Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
59. Permintaan Maaf


__ADS_3

Mata Gideon langsung berkilat. “Apa katamu?”


Liana mengangkat kepalanya dan dengan berani menatap mata pria yang dingin itu.


“Aku bilang, dia layak mendapatkan itu dan akan jauh lebih baik jika tangannya benar-benar patah.”


“Berhenti berbicara!”


“Apakah kalian hanya memiliki hubungan antara keponakan dan paman?”


“Tarik ucapanmu,” ucap Gideon dengan dingin.


Merasa sedih dan marah secara bersamaan. Liana mencengkeram selimutnya dengan erat.


“Aku harus menarik kataku yang mana? Yang mengatakan kamu mempunyai hubungan dengan keponakanmu sendiri atau aku yang menyumpahi keponakan tersayangmu itu?”


“Tarik kembali kata-katamu.”


“Dia pantas mendapatkannya.”


“Aku tidak akan mengulanginya untuk ketiga kalinya. Kesabaranku ada batasnya.”


Liana terdiam dan teguh pada pendiriannya.


“Aku pikir kamu adalah wanita yang memiliki pikiran dewasa. Aku tidak berharap bahwa kamu menjadi sangat tidak masuk akal."


“Apakah kamu akhirnya mengenalku sekarang? Aku adalah wanita yang tidak mempunyai pikiran yang dewasa. Aku adalah wanita jahat. Aku adalah wanita yang tidak berperasaan.”


“Liana!” geram Gideon.


“Karena kamu sangat mencintainya, maka aku akan mengembalikan tangannya yang aku patahkan. Apakah kamu puas?”


Liana langsung bangkir berdiri di samping nakas. Ia mengambil sebuah vas yang terbuat dari kayu dan langsung memukulkan vas itu ke tangannya sendiri dengan kekuatan.


Terlalu terkejut dengan tindakan Liana, Gideon segera berjalan ke sisinya dan meraih tangannya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?”


Saat tubuh Liana tersiram oleh sinar lampu di atas nakas. Ia merasa terluka dan marah ketika matanya mendarat di bahunya. Ada beberapa tanda di sana.


Gideon langsung menarik pakaian Liana dan menemukan bekas garis berdarah yang tampaknya disebabkan oleh kuku yang panjang.


“Apa ini?” tanya Gideon.


Liana menyentak tangan Gideon yang memegangnya namun Gideon langsung memeluknya. Ia mengabaikan Liana yang berusaha keras menjauhkan tubuhnya.


Saat keadaan lebih tenang. Lampu di kamar segera dinyalakan dan dengan itu Gideon mampu melihat bekas goresan di lengah, siku, lutut.


“Siapa yang melakukan semua ini?”


Liana yang duduk di tepi ranjang hanya menundukkan kepalanya dan mengabaikan Gideon. Ia mempertahan kebisuannya.


Gideon melihat ke seluruh tubuhnya, ketika Liana hanya diam. Gideon mengangkat dagunya dan menelisik wajah Liana.


Segera ia menemukan jejak bengkak yang tidak biasa di pipinya. Tanda kuku tersembunyi di bawah rambutnya dan tengkuknya.


Tatapan Gideon berubah tajam dan dingin. Saat itulah Gideon melihat robekan kecil di sudut bibirnya.


Gideon secara kasar menebak apa yang sebenarnya terjadi.


Pria itu sangat frustrasi karena Liana tiak memberitahunya jika dia terluka.


“Apakah dia yang melakukannya? Jawab aku!” Gideon menatap Liana dengan mata yang menusuk.


Keras kepala Liana berada di puncak. Ia mendorong tubuh Gideon. “Apa hubungannya denganmu?”


“Sial!” Gideon lebih marah lagi. “Ia meraih tangan Liana dan menariknya ke pelukannya. “Jangan bilang begitu. Jangan menangis. Aku salah sebelumnya.”


“Dia datang ke rumah dengan Ruona dan juga lelaki aneh. Mereka menampar wajahku. Dia mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menyinggung keluarganya. Dia memintaku untuk bersujud. Apakah kamu juga memintaku untuk bersujud padanya dan meminta maaf?”

__ADS_1


“Tidak! Tidak! Maafkan aku.”


Liana meringkuk dan membenamkan diri di dada Gideon. Gideon memeluknya dan dapat merasakan napas hangat dan air mata yang meleleh deras.


“Ini salahku karena membentakmu sebelum aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jangan menangis.”


Kata-kata Gideon penuh dengan rasa bersalah dan kelembutan.


...♡♡♡...


“Jangan bergerak.”


Liana merasakan tangan Gideon di badannya. Lembut.


“Liana, jangan bergerak. Kumohon.”


“Apa yang kamu lakukan?”


“Aku ingin melihatnya.”


Suaranya halus menyenangkan. Tubuhnya yang terkena goresan halus terasa nyeri.


“Kamu harus diam tak bergerak sampai aku selesai, Liana.”


