
Saat Suah akan mengambil makanan di samping Liana ia tak sengaja melihat anting yang menyilaukan mata.
Ia begitu takjub dengan kilauannya.
“Liana, antingmu sangat cantik.”
Perkataan Suah menarik perhatian Lili dan ia langsung melihatnya.
“Oh, ini hanya anting biasa,” ucap Liana. Ia merutuki kebodohannya. Ia lupa melepaskan antingnya.
Temannya yang lain melihat ke arah Liana dan melihat anting tersebut dengan seksama.
“Itu anting Christie’s Auction Diamond Earrings adalah sepasang anting berbentuk buah pir dengan berat sekitar 9,94 karat. Anting dengan harga sekitar Rp 31 miliar ini pernah dilelang di Christie, New York. Bentuk berlian yang sangat indah dan terkesan mewah ini memang memikat para wanita. Sebagai batu alam terkuat di dunia, pembentukan berlian membutuhkan waktu bertahun-tahun. Liana kamu begitu cantik memakainya.”
Gideon langsung menaikkan alisnya dan sudut bibirnya terangkat menciptakan senyum tertahan. Bahkan Liana sendiri tidak tahu nama dan harga sepasang anting tersebut.
Bola mata Liana membesar. Ia menatap Gideon. Liana bahkan tidak tahu.
“Sepasang 31 miliar. Itu sangat mahal sekali.” Seseorang terkesiap.
Lili terkejut dan melihat Liana dengan tak percaya.
“Aku yakin itu hanya tiruan. Bagaimana bisa kamu membeli barang palsu hanya untuk terlihat mewah?” tanya Lili.
“Aku yakin itu tidak palsu karena aku sangat menyukai desain ini dan bahkan berencana membelinya,” ucap wanita yang lainnya.
“Ya aku yakin itu bukan imitasi. Liana tidak akan bertindak sepertimu. Saat di perguruan tinggi, iamu membeli tas palsu agar terlihat kaya. Tas Lv dan Gucci.”
“Jangan bicara omong kosong! Kapan aku membeli yang imitasi?”
“Kamu mungkin lupa tapi aku tidak bisa melupakannya,” ucap Suah.
“Jika itu asli, aku ragu bahwa Liana bisa membelinya. Bisakah dia membelinya? Aku yakin itu tiruan. Kamu terus membelanya karena kamu berteman dengannya kan?”
Orang-orang di sekitarnya duduk dengan canggung. Mereka semua tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Kerumunan melihat Lili dan Liana secara bergantian. Selama ini Lili selalu menganggap Liana sebagai saingannya.
“Jangan bandingkan aku denganmu,” ucap Liana. Pada akhirnya ia membuka bibirnya.
“Apa maksudmu?” tanya Lili.
Sejenak Liana menatap wajah Lili. Ia tersenyum lebar dan menyelipkan anak rambutnya di telinganya.
“Kamu suka barang-barang mewah agar memberimu wajah. Betapa menyedihkan mereka yang harus mengurangi kebutuhan dan berhutang hanya untuk membeli barang-barang mewah hanya untuk agar terlihat kaya dan baik.”
Liana seakan tersenyum mengejek. “Nilai seseorang tidak tercermin dari apa yang mereka kenakan. Kalung maha, cincin mahal, pakaian mahal. Ini adalah acara reuni kelas bukan ajang pamer diri. Semua orang tahu bahwa kamu sangat mencintai pacarmu dan selalu membanggakan bahwa pacarmu adalah orang kaya. Ia dapat memenuhi kebutuhan materiilmu. Kamu selalu pamer pacarmu yang kaya, apakah kamu akan pamer juga saat pacarmu jatuh bangkrut dan tidak punya apa-apa.”
Ekspresi wajah Lili langsung berubah. Ia lantas menoleh ke arah Sam.
“Aku akan menemainya terlepas dia kaya atau miskin.”
Liana mengangguk. “Itu bagus. Bagaimanapun hanya hatimu yang tahu kamu suka dia atau hanya kekayaannya saja.”
Sam memiliki emosi yang campur aduk. Ia lantas melihat ke arah Lili. Pria itu tahu persis apa yang diinginkan pacarnya.
__ADS_1
Pikiran-pikiran tentang Lili beterbangan di benaknya. Jika Lili benar-benar mencintainya, apakah dia akan kehilangan uangnya beberapa ratus juta hanya untuk memberi kesan pada penampilan kehidupannya. Apakah reputasinya lebih penting darinya?
“Kamu hanya cemburu padaku kan? Sehingga kamu mengkritikku.”
“Cemburu? Apa yang membuatku harus cemburu padamu?” tanya Liana penuh minat. “Cemburu pada kecantikanmu? Atau cemburu karena kamu mendapatkan pacar yang kaya?”
Suah terkekeh. “Bagaimana Sam dibandingkan dengan suami Liana? Suami Liana bisa dibilang sangat tampan.”
“Apa gunanya wajah tampan jika hanya seorang karyawan rendah. Apa yang harus dibanggakan?”
Ketika Sam mendengar ucapan Lili, pikirannya semakin rumit. Ia berpikir bahwa Lili hanya mengejar latar belakang keluarganya saja.
