Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
83. Hari Pernikahan


__ADS_3

“Tarik napas dalam-dalam ibu,” ucap Damian.


“Sudah aku lakukan.”


“Ibu terlihat sangat cantik,” ucap Daniel.


Liana hanya tersenyum tipis karena kegugupannya. Liana berkonsentrasi menarik napas, menghitung setiap gerakan paru-parunya.


“Ibu, aku akan melihat ayah sekarang.”


“Ya.”


Daniel langsung berlari ke ruang dimana ayahnya berada.


Liana memandangi pantulannya sendiri dan bayangannya sendiri membuatnya panik.


“Ibu, bukankah hari ini adalah hari yang ibu tunggu-tunggu.”


“Damian.”


“Ibu, aku berharap ibu akan bahagia.”


Damian langsung berjalan menuju ke nakas untuk mengambil buket bunga warna putih. Aroma mawar putih, orange blosom menyergap hidung lembutnya.


“Ayo ibu.”


Liana memegang tangan Damian dan mulai keluar. Suara samar dari alunan musik piano terdengar dari bawah dan Liana kembali sesak.


Damian yang berjalan di samping Liana, menoleh ke arah ibunya dan mencengkeram kuat pergelangan tangan Liana.


Liana langsung menoleh dan melihat Damian.


“Tenang ibu. Ayah, menunggumu di bawah.”


Liana menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri agar tenang.


Alunan musik perlahan-lahan bermetafora menjadi lagu baru.


Musik terdengar lebih keras di lorong. Melayang ke atas tangga bersama aroma sejuta bunga.


Saat ini bawah Gideon dan Damian menunggunya di bawah.


Musik wedding terdengar sangat menyentuh dan romantis.


Liana dan Damian mulai menuruni tangga dengan langkah lambat dan anggun.


Musik tiba-tiba menggema lebih megah dan anggun.


“Ibu, hati-hati. Jangan sampai jatuh.” Tangan Damian menggenggamnya erat-erat.


Melangkah satu-satu, kata Liana saat mereka menuruni tangga seirama dengan tempo musik yang lambat.


Liana tidak mengangkat matanya sampai kedua kakinya aman menjejak lantai dasar, walaupun Liana bisa mendengar gumaman dan suara-suara bergemeresik para tamu begitu Liana muncul.


Darah Liana mengalir deras ke arah pipinya mendengar suara itu. Wajahnya merah padam.


Begitu kaki Liana meninggalkan tangga. Ia mencari keberadaan Gideon. Selama sedetik perhatiannya sempat teralihkan oleh hiasan bunga-bunga dan pita.


Liana mengalihkan matanya dan mengedarkan pandangannya ke deretan kursi berlapis kain satin. Liana memandangi ke kerumunan dan semua tamu terfokus pada Liana.


Sampai Liana akhirnya menemukan Gideon berdiri di depan lengkungan yang berlimpah hiasan bunga dan pita.


Liana nyaris tidak menyadari kehadiran Daniel yang juga berdiri di samping Gideon.


Liana terus memandangi wajah Gideon. Wajahnya memenuhi mata Liana dan pikirannya.


Matanya lembut dan berkilauan bagai emas membara. Gideon tersenyum-senyum bahagia yang membuat napas Liana tercekat.


Gideon mengulurkan tangannya. Damian mengulurkan tangan ibunya ke tangan ayahnya.


Daniel mengangguk sebagai kode lalu Damian dan Daniel duduk di kursi paling depan.

__ADS_1


Janji setia mereka disaksikan oleh Tuhan. Liana menatap mata Gideon yang memancarkan sorot kemenangan karena tidak ada hal yang berarti kecuali bahwa dia bisa bersamanya.


Liana mengerjap-ngerjapkan untuk menyingkirkan air matanya yang akan jatuh.


Semua mengatakan sah untuk mereka berdua sebagai pasangan suami-istri. Kemudian kedua tangan Gideon mengangkat kedua tangannya, merengkuh wajah Liana dan mencium kening Liana lalu kedua kelopak mata Liana dan mencium bibirnya.


Gideon yang memulai mencium Liana dan ia juga yang mengakhirinya. Saat terdengar kata godaan dan deheman para tamu.


Para tamu bersorak dan Gideon memutar tubuh Liana sehingga menghadap ke arah teman-temannya dan kolega Gideon. Liana tak mampu mengalihkan pandangannya darinya.


Damian dan Daniel langsung berlari memeluk ibunya.


Pernikahan beralih dengan mulus ke pesta resepsi. Suasana sedikit mereda, rileks saat malam.


“Selamat untuk kalian.”


Ucapan itu terdengar dengan indah dari mulut para tamu.


“Selamat Liana.”


Semua tamu berbaris antre untuk memberikan selamat.


“Selamat Presdir.”


Gideon mengangguk kepada koleganya.


“Izinkan aku memperkenalkan kalian pada istriku.”


Untuk pertama kalinya Gideon memperkenalkan Liana sebagai istrinya pada orang lain sejak mereka menjadi suami-istri.


