
Sulit mengatakan siapa yang bergerak terlebih dahulu yang pasti Ruona mengambil inisiatif sendiri. Ruona melangkah mendekati Johan. Dan mereka berpelukan.
Air mata bercucuran seketika Ruona memeluk Johan. Ketakutan dan kecemasan ia limpahkan di sana. Ruona mendongakkan kepalanya.
“Jika kamu berjanji membantuku, aku akan melakukan apa pun yang kamu minta.”
Ruona langsung berjinjit dan menempelkan bibirnya pada bibir Johan.
“Ruona...”
“Jangan menolak.”
Ruona memeluk Johan kembali. Johan merasakan tubuhnya sangat panas. Setiap pria normal akan tergila-gila dan hasrat membara jika disuguhkan pemandangan seperti ini.
Johan mulai kehilangan kewarasannya dan memeluk Ruona. Ia menyelipkan tangannya di sepanjang punggung Ruona.
Ruona tersenyum di dada bidang Johan. Ia kembali mencium Johan. Desakan hasrat membuat mereka melakukannya.
Di dalam kantor asisten mereka melakukannya. Namun mereka tidak menyadari bahwa di atap sana terpasang kamera CCTV.
.........
Di pagi hari Suah sudah berada di apartemen Liana. Ia memandang Liana yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
Hanya ada lauk sederhana namun jangan meragukan rasanya karena Liana sangat pandai memasak.
“Damian, cuci tanganmu dan kemarilah untuk sarapan.”
“Baik bu.” Damian yang berada di dalam kamar bergegas keluar.
“Bagaimana hasilnya?”
“Aku gagal,” ucap Liana lesu. “Aku rasa, aku tidak berbakat di bidang itu.”
“Jangan putus asa. Pekerjaan tidak hanya menjadi artis saja. Kamu bisa melakukan pekerjaan lainnya.”
“Kamu tahu, aku sudah melamar sebanyak seratus perusahaan dan sampai sekarang tidak ada yang meneleponku untuk pergi wawancara. Apakah aku seburuk itu? Huh, hidup ini memang tidak adil.”
“Ibu, jangan bersedih. Hari ini adalah hari ini istimewa,” ucap Damian.
“Istimewa? Apakah hari ini ulang tahunku?” tebak Liana.
“Ibu, malam ini bukankah akan ada pesta. Kingston mengundangmu untuk menjadi pasangannya kan.”
Liana terkejut dan membulatkan matanya, “Kenapa kamu bisa tahu?”
Liana langsung melihat ke arah Suah. Suah yang mengerti arti tatapan Liana langsung menggelengkan kepalanya.
“Bukan aku yang memberitahukannya.”
Ibu, aku yang mengaturnya.
“Ibu, ini kesempatanmu. Pokoknya, ibu harus bekerja keras agar mendapatkan uang banyak.”
“Tentu saja ibu akan bekerja keras untuk mendapatkan uang banyak tapi ibu tidak akan pergi ke pesta itu.”
“Kenapa tidak?” Damian dan Suah bertanya dengan serempak membuat Liana melihat mereka secara bergantian.
“Tidak ada alasan khusus.”
“Ibu.”
“Liana.”
“Tidak berarti tidak. Sekarang ayo sarapan.”
Liana baru saja memasukkan beberapa suap ke dalam mulutnya lalu tiba-tiba ponselnya berdering.
“Halo.”
“Kamu ada di mana?”
“Di rumah.”
“Sekitar jam enam, aku akan menjemputmu.”
“Kingston maafkan aku tapi sepertinya aku tidak bisa pergi.”
“Kenapa?”
“Tiba-tiba tubuhku merasa tidak nyaman. Aku butuh istirahat.”
“Apakah itu parah? Apakah harus dibawa ke rumah sakit? Aku akan ke sana dan mengantarmu ke rumah sakit.”
“Tidak! Tidak! Tidak perlu. Aku hanya perlu istirahat.”
“Baiklah istirahatlah. “
“Hm.”
Liana langsung menutup teleponnya dan dua pasang mata langsung menembak ke arahnya.
“Apa? Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?”
“Ibu tahu, berbohong itu tidak baik.”
Damian melihat ke arah Liana dengan serius.
“Ya.”
“Lalu kenapa ibu berbohong?”
“Hanya sesekali tidak apa-apa jika demi kebaikan.
Saat Liana ingin mencuci piring kotor. Tiba-tiba ia mendapatkan email. Ia langsung terbelalak dan menjerit.
Suah dan Damian yang sedang bermain di ruang tengah langsung berlari menghampiri Liana.
“Ibu ada apa?”
__ADS_1
“Ibu dapat pekerjaan, sore ini. Suah, tolong jaga Damian untukku.”
