya Liana jengkel dengan sikap Gideon pervert.


“Aku berpikir tentang bagaimana memakanmu.”


“Dasar,” Liana mencubit gemas pinggang Gideon.


“Aish, sakit sayang.”


“Gideon, aku ingin bertanya.”


“Jangan sekarang.”


“Gideon!”


“Baiklah apa yang ingin kamu tanyakan?”


Liana langsung mengubah posisinya menjadi berbaring.

__ADS_1


“Berbaringlah,” ucap Liana. Gideon pun ikut berbaring dengan tangan mengunci pinggang Liana.


__ADS_2