“Liana.”


Liana langsung mendongak dan melihat Simon berdiri di depannya dengan menggunakan tongkat sebagai penopang tubuhnya yang ringkih.


“Liana, maafkan kakek dan selamat datang di keluarga Cross.”


Simon tersenyum, senyumannya sedikit muram.


“Keluarga Cross sekarang sudah lengkap. Kakek senang.”


“Ka-kakek,” ucap Liana terbata-bata.


Simon langsung memeluk Liana.


Ketika musik mulai mengalun, Gideon langsung melihat ke arah kakeknya. Pria itu berdehem.


“Kakek, bisakah aku membawa istriku sekarang.”


“Ah, benar.”


Gideon menarik Liana ke dalam pelukannya untuk berdansa. Liana menurut dan walaupun sebenarnya takut berdansa. Apalagi di depan orang banyak. Bahagia dalam pelukan Gideon.


Gideon yang melakukan semuanya dan Liana berputar mulus di bawah sinar lampu-lampu dan kilatan lampu-lampu blitz.


“Menikmati pesta, mrs. Cross?” bisik Gideon di telingaku.


“Aku tidak menduga kamu melakukan ini semua.” Liana tertawa.


“Merasa tersentuh.”


Musik berganti, Damian dan Daniel langsung berlari ke arah mereka.


“Ibu, aku ingin berdansa dengan ibu,” ucap Damian.


“Aku juga,” ucap Daniel.


“Aku lebih dulu,” ucap Damian.


“Tidak! Aku dulu.”


“Aku dulu.”

__ADS_1


“Liana, Gideon, Daniel, Damian. Apakah kalian ingin mengambil foto," ucap Simon Cross yang sudah berada di samping Gideon.


Lantas mereka berlima berfoto bersama. Untuk pertama kalinya keluarga Cross mempunyai foto keluarga yang utuh.


...♡♤♡...


Setiba di vila, Gideon langsung membopong Liana ke kamar utama. Liana bahkan tak sempat bersuara apalagi berusaha menolak.


Ada kelegaan yang memeluknya ketika ia sadar bahwa ia benar-benar menjadi istri seorang Gideon Cross.


Gideon menurunkan di tepi ranjang dan ketika Gideon ingin melepaskan gaunnya. Liana menemukan ketakutan untuk menjauh dan menolak halus.


“Aku...aku belum mandi.”


Liana merasa malu dan badannya terasa lengket karena keringat.


Sudut bibir Gideon tertarik sedikit. “Jangan, cemaskan hal itu.”


Tatapan Gideon dan tangannya yang nakal membuat perut Liana bergolak geli. Kupu-kupu mulai terbangun dan beterbangan di tengah perutnya.


Gideon secara tiba-tiba menciumnya. Liana memejamkan matanya dan meletakkan tangannya di dada pria itu. Meremas pelan ketika bibir keras Gideon mengusap bibirnya, menikmati ciuman panas pria itu dan bagaimana lidahnya mulai menggoda dan mengisap.


Sementara menciumnya, tangan-tangan Gideon membuka gaunnya. Bibir Gideon menjilati setiap senti kulit leher Liana.


Gideon memosisikan tubuhnya. Gideon menghujan kuat dan mengubur dirinya dalam.


Pria itu bergerak dengan kuat di dalamnya. Erangan Liana seolah musik bagi Gideon. Gideon terus bergerak menyiksa Liana bagai badai hebat.


Gerakannya semakin cepat dan kuat, lagi dan lagi.


Lalu pria itu menegang sejenak, mengerang dan berhenti jauh di dalam tubuhnya sambil menyemburkan benih panasnya. Liana melenguh hebat saat merasakannya.


Gideon berguling turun dari tubuhnya dan memeluk Liana, membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan.


“Istirahatlah.”


...♡♡♡...


Gideon menatap wanita di dalam pelukannya ini. Ia tersenyum lembut dan mengusap rambut Liana.


Liana bergerak sedikit dalam tidurnya dan Gideon memanfaatkan kesempatan itu untuk membangunkan Liana.


Ia menggulingkan wanita itu agar berada di bawah tubuhnya dan Gideon menjulang di atasnya.


Ia berbisik pelan menunggu respons Liana.


“Sayang...”


Wanita itu hanya menggeliat kecil.


Gideon menurunkan wajahnya dan menggoda pelipis Liana, menciumnya kecil sehingga wanita itu menggeliat kian hebat lalu berbisik di telinganya. Membuat wanita itu mengerang kegelian.


“Sayang...”


“Huh?” suaranya terdengar serak, sedikit kebingungan.


“Gideon?”


“Sudah bangun?” tanya Gideon.


Liana mengangguk.


“Liana, kamu adalah milikku.”


Gideon menyingkirkan selimut di antara mereka lalu kembali memosisikan dirinya di atas Liana.


Tok. Tok. Tok


“Ayah! Ibu! Keluarlah! Sarapan sudah siap!”


Itu adalah teriakan dari Damian dan Daniel.

__ADS_1


__ADS_2