Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
12. Darah Keturunan Cross


__ADS_3

Liana mengaduk-aduk minumannya sambil berpikir. Ia terkadang mengernyitkan dahinya terkadang ia juga memanyunkan bibirnya.


Berbagai ekspresi ia tampilkan sebagai wujud suasana hatinya yang bergejolak.


“Suah, sepertinya aku harus ke toilet.”


“Ya.”


Saat Liana berdiri dan berbelok ia tak sengaja menabrak seorang wanita. Akibatnya wanita itu tersiram oleh minuman yang ia bawa.


Liana terkejut dan langsung meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.


“Maafkan aku, itu kesalahanku.”


“Kamu!” wanita itu terlihat sangat marah melihat pakaiannya basah. “Apa permintaan maafmu membuat bajuku bersih kembali?”


“Aku benar-benar minta maaf. Aku bisa mencucinya jika kamu mau.”


Wanita itu memandang wajah mengejek pada Liana.


“Apakah jika kamu mencucinya noda kopi ini akan hilang? Kamu tahu berapa harga baju ini? Bahkan harga dirimu tak mampu menyaingi harga bajuku!”


“Hei nona jaga bicaramu!”


Suah tiba-tiba marah pada wanita itu.


“Siapa kamu? Aku tidak ada urusannya denganmu.”


“Tentu saja kita punya urusan. Kamu baru saja menghina temanku.”


“Ah kamu temannya orang ini. Wah tentu saja, orang bodoh berteman dengan orang bodoh.”


“Kamu! Berani mengataiku bodoh.”


Suah langsung berdiri dan menampar wanita itu.


Pa


“Kamu berani menamparku!”


Liana langsung terkejut. “Suah, berhenti.”


“Kamu!”


Wanita itu langsung menjambak rambut Suah. Suah juga menjambak rambut wanita itu. Sementara Liana berusaha memisahkan kedua wanita tersebut.


“Berhenti.”


“Liana jangan menghalangiku untuk memberinya pelajaran.”


Suah tidak ingin Liana terlibat dalam adu duel ini, sehingga ia mendorong Liana ke samping namun karena ia tak siap ia kehilangan pijakannya dan bergerak mundur.


Duk.


Liana seperti menghantam dada yang kokoh. Liana mengerutkan alisnya dan mendongak.


Suara kekacauan yang bising tiba-tiba berhenti menjadi sunyi seolah waktu telah dibekukan.


Liana memandang Suah dan wanita itu bergantian. Wanita itu secara perlahan melepaskan tangannya dari rambut Suah begitu pula sebaliknya.


Liana mengangkat kembali wajahnya dan pria tampan dalam diam.


“Gideon.”


Semua orang tertuju kepada Liana yang masih dalam dekapan Gideon. Liana berdehem sebelum membenarkan posisi berdirinya.


Gideon meluruskan tangannya dan memperbaiki lengan bajunya tanpa kata.

__ADS_1


Sudut bibirnya perlahan melengkung dengan penuh makna.


Liana tidak nyaman setiap kali mata Gideon jatuh pada tubuhnya. Liana mundur dan hendak melarikan diri.


“Berhenti.” Suara Gideon begitu dingin dan dalam.


Seperti magnetis, langkah Liana berhenti di tempatnya. Ia lantas melihat ke belakang.


“Apa yang kamu inginkan?”


“Apakah itu caramu mengabaikan seseorang?”


“Maaf, kita tak saling kenal.”


Gideon merasa lucu dengan sikap Liana. Gideon mendekati Liana beberapa langkah dan ia bahkan mendekatkan wajahnya menatap dalam mata Liana dengan tersenyum lebih dalam.


“Tak saling kenal? Kita bahkan tidur bersama.”


Tubuh Liana kaku untuk sementara.


“Pak Gideon, bagaimana bisa kamu tidak punya rasa malu?”


Semua orang di sekitar mereka mulai membicarakan mereka. Desas-desus mulai berkeliaran. Semua orang ingin mengetahui identitas Liana karena Liana berani tidak menghormati Gideon namun Gideon tidak marah sekalipun.


Orang-orang Gideon yang berada di belakangnya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


“Apakah presdir kita mempunyai perasaan khusus terhadap gadis ini?”


“Bukankah Presdir kita tidak pernah tertarik pada wanita mana pun. Presdir selalu menjadi pria berdarah dingin.”


Semua karyawan dan orang yang bekerja di bawah Gideon menamai pria itu berdarah dingin. Itu bukan alasan.


“Bukankah Presdir kita sudah mempunyai tunangan.”


“Tapi mereka hidup terpisah. Ada rumor yang mengatakan bahwa tunangannya tidak subur dan ibu tuan muda kecil Daniel adalah orang lain.”


“Apa yang kalian bicarakan? Jika Presdir mendengar, kalian akan di pecat.”


“Ikut denganku.”


“Tidak.”


Liana menolak namun Gideon langsung menariknya.


“Lepaskan aku.”


Gideon melewati pengawalnya dan berbisik, “Berikan kompensasi untuk wanita itu.”


