
Daniel mengikuti pria yang baru saja ia tembak. Semakin ke dalam semakin udara lembap dan hanya lampu pijar yang menjadi sumber penerangan.
Daniel membeku saat pandangannya jatuh pada sosok wanita yang ada di dalam sel.
Daniel benar-benar sangat marah.
“Daniel jangan bunuh aku. Aku ibumu.”
“Kamu bukan ibuku.”
“Kamu memang bukan anak kandungku. Tapi aku melakukan semua ini karena ayahmu yang menipuku.”
“Itu bukan alasan untuk menyakiti ibuku.”
“Dengarkan aku Daniel, apakah kamu tidak ingat? Aku memelukmu dan menggendongmu ketika kamu dilahirkan. Aku yang melakukannya bukan dia. Saat kamu belajar berjalan, aku yang selalu membantumu. Aku yang selalu membujuk ayahmu mengirimmu ke asrama. Karena aku tidak tahan melihatmu terluka.”
“Itu hanya akting. Diam dan berhenti berbicara.”
“Meskipun kami tidak memiliki hubungan darah, aku benar-benar memiliki perasaan untukmu! Apakah kamu tidak merasakan hal yang sama?”
“Diam!!”
Semua pengawal langsung mengelilingi Daniel sambil mengarahkan senjata ke arahnya.
Daniel langsung tersudut. Daniel melihat dua pengawal mendekati ibunya yang tertunduk tak sadarkan diri.
“Jatuhkan senjatamu!”
Tangan Daniel yang memegang pistol mulai bergetar hebat. Matanya memerah saat emosinya tak terkendali.
“Jatuhkan senjatanya! Ini peringatan terakhirku.”
Dengan gigi terkatup, Daniel melemparkan pistolnya ke tanah. Saat pengawal ingin mengambil pistolnya, Daniel menendang pistolnya ke kiri. Ia juga menendang pengawal tersebut.
Seorang pengawal berjalan maju dari belakang dan menghantam bagian leher Daniel dengan keras.
Tiba-tiba, Daniel merasa mati rasa dan pingsan.
...♡♡♡...
Gideon mengerutkan kening dan dengan cepat memasuki rumah. Gideon melihat beberapa pengawal bersenjata dengan erat mengelilingi pintu masuk.
“Tuan Muda, kamu kembali?”
“Dimana kakek?”
“Tuan besar masih tidur di lantai atas.”
“Ini sudah pagi, kenapa dia belum bangun?”
Gideon menaiki tangga dengan tidak sabar. Setelah mendorong membuka pintu kamar kakeknya, Gideon menemukan kakeknya masih terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat tak bernyawa.
Jantungnya berdetak sesaat sebeluk Gideon melangkah ke depan kakeknya. Gideon memegang wajah dingin kekeknya.
“Berapa lama dia tertidur?”
“Dia sudah tidur sejak jam sebelas malam setelah minum obat.”
Dengan alis dirajut, Gideon membungkukkan tubuhnya.
“Panggil dokter sekarang!”
Lalu seorang sopir yang mengantarkan Daniel ke sekolah berlari ke arahnya.
“Tuan Muda, Tuan kecil hilang.”
“Hilang?”
__ADS_1
“Tuan kecil ada perkemahan kemarin. Saat pagi ini aku menjemputnya rupanya Tuan kecil tidak pergi ke sekolah bahkan gurunya tidak melihat Tuan Kecil sejak kemarin pagi.”
“Apakah kamu tidak melihatnya memasuki gerbang sekolah?”
Seorang dokter langsung datang dan memeriksa Simon Cross.
“Aku melihatnya memasuki gerang sekolah dengan kedua mataku.”
“Tuan muda, Tuan besar diracuni dan sekarang koma. Dia harus segera dikirim ke rumah sakit.”
Kepala Gideon berdenyut-denyut. Ia mengernyitkan keningnya dan memberi perintah pada semua bawahannya dengan suara yang menakutkan.
“Bagaimana bisa keluarga Cross yang kuat begitu kacau dalam rentang dua hari saat aku berada di luar negeri?”
Gideon dan Alan bergegas ke kantor.
Di tempat lain, Damian berusaha melacak keberadaan Daniel. Matanya menyipit dan tangannya lincah di atas papan ketik.
Melihat lingkaran merah di layar, Damian menyadari bahwa tempat itu ratusan ribu meter persegi.
“Presdir kecil.”
“Ya.”
“Pengawal khusus sudah tiba di ibukota, mereka juga membawa komandan B.A.P group, Julian.”
“Julian?”
Alis Damian sedikit mengernyit. “Kenapa dia ada di sini?”
Kembali pada Gideon, pria itu berjalan ke kantornya dengan aura dingin yang menakutkan.
