
Langit mulai gelap tapi suasana di luar sana masih padat dan ramai. Lampu pijar dan gedung-gedung tinggi yang memancarkan warna seolah memberikan kesan indah di malam hari.
Gideon berdiri di depan kaca tembus pandang dan mengamati suasana malam dengan damai. Lampu kantornya dibiarkan remang-remang memberikan kesan yang misterius.
Ia menatap kosong pada malam yang sibuk di kota. Alisnya saling bertautan seperti sedang memikirkan sesuatu.
Di tempat lain Ruona berada di cafe bersama Daniel. Mereka membeli berbagai makanan.
“Mama, aku ingin yang itu.”
“Baiklah.”
Ruona langsung memesan makanan yang diinginkan Daniel. Ruona selalu memanjakan Daniel. Bukan tanpa alasan Ruona memanjakan Daniel.
Ruona memanjakan Daniel karena dia adalah penghubung antara dirinya dan juga Gideon.
“Daniel, setelah ini ayo kita ke kantor ayah.”
“Baik.”
Mereka pun pergi ke perusahaan Gideon. Ruona menyuruh Daniel untuk menunggunya di luar sementara ia masuk terlebih dahulu menemui Gideon.
Ruona perlahan membuka pintu kantor Gideon. Ia melihat sosok tinggi menjulang sedang berdiri membelakanginya. Punggungnya tegak dengan bahu yang lebar. Ingin rasanya Ruona bersandar di sana dan bermanja-manja.
Namun Ruona tahu itu adalah hal yang mustahil dan sulit untuk diwujudkan. Meskipun banyak orang yang mengetahui bahwa mereka sudah bertunangan dan Ruona sudah dipastikan menjadi istrinya sejak mereka masih kecil.
Namun mereka bukanlah pasangan cinta yang sempurna. Gideon selalu dingin padanya dan itu membuat Ruona sangat sedih.
Ruona dengan hati-hati menaruh tasnya di sofa dan ia menghampiri Gideon. Ia berdiri di samping Gideon dan menatap lengan Gideon yang kokoh dan kuat.
“Gideon.”
Gideon melirik Ruona dengan dingin membuat Ruona bimbang apakah ia harus memegang lengan yang menggoda itu.
“Apakah kamu pulang besok malam? Kakek mencarimu.”
“Tidak.” Gideon menjawabnya dengan acuh tak acuh.
Mendengar itu Ruona menjadi sedih. Meskipun ia sudah bertunangan dan akan menjadi istrinya. Gideon selalu bersikap dingin dan sombong. Ia selalu bersikap dingin dan tak pernah menunjukkan sisi kelembutan padanya. Kecuali untuk Daniel.
Ruona tersenyum kecut. Ia mengambil langkah besar. Ruona berjalan di depan Gideon dan membuka tangannya, meletakkannya di bahu Gideon.
Mata Ruona menatap Gideon dengan penuh cinta. Dengan cepat Ruona mendekati wajah Gideon dan mendaratkan bibirnya di tepi rahang Gideon.
Gideon yang terkejut langsung mendorong tubuh Ruona.
Ruona tampak kaku di tempatnya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum pahit. Bibir Gideon adalah zona terlarangnya.
Berciuman adalah hal tabu baginya. Statusnya adalah palsu.
Ruona mengepalkan tangannya karena marah.
“Gideon, apakah kamu mencintaiku?”
Wajah Gideon tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
“Kamu sudah tahu jawabannya.”
Ruona tersenyum pahit dan merasakan kesedihan yang teramat dalam. Ruona sudah menduganya namun ia ingin mendengar dari bibir Gideon.
Ia ingin dugaannya salah tapi pikirannya selalu berkelana dalam hal yang membuatnya sakit. Jika saja kakeknya tidak menetapkan pernikahan, pria di depannya ini tidak akan melihatnya.
__ADS_1
Kakek Simon menyukaiku tapi kamu bahkan tidak melirikku.
“Aku mencintaimu. Apakah kamu benar-benar ingin hidup bersamaku?”
Memori Ruona menghantarkannya pada sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, Simon membawanya ke keluarga Cross dan memperkenalkannya pada Gideon Cross. Sejak saat itu, Gideon menjadi cinta pertamanya tetapi Gideon tidak menyukainya.
Suasana hening dan Gideon tidak berniat untuk berbicara lalu tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok bocah kecil.
“Ayah, Mama.”
Ruona melihat kehadiran Daniel dan menjadi jengkel karena bocah itu hadir di saat yang tak tepat. Bukan tanpa alasan karena memang Ruona tidak memiliki ikatan darah dengan Daniel jadi disaat pria kecil itu tak dibutuhkannya lagi. Ruona akan menatapnya dengan dingin dan kejam.
Di usianya yang ke empat tahun, Daniel memiliki sifat iblis kecil. Ia akan menjahili pembantu di rumahnya.
Namun sifat jahilnya hanya akan ditunjukkan di depan Gideon untuk menarik perhatian ayahnya.
“Daniel kemari.”
Gideon mengurangi ekspresi dinginnya.
“Ayah aku ingin drone.”
