Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
64. Wanita Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Inge mengambil beberapa langkah lebih dekat dengannya.


Tatapan Inge saat dingin saat Gideon mengencangkan genggamannya di tangan Liana.


Kecemburuan yang membara di hatinya, benar-benar akan meledak saat ini.


Melihat ekspresi Inge sekarang, Liana tahu bahwa jika ia tidak bersama Gideon sekarang, mungkin dia akan menjambaknya kembali.


“Gideon, ayo pergi.” Liana menarik tangan Gideon.


Melihat Gideon pergi, Inge ingin mengejarnya namun dihentikan oleh temannya.


...♡...


Kedua putranya sudah tidur ketika mereka sudah pulang. Setelah mandi dengan air hangat, Liana berbaring dan terlelap dalam mimpinya.


Gideon juga mandi, mengenakan piyamanya ketika keluar kamar mandi. Gideon mematukan pintu kamar saat melihat Liana tidur nyenyak dan menuju ke ruang kerja.


Gideon langsung menyalakan tabnya dan melihat video. Saat selesai menonton Video laporan bisnis dari departemen bisnis luar negeri yang ia tunda demi bermain bersama keluarganya.


Gideon melihat jam menunjukkan pukul dua dini hari.


Setelah mematikan tabnya, Gideon memukul-mukul bahunya yang kaku dan berdiri di depan meja.


Di tempat lain, Liana terganggu oleh suara deringan ponsel yang terus mengusik kupingnya.


Ia mencoba mengabaikannya namun ponsel itu terus menerus mengusiknya


Ia dengan malas bangun, ia menoleh ke kanan untuk melihat ponsel yang terus berdering di nakas.


Liana berdecap, ia harus menggeser layar itu beberapa kali dalam kondisi mengantuk.


“Siapa ini?”


“Liana!” teriakan dari seberang meledak.


Liana masih dalam keadaan setengah sadar sehingga pekikan itu membuatnya terjungkat.


“Inge?”


“Liana, mengapa ponsel kak Gideon ada pada dirimu? Apakah kalian berdua tinggal bersama?”


Liana menutup teleponnya secara sepihak. Ponsel Gideon kembali berdering dan si penelepon dengan orang yang sama.


“Apa yang kamu inginkan?”


“Apakah kak Gideon ada di tempatmu?”


“Itu tidak ada hubungannya denganmu.”


“Kamu begitu murahan. Kak Gideon, ingin memintaku meminta maaf padamu. Apakah itu semua idemu. Ingat baik-baik ya, aku tidak akan meminta maaf padamu.”


“Aku tidak peduli!”


Liana kembali menutup ponsel itu dan mengubahnya ke mode senyap.


Liana langsung marah dan langsung melemparkan tubuhnya kembali ke balik selimut.


Pada saat Gideon kembali ke kamar, sudah jam tiga pagi. Kembali ke kamar tidur, Gideon diam-diam berbaring di sisinya.


Gideon tersenyum dan berjalan mendekat untuk menutupi selimut pada Liana ketika Gideon melihat ponselnya.


Ia mengambil ponselnya dan melihat dua puluh satu panggilan tidak terjawab dari Inge. Dua diantaranya sudah dijawab.


“Apakah Liana menjawab panggilan itu? Lalu apa yang dikatakan Inge?”


Gideon bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke balkon untuk menelepon balik Inge.


“Apakah kak Gideon?”

__ADS_1


“Mengapa kamu memanggilku?’


“Aku merasa sangat sedih. Bisakah kamu menemaniku?”


“Kamu dimana?”


“Aku di bar biasa,” ucap Inge sedih. Ia sudah terbiasa dimanjakan oleh Gideon. Apa pun permintaannya pasti disetujui.


Inge berpikir bahwa ia akan menjadi satu-satunya. Inge tidak berharap posisinya direbut oleh wanita lain.


“Berhenti main-main dan pulang.”


“Hanya kali ini, bisakah kamu datang dan menemaniku?”


Gideon terdiam ketika melirik Liana yang berbaring di tempat tidur.


“Inge.”


“Apakah kamu keluarganya?”


Dahi Gideon berkerut saat suara seorang pria yang kali ini menjawabnya.


“Dia sangat mabuk sekarang. Aku takut dia akan mendapatkan masalah. dia tidak berhenti minum. Dia tidak membiarkan kami mengirimnya pulang dan dia tidak ingin pulang.”


Gideon mengerutkan kening dan menatap Liana sekali lagi.


“Aku akan segera menjemputnya.”


Gideon menutup teleponnya dan berjalan ke sisi tempat tidur dimana Liana berbaring.


Gideon menutupinya dengan selimut dan memberinya kecupan ringan di dahinya dan berbalik untuk meninggalkan kamar.


