Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
62. Special Event


__ADS_3

Berbaring lemah di tempat tidur. Liana benar-benar kelelahan dengan malam yang panjang bersama Gideon.


Saat ia berbalik, Liana sudah tidak mendapatkan Gideon di sampingnya. Matanya menyipit dan ia terlalu lelah untuk membuka matanya dengan benar. Lantas ia kembali terlelap dengan posisi meringkuk seperti bola.


Gideon yang sudah rapi dengan pakaian kantornya. Gideon menunduk untuk menatap Liana.


Gideon membawa Liana pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wanita itu. Tubuhnya penuh dengan keringat, Liana pasti tidak nyaman dengan itu.


Dan secara bersamaan, Gideon menyuruh pelayan untuk mengganti seprei dan membersihkan kekacauan yang ada di dalam kamarnya.


Dalam keadaan mengantuk, Liana merasakan tangan hangat tengah menyeka tubuhnya dengan handuk.


Kemudian membawanya ke tempat tidur kembali. Memeluk pinggangnya dengan otot lengan yang kuat. Kinara mampu mendengar detak jantungnya.


Setelah membawanya ke tempat tidur, Gideon berganti dengan pakaiannya karena pakaiannya sedikit basah.


Gideon berjalan ke samping tempat tidur dan membungkuk. Telapak tangannya yang besar, membelai dahi Liana.


“Tunggu aku pulang.”


Suaranya begitu dalam dan seksi. Gideon pergi setelah menempelkan bibirnya di bibir Liana.


Gideon mengantarkan anak-anak ke sekolah dan bekerja. Gideon menyuruh Alan untuk menjemput Damian dan Daniel sore harinya.


Ketika Daniel tiba di vila sore hari. Damian langsung menyuruhnya menghafalkan matematika tentang perkalian.


Di bawah pengawasan Damian, Daniel benar-benar meningkatkan kemampuannya. Namun terkadang bocah kecil itu juga merasa bosan.


“Aku tidak percaya aku akan menghafalkan perkalian lagi. Aku akan mati bosan.”


“Tidak akan ada orang yang akan mati bosan, Daniel. Mau mencoba menghafalkan pembagian?”


“Aku bosan belajar.”


Tepat pada saat itu, pintu kamar mereka terbuka dan menampilkan sosok Liana.


“Apa yang kalian lakukan?”


“Kami sedang belajar bu,” jawab Damian.


“Apakah kalian sudah selesai?” tany Liana.


“Ya,” jawab Daniel semangat.


“Ayah akan pulang segera. Kita disuruh bersiap-siap. Kita akan pergi sore ini.”


“Hore. Ibu, kita akan segera bersiap." Daniel sangat bersemangat.


Liana tersenyum dan menutup pintu kamar si kembar.


Saat Gideon sudah pulang, pria itu langsung mengajak keluarganya keluar untuk jalan-jalan.


Gideon membawa merek ke festival. Di sana memiliki bermacam-macam kios. Alan memberitahu Gideon bahwa hari ini akan ada festival dan Damian sangat menyukainya jadi Gideon membawa keluarga kecilnya.


Damian selalu berhenti di setiap kios. Bocah kecil itu juga tidak membiarkan Liana dan Gideon sendiri.


Damiana akan selalu menyeret tangan Liana dan menyuruh Liana untuk melihat kios yang ia lihat.


Sementara Gideon tampak diam. Pria itu yang mengajak tapi sepertinya pria itu tak tampak menikmatinya.

__ADS_1


“Ibu, bolehkah aku membeli permen kapas?” tanya Damian.


“Ibu, aku juga!” Daniel tak ingin kalah.


“Ibu akan membelikannya.”


Damian dan Daniel menikmati permen kapas mereka. Saat Damian dan Daniel melesat ke depan mencari lebih banyak keasyikan.


Gideon menggandeng tangan Liana, hangat dan kuat.


“Akhirnya aku bisa memegang tanganmu,” ucap Gideon sambil memperlihatkan ikatan tangan mereka.


“Apakah kamu lapar?” tanya Gideon lagi.


“Ya.”


“Aku sudah melakukan reseversi di restoran. Kita bisa pergi sekarang.”


Liana mengangguk.


Gideon membawa keluarganya ke restoran ternama. Begitu mereka memasuki restoran, mereka disambut oleh manajernya langsung.


Liana langsung terperangah dengan pemandangan yang ditawarkan. Bagaimana tidak, restoran ini berada di atas menara dengan jendela panorama bersudut pandang 360 derajat. Dari jendela itu tampak pemandangan yang begitu menakjubkan.