“Drone?” Gideon mengerutkan keningnya.
“Ya. Aku menginginkannya.” Daniel cemberut.
“Baiklah, ayah akan membelikannya untukmu.” Gideon memiliki jejak kelembutan yang jarang ia tampilkan.
“Benarkah? Ayah ayo nanti kita bermain bersama.”
Daniel langsung memeluk Gideon dengan girang. Daniel menikmati kehangatan seorang ayah. Sementara Ruona berdiri di samping seperti orang linglung. Ia merasakan bahwa ia tidak bisa campur tangan dengan dunia ayah dan anak.
Gideon langsung menggendong Daniel. “Baiklah.”
Gideon langsung pergi tanpa mengajak Ruona. Daniel yang menyadari bahwa Ruona tidak mengikuti mereka langsung menoleh ke arah Ruona.
“Mama, ayo.”
“Baiklah, aku akan menyusul,” ucap Ruona sambil tersenyum.
Ruona menghela napas panjang saat pintu tertutup. Ia mengambil tasnya dan berniat menyusul Gideon dan Daniel.
Saat ia membuka pintu, ia berpapasan dengan Johan
“Nyonya Presdir.”
“Ya.”
Ruona menjawabnya dengan tersenyum lembut lalu matanya melirik amplop yang dibawa Johan selaku sekretaris dua Gideon.
“Apa itu?”
“Presdir memerintahkan untuk menyelidiki sesuatu.”
“Bisakah aku melihatnya?” tanya Ruona dengan tenang.
Johan terdiam untuk berpikir.
“Aku adalah calon Nyonya Presdirmu. Barang Presdir juga barangku juga nantinya.”
Ruona langsung mengambil amplop tersebut dan membaca apa yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Ruona tampak terkejut melihat informasi dari latar belakang keluarganya, pendidikan, pekerjaan.
“Liana?”
Nama itu memberikan kesan samar pada Ruona. Di dalam informasi, Liana memiliki anak berusia empat atau lima tahun bernama Damian.
“Bukankah dia seumuran dengan Daniel.”
Hatinya tiba-tiba merasa buruk. Ruona perlahan menyipitkan matanya saat ia teringat jelas kejadian beberapa tahun yang lalu.
Ruona mengambil semua foto yang berada di dalamnya. Ia melihat foto bocah yang sangat tampan. Fitur, kontur dan penampilan sama persis dengan Daniel.
Ruona akhirnya mengkonfirmasi dugaannya. Ujung jarinya tiba-tiba mengeras.
Anak itu tidak mati? Jadi wanita itu menyembunyikannya. Anak itu jelas sudah mati, aku melihatnya sendiri. Tapi kenapa? Liana kenapa dia tidak memberitahukan padaku. Apa dia ingin memasuki keluarga Cross dengan anak ini? Dia adalah ibu kandung dari Damian dan Daniel. Dia bisa menjadi ancaman besar bagiku.
Ruona menjadi panik dan ketakutan. Wajahnya semakin pucat. Johan yang berada di depannya merasa aneh.
“Nyonya baik-baik saja?”
Ruona tersenyum dan pura-pura untuk bersikap tenang. Ia kembali membaca informasi Liana.
Jantungnya semakin berdetak saat membaca informasi Liana yang semakin jauh.
“Panti asuhan ini...”
Ingatan Ruona kembali terbang jauh ke masa lalu.
Ruona berjalan mundur dan terduduk di sofa. Jari-jarinya gemetar. Keringat dingin mulai bermunculan.
“Kenapa semua kebetulan saat ini? Kenapa saat itu, aku tidak memeriksa latar belakangnya sampai sejauh ini?”
Ruona meletakkan informasi itu di meja.
“Jika kakek tahu, aku akan kehilangan posisiku menjadi keluarga Cross. Tidak! Aku tidak mau.”
Ruona menatap Johan dengan pandangan menebak-nebak.
Apakah dia mulai meragukanku? Bahwa aku bukan pemilik sebenarnya sehingga dia menyuruh Johan menyelidikinya. Mustahil.
Ruona langsung berdiri dan meraih lembaran itu kembali.
“Jangan memberitahukan informasi tentang Damian termasuk masa lalu wanita itu. Dan juga jangan sebutkan asal-usul wanita itu yang dari panti asuhan. Apakah kamu mengerti?”
“Tapi Nyonya—“
“Apakah kamu mengerti?”
Johan tidak menjawabnya karena ia merasa bahwa bosnya adalah Gideon jadi ia tidak perlu menuruti ucapan Ruona.
“Kenapa diam? Kamu pikir karena kamu sekretaris Gideon, aku tidak bisa memecatmu. Aku bisa memecatmu karena bantuan kakek. Kamu ingin mencobanya?”
“Tidak.”
“Bagus, masalah ini kamu hanya perlu menutup mulutmu.”
Johan adalah sekretaris yang setia pada Gideon tapi ia juga tahu bahwa Ruona adalah calon menantu kesayangan Simon Cross. Ia tidak bisa menyinggungnya.
“Baik.”
Ruona pergi meninggalkan Johan yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1