Gideon sedang mengoleskan salep di seluruh badan yang terkena cakaran kuku tajam. Ia juga mengoleskan salep di sudut bibir Liana.


“Selesai.”


Tatapan mereka beradu. Ada kekhawatiran di sana tapi juga kemarahan. Gideon merasakan segalanya sekarang.


Liana memejamkan mata. “Apakah kamu tahu bahwa keponakanmu menyukaimu?”


“Hm.”


“Apakah kamu tahu tentang itu?”


“Iya.”


"Apakah kamu cemburu?”


Liana menolak untuk menjawabnya.


“Jawab aku!”


“Jangan berlebihan. Aku tidak cemburu lagi pula banyak pria juga yang menyukaiku."


"Liana."


Mengangkat kepalanya, Liana langsung menatap wajah Gideon yang rupanya jarak mereka begitu dekat.


“Ya banyak pria yang menyukaimu. Aku, dan kedua putra kita. Bukankah itu terlalu banyak.”


Gideon dengan lembut menanamkan ciuman di bibirnya dan tempat di sudut yang terluka sebelum bergerak untuk mencium dahi hidung, pipinya dan akhirnya bibirnya lagi.


Ciuman mereka semakin dalam lalu Gideon melepaskannya karena sekarang yang dibutuhkan oleh Liana adalah istirahat.


Liana berbaring dan siap tidur. Namun ia melihat Gideon hendak pergi.


“Kamu ingin kemana?”


“Aku akan pergi sebentar.”


“Kamu akan meninggalkan istrimu saat terluka.”


Gideon membeku di tempatnya sambil menatap wajah Liana lekat.


“Tidak akan.”


Dengan itu, Gideon berbaring di samping Liana. Liana tersenyum saat melihat Gideon berbaring di sampingnya lalu wanita itu membalikkan tubuhnya membelakangi Gideon.

__ADS_1


“Apakah kamu membelakangi suamimu saat tidur?”


“Aku lebih suka posisi seperti ini. Aku merasa lebih aman,” ucap Liana.


Gideon yang berada di belakangnya langsung mengeratkan pelukannya.


“Aku akan melindungimu dan membuatmu merasa aman.”


Pertengkaran yang absurd itu membuat Liana lelah dan ia langsung jatuh terlelap.


Setelah menutupinya dengan selimut, Gideon meninggalkan kamar.


Damian ingin melihat ibunya saat di lorong ia berpapasan dengan ayahnya.


“Apakah ibu sudah tidur?”


Gideon mengulurkan tangan dan dengan lembut menggosok rambut Damian.


“Dia tertidur. Jangan mengganggunya. Biarkan dia istirahat.”


“Iya.” Damian mengangguk lalu bertanya, “Ayah, apakah kamu tahu kejadian siang ini?”


“Ya.”


“Apakah ayah akan menanganinya?”


“Tentu.”


“Aku percaya pada ayah.”


Segera malam itu juga Gideon mengendarai mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata.


Ia mengenakan airpodsnya dan menelepon seseorang.


“Apa kamu tidur?”


“Belum, aku tidak bisa tidur karena aku merasa kesal.”


“Apakah tanganmu lebih baik sekarang?”


“Tanganku terkilir, meskipun sudah mendapatkan perawatan namun masih terasa sakit.”


“Kakak, apakah kamu tahu? Liana itu—“


“Aku sudah tahu apa yang terjadi siang ini.” Gideon


menyelanya. “Kamu terlalu berlebihan.”


“Aku... kakak Gideon, apa maksudmu?”


“Aku sangat marah dengan apa yang terjadi siang ini. Aku tidak berharap kamu mengulanginya ke depan. Kamu masih muda jadi gampang terpengaruh. Apakah Ruona yang menyuruhmu?”


“Kakak...”


“Aku tidak berkewajiban untuk menghukummu karena aku bukan orang tuamu. Tapi kamu harus meminta maaf padanya.”


“Untuk apa? Kenapa aku harus meminta maaf padanya? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!” terdengar suaranya yang marah dan kesal.


“Tidak bersalah? Ternyata orang tuamu terlalu memanjakanmu. Ingat ini baik-baik, meskipun aku baik padamu tapi ada beberapa orang yang tidak bisa kamu sentuh. Aku akan membiarkannya kali ini tapi tidak untuk kedua kalinya.”


Dengan itu sambungan telepon langsung diputus secara sepihak.


“Beraninya dia!”


Di tempat lain, setelah memutuskan sambungannya Inge langsung melemparkan ponselnya dan langsung menenggelamkan kepalanya ke bantal.


Gadis itu menangis. Ia tidak mau dan tidak sudi meminta maaf pada Liana.


Karena Inge tumbuh dengan cara dimanjakan, ia menjadi angkuh dan sombong. Jadi ia tidak ingin merendahkan dirinya di hadapan orang lain, apalagi untuk rakyat jelata.

__ADS_1


“Big no!”


__ADS_2