Semua karyawan hanya bisa membungkuk tanpa memberi salam untuk menghindarinya.
Di dalam kantor, Alan yang sudah tiba lebih awal berdiri dengan gugup. Pagi-pagi sekali ia mendapatkan kiriman dari kantor pos dan saat membukanya ia sangat terkejut.
“Presdir, tolong lihat ini.”
Gideon mengambilnya dari tangannya. Membuka amplop tersebut dan menemukan beberapa foto.
Gideon mengambil salah satunya dan ia melihat foto wanita yang terikat kaki dan tangannya.
Latar belakang gambar tersebut adalah gudang dengan sinar penerangan yang lemah.
Wajah Liana berlumuran darah. Gideon bisa melihat bahwa Liana menggertakkan giginya dengan keras kepala.
Gideon langsung mengambil dan melihat beberapa foto selanjutnya.
Gideon mencengkeram erat-erat foto itu. Tatapannya menjadi penuh dengan amarah.
“Siapa yang mengirimkan foto-foto ini?”
“Presdir, saya tidak bisa melacak orang yang mengirimnya.”
Alan menegang saat melihat ekspresi Gideon yang sangat menakutkan.
“Presdir, kamu harus tenang.”
“Orang itu menargetkanku.”
“Apa maksudmu presdir?”
“Apa yang dia inginkan adalah sesuatu yang aku miliki sekarang. Pasti mereka ingin bernegosiasi denganku dengan melibatkan mereka.”
“Presdir, apakah kamu sudah memiliki rencana tentang apa yang diinginkan orang itu?”
“Dia akhirnya bergerak.”
__ADS_1
Gideon menggigit bibirnya dengan keras dan matanya gelap. Gideon berusaha yang terbaik untuk mengendalikan amarahnya. Ia tidak ingin kehilangan kendali atas dirinya.
Alasan foto-foto ini dikirim adalah untuk membuatnya marah dan terpancing. Semakin Gideon marah semakin ia tak terkendali dan itulah yang diinginkan musuh-musuhnya.
Gideon menutup matanya, memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Namun ketika bayangan foto Liana yang berlumuran darah menembus akalnya.
Kemarahan dan rasa sakit menghunjam seluruh tubuhnya sampai-sampai ia tidak bisa bernapas.
“Sial!”
Gideon langsung membuka komputernya dan ia mendapatkan pesan email secara anonim.
Di sana ia dikirimi foto lagi. Dengan mudah, Gideon mengenali bocah itu, wajahnya berlumuran darah. Itu adalah Daniel.
“Selidiki alamat ip ini!”
Alan langsung bertindak.
Gideon menatap layar monitornya kembali. Gideon tidak bisa membayangkan pukulan seperti apa yang dialami putranya untuk menghasilkan pemandangan yang begitu mengerikan.
Gideon membanting tinjunya di atas meja. Meja yang terbuat dari kayu menunjukkan beberapa retakan acak.
“Siapa yang berani menyiksanya?”
♡.♡
Damian, kini bertemu dengan Julian. Mereka membahas bisnis dan juga strategi yang akan diambil.
Ketika di tengah-tengah perbincangan mereka. Anji datang dengan tergesa-gesa dan segera berdiri di samping Damian.
Sedikit membungkuk dan membisikkan sesuatu.
“Kirim ke emailku,” ucap Damian.
Damian lantas pergi ke meja kantornya dan membuka emailnya. Lantas langsung ada pesan baru di sana.
Damian segera membukanya dan ada dua foto di sana. Di dalamnya ada seorang anak laki-laki yang berlumuran darah dan penuh luka.
Damian menahan napas dan sekali lirik ia bisa melihat bahwa anak laki-laki itu adalah Daniel.
“Apa yang terjadi? Kenapa dia? Mungkin kah?”
Julian berjalan dan berdiri di belakang Damian dan melihat layar itu. Pria itu tertegun untuk sementara.
“Siapa anak ini?”
“Saudaraku.”
Julian melihat ke arah Damian lalu beralih ke monitor. Anak laki-laki itu menggunakan tatapan tidak sopan saat dia mengangkat dagunya.
Sepasang mata yang dalam dan dingin menunjukkan tidak adanya rasa takut atau kesedihan.
Foto selanjutnya, ia tersenyum tapi menghina.
Damian memasukkan alamat ip hanya untuk mengetahui alamat yang salah dan tidak terdaftar.
Brak.
Damian mendorong papan ketik menjauh dengan kasar.
“Presdir kecil, aku yakin baru saja menemukan alamat yang mencurigakan. Apakah kamu ingin mengirim beberapa orang untuk menyelidiki?”
.
.
.
__ADS_1
Like dan komen kalian sangat2 membantu