
Suara pintu ditutup. Tak ada lampu yang dinyalakan. Sinar matahari sudah merangkak naik lama. Satu-satunya penerangan di ruang itu adalah cahaya alam yang menyeruak ingin masuk ke dalam.
Gideon berdiri angkuh menatap jendela. Pikirannya berkelana kemana-mana. Ia teringat dengan bocah kecil yang menyiramnya dengan air.
Bocah kecil itu masih kecil namun memiliki keberanian yang luar biasa. Keinginan untuk melindungi ibunya sangat kuat.
Di depan Liana dia pura-pura bersikap polos, manja dan imut. Tapi saat tidak Liana, ia seperti putra mahkota yang kuat.
“Keluarga atau musuh? Keluarga? Keluarga?”
Banyak yang Gideon pikirkan.
“Sepertinya dia seumuran dengan Daniel. Suaranya, temperamen dan fiturnya sama dengan Daniel. Dan dia sepertiku.”
Gideon merasa takut saat pikirannya berkelana terlalu jauh.
“Aku membaca latar belakang Liana yang dikirim Johan padaku tapi aku tidak mendapatkan informasi tentang putranya.”
Gideon melebarkan pupilnya saat ia teringat bahwa menurut laporan, Liana hamil dengan anak kembar sebelumnya.
Tiba-tiba kecurigaan yang luar biasa muncul di benaknya.
.........
Segerompolan orang berkumpul di depan gedung Key Entertainment. Liana membeku kaku di tempatnya dengan waktu yang lama.
Ia melihat keadaan di sekelilingnya. Awalnya ia nyaris tidak percaya diri namun tangannya mengepal kuat dan ia bertekad untuk melakukannya karena ia ingin mengubah kehidupannya demi Damian.
Ia sedikit memasang garis senyum di wajahnya. Seluruh wajahnya terlihat bersinar dengan sinar matahari yang cerah.
Liana memasuki gedung itu dengan aura yang ceria.
Liana pergi ke ruang diadakannya wawancara saat ia sampai di depan pintu. Seorang petugas menyapanya.
“Bisakah kamu memperlihatkan kartu audisinya?”
“Ah, sebentar.”
Ia membuka tasnya namun ia tak bisa menemukan apa yang ia perlukan.
“Maaf sepertinya aku meninggalkannya di rumah.”
“Kamu meninggalkan hal paling penting nona. Maaf kamu tidak bisa masuk.”
“Apakah Kingston ada di sini? Dia di sini kan? Bisakah kamu pergi dan menanyakannya. Aku mengenalnya, ah bukan. Dia sendiri yang memberikan kartu audisi untukku.”
“Nona, apakah kamu mencoba menipuku? Aku akui kamu cantik tapi pak Kingston tidak akan berbuat seperti yang kamu katakan?”
“Kenapa tidak?”
Kingston baru saja keluar dari ruang audisi.
“Liana, akhirnya kamu datang juga.”
“Halo, pak Kingston.”
“Jangan bertingkah seperti orang asing. Panggil saja aku Kingston.”
Pada saat itu rupanya Yuna juga mengikuti audisi. Ia melihat Liana dan terkejut.
“Dia bersama Kingston? Bagaimana bisa?”
Yuna yang berdiri mematung di depan pintu langsung terdorong oleh konstetan lain.
__ADS_1
“Liana masuklah. Buktikan kemampuanmu.”
Liana mengangguk. Saat Liana memasuki ruangan audisi, Yuna buru-buru bersembunyi. Matanya melihat Liana dan terus melihat Kingston.
Yuna tak berdaya melihat mereka berdua. Hatinya merasa cemburu.
Saat memasuki ruangan dan berdiri di podium. Liana merasa malu dan agak kaku. Ia memperkenalkan diri dengan terbata-bata.
Dengan kegelisahannya, matanya jatuh pada Kingston. Ia mencoba mengikuti naskah yang mereka berikan.
Liana keluar dari tempat audisi. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menampilkan yang terbaik.
“Liana! Liana!”
“Suah.” Liana sedikit terkejut. Lantas ia langsung menghampiri Suah.
“Aku menelepon ke rumahmu dan Damian bilang kamu mengikuti audisi. Apakah kamu benar-benar mengikutinya?”
“Ya.”
“Mengapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya?”
Liana tersenyum samar. “Ini mendadak.”
“Wow luar biasa. Apakah semuanya berjalan dengan baik?”
“Kurasa tidak.”
“Kenapa?”
“Kegugupanku menganggalkan semuanya.”
“Tidak apa-apa. Lagi pula kata ayahku dunia hiburan penuh dengan kepura-puraan. Ada banyak pekerjaan lainnya.”
“Ya, apa yang aku takutkan ketika kamu ada di sampingku.”
