
Karena tidak ada tanggapan dari Damian. Gideon menyeringai lalu ia membalikkan tubuhnya bersiap untuk pergi. Damian yang melihatnya buru-buru melebarkan matanya takut jika pria besar itu akan memberitahu pada ibunya tentang rahasianya.
“Ayah.”
Ucapan Damian bagaikan suara nyamuk yang sulit di dengar.
Gideon berbalik sambil mengangkat sebelah alisnya. “Apakah kamu baru saja mengucapkan sesuatu?”
“Apakah kamu tidak mendengarnya?”
“Aku benar-benar tidak mendengarnya. Baiklah karena kamu tidak melakukan apa yang aku suruh. Aku akan memberitahu ibumu.”
Damian mengepalkan kedua tangannya dan menelan salivanya.
“AYAH!”
“Apakah kamu sedang membentakku? Katakan lebih lembut seperti kamu memanggil ibumu.”
“Ayah...”
Kali ini suara Damian lebih lembut. Gideon tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Ia tersenyum dan mendekati Damian. “Seharusnya kamu melakukannya dari tadi. Tenanglah! Aku tidak akan memberitahu ibumu,” ucap Gideon sambil mengusap kepala Damian.
Damian yang berdiri di sana hanya bisa tertegun karena mendapatkan usapan kecil yang begitu hangat.
“Akan lebih baik jika kamu selalu memanggilku ayah, ucap Gideon.
Tangannya yang kuat memegang tangan Damian yang kecil dan mulus. Saat memegang tangan kecil itu emosi Gideon bercampur aduk.
“Aku ingin memanjakanmu dan menyayangimu. Bisakah kamu memberiku kesempatan itu?”
“Sekarang tidak ada yang lebih penting daripada ibuku.”
Gideon tersenyum. “Sudah malam. Cepatlah tidur.”
.........
Pagi-pagi sekali, Liana sudah berkutat di dapurnya. Hal yang pertama dilakukan Liana adalah menyiapkan bahan makanan untuk sarapan. Liana mengiris bawang bombai kemudian wortel. Tidak lupa cabai dan juga paprika.
Liana beralih pada kaldu yang sebelumnya ia sudah rebus. Ia memasukkan saus gojujjang dan juga jamur tiram serta bawang bombay. Setelah menunggu beberapa menit baru ia memasukkan jamur enoki, cabai dan juga paprika. Setelah menunggu beberapa lama sup jamur ala korea siap disajikan.
Kini Liana beralih ke menu yang kedua. Liana memanaskan wajannya dan langsung memasukkan daging sapi yang sudah ia bumbui sebelumnya. Ia juga memasukkan bawang bombai dan wortel. Setelah matang Liana menaburkan daun bawang.
“Selamat pagi ibu,” ucap Damian.
“Ya ampun. Bagaimana bisa anakku begitu tampan?”
Liana mencoba menyejajarkan tubuhnya dengan Damian. Damian begitu tampak tampan dengan balutan seragam sekolahnya. Ia seperti putra mahkota.
“Ibu sangat cantik, itu sebabnya aku mewarisi gen ibu.”
“Uh, bagaimana bisa kamu begitu pandai.”
“Aku mencium aroma yang sangat harum.”
“Apakah bayi ibu sudah lapar?”
“Tantu saja.”
“Baiklah, duduk di ruang makan dan tunggu ibu akan menyiapkannya untukmu.”
“Yes, mam.”
Semua hidangan sudah disajikan di meja makan. Damian yang sudah duduk di meja makan, tidak bisa menghentikan lengkungan senyumnya. Melihat makanan yang begitu menggoda.
__ADS_1
“Pemandangan yang sangat indah,” ucap seseorang.
Liana dan Damian langsung menoleh ke sumber suara.
Ayah?
“Bu, mengapa dia ke sini?” tanya Damian.
Damian langsung membungkam bibirnya saat ia merasakan bahwa ia melontarkan pertanyaan yang salah.
“Sejak kemarin aku ada di sini,” ucap Gideon. Pria itu langsung duduk di samping Damian.
Gideon langsung menoleh ke arah Damian dan tersenyum.
“Apakah tidurmu nyenyak?” tanya Gideon pada Damian.
Damian membuka mulutnya tapi dengan wataknya yang pemalu. Ia tidak bisa bersikap imut terutama dengan Gideon. Pada akhirnya, Damian hanya terdiam.
Suara bel berbunyi dari depan rumah mereka.
“Dia sudah datang,” ucap Gideon.
“Siapa yang datang?” tanya Liana.
“Tebak siapa yang datang?”
Liana mengerutkan keningnya dan saat menyadari sesuatu, senyumnya langsung mengembang. Sementara Damian melihat ke arah Gideon. Dua pria saling bertatap. Tatapan kedua ayah dan anak itu bagaikan dialiri arus listrik.
Liana buru-buru pergi dari ruang makan dan langsung menuju ke depan untuk membukakan pintu.