Liana tersenyum dan melingkarkan tangannya di lengan Gideon.
“Kenapa wajah tampan tidak bisa dibanggakan? Bagaimanapun kita harus memperbaiki keturunan.”
Hati Liana dipenuhi kebahagiaan karena memikirkan putra kembarnya. Gideon tidak bisa menahan diri untuk mencubit gemas pipi Liana. Matanya juga dipenuhi dengan kebahagiaan.
Suah tertawa kecil melihat tingkah Liana.
“Dia memang bestie ku.”
Lili hanya bisa menghibur dirinya sendiri dengan bersuara dalam hati. “Tidak apa-apa dia jelek, asalkan dia kaya.”
“Aku akan ke toilet sebentar,” pamit Liana.
Saat Liana berdiri, Gideon ikut berdiri.
“Ayo.”
“Aku bisa pergi sendiri.”
“Aku merasa gelisah saat kamu tidak ada di sampingku. Aku akan mengantarkanmu.”
Saat mereka pergi. Lili langsung meletakkan sendoknya dengan kasar. Ia jelas-jelas tidak senang.
“Lili, kamu jangan marah. Jelas-jelas dia hanya iri denganmu.”
“Dia pasti cemburu denganmu karena kamu punya pacar yang baik.”
Sam hanya terdiam dan tidak ikut untuk menenangkan Lili.
Lili mengerutkan keningnya dan melihat ke arah Sam yang sunyi.
“Sam.”
“Hm.”
Sam hanya bersenandung sebagai tanggapan. Ia tampak marah.
“Kenapa kamu hanya diam saja? Apakah kamu benar-benar percaya padanya?”
“Lili, sudahlah!”
“Tapi dia mencoba menabur perselisihan antara aku dan kamu dengan mengatakan bahwa aku hanya menginginkan kekayaanmu saja.”
__ADS_1
“Jangan ribut.”
“Dia pikir dia sempurna, seluruh sekolah tahu masa lalunya yang kotor.”
“Hei.”
Dengan wajah acuh tak acuh. Lili mengangkat pandangan dan bertemu dengan Gideon.
“Apa?”
“Apa yang kamu katakan tadi?” tanya Gideon.
Lili melihat ke belakang Gideon dan tidak melihat keberadaan Liana.
“Apakah kamu tahu tentang kejadian Lili saat ia masih sekolah?”
Gideon mengerutkan bibir tipisnya. Matanya berbinar berbahaya.
“Aku mendengar bahwa dia menjadi wanita simpanan pria kaya. Dia hamil pada saat itu dan temanku melihatnya melakukan usg.”
Gideon tetap diam. Mata tajamnya menunjukkan kilatan cahaya dingin yang mematikan. Pikirannya Gideon berkelana. Pada saat itu, Liana menjadi ibu pengganti untuk keluarga Cross.
Jadi berita ini tersebar. Orang-orang menduga bahwa dia menjadi simpanan oleh orang kaya.
Suah tidak berharap bahwa Lili mengorek masa lalu Liana.
“Apakah kamu tidak tahu tentang ini? Dia tidak sepolos apa yang kamu pikirkan.”
“Dia menjadi wanita simpanan orang kaya?” tanya Sam.
“Jangan bicara omong kosong!” teriak Suah.
“Mengapa aku mengatakan omong kosong? Aku melihat dengan kedua mataku sendiri saat itu dia keluar dari mobil mewah.”
“Jangan bicara rumor yang tidak berdasar! Liana menunda sekolahnya karena masalah ekonomi keluarganya jadi jangan membuat rumor.”
“Jangan membelanya karena dia adalah temanmu. Dia berbohong selama ini.”
Wanita yang duduk di samping Lili langsung menimpali. “Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan Liana. Dia penyendiri dan anti sosial. Dia diam-diam menghanyutkan. Wanita seperti ini lebih menakutkan.”
“Dia selalu duduk di bangkunya sepanjang hari. Wanita seperti itu selalu memiliki niat buruk.”
Suah sangat marah dan menggebrak meja dengan kasar. “Apa yang kalian bicarakan? Liana adalah gadis baik. Bagaimana bisa orang lain berbicara buruk padanya dan menyebarkan rumor.”
“Lili hanya mengungkapkan apa yang dia lihat. Mengapa kamu begitu marah? Kami tidak sedang membicarakanmu di sini.”
Lili langsung berdiri dan melihat ke arah Gideon.
“Jangan tertipu oleh wajah Liana yang polos. Sebelumnya aku mendapatkan video dari grup bahwa putra Liana sudah berusia enam tahun. Aku kasihan padamu, dari banyaknya wanita. Mengapa kamu harus berakhir dengan Liana? Kamu layak menemukan yang terbaik.”
Kemarahan tampak jelas di wajah Gideon. Ia ingin sekali mencekik leher Lili. Namun sebelum keinginannya tercapai rupanya Suah sudah bertindak.
Suah menyiramkan segelas anggur pada wajah Lili. Lili langsung membeku di tempatnya. Ia tampak sangat berantakkan.
Sekelompok orang merasa tercengang. Mereka tidak pernah mengharapkan suasana menjadi lebih buruk.
__ADS_1