Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
74. Bertukar Sandera


__ADS_3

Kevin tampak tenang meskipun Gideon terus menodongkan pistolnya. Pria itu sama sekali tidak takut. Bahkan ia masih sempat melayangkan senyum tipis di wajahnya.


“Aku tahu kamu tidak akan menembak.”


Gideon mengepalkan tangannya dengan erat. Sinar tajam melintas di mata Gideon.


“Bukankah kamu sebaiknya duduk,” ucap Kevin.


Gideon menaikkan salah satu alisnya. Sepertinya Kevin ingin bernegosiasi dengan Gideon.


“Aku terpaksa melakukannya. Orang tua inilah yang harus disalahkan bukan aku.”


“Itu bukan alasan. Dia sudah memungutmu dari jalanan.”


“Ya, aku berterima kasih padanya karena menganggapku cucunya namun dia mengingkari janjinya. Dia berjanji bahwa aku akan memiliki setengah dari sahamnya tapi apa yang terjadi pada akhirnya? Apa hasilnya? Apa karena aku bukan dari keluarganya. Aku dipandang rendah?”


“Pada dasarnya kamu memang tidak tahu berterima kasih.”


“Apa katamu? Dalam hal kemampuan, aku lebih menonjol darimu. Sebelum kamu kembali, kakek selalu memberi perhatian padaku namun saat kamu kembali. Semuanya berubah.”


Gideon terdiam.


“Apakah kamu tahu bagaimana rasanya? Mengapa hal-hal yang harus aku perjuangkan dengan sepenuh hatiku bisa diberikan kepadamu dengan begitu mudah?”


Gideon mengepalkan tinjunya dengan erat saat kemarahan membuncah dalam dirinya.


Jika Gideon tidak bisa menahan diri dengan sekuat tenaga, Gideon pasti akan menembak Kevin sampai mati.


“Apakah kamu yang membuat laporan pals tes DNA Ruona?”


Kevin meliriknya dan tersenyum miring. “Ya.”


“Tujuanmu adalah menggunakannya untuk membunuh kakek secara perlahan. kenapa kamu melakukannya?"


"Aku ingin kakek melihat kehancurannya."


Simon Cross perlahan tersadar dan melihat dengan bingung ke arah cucunya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


Gideon dan Kevin menoleh ke tempat tidur.


Simon berjuang untuk duduk dari tempat tidur.


“Apa yang kamu maksud?”


Dalam kegelisahannya, Simon melotot marah.


“Apakah kamu berencana membunuhku?”


“Benar.”


“Bagaimana bisa kamu begitu jahat?”


“Aku hanya membayar apa yang kamu lakukan di masa lalu,” ucap Kevin dengan tenang.


Simon mengerutkan alisnya begitu pula dengan Gideon.


“Apakah kamu benar-benar lupa, bagaimana kamu menghancurkan keluargaku?”


“Apa yang kamu katakan?”


“Coba ingat-ingat.”


“Aku sedang tidak ingin mendengar omong kosongmu. Apa yang kamu inginkan sebagai ganti untuk membebaskan ibuku dan kakakku. Tidak bertele-tele, sebutkan persyaratanmu,” ucap Damian.


Kevin mendengus. “Anak sepertimu tidak punya hak untuk menyela ketika orang dewasa berbicara.”

__ADS_1


“Daniel, keluar.” Perintah Simon.


Damian tetap diam di tempatnya.


“Apakah kamu tidak mematuhi perintah kakek buyutmu sekarang?” Simon kembali berucap.


“Aku akan meluruskannya. Yang berdiri di depanmu ini bukanlah Daniel,” ucap Kevin.


Damian mengangkat dagunya. Bocah itu berdiri di samping ayahnya.


Gideon memegang pundaknya putranya.


“Ayo bernegosiasi. Sudah jelas, bahwa kamu mengancamku dengan menculik mereka. Mengapa kamu tidak memilih langsung melawanku. Aku tidak punya kesabaran untuk bermain-main denganmu.”


Simon terlihat kebingungan oleh pembicaraan mereka karena ia tidak tahu bahwa Liana dan Daniel berada di tangan cucu angkatnya.


“Aku ingin bagian dari CGI Group.”


“Beraninya kamu! Apa yang kamu lakukan sekarang?”


“Diam! Ini bukan urusanmu!”


Simon dibuat terdiam.


“Baik,” ucap Gideon tanpa ragu.