Liana cukup terkejut dengan kedatangan Daniel tapi ia juga cukup senang melihatnya.
Liana berkeringat dingin melihat pria kecil di depannya.
“Daniel masuklah! Apakah kamu lapar?”
“Duduklah,” ucap Liana.
Melihat ibunya memperlakukan Daniel lebih baik. Damian langsung cemburu.
“Bu, duduklah di samping Damian.” Damian langsung menepuk kursi yang ada di sampingnya. Sementara Gideon langsung melihat ke arah Liana.
Ruang makan menjadi medan perang antara ayah dan anak-anak untuk merebutkan Liana. Mereka seakan terlibat pertempuran yang sangat keras.
Liana yang melihat mereka langsung keringat dingin. Senyumnya jelas langsung membeku.
“Bu, paman ini selalu menatapku. Aku jadi takut,” ucap Damian.
Gideon yang mendengarnya langsung membeku. Ekspresinya dingin.
“Bu, beri aku nasi dan lauk.” Pinta Damian.
“Beri aku juga,” ucap Daniel sambil mengambil piring.
“Aku juga,” ucap Gideon tak mau kalah.
Liana menghela napasnya panjang.
“Kenapa aku merasa sedang berada di medan perang?”
“Bu, tidak usah pedulikan mereka. Beri Damian makan terlebih dahulu.”
Daniel langsung mengedipkan matanya dengan sedih. Pria kecil itu menundukkan kepalanya.
“Daniel, jika ibumu tidak ingin mengambilkan makanan untukmu. Biar ayah saja.”
__ADS_1
Daniel langsung mengeluarkan air mata. “Woo! Aku tidak ingin ayah yang mengambilkannya.” Daniel langsung menatap Liana. “Ibu.”
Melihatnya Liana langsung tertegun. Liana kehilangan perlawanannya.
“Baiklah, ibu akan mengambilkannya.”
Damian terdiam untuk melihat ibunya yang mengambil makanan untuk kakak laki-lakinya.
“Damian mana piringmu?” tanya Liana.
Damian yang awalnya membeku langsung tersadar. Ia melihat ibunya dan memberikan piringnya.
“Ini sangat lezat,” ucap Daniel saat mencicipi makanannya.
Liana tersenyum. “Makanlah yang banyak.”
Kini Liana duduk di samping Daniel, di depan Damian. Perempuan cantik itu terlihat bahagia saat melihat kedua putranya makan dengan lahap.
“Ehem, sepertinya kamu melupakan sesuatu.”
“Apa?” tanya Liana pada Gideon.
Gideon langsung memberikan isyarat lewat matanya. Ia sedikit melirik ke arah piringnya. Liana mendelik keras. Seolah mengatakan ‘kamu bisa mengambilnya sendiri’.
Meskipun begitu Liana mengambilkan makanan untuk Gideon dan untuk dirinya sendiri. Gideon tersenyum samar dan nafsu makannya meningkat.
Begitu pun juga Liana, ia juga tersenyum samar saat melihat Daniel begitu lahap. Sementara itu di sudut kursi, Damian selalu memperhatikan ibunya yang terlalu fokus pada Daniel.
“Bu...” Damian memanggil Liana pelan namun perempuan itu sepertinya tidak mendengarkannya.
“Cemburu?”
Sebuah telapak tangan besar kini sedang mengelus pucuk kepalanya. Saat mendongak Damian bertemu dengan mata Gideon. Bocah itu langsung mengabaikan Gideon dengan menoleh ke arah lain.
“Tidak sopan mengabaikan ayah.”
“Aku belum sepenuhnya menerimamu.”
“Kamu hanya malu.”
“Tidak!”
“Sampai kapan kamu bersikap seperti ini?” tanya Gideon. “Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena mewarisi kegeniusanku.”
“Jika bukan karena genmu mungkin aku akan jauh lebih luar biasa.”
“Kamu juga harus berterima kasih karena mewarisi fitur wajah yang tampan sepertiku.”
“Tidak! Aku mewarisi fitur wajah ibuku,” ucap Damian tidak ingin disamakan oleh ayahnya.
“Kamu sangat pintar dan tampan. Itu semua berkat diriku.”
“Lalu mengapa Daniel begitu bodoh?”
Gideon langsung mengedipkan matanya beberapa kali. “Dia tidak bodoh.”
“Dia begitu lamban soal perhitungan,” ucap Damian sambil mengejek.
“Dia sangat pintar dalam bidang yang berbeda.”
Damian ingin membantah setiap kata yang dikeluarkan Gideon namun sebuah suara menghentikan aksinya.
“Damian, apakah kamu sudah selesai dengan makananmu?” tanya Liana.
“Belum bu,” ucap Damian saat melihat piringnya masih belum kosong.
__ADS_1
“Lalu berhenti bermain-main di meja makan. Cepat habiskan makanannya setelah itu mainlah sepuasnya.”