Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
71. Jangan Remehkan Daniel


__ADS_3

Saat mobil sudah datang. Ruona langsung meminta Daniel untuk menutup matanya.


“Tutup matamu.”


“Apakah kamu takut aku akan mengingat rute jalannya?”


Ruona tidak menjawab dan Daniel langsung mendengus namun ia tidak melawan dan menutup matanya.


“Kamu ternyata patuh juga,” ucap Ruona.


Anak-anak selalu mudah ditipu.


Mobil itu berjalan membelah jalanan sepi.


Ruona menoleh dan menundukkan kepalanya untuk melihat wajah bocah yang tampan. Tapi mata Ruona tiba-tiba berubah dingin saat memikirkan bahwa bocah itu adalah anak dari Liana.


Ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mencekiknya. Ruona mengulurkan kedua tangannya dan berisap untuk mencengkeram tenggorokannya dengan keras.


Namun tepat sebelum jari-jarinya bisa menyentuh leher Daniel, bocah itu bersandar ke samping dan dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan Ruona dengan erat.


“Ahhh!”


Teriakan Ruona mengejutkan sopir dan pengawal yang duduk di depan. Keduanya berbalik dengan cepat.


Daniel mendengus dan melepaskan ikatan kain yang menutup matanya.


“Lepaskan aku! Apa yang kalian tunggu? Pegang bocah ini!”


Daniel tersenyum dingin dan langsung mengikat kedua tangan Ruona ke belakang dengan kainnya.


Pengawalnya langsung menodongkan pistol namun Daniel langsung mengulurkan tangannya dan menyambar pistol itu dalam hitungan detik.


Daniel langsung mengarahkan larasnya ke pelipis Ruona dan seluruh tubuh Ruona mulai menegang.


“Aku penasaran, apakah ini pistol mainan atau pistol sungguhan?”


“Kamu, beraninya kamu!”


Ruona langsung menatap pengawalnya dengan ganas. “Apa yang kamu lakukan rebut pistol itu?”


Daniel menyeringai dan langsung menodongkan pistol itu ke arah pria itu.


“Aku benar-benar penasaran dengan pistol ini.”


Jari telunjuknya bersiap untuk menembak. Pengawal itu ketakutan.


“Jangan! Jangan main-main dengan benda itu nak.”


Dorr.


Daniel menembakkan pistol itu tepat pada jendela sebelah pengawal duduk. Jendela itu hancur.


Sopir yang terkejut langsung menginjak rem secara mendadak. Matanya melotot tidak percaya.


“Ha ha ha.”


Tawa Daniel tiba-tiba terdengar.


“Ternyata ini sungguhan. Pak sopir, teruslah mengemudi.”


Sopir itu duduk dengan kaku di kursinya. Tangannya mulai bergetar tak kendali di setir mobil.


“Jalankan mobilnya.”


Sopir itu melihat ke arah Ruona. “Nona...ini...”


“Dengarkan dia dan nyalakan mobilnya.”

__ADS_1


Mobil itu kembali menerjang gelapnya malam dan dinginnya angin malam.


Ruona meringkuk menjauhi Daniel yang sedang memainkan pistol layaknya mainan. Ruona mengawasinya dalam diam dan menemukan sedikit perbedaan.


Ruona menyadari bahwa bocah di depannya sedikit lebih tinggi dan berisi. Tiba-tiba Ruona sadar dengan gerakannya yang cepat dan mata anak itu mengingatkannya pada seseorang.


“Daniel...” suara Ruona begitu lemah.


“Apa?” tatapan Daniel langsung menghunjam mata Ruona.


“Itu benar-benar kamu?”


Jelas tampak Ruona sangat terkejut. Bagaimana bisa seorang anak kecil mampu mengelabui orang dewasa.


Ruona benar-benar kehilangan kata-katanya. Jantungnya kembali berdebar saat ponselnya menyala karena sebuah panggilan.


Daniel langsung mengeluarkan ponsel Ruona dari tasnya. Alisnya sedikit mengernyit saat nomor asing muncul di layar tanpa nama.


“Siapa ini?”


“Itu...aku tidak tahu.” Bohong Ruona.


“Jawab panggilan ini,” suruh Daniel. “Jawab panggilan dengan benar. Suaramu tidak boleh bergetar.”


Daniel langsung menggeser layarnya dan mengubah dalam mode perbesar suara agar ia juga dapat mendengarnya.


“Halo kak kevin.”


“Dimana bocah itu?”


Ruona menatap Daniel dengan takut. “Dia sudah ada di dalam mobil. Sekarang kami dalam perjalanan.”


“Dimana Simon? Apakah kamu sudah memberinya obat?”