Ketika Gideon pergi, Liana perlahan membuka matanya. Tangannya mengerat kuat pada seprei.


...♡...


Suara musik DJ segera menyambut Gideon yang bergerak semakin dalam, matanya sibuk mencari keberadaan Inge.


Gideon berjalan ke sisinya dan mendorong bahunya.


Inge bangun dengan linglung. Ketika Inge mendongak dan melihat wajah Gideon ia langsung pergi ke pelukannya.


Gideon tidak mendorongnya, meskipun ekspresinya sangat dingin.


“Mengapa kamu mengabaikanku?”


“Aku sudah mengatakan padamu sampai kamu mengakui kesalahanmu.”


“Salahku? Apa kesalahanku? Aku hanya...hanya...aku mencintaimu lebih darimu.”


“Omong kosong apa yang kamu katakan.”


“Aku benar-benar mencintaimu.”


“Tapi aku tidak mencintaimu.”


Inge tiba-tiba menarik lengan bajunya dan bertanya dengan serius, “Apakah kamu mencintainya?"


Gideon memalingkan matanya dengan dingin dan menolak untuk menatapnya.


“Aku tidak percaya kamu benar-benar mencintainya?”


“Kamu harus pulang sekarang!”


“Tidak! Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu tidak mencintainya. Aku tahu itu. Jika tidak, mengapa kamu berencana menikahi Ruona?"


Gideon langsung menatap Inge dengan dingin.


“Siapa bilang aku akan menikahinya?"

__ADS_1


Inge langsung tertegun.


“Aku mendengar bahwa kamu akan mengadakan konferensi untuk mengumumkan pernikahanmu dengan –“


“Aku akan mengumumkan pernikahan tapi tidak dengan dia.”


Wajah Inge langsung panik. Ia kembali meraih lengan bajunya.


“Apakah kamu benar-benar akan mengumumkan pernikahanmu dengan Liana?”


“Apakah kamu tahu? Kamu menjadi tidak tahu malu.”


“Kamu... berpikir bahwa aku tidak tahu malu hanya karena wanita itu?”


“Wanita yang kamu sebut wanita itu adalah istriku. Jadi hormati dia.”


Kata-kata Gideon seperti tamparan keras bagi Inge.


“Aku ke sini membawamu pulang. Jika kamu tidak mendengarkanku, itu terserah padamu.”


Gideon langsung berbalik dan menuju ke pintu keluar. Inge langsung mengejarnya.


“Kakak Gideon! Jangan abaikan aku!”


“Kalau begitu pulanglah.”


“Oke, aku akan pulang.”


Gideon mengantarkannya sampai ke rumah Inge. Pria itu menghentikan mobilnya di depan pintu masuk.


Namun Inge masih tidak bergerak turun.


Tanpa menoleh Gideon berkata ketus. “Keluar.”


“Kakak Gideon, bisakah kita seperti dulu.”


Gideon mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat waktu, wajahnya jelas kurang sabar.


“Aku akan meminta maaf pada Liana dengan tulus. Aku hanya punya permintaan, mari kita seperti dulu.”


Gideon mengerutkan alisnya, wajahnya tidak menunjukkan riak perubahan.


Karena itu, Inge rela membuka pintu dan turun. Tepat ketika Inge menutup pintu. Gideon langsung melesat pergi.


...♡...


Hari ini, rapat dewan direksi CGI Corp yang biasanya diadakan setiap pagi pukul 07.30 dimulai tiga puluh menit lebih awal.


Rapat yang biasanya hanya berlangsung selama sekitar satu jam, justru hari ini selesai lebih lama.


Gideon berjalan keluar ruang rapat dan melirik Alan yang sedang berjalan di belakangnya.


"Tab?”


Alan langsung menyerahkan tabnya dan membuka aplikasi. Di sana ia dapat melihat Liana yang berada di vilanya.


Namun Gideon melihat Liana berjalan keluar vila. Gideon sedikit mengernyitkan keningnya.


...♡...


Entah kenapa Liana ingin melihat Damian dan Daniel. Perasaannya merasa tidak enak.


Begitu Liana tiba di sekolah. Liana menemukan beberapa polisi yang berbaris untuk berjaga di beberapa meter dari gerbang sekolah.


Kerumunan mulai berteriak di gerbang sekolah dan semuanya adalah orang tua wali murid.


Polisi terus menerus membawa siswa dan guru keluar dari sekolah. Wajah semua orang tegang begitu pula dengan Liana.


Liana tidak mengetahui betul situasi yang terjadi. Liana hanya begitu panik.

__ADS_1


Tidak tahu apa yang terjadi, Liana meraih lengan orang tua wali.


“Maaf, apa yang terjadi?”


__ADS_2