Jawaban Gideon mengejutkan kakeknya.


“Apakah wanita itu sangat penting bagimu atau kamu hanya bermain-main denganku?”


“Aku tidak sepertimu yang menggunakan trik kotor.” Gideon mencibir tanpa ampun.


“Jika kamu mencoba untuk menipuku. Tunggu saja, aku akan mengirimkan mayat mereka.”


Gideon menjawab dengan dingin. “Bagaimana bisa aku mempermainkanmu ketika keluargaku ada di tanganmu.”


“Bagus, hanya dengan kamu menyerah sebagian sahammu. Kamu bisa melihatnya hidup.”


“Tentu saja mereka masih hidup.”


“Aku ingin melihatnya dengan dua mataku sendiri.”


Setelah beberapa pertimbangan, Kevin memanggil asistennya dan membisikkan sesuatu padanya.


Lalu asisten mengeluarkan ponselnya dan mulai memanggil dengan panggilan video call.


Di layar Daniel dan Liana saling memeluk.


Gideon menatap layar dengan penuh perhatian.


“Katakan sesuatu pada kamera,” ucap seorang pengawal di sana.


Damian merasakan hatinya sakit ketika melihat ibunya berusaha tetap tenang meskipun suasananya mencekam.


“Bicara!”


Liana menghindari kamera.


Gideon menatap lekat wajah Liana. Wajahnya benar-benar mengerikan. Bibirnya kering dan ada noda darah dimana-mana.


“Apakah kamu melihatnya sekarang?”


Asisten Kevin langsung mengakhiri panggilan tersebut.


“Kamu melukainya?”


“Aku hanya memberi pelajaran atas sikap keras kepalanya.”

__ADS_1


“Kapan kamu akan melepaskan mereka?”


“Setelah kamu menandatangani kontrak.”


“Apakah kamu akan benar-benar melepaskannya setelah aku menandatangani kontraknya?”


“Apakah kamu tidak percaya padaku?”


“Kamu lepaskan dulu salah satu dari mereka lalu setelah dokumen ditandatangani, kamu bisa membebaskan sisanya.”


Kevin berpikir sejenak sebelum menjawab, “Aku bisa menyetujui syarat untuk melepaskan satu sanderanya tapi seseorang harus menggantikannya.”


“Bagaimana kita akan melakukan itu?”


“Tukarkan anak ini dengan ibunya.”


“Ya,” ucap Damian.


“Tidak!” jawab Gideon.


Ayah dan anak itu menjawab pada saat yang bersamaan. Mereka saling bertukar pandang.


“Mengapa?” tanya Damian.


“Aku tidak akan melakukannya.”


“Dia bisa menggantikan ibunya sebagai sanderaku. Kedua anak itu bisa bebas setelah tanda tangan perjanjian mulai berlaku. Bagaimana?”


“Aku setuju,” jawab Damian.


“Aku tidak setuju.”


Wajah Damian berubah ketika melihat wajah ayahnya yang marah.


Di dalam mobil.


Damian menoleh ke arah ayahnya yang sedang fokus menyetir. Damian mengerutkan bibirnya dan menelan salivanya sendiri.


“Ayah...”


“Jika kamu ingin membahas tentang pertukaran sandera makan diamlah.”


“Ibu terluka...aku tidak tahan melihatnya.”


Di persimpangan jalan, mobil berhenti dengan mulus ketika Gideon menginjak rem di lampu merah. Pria itu berbalik untuk menatap Damian.


“Aku tidak bisa kehilangan ibumu dan itu juga berlaku padamu.”


“Aku mengerti, tapi ibu benar-benar—“


“Tidak berarti tidak. Ayah tidak bisa kehilangan salah satu dari kalian.”


“Ayah, percayalah padaku.”


Gideon memalingkan wajah dengan ekspresi sulit dijelaskan.


Damian tersenyum lalu ia mendekati ayahnya dan berbisik. Gideon tampak terkejut ketika mendengar rencana putranya.


Damian langsung melihat ke arah ayahnya dengan tersenyum.


“Ayah, aku tidak akan mengecewakanmu.”


Mata Gideon menunjukkan jengkel sesaat sebelum menutupinya dengan renungan.


“Berjanji padaku, bahwa kamu akan menjaga keselamatanmu.”


“Ya.”

__ADS_1


Tin tin. Suara klakson mobil dari belakang berbunyi nyaring.


“Ayah, jalan!” perintah Damian.


__ADS_2