“Ya, aku sudah memberinya obat dan aku rasa ia sudah tidur di kamarnya.”


Panggilan itu berakhir dan wajah Damian semakin dingin.


“Kamu menaruh obat untuk kakek buyut?”


“Aku terpaksa melakukannya. Aku sebenarnya tidak ingin menyakiti kakek jika aku bisa.”


“Katakan padaku, apa motifmu?”


“Bukan aku! Aku tidak melakukannya demi diriku. Aku dipaksa.”


Daniel kembali mengarahkan pistol ke arah Ruona. Ruona langsung menceritakan keseluruhan detail rencana Kevin karena ia begitu ketakutan.


“Menggunakan ibu dan Damian untuk memaksa ayah menyerahkan semua sahamnya pada paman.”


Daniel terlihat pucat dan terkejut.


“Jika ayah terpaksa menyerahkan saham Cross group, keluarga Cross akan hancur dalam semalam dan aku tidak yakin bahwa pria itu akan melepaskan ibu dan Damian.”


Daniel langsung menatap Ruona dengan tajam.


“Dimana kamu menyembunyikan ibu?”


Ruona menggeleng. “Aku tidak tahu.”


“Jangan berbohong padaku. Bukankah kita dalam perjalanan untuk melihat ibu?”


“Aku benar-benar tidak tahu. Tempat itu ada di tengah hutan. Tidak ada nama jalan dan tidak terdeteksi oleh maps. Aku benar-benar tidak tahu tempatnya.”


“Apakah kamu pikir, aku tidak bisa menembak tepat di kepalamu?”


“Aku tidak berbohong padamu. Bahkan jika kamu menembakku, aku benar-benar tidak tahu.”

__ADS_1


Daniel langsung memainkan jamnya, pada setiap kilometernya, sinyal akan dikirim ke jam tangan Damian.


Mobil terus melaju, pemandangannya benar-benar gelap jauh dari hirup pikuk yang ada di kota. Tampaknya itu benar-benar tempat yang sangat jauh.


Daniel melirik jamnya dan sinyal gps semakin melemah.


Sepuluh menit kemudian mobil itu berhenti.


“Kalian tunggu di sini. Jika kalian berani bergerak, aku akan menembak kalian.”


Daniel langsung menggiring Ruona keluar.


“Bawa aku ke sana.”


Mereka langsung ke pintu utama.


Daniel langsung menendang-nendang pintu dengan keras sehingga menimbulkan keributan.


“Siapa?”


“Ini aku! Cepat buka pintunya,” ucap Ruona.


Pintu utama gedung itu perlahan-lahan terbuka, Daniel langsung menendang tulang kering Ruona sehingga wanita itu membungkuk.


Daniel langsung mengarahkan pistolnya di antara alisnya.


Sekelompok orang keluar namun ketika melihat anak laki-laki menyandera wanita itu. Mereka sedikit kebingungan dan tidak bisa memahami situasi yang terjadi.


Ruona mengangkat kepalanya. “Bantu aku! Dan selamatkan aku!”


“Darimana bocah ini berasal, nak berhenti bermain-main.”


Diantara mereka seorang mencibir Daniel tanpa henti.


Daniel mengangkat tangannya dan bersamaan dengan itu. Tembakan langsung terdengar. Sebuah peluru menembus alisnya.


Suara tembakan keras membuat semua orang terpana.


“Aku sedang berpikir bagaimana jika itu mengenai anggota vitalmu?”


Mengangkat dagunya dengan angkuh. “Bawa aku ke wanita itu.”


“Wanita apa?”


Pria yang barusan ditembak Daniel tampak terkejut.


Lutut Ruona benar-benar sudah lemas dan mati rasa.


“Bawa dia ke Liana. Bawa dia cepat! Jangan meremehkannya. Dia akan benar-benar menembak.”


Mereka langsung membuka jalan untuk Daniel.


“Lemparkan semua senjata, pisau dan lainnya.”


Semua orang melemparkan senjata mereka namun ada salah satu dari mereka yang mengambil kesempatan untuk menyembunyikan dan mematuk ke arah Daniel.


Dor.


Pria itu langsung menjatuhkan pistolnya. Lalu tangannya mengeluarkan darah. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya menderita penghinaan.


“Apakah kamu ingin mencobanya?”


Daniel menyipitkan matanya sekali lagu untuk memastikan bahwa tidak ada senjata pada mereka sebelum Daniel perlahan mendekat.


Daniel mengikuti pria yang baru saja ia tembak. Semakin ke dalam semakin udara lembap dan hanya lampu pijar yang menjadi sumber penerangan.


Daniel membeku saat pandangannya jatuh pada sosok wanita yang ada di dalam sel.

__ADS_1


__ADS_2