“Hm pasti.”
Saat matahari mulai merangkak naik. Liana sudah siap dengan keperluannya.
“Apakah ibu akan berangkat sekarang?”
“Ya. Jangan nakal saat ibu tidak ada di rumah. Patuhi apa yang dikatakan oleh tante Suah.”
“Ya.”
“Ibu berangkat sekarang.”
“Ibu, hati-hati.”
“Ya.”
Kingston melepaskan earphone dari telinga dan kembali memusatkan perhatian pada jalanan di depannya.
“Sepertinya di sini gedung apartemennya,” gumamnya pada diri sendiri sambil menghentikan mobil di tepi jalan. Ia membuka flap ponselnya dan baru akan menekan angka sembilan ketika gerakannya terhenti.
Ia melihat Liana melalui kaca jendela mobilnya. Gadis itu sedang berjalan keluar dari gerbang apartemen dan menghentikan sebuah taksi.
Kingston memutar mobilnya untuk mengikuti taksi tersebut.
Kingston meraih ponselnya dan menekan angka sembilan. Begitu mendengar suara operator telepon, Kingston langsung menutup flap ponselnya dengan keras.
“Kenapa ponselnya dimatikan?” tanyanya kesal.
Taksi tersebut berhenti di sebuah butik terkenal. Liana tersenyum sebelum memasuki butik tersebut.
Kingston buru-buru turun dari mobilnya.
..........
“Apakah kamu Liana?”
“Ya.”
“Aku Kim, aku pemilik butik ini. Akan ada tamu penting di sini dan kebetulan ada salah satu pegawaiku yang sakit jadi aku memanggilmu.”
“Ya.”
“Liana.”
Liana langsung berbalik dan melihat Kingston ada di sana.
“Kingston?”
“King, kamu datang lebih awal.”
Kim langsung menghampiri Kingston.
“Ya,” jawab Kingston sambil melihat ke arah Liana.
“Liana, layani King.”
“Kim, bukankah kemarin aku sudah bilang bahwa aku akan datang dengan seorang wanita.”
“Ya, tapi kenapa aku tidak melihatnya.”
“Dia tepat berada di depanmu.”
Kim langsung melihat ke arah Liana dengan bingung.
“Dia...tapi dia...”
“Hari ini benar-benar sesuatu.”
Suara seorang wanita yang baru saja datang membuat mereka bertiga menoleh. Mereka melihat Ruona mengenakan gaun hitam selutut tanpa lengan. Rambutnya tergerai. Di lehernya terdapat kalung berlian. Ia tampak cantik dan elegan.
Di sampingnya, mereka melihat seorang pria. Tangannya di tempatkan di dalam saku celananya. Gayanya tampak seperti orang yang punya kuasa tinggi.
Ia terlihat begitu tenang namun ekspresinya sombong. Di tengah-tengah mereka ada pria kecil dengan menggunakan setelan jas. Wajah mungilnya terlihat sangat tampan.
Mata Liana langsung jatuh pada sosok itu. Ia menggigit bibirnya karena bibirnya bergetar hebat.
Pandangan Daniel menyapu Liana dan jantungnya tiba-tiba aneh.
Kim juga melihat Daniel merasa terkejut karena sudah lima tahun Gideon tidak pernah mengekspos anaknya.
Kim melihat Daniel dan Ruona bergantian. Ia menganggap bahwa Daniel sama sekali tidak mirip. Lalu Kim melihat Liana dan Daniel secara bergantian.
“Kenapa mereka begitu mirip? Aneh.”
“Kim.”
“Ah baik. Liana kamu bisa pergi dengan asistenku. King, aku akan menyambut mereka. Kamu tidak keberatan kan?”
“Ya.”
Kingston langsung menyentuh bahu Liana dengan tangannya dan sedikit mendorong.
“Baiklah, kita akan melihat gaun apa yang cocok denganmu.”
Saat Gideon melihat pemandangan itu. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah dinginnya.
Beberapa menit kemudian Liana keluar. Semua mata tertuju padanya tanpa kecuali Gideon.
Liana mengenakan gaun panjang dengan lengan off shoulder berwarna merah. Liana tampak cantik dan elegan. Ia seperti putri cantik.
Ia seperti bunga mawar dengan rok panjangnya.
Bibir Gideon tak bisa menyembunyikan ketertarikannya.
“Kamu benar-benar cantik dengan baju ini.”
Daniel yang berdiri di samping Gideon juga sampai tak bisa berkedip. Ruona yang melihat gaun itu juga tampak terpesona.
__ADS_1
Ia seperti seorang ratu.
Ruona langsung mencengkeram gaun yang sebelumnya ia pegang.