Manajer memberikan buku menu. Melihat buku menu, Liana menyadari betapa kelaparannya dia.


Matanya menyapu deretan gambar yang mampu membangkitkan seleranya. meskipun itu hanya gambar, ia mampu mencium aroma makanan di menu.


Liana melihat gambar-gambar dan terus membalik-balikkannya. Ia kesulitan untuk memutuskan apa yang akan dipesan. Karena ia ingin memesan semuanya dan makan sepuasnya.


Liana mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang duduk di sampingnya. Gideon tampak sibuk dengan ponselnya dan tampaknya pria itu tidak terlalu lapar.


“Ibu, aku pesan yang ini.”


“Aku pesan yang ini.”


Damian dan Daniel, masing-masing memesan makanan yang mereka sukai. Sepertinya hanya si kembar yang bersemangat.


Setelah memesan beberapa hidangan, manajer tersenyum dan pamit pergi.


Liana mengangkat kepalanya untuk menelisik ruangan itu. Tempat dengan pemandangan indah dan fasilitas artistik.


Di ruangan yang luas dengan interior antik dan berkelas ini hanya ada beberapa meja.


Tiba-tiba Liana melihat sesuatu yang menarik. Ia menatap lukisan. Semakin Liana melihatnya, semakin terpesona dan akhirnya Liana mendecapkah lidahnya dengan heran.


Gideon meliriknya dan melihat bahwa Liana melihat ke arah tertentu, melamu. Mengikuti garis pandangnya. Gideon mengernyitkan alisnya.


Manajer memimpin para pelayan dengan piring masuk ke ruangan dengan cepat. Mengambil kesempatan ini. Liana menoleh dan tersenyum.


“Lukisan di dinding ini sangat indah.”


Manajer hanya menanggapi dengan senyuman dan mengucapkan beberapa kata.


Setelah makanan disajikan, manajer menghibur mereka dengan beberapa kata sebelum permisi.


Liana sangat kelaparan luar biasa. Ia dengan cepat memegang pisau dan garpunya. Liana melihat kedua putranya yang bersemangat makan.


Liana perlahan memasukkan sepotong steik daging sapi Korea berkualitas tinggi ke mulutnya. Daging itu begitu enak dan begitu meleleh di dalam mulutnya.

__ADS_1


Liana mengekspresikannya.


“Apakah enak?” tanya Gideon.


“Ya.”


Gideon langsung memberikan steiknya yang sudah ia potong beberapa potong agar Liana lebih mudah untuk memakannya.


Menarik steik Liana dan memotongnya.


Gideon meliriknya dan melihat Liana hanya menatap piringnya.


Gideon tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Kenapa kamu tidak makan?”


“Tanganmu begitu luar biasa. Bisa memotong steik dengan simetris.”


“Makan!”


“Baik.”


Daniel melihat ayah dan ibunya dengan mulut yang penuh dengan makanan dan mengedikkan bahunya.


Ketika mereka selesai makan, Liana memandang keluar dengan perasaan yang aneh.


"Apakah kita akan pulang sekarang?" tanya Liana.


"Ya, anak-anak harus sekolah besok.”


Liana mengangguk namun Gideon mampu melihat semburat kesedihan di sana. Ya, tiba-tiba wajah Liana berubah muram.


“Kalau kamu menunjukkan wajah seperti itu, aku akan meninggalkanmu."


"Apa?"


"Kita akan melanjutkannya setelah membawa anak-anak pulang.”


“Apa...jangan bilang...?


Gideon menepati janjinya setelah memulangkan kedua putranya. Gideon kembali membawa Liana untuk jalan-jalan namun kali ini hanya berdua.


“Kamu ingin kemana?”


“Aku ingin ke taman hiburan.”


“Tapi tidak ada yang membuka taman hiburan di malam hari.”


“Aku tahu.”


Gideon sedikit melirik ke arah Liana dan lagi-lagi wajah muram yang dia tunjukkan.


...♡♡♡...


Mata Liana langsung membesar. Liana dengan penuh semangat melemparkan dirinya ke pelukan Gideon. Memeluk pinggangnya, Liana melompat dan melompat seperti anak kecil.


Bahkan Gideon tak bisa menahan dari dari bahagia yang ditularkan oleh Liana.


Melihat senyumannya yang indah, Gideon tidak bisa menahan perasaan di hatinya.


“Apakah kamu benar-benar bahagia?” pria itu terkekeh dan menggosok rambut Lian.

__ADS_1


“Ya!”


__ADS_2