“Baik.”


Saat di depan pintu mobil Gideon, Liana melihat peluang untuk melarikan diri. Ia menggigit lengan Gideon dengan kuat dan berhasil melarikan diri.


“Jangan pernah bertemu denganku lagi!”


Ekspresi Gideon dingin namun berangsur-angsur berubah. “Gadis nakal.”


Gideon masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke perusahaannya.


Dengan waktu singkat, ia sudah duduk dengan kuasa di kursi empuknya. Tangannya memegang pena dan memukul-mukul meja dengan pelan. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang di sana.


“Presdir memanggilku.”


Saat Johan mengetuk pintu dan berdiri di depannya. Gideon menyandarkan punggungnya di kursi sambil menatap Johan dingin.


Sepasang mata elang yang siap memangsa tiba-tiba mengacaukan Johan dalam kegugupan.


Johan tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah. Bahkan ia tidak bisa menatap Gideon seperti biasa. Yang ia lakukan hanyalah menunduk.

__ADS_1


“Sudah berapa tahu kamu bekerja denganku?”


Jiwa Johan terguncang saat bosnya melontarkan pertanyaan itu.


“Sekitar lima tahun.”


“Aku menyerahkan posisi padamu karena kamu memiliki keterampilan yang bagus dan kamu berkata tidak akan mengecewakanku.”


“Ya, aku akan melayani Presdir dan berjanji akan setia pada Presdir.”


Gideon mengangguk dan menatap Johan lalu tangannya membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah foto di sana.


Ia menyerahkannya pada Johan. Johan langsung mengambil foto tersebut dan melihatnya.


Saat Johan melihatnya ia merasa bahwa foto anak kecil di sana sangat mirip dengan Gideon.


Foto ini dikirimkan ke Simon oleh detektif yang kakeknya sewa. Begitu kakeknya mendapatkan foto itu, dia langsung bergegas menemui Gideon.


Gideon awalnya terkejut melihat foto tersebut. Ia sama sekali tidak ada keraguan bahwa anak yang berada foto tersebut adalah darah dagingnya.


Namun melihat Liana menyembunyikannya darinya ia memberikan perintah kepada Johan untuk lebih menyelidiki Liana.


Gideon menatap Johan dengan tatapan dalam. Tatapan itu tanpa ampun. Tentu saja Johan ketakutan. Ia takut jika Gideon mengetahui bahwa ia sudah menghianati kepercayaannya.


“Johan, pergi dan selidiki anak ini. Berikan aku laporan yang memuaskan.”


Johan dengan gugup keluar dari kantor Gideon. Ia baru saja dapat bernapas lega namun ia kembali merasa tercekik saat ia diseret di kantor asisten.


“Nyonya.”


“Apa yang dia katakan padamu? Apakah kamu memberitahukannya?”


“Presdir menyuruhku untuk kembali menyelidiki sepenuhnya identitas Liana.”


“Jangan! Apakah kamu ingin melihatku mati.”


“Nyonya, aku sudah menghianati Presdir. Aku tidak ingin menghianati Presdir lagi.”


Mendengar itu, Ruona gemetar. Ia seakan-akan tenggelam dalam dasar laut dan satu-satunya harapan adalah Johan.


“Jika kamu tidak mengatakannya, dia tidak akan tahu.”


“Tapi bagaimana jika anak itu benar-benar darah daging Presdir.”


Ruona langsung menatap Johan. Jika itu benar, Damian akan dianggap sebagai pewaris dan penerus keluarga Cross dan juga CGI Corp.


Ruona berbalik dan menunduk.


“Itu semua salah wanita itu. Dia melahirkan dua putra untuk keluarga Cross. Ini menempatkanku pada posisi yang sangat buruk.”


Johan mengernyitkan dahinya karena ia tidak begitu jelas dengan apa yang Ruona gumamkan.


“Aku tidak bisa memberikan keluarga Cross keturunan. Aku tidak punya pion untuk menjaga posisiku sebagai Nyonya Muda Cross. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. Itu semua berkat kakek. Gideon berjanji menikahiku itu semua berkat kakek.


Tapi sekarang kesehatan kakek semakin lemah. Jika kakek tidak ada, aku tidak menjamin aku bisa berada tetap di posisiku.


Jika kakek tahu identitas Damian. Tidak! Jika kakek mengetahui bahwa aku mencurinya darinya. Jika kakek tahu aku seorang penipu. Tidak!”


Ruona menutupi wajahnya dengan panik.


“Nyonya, kamu tidak apa-apa?”


Ruona langsung berbalik dan memohon pada Johan.


“Jangan menyelidikinya kembali. Jika kamu melakukannya, sama saja kamu telah membunuhku.”


Air matanya jatuh dan ia mulai memegang tangan Johan bahkan Ruona bersandar pada dada Johan.

__ADS_1


“Johan tolong aku.”


Jantung Johan berdetak kencang dan ia mulai menelan ludahnya sendiri.


__ADS_2