“Kim.” Ruona berteriak memanggil Kim.
“Ada apa nona Ruona?”
“Kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Ruona sambil menunjuk Liana dengan dagunya.
“Oh dia datang ke sini sebagai partner King.”
Ruona yang mendengarnya langsung tercengang. Sementara Gideon rahangnya langsung mengeras.
Gideon melihat Liana dengan dingin. Di dalam dirinya ada suatu ketidakbahagiaan. Terutama ketika Liana berdiri di samping Kingston.
“King, apakah kamu membelikan gaun itu untuknya?” tanya Ruona.
“Ya, aku melihat gaun ini dan merasa ini sangat bagus. Aku pikir, Liana akan cantik memakai ini dan lihatlah. Bukankah Liana sangat cantik dengan gaun ini,” ucap Kingston sambil merapikan anak rambut Liana.
Ruona sangat marah. Ia sangat menginginkan gaun itu.
“Lepaskan gaun itu!"
“Kenapa?” tanya Liana
“Kamu tanya kenapa? Toko ini adalah milik tunanganku. Jadi kamu mengerti maksudku.”
“Tapi aku yang membelinya,” ucap Kingston.
“Aku tidak ingin menjualnya.”
“100 juta. Aku akan membelinya seratus juta.”
“King.” Liana memperingatkan Kingston.
“Kenapa? Aku suka melihatmu memakai gaun ini.”
“Aku tidak menjualnya.”
Suara dingin itu muncul dari bibir Gideon. Ia dengan malas duduk di sofa sambil melihat Liana.
Kingston menatap dingin Gideon. Jelas-jelas pria itu sedang memprovokasi nya.
“Bukankah ini toko pakaian tapi kamu bilang tidak menjualnya?”
Gideon perlahan berdiri. “Menjual atau tidak itu adalah hakku.”
Semua otot Kingston menjadi kaku. Ia sangat marah saat ia ingin mengatakan sesuatu Liana meraih lengan bajunya.
“King, aku sangat menghargaimu membelikannya gaun ini. Tapi aku pikir aku tidak cocok menggunakan gaun ini.”
“Liana, kamu tidak perlu takut. Gaun ini sangat cocok untukmu. Kamu terlihat sangat cantik.”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Kalau begitu aku akan melepaskannya.”
“Liana.”
“King, Ruona adalah tunangan Gideon. Jadi tentu saja dia tidak akan membiarkan wanita lain terlihat paling cantik di pesta malam ini. Itu alasan bahwa gaun ini tidak dijual.”
Liana tersenyum dan berbalik menuju ruang ganti. Gideon melihat punggung Liana. Matanya yang dalam perlahan menyipit dan melintas dalam makna yang dalam.
Kim yang melihat Liana ke ruang ganti langsung menyambar gaun berwarna putih ke biru ombre satin dan organza V-cutt.
Kim juga memperbaiki riasan dan juga rambut Liana.
“Kamu sangat cantik.”
Liana tersenyum pada Kim. “Terima kasih.”
Liana memegang roknya dan keluar dari kamar ganti. Ia sekali lagi menarik semua perhatian orang.
Mata Kingston bahkan lebih takjub. Bahkan Daniel yang bersandar di lengan Gideon tidak bisa mengatakan kata lagi.
“Liana.”
Liana tersenyum. “Orang yang terlahir cantik tidak bergantung pada aksesoris dan gaun yang mahal.”
Tak lama kemudian Ruona muncul dengan gaun yang dikenakan Liana tadi. Namun aura baju itu tiba-tiba redup.
Saat gaun itu dipakai Liana. Dia benar-benar cantik. Leher dan garis selangkanya terlihat sangat anggun. Namun itu tidak cocok untuk tubuh Ruona yang mempunyai dada besar dan penuh.
Gideon yang melihatnya langsung jijik.
“Ma, gaun itu tidak cocok untukmu.” Daniel berseru.
Wajah Ruona yang semula semringah langsung tertekuk namun ia mencoba mengabaikan perkataan Daniel.
Ruona langsung menatap Gideon.
“Bagaimana menurutmu, Gideon?”
Gideon perlahan mendongak dan menatap Ruona.
“Ganti.”
Wajah Ruona menjadi kaku dan jelek.
“Kenapa? Apa karena aku tidak terlihat lebih cantik darinya?”
“Aku memberimu waktu lima menit untuk menggantinya.”
“Tidak! Aku tidak akan melepaskan gaun ini. Aku menyukainya.”
“Jangan menguji kesabaranku.”
__ADS_1
Ruona berbalik dan berjalan ke ruang ganti. Ia benar-benar dipermalukan. Untung saja Liana dan Kingston sudah pergi.
Jika tidak, dia ingin mati.