“Kedengarannya bagus.”
Mereka berdua akan pergi ketika tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Liana!”
Liana berbalik dan melihat Kingston ada di sana.
“Liana, apakah dia Kingston? Kingston benar-benar tampan. Oh, apakah aku bermimpi sekarang? Liana cubit pipiku sekarang!”
Liana melihat Suah yang sudah meleyot karena pesona Kingston. Saat Liana ingin menoleh ke depan. Kingston sudah berada di depannya.
Kingston tersenyum ramah.
“Apakah hasilnya sudah keluar?”
“Masih belum.”
“Apakah aku akan lulus? Aku mengacaukan semuanya.”
“Kurasa itu tidak terlalu buruk.”
“Besok malam Key Entertainment akan mengadakan pesta tahunan. Apakah kamu ingin ikut?”
“Kamu mengajakku?”
“Terdengar seperti itu. Aku mengundangmu dan ingin kamu menjadi pasanganku?”
__ADS_1
“Aku rasa aku tidak bisa. Aku tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi pasanganmu. Lagi pula aku takut akan terjadi rumor dan itu akan membuat masalah bagimu.”
Suah yang berdiri di samping Liana langsung terbengong. Ia sedikit kesal dengan Liana.
“Liana, apakah kamu bodoh? Banyak aktris yang ingin memiliki kesempatan untuk bersama Kingston di sebuah acara. Ia secara pribadi mengundangmu, kenapa kamu menolaknya?”
“Haruskah aku menjadi temanmu terlebih dahulu agar aku bisa mengajakmu?”
“Aku—“
“Pak Kingston tenang saja. Liana akan menjadi pasanganmu besok. Aku yang akan menjaminnya.”
Kingston mengangguk.
.........
Liana mengerjapkan matanya dengan bingung, lalu setelah pulih dari kekagetannya, ia melihat Suah yang berada di depannya.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah kafe.
“Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?”
Liana menoleh kembali dan Suah mengikuti arah pandang Liana.
“Bukankah yang di sampul itu adalah Kingston? King ku. Ya ampun!”
Suah berseru dan langsung berdiri untuk mengambil tabloid itu.
“Ya ampun, dia terlihat tampan tapi yang asli lebih tampan.” Suah terdiam lalu ia berseru dengan begitu keras. “Kingston ternyata punya pacar!”
Suah langsung menghampiri Liana. “Lihat ini!”
Liana melihat halaman depan tabloid itu dan menahan napas. Ia membaca judul utamanya “KINGSTON DAN KEKASIH WANITA?” dicetak dengan ukuran besar. Di bawah judul itu ada tiga fotonya bersama Kingston. Foto-foto itu agak buram, tapi kenapa Liana merasa dirinya terlihat begitu jelas?
Liana teringat, foto tersebut diambil saat ia dan Kingston berada di lorong hotel dan lobi hotel. Saat ia baru saja dipecat di hari pertamanya bekerja.
Saat itu mereka berjalan bersama. Foto itu diambil sedikit menyamping sehingga Liana agak tertutup tubuh Kingston. Liana memerhatikan foto itu dan mengerutkan kening. Seingatnya mereka tidak berdiri sedekat itu, tapi mungkin arah pengambilan fotonya yang menyebabkan mereka terlihat dekat.
Foto selanjutnya adalah saat Kingston berdiri tepat di depannya dan begitu dekat, Liana sendiri berdiri tegak dengan kepala mendongak memandangnya. Lagi-lagi sudut pengambilan foto membuat foto itu terlihat bagus.
“Dia sudah mempunyai kekasih tetapi mengapa dia mengajakmu alih-alih mengajakku menjadi selingkuhannya?”
“Suah, apa yang kamu bicarakan?”
“Kamu tahu kan? Aku penggemar nomor satu King. Aku sedih melihatnya.”
“Tapi kenapa kamu tidak sedih melihatnya mengajakku menjadi pasangannya?”
“Itu bisa kuterima lagi pula kamu temanku. Aku akan bahagia jika kamu merasa bahagia. Nantinya aku juga yang akan kecipratan madunya.”
Liana geleng-geleng menahan geli. Tapi sebelum senyumnya mereda, Suah sudah berkata lagi. “Liana tapi sepertinya ada yang aneh.”
“Apa?”
“Gadis yang ada di foto sepertinya itu dirimu.”
“Ya, memang diriku.”
“Apa? Jadi ini dirimu?”
“Itu tidak sengaja, berita itu berlebihan. Jangan percaya.”
“Ya ampun Liana, aku hampir pingsan tadi. Aku hampir ingin mengakhiri hidup jika memang berita ini benar.”
__ADS_1
“Bukankah kamu baru saja merestuiku jika aku bersamanya?”
“Tidak! Sekarang tidak! King milikku seorang.”